NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kegelisahan Susan.

Arman tidak lagi sekadar tertarik. Ia mulai mengatur langkah.

Pagi berikutnya, ia datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Bukan untuk bekerja itu hanya alasan yang ia ceritakan pada dirinya sendiri. Ia membuka agenda, menelusuri jadwal rapat lintas perusahaan, mencari satu nama dengan cara yang terlalu hati-hati untuk disebut kebetulan.

Valencia Group.

Nama Dara muncul lagi. Panel diskusi. Undangan makan siang strategis. Sesi lanjutan kerja sama.

Arman tersenyum tipis.

Bukan senyum puas.

Senyum seseorang yang akhirnya menemukan celah yang sah. Ia tidak menghubungi Dara secara personal. Tidak mengirim pesan. Tidak menelepon. Ia memilih jalur profesional yang paling aman, paling bersih, dan paling sulit ditolak.

Undangan resmi.

Nada formal.

Tidak ada pujian berlebihan.

Tidak ada ketertarikan yang kentara.

Hanya satu kalimat penutup yang disengaja: Saya rasa diskusi lanjutan akan lebih efektif jika dilakukan secara langsung.

Di sisi lain kota, Dara membaca surel itu dengan tenang.

Tidak terkejut.

Tidak tersenyum.

Ia sudah menduga.

Ia menutup layar laptopnya perlahan, menyandarkan punggung ke kursi. Polanya jelas. Arman tidak menyerang. Tidak memaksa. Ia naik satu tingkat dari rasa ingin tahu menjadi upaya.

“Mulai,” gumam Dara dalam hati.

Danu yang berdiri di dekat jendela menoleh. “Naik level?”

“Ya,” jawab Dara singkat.

 “Sekarang dia tidak lagi ingin mengenalku. Dia ingin mendekat.”

“Dan kamu?”

Dara berdiri, merapikan jasnya. “Aku tidak mundur.” Ia mengambil tasnya. “Aku biarkan dia berpikir ia memimpin langkah.”

Danu tersenyum kecil, sudah hafal iramanya. “Padahal jaraknya tetap kamu yang atur.”

“Selalu,” jawab Dara dingin.

Di tempat lain, Arman menutup laptopnya dengan perasaan aneh seperti seseorang yang baru saja menekan bidak di papan catur, yakin langkah itu tepat.

Ia tidak tahu satu hal: Dara tidak sedang menghindar.

Ia sedang membiarkannya masuk lebih dekat.

Karena semakin dekat Arman melangkah, semakin jelas nanti...siapa yang sebenarnya sedang diburu.

.

Undangan itu disepakati dua hari kemudian.

Bukan makan malam. Bukan tempat intim. Ruang privat di restoran bisnis yang terlalu terang untuk disebut romantis, terlalu mahal untuk disebut kebetulan.

Arman datang lebih dulu.

Ia duduk tegak, jasnya sempurna, ponsel diletakkan terbalik di meja. Tidak ada gelisah di wajahnya, hanya fokus yang terlatih. Ia tahu kesan pertama selalu menentukan, bahkan pada pertemuan lanjutan.

Dara masuk tepat waktu.

Tidak terburu-buru. Tidak membuatnya menunggu.

Langkahnya tenang, ekspresinya netral, seperti seseorang yang datang karena perlu, bukan karena ingin.

“Terima kasih sudah meluangkan waktu, Pak Arman,” ucap Dara sambil duduk. Nada profesional. Jarak aman.

Arman mengangguk. “Saya yang berterima kasih. Presentasi Anda di rapat kemarin… mengubah banyak perspektif.”

Dara tidak merendah. Tidak menolak pujian. Ia hanya menjawab, “Itu tujuan saya.”

Percakapan mengalir rapi. Angka. Proyeksi. Risiko. Peluang. Dara memimpin diskusi dengan presisi yang membuat Arman semakin yakin bahwa perempuan ini bukan sekadar wajah di berita.

Namun di sela-sela profesionalisme itu, ada sesuatu yang mengganggu Arman.

Cara Dara sesekali berhenti sebelum menjawab. Cara ia menatap, seolah sedang mengukur, bukan dinilai. Seolah Armanlah yang sedang dipelajari.

Sementara itu, Dara mencatat semuanya dalam diam.

Cara Arman memilih kata.

Cara ia tidak menyebut masa lalu. Cara ia menjaga diri agar terlihat aman. Ia hampir tersenyum.

Karena ia tahu: ini bukan lagi pertemuan bisnis biasa bagi Arman. Ini investasi emosi tahap awal.

Usai makan siang, Arman berdiri lebih dulu. “Saya harap ini bukan pertemuan terakhir.”

Dara mengancingkan jasnya. “Selama kepentingan perusahaan sejalan, saya terbuka.”

Jawaban yang sempurna. Tidak menutup pintu. Tidak membukanya lebar. Arman mengangguk, puas.

Di luar restoran, mereka berpisah tanpa jabat tangan berlebihan.

Dara melangkah menuju mobilnya.

Danu sudah menunggu.

“Bagaimana?” tanyanya singkat.

“Dia percaya diri,” jawab Dara sambil masuk ke mobil. “Dan itu akan menjadi kelemahannya.”

“Next move?”

Dara menatap ke depan. “Sekarang biarkan dia merasa berhasil. Setelah itu… kita geser papan.”

Mobil melaju, meninggalkan Arman yang masih berdiri sebentar di parkiran.

Ia merasa satu hal dengan yakin: perempuan bernama Dara Valencia ini layak diperjuangkan.

Dan tanpa ia sadari, itulah titik di mana permainan benar-benar dimulai.

...****************...

Susan merasakan perubahan itu lebih dulu, bahkan sebelum ia bisa memberi nama pada perasaannya.

Bukan karena Arman berkata apa-apa. Justru karena ia tidak berkata apa-apa lagi.

Pesan paginya hanya dibaca. Tidak dibalas. Ajakan makan siang ditunda, lalu terlupa.

Teleponnya dijawab singkat, profesional, tanpa nada hangat yang dulu selalu membuatnya merasa istimewa.

Di kantor, mereka masih bertemu. Masih satu ruang rapat. Masih satu meja panjang.

Tapi jaraknya terasa seperti dua lantai berbeda.

Susan memperhatikan Arman dari balik laptopnya. Cara ia fokus. Cara ia sesekali tersenyum kecil pada layar ponsel—senyum yang tidak pernah sampai padanya lagi.

Dan ia tahu. Ada nama lain di kepala Arman.

Beberapa hari kemudian, Susan datang lebih pagi, membawa bekal yang dulu selalu membuat Arman tersenyum. Ia meletakkannya di meja Arman, rapi, seperti kebiasaan lama.

“Arman,” katanya pelan.

Arman menoleh. “Aku ada rapat luar.”

“Dengan siapa?” tanyanya refleks.

Arman ragu sepersekian detik cukup singkat untuk disebut tidak sengaja. “CEO Valencia Group.”

Nama itu jatuh seperti benda keras di dada Susan.

Dara Valencia.

Wajah di berita. Wanita yang terlalu sering disebut akhir-akhir ini. Wanita yang terlalu sering muncul di jadwal Arman.

“Oh,” Susan memaksakan senyum. “Baik.” Ia menarik kembali bekalnya tanpa diminta.

Siang itu, Susan duduk sendirian di kantin, membuka ponsel, menatap ulang artikel-artikel lama. Foto-foto. Wawancara. Profil CEO muda yang terlalu sempurna.

Dan untuk pertama kalinya, Susan tidak bertanya, siapa Dara Valencia?

Ia bertanya hal yang jauh lebih berbahaya: Kenapa Arman berubah sejak perempuan itu muncul?

Sore harinya, Susan berdiri di parkiran, melihat mobil Arman melaju pergi—bukan ke arah rumah. Ia menutup matanya.

Naluri yang selama ini ia abaikan kini berbicara jelas:

Ia bukan ditinggalkan karena kurang berusaha.

Ia sedang digeser.

Dan Susan bukan perempuan yang terbiasa kalah tanpa tahu pada siapa.

Jika Arman tertarik pada Dara Valencia…maka Susan akan memastikan satu hal terlebih dahulu: apakah wanita itu benar-benar hanya CEO,

atau sesuatu dari masa lalu yang seharusnya tidak kembali.

.

Malam itu, Susan berdiri lama di depan jendela apartemennya, menatap lampu kota yang berkilau seperti rahasia yang belum terucap. Di tangannya, ponsel terbuka pada satu nama yang terus ia gulir tanpa disentuh.

Dara Valencia.

Ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya mengeras pelan: ketertarikan Arman bukanlah kebetulan, dan pertemuan mereka bukan sekadar urusan kerja.

Di tempat lain, Dara menutup laptopnya dengan senyum tipis yang tidak pernah sampai ke mata.

Bidak pertama sudah bergerak.

Bidak kedua mulai gelisah.

Dan ketika orang-orang mulai menyelidiki dengan emosi, bukan logika, permainan selalu berakhir dengan satu kebenaran sederhana:

yang paling tenang… biasanya sudah tahu cara menang.

1
Kam1la
terimakasih....😍
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo hadir kak🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🌹hadiah bwt kaka🤗
Kam1la: terimakasih....😍😍
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
👋
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo kak maaf bru mampir lagi🤗
Kam1la: ok Kak, semoga terhibur
total 1 replies
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!