Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.
Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.
Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Sore itu, setelah dokter masuk dan memeriksa kondisi Tuan Rahmat, kabar yang ditunggu akhirnya datang, Papa Kiara sudah diperbolehkan pulang. Wajah Kiara langsung berbinar, napasnya terasa lebih ringan sejak pagi.
Dia keluar dari ruang rawat bersama Alvar menuju bagian administrasi. Lorong rumah sakit terasa lebih ramai, tapi langkah mereka berjalan berdampingan, sunyi dalam pikiran masing-masing.
Saat sampai di loket, Kiara membuka tasnya dan mengeluarkan kartu milik papanya. Namun, sebelum kartu itu benar-benar diserahkan, tangan Alvar lebih dulu maju. Ia mengeluarkan kartunya sendiri dan meletakkannya di meja.
“Aku saja,” ucap Alvar tenang, tanpa ragu.
Kiara langsung menoleh. “Mas, nggak usah. Aku bisa—”
Alvar memotong pelan, menatapnya dengan mata yang lembut tapi tegas.
“Biarkan aku, Kiara.”
Ia menarik napas sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah, “Anggap saja ini caraku membalas jasa Papa kamu … karena sudah membesarkan anak sebaik kamu.”
Ucapan itu membuat Kiara terdiam. Pipinya terasa hangat, dadanya bergetar oleh sesuatu yang sulit ia tolak. Ia menunduk, menyembunyikan rasa malu yang tiba-tiba muncul, lalu mengangguk kecil tanpa kata.
Alvar tersenyum tipis dan kembali mengurus administrasi. Beberapa saat kemudian, setelah semuanya selesai, Kiara berkata pelan,
“Aku tunggu obat Papa ya, Mas.”
“Iya,” jawab Alvar. “Aku urus surat kepulangan Papa kamu dulu.”
Mereka berpisah di persimpangan lorong, Kiara menuju apotek, Alvar ke bagian administrasi lanjutan. Meski langkah mereka menjauh, perasaan yang tertinggal justru semakin mendekat.
Di depan farmasi, Kiara berdiri menunggu nomor antreannya dipanggil. Tangannya menggenggam kertas resep, pikirannya masih tertambat pada Papa yang sebentar lagi boleh pulang. Namun, langkahnya terhenti saat suara yang sangat ia kenal menyapa.
“Kiara?”
Ia menoleh, dia melihat Yoga.
Seketika dadanya menegang. Belum sempat Kiara berpaling, seorang perempuan melangkah cepat ke samping Yoga, istrinya Lala. Wajahnya langsung berubah saat melihat Kiara.
“Mas, dokter bilang vitaminnya sekalian diambil ya. Buat ibu hamil,” ucap Lala sengaja mengeraskan suara.
Kata ibu hamil itu seperti palu yang menghantam kepala Kiara. Matanya membesar, lalu bibirnya melengkung tipis, senyum kecut yang bahkan terasa pahit di lidahnya sendiri.
“Kiara,” Lala menyeringai. “Kamu ngapain di sini? Jangan-jangan … periksa kehamilan juga?” Nada cibirannya tajam.
“Kami ke sini buat periksa kehamilan,” lanjut Lala sambil mengelus perutnya yang nyaris tak terlihat.
“Hamil dua bulan.”
Kepala Kiara mendadak terasa kosong. Dua bulan.
“Bukannya kalian menikah baru tiga minggu?” tanya Kiara pelan, tapi suaranya bergetar. “Kok bisa hamil dua bulan?”
Lala tertawa kecil, sinis. “Oh itu? Ya karena kami udah nyicil dari sebelum itu.”
Dunia Kiara seperti runtuh. Napasnya tersangkut. Jadi benar, pengkhianatan itu terjadi jauh sebelum semuanya berakhir. Amarah yang selama ini ia tekan meledak. Tangannya bergerak lebih cepat dari pikirannya.
Plak!
Tamparan itu mendarat di pipi Yoga. Suaranya nyaring, mengundang tatapan orang-orang di sekitar.
“Apa hak kamu nampar suami aku?!” bentak Lala, maju selangkah.
Kiara menatapnya dengan mata berapi-api. “Jangan bangga hamil di luar nikah.”
Lala menyeringai, tak kalah tajam.
“Daripada kamu udah menikah tapi nggak hamil-hamil?”
Kedua tangan Kiara mengepal. Kukunya menekan telapak, menahan gemetar yang merambat dari dada ke ujung jari.
“Stop, La,” Yoga mencoba menarik Lala.
“Kita pulang.”
“Tunggu!” Lala menepis tangannya.
“Biar dia tahu.”
Ia mendekat, mencondongkan tubuh. “Kiara, kamu tahu uang yang kamu kasih ke Yoga dulu dipakai buat apa? Buat beliin aku perhiasan ini.”
Jarinya menyentuh kalung di lehernya dengan bangga.
“Kalian berdua memang sampah. Dan jujur aja ... kalian cocok kalau menikah.”
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari tamparan mana pun. Kiara berbalik, tak sanggup lagi berdiri di sana. Namun, baru dua langkah, bahunya menabrak dada seseorang.
Ia mendongak, ternyata dia menabrak Alvar.
Pria itu menatapnya, menatap mata Kiara yang memerah, basah, dan penuh amarah tertahan. Kening Alvar berkerut.
“Kiara?” suaranya rendah.
“Kenapa?”
Kiara tak menjawab. Ia hanya menggeser tubuh sedikit, lalu menoleh tajam ke arah Yoga dan Lala. Tatapan itu dingin, penuh luka, dan sama sekali tak menyisakan air mata.
Lala tertawa sinis, matanya menyapu Alvar dari ujung kepala sampai kaki.
“Ini suami kampung kamu itu ya?” ujarnya meremehkan.
“Lumayan juga tampangnya. Tapi sayang … tetap nggak lebih hebat dari Yoga.”
Kiara hendak membuka mulut, tapi Alvar lebih dulu melangkah maju. Tangannya masih menggenggam tangan Kiara, erat, tegas, seolah berkata aku di sini.
“Eh, Mbak,” kata Alvar tenang, tapi nadanya tajam. “Hasil dari ngerebut milik orang lain aja bangga?”
Lala terdiam sepersekian detik. Alvar melanjutkan, menatapnya tanpa gentar.
“Dan aku justru berterima kasih sama pria itu,” lanjutnya sambil melirik Yoga singkat, dingin. “Karena sudah meninggalkan Kiara. Karena itu, aku yang beruntung bisa bertemu dan memiliki dia.”
Alvar menoleh ke Kiara, tatapannya melunak sesaat.
“Aku beruntung dapat wanita secantik dan sebaik Kiara.”
Lalu ia kembali menatap Lala, kali ini tanpa sisa hormat.
“Coba buka mata kamu. Kamu lihat apa sih dari dia?” telunjuknya mengarah ke Lala. “Dibanding Kiara, kamu nggak ada apa-apanya.”
Wajah Lala memerah.
“Kamu buang berlian demi batu kali,” lanjut Alvar tanpa ragu.
“Kalian berdua memang sampah, seperti yang Kiara katakan.”
Hening sesaat jatuh di depan farmasi. Beberapa orang menoleh, tapi Alvar tak peduli. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada Kiara.
“Ayo,” katanya lembut pada istrinya. Ia menarik Kiara pergi, meninggalkan Lala yang berdengus kesal, mulutnya mengomel marah tanpa arah.
Sementara itu, Yoga berdiri kaku. Kata-kata Alvar berputar-putar di kepalanya, berlian, tak bisa dibandingkan.
"Yoga! Kamu kenapa liatin mereka sih?! Ayo pulang!" Lala menyeret tangan Yoga untuk pergi dari tempat itu. Tetapi, hati Yoga seakan goyah saat melihat Kiara bersama pergi pria lain.
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng