NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Malam itu, suasana kota terasa lebih mencekam dari biasanya. Raisa baru saja keluar dari toko buku saat ia mendengar langkah kaki yang terburu-buru dan teriakan tertahan dari gang sempit di samping pertokoan. Instingnya sebagai seorang guru seketika waspada.

" Tolong..... Tolong saya...... "

Tanpa pikir panjang, ia melangkah masuk ke kegelapan gang tersebut dan mendapati seorang gadis remaja sedang terpojok, dikepung oleh dua pria berwajah sangar.

"Lepaskan dia!" suara Raisa menggelegar, tenang namun penuh otoritas.

Kedua preman itu menoleh, meremehkan sosok wanita yang berdiri sendirian.

" cewek bro "

" gimana kalau kita bawa saja dia sekalian. Lumayan juga "

Namun, saat Raisa mengeluarkan ponsel dan dengan lantang menyebut bahwa koordinat lokasinya sudah terhubung langsung dengan kantor polisi terdekat, nyali mereka menciut.

" iya pak, saya sedang di jalan anggrek nomor 5 " ucap raisa

Ditambah lagi dengan sorot lampu mobil yang kebetulan melintas masuk ke arah gang, kedua preman itu akhirnya memilih melarikan diri ke dalam kegelapan.

Gadis itu jatuh terduduk, gemetar hebat. Raisa mendekat dan betapa terkejutnya ia saat mengenali wajah yang pucat pasi itu.

"Dara?"

Dara, siswi kelas 12 yang selalu menjadi kebanggaan sekolah. Gadis pendiam yang menyabet semua piala olimpiade fisika, sang juara paralel yang masa depannya dianggap paling cerah di SMA Pelita Bangsa.

"Bu... Bu Raisa..." Dara terisak, memeluk kaki gurunya dengan tangan yang dingin seperti es.

" Ayo kita pergi dari sini " ucap Raisa sembari menuntun Dara menuju mobilnya dan berkendara menjauh dari kawasan gelap itu.

ia tidak membawa Dara ke kantor polisi atau ke rumah sakit, melainkan ke sebuah bangunan bergaya industrial minimalis dengan papan nama kecil namun elegan di depannya: "The Library Cafe".

Sangat sedikit orang yang tahu bahwa Raisa memiliki usaha sampingan ini. Baginya, kafe ini adalah tempat perlindungan, sebuah ruang di mana buku-buku dan aroma kopi menjadi terapi bagi kepalanya yang penat.

"Masuklah, Dara. Di sini aman," ucap Raisa sambil membuka pintu kafe yang sudah tutup untuk umum itu.

Dara memandang sekeliling dengan takjub. Rak buku menjulang tinggi hingga ke langit-langit, lampu gantung yang temaram memberikan kesan hangat yang kontras dengan dinginnya jalanan tadi. Raisa membawanya ke bar kecil di sudut ruangan dan membuatkan teh camomile hangat.

"Ibu... ini kafe milik Ibu?" tanya Dara pelan, suaranya mulai stabil.

Raisa mengangguk singkat. "Hanya sedikit orang yang tahu. Tempat ini adalah cara saya tetap waras di luar sekolah."

" ceritakan dara, apa yang terjadi sama kamu " ucap raisa khawatir

"Ayah saya terlilit hutang judi, Bu. Rumah sudah digadaikan," bisik Dara, air matanya jatuh ke dalam cangkir. "Malam ini... pria-pria itu datang bukan untuk menagih uang. Mereka bilang hutang Ayah lunas kalau saya dibawa ke salah satu club malam di pusat kota. Saya... saya mau dijual, Bu."

Raisa terpaku. Di sekolah, Dara adalah simbol kesuksesan, namun di rumah, ia hanyalah komoditas untuk membayar dosa orang tuanya.

"Ibu tidak akan membiarkan itu terjadi, Dara. Sedikit pun tidak," tegas Raisa, tangannya menggenggam erat tangan Dara yang masih gemetar.

Dara terdiam lama, menatap pantulan dirinya di permukaan teh. Matanya kemudian beralih pada tumpukan buku di meja, lalu kembali ke arah Raisa dengan tatapan yang penuh permohonan, namun kali ini ada secercah tekad di sana.

"Bu Raisa... saya tahu saya lancang," Dara memulai, jemarinya meremas pinggiran cangkir. "Tapi saya tidak bisa pulang ke rumah malam ini, atau malam-malam berikutnya jika Ayah masih mencari saya untuk membayar hutangnya. Saya butuh uang untuk menyewa kost kecil yang aman... dan untuk makan."

Dara menarik napas panjang. "Bolehkah saya bekerja di sini, Bu? Paruh waktu saja setelah jam sekolah. Saya janji nilai-nilai saya tidak akan turun. Saya bisa membersihkan buku, jadi kasir, atau apa saja. Tolong, Bu... saya ingin mandiri agar mereka tidak bisa menjual saya lagi."

Raisa menatap murid terbaiknya itu. Hatinya sebenarnya sedang berkecamuk. Ia melihat dirinya sendiri pada sosok Dara, seorang pejuang yang terdesak keadaan.

"Tugas esai kamu saja sudah sempurna, Dara. Saya yakin kamu akan menjadi barista atau pengelola buku yang sangat teliti," jawab Raisa dengan senyum hangat miliknya.

"Kamu boleh tinggal di ruang atas kafe ini sementara waktu. Ada kamar kecil untuk staf yang tidak terpakai. Dan besok, kita akan bicara dengan pihak berwenang soal Ayahmu."

Tepat saat itu, ponsel Raisa bergetar hebat di meja. Nama "Fatih", "Pak Surya", dan "Fajar" muncul bergantian di layar kunci, menanyakan lokasinya.

Raisa mengabaikan mereka semua. Fokusnya kini bukan lagi pada para pemuja yang memperebutkan perhatiannya, melainkan pada keselamatan seorang gadis yang masa depannya nyaris hancur.

"Istirahatlah, Dara. Besok pagi jam tujuh, saya masih menunggu esai kamu di meja kerja saya," ucap Raisa kembali ke mode formalnya, namun dengan nada yang jauh lebih lembut.

"Dan besok sore, kamu mulai belajar cara mengoperasikan mesin espresso ini."

......................

Pagi itu, suasana SMA Pelita Bangsa yang biasanya tenang mendadak mencekam.

Sebuah mobil tua yang tampak tak terawat berhenti mendadak di depan lobi. Seorang pria dengan pakaian berantakan dan aroma alkohol yang masih tercium tipis turun dengan langkah gusar. Itu adalah ayah Dara.

Kabar kedatangan pria itu sampai ke telinga Raisa lebih cepat dari dugaannya. Raisa segera menuju kelas 12, di mana Dara sedang duduk mematung dengan wajah pucat di bangkunya.

Raisa masuk ke kelas dan menatap Gavin serta Dafa yang kebetulan sedang berada di sana untuk urusan OSIS.

"Gavin, Dafa," panggil Raisa tegas. "Jaga pintu kelas ini. Jangan biarkan siapa pun masuk, terutama pria yang sedang mengamuk di koridor. Pastikan Dara tetap di dalam dan jangan biarkan dia merasa takut. Bisa kalian lakukan?"

Gavin dan Dafa, yang biasanya bersaing, kali ini kompak mengangguk serius. Mereka segera berdiri di depan pintu kelas seperti ajudan pribadi, sementara teman-teman sekelas Dara merapat untuk memberikan perlindungan moral.

Di ruang tamu kantor, ayah Dara sudah menunggu sambil memukul-mukul meja. Saat Raisa masuk, pria itu langsung berdiri dan membentak.

"Mana anak saya?! Kembalikan Dara! Dia itu anak saya, hak saya mau bawa dia ke mana saja!" teriak pria itu, urat lehernya menegang.

Raisa duduk dengan tenang, meletakkan dokumen laporan nilai Dara yang sangat gemilang di atas meja. "Silakan duduk, Pak. Kita bicara sebagai orang dewasa yang peduli pada masa depan anak."

"Peduli apa?! Saya butuh dia untuk melunasi urusan saya! Ibu tidak tahu apa-apa soal kesulitan saya!"

"Saya tahu lebih banyak dari yang Anda kira, Pak," potong Raisa, suaranya sedingin es namun tajam. "Dara adalah aset bangsa. Dia juara paralel, pemenang olimpiade, dan siswi dengan masa depan paling cerah di sekolah ini. Menyerahkannya pada dunia malam bukan hanya tindakan kriminal, tapi juga penghancuran masa depan."

" saya tidak peduli dengan masa depan nya, dia hanya perempuan yang tidak berguna bagi saya, setidak nya dengan menjual nya saya tidak memiliki hutang lagi "

Raisa mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke mata pria itu. "Remaja seperti Dara butuh pendidikan, bukan beban hutang orang tuanya. Sekolah ini bukan hanya tempat belajar, tapi benteng perlindungan bagi mereka. Jika Anda memaksa membawanya untuk tujuan ilegal, saya tidak akan ragu melaporkan ini sebagai tindak pidana perdagangan orang."

Di tengah perdebatan itu, pintu kantor terbuka. ternyata muncul pak surya ketua yayasan dan pengacara yayasannya, siap memberikan perlindungan hukum bagi dara.

Pak Fajar guru olahraga yang berjaga di depan pintu, memastikan tidak ada keributan fisik yang terjadi.

Ayah Dara menciut melihat barisan pria-pria berwibawa ini mendukung posisi Raisa.

"Pendidikan adalah hak mutlak Dara," lanjut Raisa tanpa berpaling. "Dan selama dia berada di lingkungan sekolah ini, dia adalah tanggung jawab saya. Saya tidak akan menyerahkan dia kepada siapa pun yang berniat merusak hidupnya."

" tapi saya ayah nya secara agama juga hukum "

" ayah mana yang tega menjual anak nya demi hutang karena memenuhi nafsu dunia saja. Bahkan hak anak anda sendiri tidak anda tunaikan secara agama "

Ayah Dara terdiam, menyadari bahwa dia tidak sedang melawan seorang guru biasa, melainkan seorang wanita yang didukung oleh kekuatan yang jauh lebih besar dari hutang-hutangnya.

Gavin yang mengintip dari kejauhan berbisik pada Dafa, "Gila, Bu Raisa kalau sudah mode The Real Queen begini, nggak ada yang berani motong pembicaraannya."

Dafa menghela napas lega. "Yang penting Dara aman dulu, Vin."

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!