"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bale Pasanggrahan
Hujan akhirnya reda saat mentari mulai condong ke barat. Bus pengganti tiba, dan para mahasiswa KKN kembali melanjutkan perjalanan dengan perasaan lega bercampur was was. Pemandangan di luar jendela semakin memesona. Hamparan sawah hijau membentang luas, diselingi perbukitan yang menghijau dan sungai yang berkelok-kelok. Udara terasa segar dan bersih, jauh dari polusi kota.
Puri terpukau dengan keindahan alam Desa Sidomukti. Ia merasa seolah memasuki dunia yang berbeda, dunia yang damai dan tenang. Namun, di balik keindahan itu, ia juga merasakan aura misterius yang membuatnya penasaran.
"Akhirnya sampai juga," gumam Ayu sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku.
"Iya, nggak sabar pengen lihat tempat tinggal kita," timpal Dina dengan nada antusias.
Tak lama kemudian, bus memasuki gerbang desa yang terbuat dari bambu. Di sana, mereka disambut oleh kepala desa, seorang pria paruh baya bernama Bapak Subroto, dan beberapa warga desa yang tampak ramah.
"Selamat datang di Desa Sidomukti, Adik-adik mahasiswa!" sapa Bapak Subroto dengan senyum hangat. "Semoga betah dan bisa memberikan kontribusi yang positif bagi desa kami."
Setelah memperkenalkan diri, Bapak Subroto mengarahkan mereka menuju bale pasanggrahan tua yang akan menjadi tempat tinggal mereka selama KKN. Bale pasanggrahan itu terletak di pinggiran desa, dikelilingi oleh pepohonan rindang dan sawah yang menghijau. Bangunan itu tampak megah namun juga menyimpan aura kuno yang kuat.
"Ini bale pasanggrahan peninggalan zaman kolonial," jelas Bapak Subroto. "Dulu, tempat ini digunakan sebagai tempat istirahat para pedagang yang melewati desa kami. Sekarang, tempat ini jarang digunakan, kecuali untuk acara-acara tertentu."
Puri menatap bale pasanggrahan itu dengan tatapan kagum. Bangunan itu memiliki arsitektur khas Jawa kuno dengan atap tinggi dan dinding yang terbuat dari kayu jati. Di bagian depan terdapat pendopo yang luas dengan ukiran-ukiran yang indah.
Namun, saat mereka memasuki bale pasanggrahan, kesan pertama mereka tidak seindah yang mereka bayangkan. Bangunan itu tampak kotor dan tidak terawat. Debu tebal menutupi lantai dan perabotan. Jaring laba-laba menggantung di langit-langit.
"Wah, kayaknya kita harus bersih-bersih besar-besaran, nih," celetuk Rio dengan nada kecewa.
"Iya, tempat ini butuh sentuhan tangan kita," timpal Dina dengan nada prihatin.
Puri terdiam sejenak, mengamati sekeliling dengan seksama. Ia merasakan aura mistis yang semakin kuat di dalam bale pasanggrahan itu. Ia seolah mendengar bisikan-bisikan dari masa lalu, memanggil namanya.
"Tempat ini punya cerita," gumam Puri pelan, nyaris tak terdengar.
"Cerita apa, Puri?" tanya Ayu dengan nada penasaran.
Puri menggelengkan kepalanya. "Nggak tahu, cuma perasaan aja," jawabnya.
Bapak Subroto mengajak mereka berkeliling bale pasanggrahan, menunjukkan kamar-kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Kondisi kamar-kamar itu juga tidak jauh berbeda dengan kondisi pendopo kotor dan tidak terawat.
"Maaf ya, Adik-adik, kondisinya memang seperti ini," kata Bapak Subroto dengan nada menyesal. "Kami belum sempat membersihkan tempat ini karena kesibukan warga desa."
"Nggak apa-apa, Pak," jawab Puri dengan senyum tulus. "Kami akan membersihkannya sendiri."
Setelah berkeliling, Bapak Subroto meninggalkan mereka untuk beristirahat dan mempersiapkan diri. Para mahasiswa KKN mulai membersihkan bale pasanggrahan dengan semangat gotong royong. Mereka menyapu lantai, membersihkan debu, dan menata perabotan.
Namun, di tengah kesibukan itu, Puri merasa ada sesuatu yang aneh di dalam bale pasanggrahan. Ia merasa seperti ada yang mengawasi mereka dari balik dinding dan kegelapan. Ia juga sering mendengar suara-suara aneh yang tidak bisa dijelaskan.
"Kalian denger suara aneh nggak?" tanya Puri kepada teman-temannya.
"Suara apa?" tanya Ayu dengan nada bingung.
"Kayak suara bisikan gitu," jawab Puri.
"Ah, itu cuma suara angin kali," timpal Rio dengan nada cuek.
"Iya, mungkin kamu cuma kecapekan aja, Puri," tambah Dina.
Puri mencoba mengabaikan perasaan aneh itu dan melanjutkan pekerjaannya. Namun, semakin lama, perasaannya semakin tidak enak. Ia merasa seperti ada sesuatu yang jahat bersembunyi di dalam bale pasanggrahan itu.
Saat hari mulai gelap, mereka memutuskan untuk berhenti membersihkan dan beristirahat. Mereka menyalakan api unggun di halaman depan bale pasanggrahan dan duduk melingkar sambil menikmati kopi dan makanan ringan.
"Gimana kesan pertama kalian tentang desa ini?" tanya Fahri, anggota kelompok yang pendiam namun selalu perhatian.
"Desanya indah banget, suasananya juga tenang," jawab Ayu dengan nada kagum.
"Iya, tapi bale pasanggrahannya agak serem, ya," timpal Dina sambil bergidik ngeri.
"Serem apanya? Biasa aja, kok," sanggah Rio dengan nada sok berani.
Puri terdiam sejenak, lalu berkata, "Aku ngerasa ada sesuatu yang aneh di tempat ini."
"Aneh gimana?" tanya Rendra dengan nada serius.
Puri menghela napas panjang. "Aku nggak tahu jelasnya, tapi aku ngerasa ada aura mistis yang kuat di desa ini, terutama di bale pasanggrahan."
Semua orang terdiam mendengar perkataan Puri. Mereka saling berpandangan dengan tatapan bingung dan sedikit takut.
"Lo jangan nakut-nakutin, deh, Puri," kata Rio dengan nada gugup.
"Gue nggak nakut-nakutin, gue cuma ngomong apa yang gue rasain," jawab Puri dengan nada tegas.
Suasana di sekitar api unggun menjadi tegang. Mereka semua merasakan kehadiran sesuatu yang tidak terlihat, sesuatu yang mengintai mereka dari balik kegelapan.
Tiba-tiba, suara lolongan anjing terdengar memecah kesunyian malam. Lolongan itu terdengar sangat panjang dan menyayat hati, membuat bulu kuduk mereka meremang.
"Anjing siapa tuh? Kok lolongnya serem banget?" tanya Dina dengan nada ketakutan.
"Nggak tahu, mungkin anjing liar," jawab Fahri dengan nada ragu.
Lolongan anjing itu terus berlanjut, semakin lama semakin keras. Kemudian, tiba-tiba lolongan itu berhenti begitu saja, seolah ada sesuatu yang membungkamnya.
Semua orang terdiam, menahan napas. Mereka merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, seolah ada sesuatu yang jahat sedang mendekat.
Puri menggenggam erat buku catatannya. Ia tahu bahwa perjalanan KKN ini tidak akan mudah. Ia tahu bahwa ia akan menghadapi banyak tantangan dan rintangan. Namun, ia juga tahu bahwa ia tidak sendirian. Ia memiliki teman-teman yang siap mendukungnya, dan ia memiliki keyakinan bahwa ia akan mampu melewati semua ini.
Di bawah langit malam yang gelap gulita, di tengah suara-suara aneh yang menghantui, Puri Retno Mutia siap menghadapi misteri Desa Sidomukti. Ia tahu bahwa perjalanan ini akan mengubah hidupnya selamanya, dan ia siap menerima apapun yang akan terjadi.
Tak lama setelah itu, sepotong cahaya lemah muncul dari kejauhan, menyebar melintasi sawah yang gelap. Semua kepala langsung menoleh ke arah sumber cahaya itu. Seorang laki-laki tua dengan baju koko hitam yang tampak lusuh dan topi tengkorak berjalan perlahan menuju api unggun, ditemani seekor kucing hitam yang mengikutinya dengan langkah ringan namun anggun.
"Assalamualaikum," ucap laki-laki itu dengan suara serak namun berwibawa, memecah keheningan malam.
"Waalaikumsalam," balas semua serempak, masih terkejut dengan kedatangan tamu tak diundang itu.
Laki-laki itu mendekat dan duduk dengan tenang di pinggiran lingkaran api unggun, tanpa menunggu dipersilakan. Kucing hitam itu melompat ke pangkuannya dan meringkuk dengan nyaman. "Nama saya Mbah Sastro," kenal laki-laki itu sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Matanya yang sayu tampak menembus kegelapan, seolah mampu melihat jauh ke dalam jiwa masing-masing.
"Apa kabar, Mbah? Kami mahasiswa KKN yang baru tiba di desa ini," ujar Fahri dengan sopan, mencoba memecah ketegangan.
Mbah Sastro mengangguk pelan, lalu tatapannya terpaku pada Puri. "Kamu yang merasakan aura ganjil di bale pasanggrahan, bukan?" tanyanya langsung ke inti permasalahan, membuat jantung Puri berdebar tak karuan.
"I-iya, Mbah. Bagaimana Mbah bisa tahu?" tanya Puri dengan nada gugup.
Mbah Sastro tersenyum tipis, memperlihatkan kerutan-kerutan di wajahnya yang bagaikan guratan peta kehidupan. "Aku tahu semua yang terjadi di desa ini. Bale itu bukan sekadar bangunan tua, Nak. Ia adalah saksi bisu dari masa lalu yang kelam. Ia menyimpan ingatan... ingatan yang tidak selalu indah.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*