Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 : Gosip menyebar
Waktu berjalan terasa amat cepat hari itu. Alena sudah menghubungi pihak keluarga mengenai kepulangannya ke Bandung. Ia bahkan sudah memesan mini bus khusus. Namun, sebelumnya mereka harus pulang dulu ke rumah untuk mengambil sisa pakaian milik Alea dan Yani yang masih tertinggal sebagian.
Alena langsung turun dari mobil begitu tiba di gerbang rumah dan sontak menjadi perhatian tetangga sekitar yang tiba-tiba saja mereka keluar dari rumah masing-masing dan melirik ke arah rumah miliknya dan Arinta.
Hih, dasar tukang gosip!
Andini sudah menggerutu sebal saja di luar saat melihat tetangganya Alena keluar, berkerumun pada satu titik lalu berbisik-bisik sambil melihat ke arah rumahnya Alena.
Untungnya Alena tidak perlu waktu lama untuk membereskan semua sisa pakaian dan beberapa barang di dalam, karena sebagian lagi memang sudah dibawa ke tempat Andini sebelumnya.
Alena sudah berjalan kembali keluar sambil membawa sebuah koper kecil dan menggendong Alea, sementara Yani mengekor di belakang membawa satu koper lagi yang lebih besar.
Andini yang melihat Alena berjalan ke arah pintu gerbang langsung turun dari mobil.
"Bawaan lu udah semua?" Tanyanya sambil berjalan mendekat. "Sini, Alea gue gendong." Andini mengulurkan tangannya untuk meraih si kecil dari pelukan Alena.
"Sorry...," ujar Alena sambil membiarkan Alea dibawa ke mobil duluan oleh Andini.
Akhirnya Alena sudah berdiri di depan pagar bersama Yani, sedang mengunci pintu gerbang dengan gembok.
"Wah, Bu Alena mau minggat dari rumah ya?" Celetuk seorang perempuan secara tiba-tiba yang berdiri di seberang jalan, di bawah sebuah pohon jambu.
"Ah, enggak kok cuma ada urusan keluarga di Bandung," jawab Alena berusaha tersenyum ramah kepada wanita itu yang justru memberi pandangan sinis.
"Urusan keluarga tapi kok bawa kopernya besar banget, kaya orang mau pindahan!" Wanita itu masih berusaha menyindir.
"Udah, Bu. Gak usah ditutupi. Orang semua sudah tau, kalau suami Ibu, si Mas Arinta itu selingkuh 'kan?" Ucap wanita satunya dengan nada setengah mengejek.
Gerakan tangan Alena yang sedang mengunci gembok tiba-tiba terhenti. Tubuhnya yang sedikit membungkuk terdiam sesaat. Lalu....
BANGGGGG!
Alena menghentakkan gembok pagar ke tiang besi pagar rumahnya hingga berbunyi sangat nyaring dan memekakkan telinga. Keempat wanita itu langsung tersentak dan tanpa sadar bergerak mundur bersamaan.
"Maaf ya, itu adalah urusan rumah tangga saya. Kalian gak perlu ikut campur!" Ujar Alena dengan nada ketus. Dia merasa kesal sekali karena para wanita di kompleknya berbicara tentang masalah orang lain tanpa dosa.
"Galak banget sih, Bu. Begitu saja emosi, pantas suaminya main lagi sama perempuan lain!" Wah, luar biasa sekali wanita yang berdiri dengan tubuh paling gemuk malah melontarkan kalimat tabu tanpa empati dan seakan menyalahkan Alena atas alasan Arinta yang berselingkuh.
"Sudah cepet emosi, gak mau bergaul lagi! Aneh!" Perempuan lainnya ikut menimpali, dan mencoba menguliti sikap Alena di depan umum.
"Astaga, mereka keterlaluan!" Andini yang menyaksikan temannya dikeroyok lantas turun dari mobil.
BRAKH!
"Kalian ini gak punya perasaan ya!?" Andini membanting pintu dengan sangat keras dan berteriak ke arah empat wanita tersebut dengan tatapan penuh amarah.
"Bisa-bisanya kalian bilang begitu ke sesama perempuan?! Dimana empati kalian ini, hah?" Andini mengomel dengan suara keras yang memancing kerumunan semakin ramai. Sementara empat wanita itu hanya terdiam ketika warga mulai menghakimi sikap mereka.
"Din, udah, tetangga jadi pada keluar. Ayo pulang saja!" Alena dengan cepat menyeret Andini untuk masuk ke mobil. "Bi, buruan masuk," ujarnya menoleh ke arah Yani yang agak terbengong melihat situasi yang kacau.
"I-iya, Bu!" Reflek wanita itu tergopoh-gopoh membawa koper besar sambil naik ke atas mobil.
"Awas ya, kalau sampai kalian membicarakan teman saya lagi!" Andini melotot dengan tatapan mengancam. Jari telunjuknya bergetar saking emosinya saat ia menunjuk keempat wanita itu.
"Tau nih, Ibu-ibu gimana sih? Harusnya kita kompak belain Mbak Alena, karena sesama perempuan, tapi kok malah dinyinyirin!" Seorang wanita bersuara dan merutuki kelakuan empat orang tersebut yang hanya bisa diam seperti tikus yang sudah terperangkap di pojokan.
"Iya nih, yang selingkuh 'kan suaminya, kenapa Neng Alena yang dicecar! Bhuuuu!!" Timpal seorang wanita yang sudah tampak tua, mungkin seumuran ibunya Alena.
Karena merasa malu disoraki, empat orang wanita itu akhirnya bergegas meninggalkan area tersebut sambil berlari cepat.
BHUUUUUUU!!!
Ibu-ibu lain masih menyoraki dengan tajam sesaat setelah keempatnya telah pergi menjauh.
Lalu beberapa orang wanita di sekitar kompleknya itu berjalan mendatangi Alena yang masih berdiri di depan mobil dengan Andini di depan pintu mobil dan hendak masuk.
"Udah Mbak, jangan khawatir. Pokoknya mereka gak bakal berani gangguin keluarga Mbaknya lagi," ucap wanita tadi dengan suara lembut dan menepuk lengan Alena.
"Iya, pokoknya kita di sini saling bantu," timpal wanita lain. "Nanti kalau suaminya pulang dan berani bawa perempuan, kita bakal langsung tangkap lapor polisi!" Lanjutnya dengan nada serius.
"Makasih ya, semuanya...." Alena terharu, dia gak sangka ternyata masih ada kepedulian yang begitu besar meskipun jujur dia memang jarang bergaul bersama wanita-wanita itu karena ingin menghindari diri dari bergosip. Tapi ternyata mereka orang-orang yang baik.
"Sama-sama, Mbak. Semoga masalahnya bisa cepet selesai ya dan bisa balik lagi kemari," ucap seorang perempuan muda yang mungkin usianya satu atau dua tahun lebih muda.
Setelah berpamitan dengan para wanita di komplek itu Alena pun bergegas memasukkan kopernya ke bagian belakang mobil, lalu ia berpindah, membuka pintu depan mobil dan naik ke atasnya.
Sebelum benar-benar jalan Alena sempat melempar pandang ke arah jendela dan memperhatikan satu-persatu wajah wanita-wanita itu sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Perlahan mobil itu pun melaju, mulai meninggalkan area.
"Baguslah, Len. Ternyata banyak yang sayang sama lu," ujar Andini sambil menoleh ke samping.
"Yah, gue juga ga nyangka mereka sepeduli itu...," balas Alena merasa bebannya seperti sedikit terangkat dengan kepedulian yang ia rasakan. Itu sangat berarti baginya saat ini.
.
.
Sore harinya Arinta berniat untuk pulang cepat. Ini adalah hari terakhirnya bekerja di tempat itu karena ia dipindahkan ke daerah Bandung sebagai konsekuensi atas skandal yang ia lakukan. Sementara Melinda masih tetap bekerja di sana, hanya Arinta saja yang dipindahkan dan juga diturunkan jadi jabatan dari kepala manager.
Saat ini dalam pikirannya untuk menemui Alena dan Alea dan mengajak keduanya tinggal di Bandung. Mungkin di sana mereka bisa membuka lembaran baru tanpa Melinda.
Ia pun dengan antusias menelepon Alena yang sedang berada di dalam mobil menuju ke apartemen.
"Siapa, Len?" Andini yang mobilnya baru keluar wilayah komplek perumahan melirik ke arah Alena yang hanya menggenggam ponsel.
"Arinta...," ujarnya lemah dan berbisik karena dia gak mau Alea mendengar.
"Oh, ya angkat dong...." Andini mendorong Alena untuk bertindak tegas.
Wanita itu sempat menatap layar ponsel sesaat lalu menarik napas dalam-dalam.
"Ya, halo...," ucapnya berusaha netral.
Apakah nantinya Alena bakal setuju sama ajakan Arinta?
.
.
Bersambung....
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang