Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Ini bukan tentang siapa yang layak untuk bertahan dan siapa yang harus di pertahankan. Seperti metafora, memihak pada orang yang tak layak untuk kita pertahankan. Ya… begitulah kenyataannya. Bertahan hanya untuk orang lain yang bahkan tak bisa menghargai setiap nafas yang kita keluarkan.
Apakah kita nyaman? Pertanyaan itu pastinya tidak butuh jawaban. Jelas dari raut wajah yang tak senang menandakan kalau dia tak nyaman. Wajahnya selalu datar, tak berekspresi apapun. Pandangannya sendu namun kosong. Seperti boneka yang telah kehabisan baterai, seperti manusia yang tak punya tujuan.
Parahnya saat usianya menginjak dua puluh empat tahun, hidup Ria terasa seperti sepotong kain usang yang di jahit paksa menjadi gaun pernikahan. Bukan lagi gaun pengantin impian, melainkan pakaian pengekang yang menjerat hati dan jiwanya. Sejak detik pertama ia membuka mata ke dunia, Ria telah memikul beban yang seharusnya tidak diemban oleh seorang anak.
Ibunyaㅡseorang wanita lugu yang tak sengaja terseret dalam buaian asmara sesaatㅡmeninggal dunia, membayar lunas kelahiran Ria dengan nyawanya. Sejak saat itu, Ria tumbuh tanpa kasih sayang. Ia adalah symbol dari sebuah kesalahan, sebuah pengakuan dosa yang tak pernah diucapkan oleh sang Ayah. Pria itu, yang hanya meninggalkan benih tanpa rasa tanggung jawab, menghilang seolah tak pernah ada.
“Mengapa aku harus ada, jika kehadiranku hanya merenggut hidupnya dan membawa aib?” Pertanyaan itu, sunyi dan getir, selalu menjadi iringan tidurnya.
Setelah berbulan-bulan semejak kepergian Neneknya, Ria hidup luntang-lantung dari kerabat satu ke kerabat lainnya, hanya untuk mendapatkan rumah yang layak dan nyaman. Namun semuanya menolak untuk mengurus Ria. Mereka tak ingin menjadi cibiran orang-orang karena menampung anak haram dan pembawa sial.
“Mari kita ke kota. Kita temui Ayahmu.” Ucap seorang Paman yang mengetahui keberadaan Ayahnya Ria.
Ria hanya terdiam pasrah tanpa jawaban. Ria membulatkan tekadnya untuk menemui Ayahnya dan berharap akan mendapatkan setitik cahaya kehidupan. Namun, setibanya Ria di rumah besar dan megah itu, alih-alih mendapatkan pelukan dan sambutan hangat, Ria malah mendapatkan penghinaan dan cacian. Dengan berat hati, Ria di terima di kediaman Ayahnya, namun bukan sebuah pengakuan melainkan kekejamana berbalut kemewahan. Di rumah besar itu, Ria bukanlah anak, melainkan bayangan; sebuah boneka yang dipaksa bekerja, disamakan dengan pembantu, dan diperlakukan sebagai kambing hitam.
Ria bukan tak memiliki rasa sakit dan dendam, ia hanya ingin hidup layak tanpa harus ke basahan dan kepanasan. Tanpa harus memungut sisa nasi orang lain. Ria lelah terus di lempar dari rumah kerabat satu ke rumah kerabat lainnya. Setidaknya di rumah ini, meski tanpa kasih sayang dan perlakuan buruk, Ria dapat makan dengan layak meski sehari sekali.
Asalkan Ria patuh dan menurut, Ayahnya tidak akan menghina dan memukulnya. Ria putuskan, ia akan hidup untuk membuat semua orang di sekitarnya nyaman ㅡayahnya senang karena aibnya tertutupi, dan Ibu tiri dan saudara tirinya puas karena memiliki objek untuk dilampiaskan. Ria hanya bisa tersenyum, mengangguk, dan melayani, bahkan ketika perutnya perih menahan lapar. Ia telah mahir dalam seni menyembunyikan luka.
Tak lama setelah ia menginjak usia 24 tahun, hidupnya dipaksa berbelok. Ayahnya menjodohkannya dengan Arya Wiradhinata, seorang pengusaha muda yang dingin dan kejam. Pernikahan ini bukanlah penyambutan, melainkan sebuah transaksi bisnis yang ditutup dengan senyuman licik di balik wajah sang Ayah.
“Kau harus menikahinya, Ria. Demi nama baik keluarga.” Ucap Ayah di ruang kerjanya.
Percakapan empat mata itu membuat hati Ria sakit. Ria hanya bisa diam dan menerima, karena menolak berarti menyulut kemarahan yang akan melukai dirinya bahkan orang lain. Prinsipnya hidupnya selalu sama: kebahagiaan orang lain lebih penting dari pada miliknya.
“Kau hanya perlu diam dan melayani Pak Arya. Kau tak perlu protes dan menuntut apa pun pada Pak Arya, maka hidupmu akan aman dan terjamin.” Ucapan itu terhenti, Ayah menghisap tembakaunya. “hiduplah seperti saat ini, diam dan patuh, seperti bayangan yang akan hilang bila tak ada cahaya. Kau mengerti, Ria?” Ria hanya mengangguk pasrah.
Hampir dua tahun berlalu. Ria hidup dalam sangar emas, kamar mewah, dan ketiadaan komunikasi. Ia adalah seorang istri, namun hidupnya lebih sepi dari seorang musafir.
Arya, suaminya, adalah sebuah teka-teki baginya. Pria itu tak pernah menyiksa fisiknya, tidak pernah membentaknya, tidak pernah menghina bahkan merendahkan dirinya. Namun, sikap acuh tak acuhnya adalah penyiksaan batin yang nyata yang perlahan mencekik dan membunuhnya.
Malam itu, Ria duduk di sofa, seperti biasa menunggu kepulangan suaminya. Ria berdiri saat mendapati Arya pulang, memperhatikan pria itu melepas jas dan memberikannya pada Ria tanpa menoleh dan berkata apapun. Arya berjalan menuju ruang kerjanya.
“Mas, sudah makan malam? Perlu saya buatkan sesuatu?” Tanya Ria mengikuti langkah Arya.
“Tidak perlu.” Jawabnya dingin dan datar, Arya kembali sibuk fokus pada benda kotak dan jemarinya lihai menari memetik setiap huruf.
Tidak ada pertanyaan tentang harinya. Tidak ada tatapan mata. Tidak ada sentuhan. Ria merasakan air mata menggenang, namun ia menahannya.
Sikap pasif dan pengorbanan diri Ria mungkin akan terus berlanjut, jika saja dokter tidak memberikannya vonis yang dingin dan tak terhindarkan.
Setelah pingsan di dapur ㅡakibat tubuhnya yang terlalu sering kelaparan demi menyenangkan nafsu makan orang lainㅡ ia didiagnosis menderita leukemia akut. Gizi buruk bertahun-tahun telah membuka jalan bagi penyakit mematikan itu untuk bersarang di tubuhnya. Umurnya, menurut dokter, tinggal menghitung bulan.
Di hari ia menerima diagnosis itu, Ria duduk di sebuah bangku taman rumah sakit yang sepi. Ia menatap telapak tangannya, yang selama ini hanya digunakan untuk melayani dan memberi.
“Cukup!” batin Ria tegas.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sebuah keberanian asing muncul. Ia telah hidup 24 tahun untuk orang lain, dan ia tak memiliki apa-apa. Kini, dengan waktu yang tersisa, ia akan hidup untuk dirinya sendiri.
Ria tersenyum, senyum yang berbeda ㅡbukan senyum penurut, tapi senyum tekad. “aku punya waktu. Waktu ini… milikku.”
Mulai hari itu perubahan kecil terjadi. Ia tidak lagi menyiapkan sarapan mewah untuk Arya. Ia membeli pakaian dengan warna cerah yang ia suka, bukan warna kusam agar tidak menarik perhatian.
Malam harinya, di dalam kamar yang sunyi. Ria menatap Arya yang sedang membaca berkas. Untuk pertama kalinya, ia berbicara bukan untuk melayani. “Mas, aku ingin berpergian besok. Sendirian!”
Arya menurunkan berkasnya, terkejut dengan nada dan permintaan Ria. Ini adalah kali pertama Ria menuntut sesuatu untuk dirinya.
“Kemana? Ada perlu apa?” Tanya Arya dengan nada yang tak berubah. Tetap dingin dan datar.
Ria menggeleng, sorot matanya kini tajam, bukan rapuh seperti dulu. “Tidak ada perlu apa-apa. Hanya ingin menikmati matahari terbenam, sebelum…” Ria menghentikan ucapannya membuat Arya mengerutkan dahinya.
“Sebelum apa?” Tanya Arya lagi.
“Sebelum aku tidak bisa lagi.” Ria tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan Arya yang kebingungan.
Arya terdiam, bingung dengan perubahan sikap istrinya. Ia melihat kelelahan di mata Ria, tapi kali ini, ada kilatan cahaya di sana. Tanpa sadar, Arya merasakan seutas benang kekhawatiran yang selama ini ia sembunyikan, mulai merenggang.
Arya takut, jika ucapan istrinya adalah sebuah pertanda, namun ternyata Arya lambat untuk mengetahui itu semua. Arya terbuai dengan sikap manja dalam balutan busana yang anggun yang selalu Ria lakukan akhir-akhir ini. Meski terkesan ada jarak, tapi Arya menyukai Ria yang ceria dan tersenyum lebar. Diam-diam Arya terpikat oleh kecantikan dan sikap baru Ria.