"Steiner" panggil Luigi dengan tangan mengepal.
"Setelah apa yang terjadi diantara kita, kau tidak mengenalku? Kita menghabiskan setiap malam bersama di lembah Parnassus, Stein! Kau bahkan telah merenggut mahkotaku! Ada apa denganmu?!"
"Aku tidak mengenalmu! Kau wanita gila! AKU BAHKAN TIDAK MENGENALMU!"
"Apa kau amnesia? Katakan dengan kalung ini! Apakah ini milikmu?" Luigi, mengeluarkan kalung yang tersembunyi dari balik bajunya. Steiner membelalakan matanya, bahkan seluruh keluarga besarnya.
Semua saling melemparkan pandangannya, gadis bak Dewa Apollo itu, tiba tiba menerobos masuk ke dalam sebuah ballroom, mengacaukan acaranya.
Sebuah acara perhelatan akbar yaitu PERTUNANGAN.
Luigi memasukkan kembali kalungnya, lalu ia berjalan kearah pintu keluar. Sesaat ia menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Steiner, "Tidak masalah kau melupakanku, Steiner! Tapi, malam itu adalah malam yang tidak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku! Aku selalu memegang janjimu, bahwa kau akan membawaku ke Altar saat aku menyerahkan segalanya untukmu!" Luigi pun berlalu pergi. Meninggalkan keterkejutan yang luar biasa.
"Penjaga! Panggil gadis itu! Dan bawa ke kamarku!" ujar sang Ibu yang meninggalkan acara pertunangan Putranya yang telah kacau balau.
"Shiitt!!" pekik Steiner membanting gelas di tangannya.
"Honey?" tunangannya memanggilnya.
"Aku akan membereskan gadis itu! Pulanglah!" kata Steiner kepada calon tunangannya yang gagal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALSIB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melenyapkan Yunani
Luigi menghempaskan tubuhnya di kursi. Ia meletakan tasnya di laci meja kerjanya. Ia menyalakan perangkat komputer yang berada diatas mejanya. Luigi memijat batang hidungnya, dengan siku berada di meja, mata Luigi terpejam. Mengingat kejadian di lobby, ia pun merasa malu.
"Lui, Professor memintaku memberikan sample yang telah di uji dan Professor telah menanda tangani berkas persetujuannya secara tertulis-- Ini berkasnya" Seorang laki laki, mengenakan jas berwarna putih berlengan panjang yang di gunakan di Laboratorium dan berlogo KV di dada kirinya, mengetuk pintu ruangan Luigi yang terbuka lalu laki laki itu menghampirinya.
"Aku akan memeriksanya, Josh. Tapi bisakah aku meminta pertolongan darimu?" laki laki yang di panggil Josh itupun menunggu, sebelum ia berniat beranjak pergi dari ruangan Luigi.
"Apapun itu" jawab Josh singkat.
"Ehm.. Aku.. Aku diminta menjauh dari Big Boss, jadi bisakah kau mengantar sampel dan berkas ini padanya?" tanya Luigi dengan gugup.
"Iya-- Dia melakukan hal yang benar. Kalau berada di posisi Big Boss, siapapun orangnya pasti ingin berubah menjadi pot bila tiba tiba ada yang menciumnya" Josh tergelak namun berhenti seketika, saat Luigi menatapnya dengan senyuman tipis.
"Jadi kau tau juga" ujar Luigi menghela nafas panjang.
"Jangankan dinding, bahkan lantai yang kau injak, bisa berbicara Lui. Dan bersiaplah menghadapi fans Big Boss di Perusahaan ini" ujar Josh membuat Luigi tersenyum.
"Mereka yang harus bersiap menghadapiku" kata Luigi dengan santai. Lalu Luigi mengambil pulpen yang berada di meja dan membaca sekilas berkas persetujuan Professor kemudian Luigi membubuhkan tanda tangannya, sebagai orang yang menciptakan sampel aroma parfum yang akan di produksi secara besar besar di pabrik KV.
"Done (selesai)-- Luigi merapikan berkasnya lalu mengulurkan kembali kearah Josh beserta sampelnya --Aku berterima kasih atas pertolonganmu dan aku menunggumu mengembalikan berkas ini setelah kau menemui Steiner"
"Traktir aku makan siang" kata Josh menerima berkas itu dengan mengerlingkan matanya.
"Itu hal yang mudah. Selesaikan saja dengan cepat" ujar Luigi tersenyum dan Josh berlalu. Luigi pun bangkit berdiri dan berjalan kearah lemari dimana jas laboratoriumnya di gantung disana. Luigi memakai jas putih itu, lalu meninggalkan ruangannya menuju ruangan laboratorium. Tempat dimana, orang orang berbakat dalam hal menciptakan, meramu, meracik dan meneliti aroma parfum berada, di bawah pengawasan Professor Anderson.
-
-
Beberapa orang berada diruangan Steiner, termasuk Esme yang masih melaporkan apa saja yang terjadi di dalam perusahaan selama Steiner berada di rumah sakit menunggu Carrie sang kekasih yang mengalami cidera karena kecelakaan. Namun hari ini, Steiner tampak berbeda sikapnya, ia banyak melamun dengan hati yang dipenuhi kekesalan.
Steiner adalah orang yang memiliki karakter yang cukup buruk. Jika sudah marah, Steiner sulit untuk dibujuk, ia akan terus mengingat apa yang membuatnya kesal, berhari hari bahkan berbulan lamanya. Termasuk salah satu pengangkatannya menjadi penerus KV oleh sang Papa, tanpa di diskusikan sebelumnya hingga Steiner masih mendiamkan dan menjaga jaraknya dengan sang Papa.
"Jadi, berapa biaya produksinya, Stein-- masih terdiam dengan pikiran kacau saat Esme mengajaknya bicara.
"Stein-- Steinerr!" panggil Esme lagi dengan kesal.
"Uhm.. Iya.. Ehh.. Apa ada lagi?" tanya Steiner dengan mengubah posisi duduknya, ia menegakkan tubuhnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Stein-- aku bertanya berapa biaya produksi satu produk parfum! Mengapa jawabanmu seperti itu!Astaga! Apa yang kau pikirkan?-- Pasti gadis itu mengganggu pikiranmu! Apa kau sudah mengingatnya dengan benar? Kau pasti mengenalnya" tuduh Esme membuat Steiner semakin kacau.
Steiner menceritakan dan mengklarifikasi pada Esme dan para petinggi perusahaan setelah ia sampai di lantai 17, bahwa ia tidak mengenal gadis yang menciumnya di lobby. Steiner mengatakan bahwa Luigi hanya penggemar fanatiknya, Luigi hanyalah gadis gila dan juga pengkhayal yang menjadi kesimpulan di akhir dari klarifikasinya.
"Aku bersumpah aku tidak mengenalnya, Esme! Arrghh! Menyebalkan!" seru Steiner mengacak rambutnya dan bangkit berdiri, semua tersentak melihatnya. Namun keterkejutan mereka segera berlalu saat pintu di ketuk dan Esme bergegas membuka pintu dan mempersilahkan Josh masuk dengan membawa sampel Luigi.
"Selamat pagi-- Luigi meminta tolong padaku untuk membawakan sampel ini dan beserta berkasnya untuk di tanda tangani" kata Josh mengulurkannya kepada Esme.
Saat Josh ingin berlalu, Steiner menggebrak meja. "Kau! Apa kau pelayannya?! Apa tugasmu melayani dia?! Cepat suruh dia datang sendiri dan mengantarkannya kepadaku! Sombong sekali wanita itu! Ini bukan tugasmu, Josh!"
Semua menegang melihat Steiner termasuk Esme sang sahabat yang tidak pernah melihat sikap Steiner selama ia mengenalnya.
"Ak--aku akan meneleponnya" kata Josh meraih ponselnya dan menghubungi Luigi dengan tangan gemetar.
"Shitt!!-- kau tau nomor ponselnya?" tanya Steiner membuat semua mengerutkan alisnya. Bukankah hal yang wajar sesama teman kantor saling menyimpan nomor ponsel? Namun Steiner seakan akan keberatan dan itu menjadi klarifikasi sebelumnya terlihat abu abu.
"Kami telah bertukar nomor saat pertama kali Lui masuk divisi kami di lantai 18-- Apa ada yang salah dengan itu? Kami rekan kerja" ujar Josh dengan menempelkan ponsel di telinganya.
Shitt.. Apa yang aku pikirkan? Mengapa aku begini? Batin Steiner dalam hatinya.
"Lui! Aku menunggumu di lantai 17! Sekarang. Big boss menyuruhmu datang ke ruangannya" kata Josh setelah Luigi menjawab teleponnya. Kemudian Josh menyimpan ponselnya.
"Aku meminta sampel dan berkasnya kembali Esme, aku harus memastikan sampel itu berada di tangan Lui lagi-- Sorry, itu ketentuan dari Divisi kami, bahwa sampel harus berada di Divisi kami bukan Divisi lain" kata Josh dan Esme memberikannya dengan mendengus.
Sementara Luigi berlarian dengan wajah menegang kearah lift, sesampainya di lantai 17, Luigi menyusuri lorong dan memasuki sebuah ruangan yang semua karyawannya adalah wanita. Di hadapan mereka adalah processor computer (seperangkat komputer) yang menunjukan sebuah grafik penjualan. Mereka menyebut diri mereka semua, fans garis keras seorang Steiner Volgaard yang pernah menjabat sebagai Marketing. Mereka rata rata karyawan lama yang merasa diri mereka sebagai Senior dan tak jarang mereka sering menekan Junior dan karyawan baru.
Semua mata memandang Luigi dengan pandangan membunuh, karena bisa dipastikan mereka semua mendengarkan gosip yang beredar secepat hembusan angin. Mereka berbisik satu sama lain dan Luigi tetap tenang dengan memperlihatkan senyum ramahnya.
"Selamat pagi semuanya, dimana ruangan Steiner?" tanya Luigi menghentikan langkahnya.
Semua terdiam namun beberapa tangan terangkat keatas, menunjuk kearah yang berbeda beda, utara, selatan, dan barat. Luigi tersenyum kemudian.
"Terima kasih, kalian tidak menunjuk ke sisi timur? Itu berarti ruangan Steiner berada disana" ujar Luigi dengan menunjuk arah timur sambil tersenyum manis. Semua berbisik bisik yang pasti memuji kepintaran Luigi hingga seorang wanita berkacamata bangkit berdiri menghampiri Luigi.
"Namaku Milan, ayo ikut aku-- Aku akan mengantarmu dan kau pasti Luigi" kata Milan dengan tersenyum tipis dan Luigi mengikuti langkah kaki Milan dengan membawa sebuah kunci tanpa rasa curiga sedikitpun.
Luigi merasakan perasaan yang tidak nyaman saat mengetahui Milan berjalan kearah selatan bukan kearah timur. Saat di lorong langkah Milan berhenti di restroom.
"Sebentar aku ke toilet dulu" ujar Milan masuk dan Luigi menunggu diluar.
"Lui, tolong aku!" seru Milan dari dalam toilet.
"Aaaa! Milaaaan!" Baru satu langkah Luigi memasuki toilet Milan menarik tangan Luigi dengan cepat, lalu Milan justru keluar dari toilet dan menguncinya dari luar.
"Milann apa yang kau lakukan! Steiner memanggilku! Buka pintunya Milan!" pekik Luigi seraya memukul mukul pintu dari dalam.
"Rasakan! Dasar Wanita murahan! Beraninya kau mencium Steiner kami yang berharga!" seru Milan menyeringai. Pembulian pun terjadi dan sering kali para Senior melakukannya kepada karyawan baru.
"Karena dia kekasihku! Milan buka pintunya! Kau akan menyesal! Milaann! Steinerrrr!" pekik Luigi sekerasnya.
Dan sesuatu tak di duga terjadi, tanpa Milan sadari kunci berputar dan saat Luigi menggerakan daun pintu, pintu itu terbuka! Melihat itu Milan menahannya hingga aksi dorong dorongan pintu pun terjadi.
"Aku telah menguncinya, mengapa bisa terbuka!" gumam Milan dengan membulatkan matanya dan terus menahannya.
"Buka Milan! Ada apa denganmu! Steineeer!" pekik Luigi dengan kerasnya. Sesuatu pun terjadi pada Luigi, hembusan angin begitu lembut meriapkan rambutnya dan membuat Luigi terkejut. Luigi melangkah mundur dan mengedarkan pandangannya namun tidak ada siapapun dan tidak ada apapun. Hanya penyedot udara yang terdengar lembut.
Dan saat itu juga satu engsel pintu terlepas saat Milan berusaha menutupnya hingga pintu itu justru setengah menimpanya. Milan menjerit dan menahan pintu itu. Kesempatan itu di gunakan Luigi untuk keluar dari toilet lalu ia berlari kearah timur, arah yang tidak ditunjuk oleh para fans garis keras Steiner dari Divisi Marketing.
"Aaaaa! Toloong akuu!" jeritan Milan sambil menahan pintu yang semakin menghimpit miring, pintu itu serasa berat seakan ada yang menimpanya, sulit sekali Milan menegakannya. Teman temannya pun berhamburan berlarian kearah Milan dan menolongnya, dan tiba tiba pintu itu serasa ringan. Milan terengah engah dengan rasa aneh dan rasa ngeri yang menjalari hatinya.
Luigi pun tiba di sebuah ruangan dengan pintu yang terbuka, suara Josh terdengar dan ia merasa tenang. Luigi berhenti sejenak dan mengatur nafasnya. Setelah merapikan rambutnya dan kerah jas nya, Luigi mengetuk pintu saat ia berdiri di ambang pintu.
"Selamat pagi" Luigi tersenyum, ia mengedarkan pandangannya, tak perduli semua orang melihat kearahnya, ia perlahan melangkahkan kakinya, melewati Steiner yang berdiri dengan bersedekap di bibir jendela dimana di samping Steiner terdapat sebuah lukisan pemandangan alam yang sangat Luigi kenal.
Mata Luigi tak berhenti berkedip dengan menengadahkan kepalanya keatas, hingga memperlihatkan leher mulusnya. Steiner justru menatapnya sambil menelan salivanya lalu ia buru buru memalingkan wajahnya.
"Lembah Parnassus" gumam Luigi dengan mata berkaca kaca. Kerinduan yang mendalam merayapi hatinya, senyumnya mengembang penuh keharuan, ternyata Steiner menyimpan sebuah lukisan yang sama yang pernah Luigi lihat di pondok, bahkan Steiner mengajaknya kesana dan merenggut satu satunya mahkota yang ia miliki.
Rasanya Luigi tersedot ke dalam pusaran khayalannya pada lukisan itu dan ingin kembali mengulangnya, kerinduannya seakan ingin berhamburan memeluk Steiner yang berada beberapa langkah darinya.
"Apa kau ke Paris dulu?! Lama sekali kau datang!" kata Esme membuyarkan lamunan Luigi.
"Gadis sombong! Kau pikir kau pemilik perusahaan ini sampai kau menyuruh Josh untuk menyerahkan sampel, yang seharusnya menjadi tugasmu!" Luigi menoleh kearah Steiner sambil menyeka sudut matanya lalu tersenyum tipis.
"Mister Steiner, bukankah beberapa menit yang lalu kau menyuruhku untuk menjauhimu dan mendekatimu? Mengapa aku menjadi serba salah? Perintah mana yang seharusnya aku lakukan?" semuanya diam dan mereka saling pandang.
Gadis ini--- Aarghh.. Menyebalkan. Batin Steiner menjerit kesal.
"Seharusnya ada resepsionis di lantai 17 ini, agar tamu atau karyawan baru tidak tersesat! Sepertinya perusahaan ini tidak sehat! Pembulian sepertinya menjadi makanan sehari hari di perusahaan ini. Penggemarmu mengunciku di toilet dan tidak menunjukan tempat ini dengan benar! Banyak yang perlu di benahi di Perusahaan ini dan tidak salah kau memintaku bekerja disini karena aku akan memperbaikinya" tutur Luigi dengan memandang tegas kearah Esme, ia pun berjalan kembali kearah Josh dan meminta sampel serta berkasnya.
Kapan aku menyuruhnya? Percaya diri sekali gadis ini. Steiner
"Josh, terima kasih-- Pergilah. Aku akan tetap mentraktirmu makan siang" Josh pun hanya mengangguk sesaat, dan berlalu dari ruangan itu. Kemudian Luigi membawa sampe parfum dan berkasnya kearah meja lalu meletakanya.
Makan siang? Mereka akan makan siang? Jangan harap kau bisa melakukanya.. Kau akan sangat sibuk hari ini, gadis sombong. Batin Steiner kesal.
"Kau terlalu percaya diri, memang siapa dirimu sampai kau akan memperbaikinya?" Esme terpancing dengan hati yang memanas.
"Kau akan tahu nanti-- Luigi memalingkan wajahnya kearah Steiner --Karena seseorang pernah mengatakan padaku, akan menikahiku. Dia akan memberikan hidupnya untukku, kita akan mencurahkan keahlian kita ke dalam perusahaan ini. Dia memiliki aku sebagai Peramu, Peracik dan Pembuat! Dan aku memilikinya sebagai Pemimpin yang akan memimpin perusahaan dan memimpin hidupku"
Luigipun mendorong berkas sampel kearah Steiner yang terdiam, terkesima oleh perkataan Luigi. Karena semua mata tertuju padanya, Steiner buru buru kembali duduk di meja dan menanda tangani tanpa memeriksa sampelnya, lalu menyodorkannya pada Luigi.
"Stein, kau tidak memeriksa sampelnya?" tanya Esme mengingatkan.
Mengapa aku bisa lupa? Steiner.
"Aku percaya pada kemampuan Professor Anderson-- Tapi, sebaiknya aku memastikannya" kata Steiner mencari alasan.
Luigi tersenyum saat Steiner membuka salah satu dari kelima sampel yang ia ajukan, lalu ia menyerahkan dari saku jasnya, satu kantong dari kain transparan yang di dalamnya terdapat biji kopi robusta.
"Setelah mencium satu sampel, sebaiknya-- sesudahnya mencium kopi robusta ini. Kopi robusta lebih cepat menetralisir indera penciuman dibanding kopi arabica. Jika kau tidak menciumnya maka indera penciumanmu, perlahan akan mati rasa sehingga semua aroma yang kau cium terlihat sama dan kau tidak bisa membaui aroma apapun bahkan-- ehm, aroma kentutmu sendiri" ujar Luigi menggaruk pelipisnya yang tidak gatal karena ia malu mengatakannya.
Semua menahan tawa, kecuali Esme yang mendengus sementara Steiner memilih untuk menerima kantong kopi dari tangan Luigi. Steiner mencium satu sampel lalu mencium kopi sesudahnya, ia melakukannya hingga mencium aroma kelima sampel itu.
"Aku akui kau berbakat-- Kau tidak mau mencobanya Esme?" Steiner menawarkan.
"Tidak, terima kasih" jawab Esme datar.
"Ini gratis dan kau tidak perlu membayarnya" kata Luigi mencoba ramah.
"Tidak" ujar Esme dengan menatap tajam dan tegas kearah Luigi yang justru memperlihatkan senyumnya.
"Baiklah-- Aku akan membawa sampel ini ke bagian produksi" ujar Luigi sambil membereskan sampel sampel di meja Steiner.
Setelah merapikannya tangan Luigi terulur kearah Steiner, "Kantong biji kopiku-- aku tidak bisa bekerja tanpa itu"
"Kau selalu membawanya?" tanya Steiner dengan lembut.
"Tentu saja, bahkan kantong biji kopi itu telah berkeliling dunia, termasuk ke Yunani" jawab Luigi datar.
"Cari saja lagi! Ini untukku! Hidungku masih mati rasa!" kata Steiner tiba tiba menaikan volume suaranya.
"Tapi--
"Cari saja lagi! Ini perintah Big Boss-mu!" potong Steiner dengan cepat sambil menggebrak meja. Semua terkejut tak terkecuali Luigi. Semua kebingungan, mengapa Steiner mendadak marah.
"Ba-Baiklah. Selamat pagi" Luigipun undur diri dan berlalu dengan wajah pias. Ia menggelengkan kepalanya melihat tingkah Steiner yang semakin aneh, hingga di ambang pintu Luigi menghentikan langkahnya karena Steiner kembali berseru kepadanya.
"Jangan pernah menyebut kota Yunani di hadapanku! Karena bila aku Tuhan, aku akan melenyapkan negara itu, agar menghilang dan menghapusnya dari peta dunia!" Luigi tersentak dan memalingkan tubuhnya dengan penuh tanda tanya.
"Mengapa?" Luigi membulatkan matanya dengan mata berkaca kaca.
"Kau tidak perlu tahu! Kau bukan siapa siapa sampai kau harus tahu! Pergilah! Keluarr! Ini Perintah! Sampai kau mengatakannya lagi, aku akan memotong lidahmu!" Luigi mengepalkan tangannya, sekuat tenaga ia menahan matanya yang seakan ingin mencair. Luigi memilih diam dan bergegas pergi.
"Stein mungkin dia--
"Diaamm! Cukup Esme! Aku tidak mau membahas apapun!" potong Steiner kembali bangkit berdiri di bibir jendela sambil mencium kantong yang berisi biji kopi.
Steiner memejamkan matanya, menetralkan indera penciumannya, dan meredamkan amarahnya. Sayup sayup ia mendengar percakapan dari kejauhan, karena Luigi meninggalkan ruangannya tanpa menutup pintu.
Josh kau masih disini?
Di sini banyak pembulian, Lui. Aku menunggumu untuk menyerahkan sampel itu ke bagian produksi, aku akan menemanimu agar tidak ada yang menganggumu
Terima kasih Josh
"Esme! Kau selesaikan semuanya! Laporkan sisanya pada Bernard dan Julia! Dan beritahu Richard untuk ke pabrik" perintah Steiner kembali menegang.
"Stein kau mau kemana?" tanya Esme mengerutkan alisnya.
"Ke bagian produksi" jawab Steiner sambil memasukan kantong biji kopi ke saku jasnya lalu ia menyambar ponselnya dan berjalan kearah pintu.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Esme dengan kesal.
"Bukan urusanmu, Esme!" hanya suara Steiner yang terdengar di telinga semua orang, karena Steiner telah menghilang dari balik pintu. Langkahnya terdengar tergesa gesa seperti menyusul langkah seseorang.
Josh! Kembalilah bekerja!
Baik, Boss
Stein lepaskan tanganku, kau bilang jangan menyentuhmu tapi mengapa kau sendiri yang menyentuhku! Kau meminta aku menjauh tapi mengapa kau--
Diaaammm! Cereweett!
Esme menghela nafas panjang. Mereka semua saling pandang dalam diam mendengarkan pertikaian yang memenuhi lorong ruangan Steiner. Mereka sudah bisa membayangkan apa yang terjadi tanpa harus melihatnya. Steiner menyambar tangan Luigi dengan kasar dan mengusir Josh.
"Mari kita lanjutkan" ujar Esme dengan dingin. Suasana menjadi beku seketika.
-
-
-
MARI KITA LANJUTKAN! SEMANGAT! IM BACK!
FLOTT akan UP : SEGERA! SETELAH LANJUTANYA MENYISIPKAN TRAIN DI AWAL CERITA! SEMOGA UP NYA.
SELAMAT VOTE N GIFT DI DUA NOVELKU BOSQYU..
SEMANGAT!!!
-
-
Bila kamu menyukai Novel ini, Jangan Lupa Dukungan Vote, Like, Komen, Koin, Poin dan Rate bintangku yaa Reader Tersayang.
Biar aku semangat nulis lagu disela - sela waktu jadwal kuliahku yang padat. Terima kasih Reader tersayang 😘😘🥰🥰💕💐
-