"Lepasin...sakit tahu!!!"
Teriak seorang gadis yang di seret paksa oleh seorang pria tampan namun bringas.
Arabella Jenevile Dirgantara terjebak atas kecerobohannya sendiri.
Dia tak sengaja melihat hal yang seharusnya tak dia lihat.
"Jangan coba coba lari dariku gadis nakal. Nyawamu ditanganku!" Seringai pria bernama Dariush Cassano.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Cynthia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertekuk Lutut
Dariush dan Arabella sampai di kamar hotel. Namun Bella segera mengeluarkan kopernya dan memasukkan semua pakaiannya.
Tangan Dariush menahannya. "Lepasin Dariush! Aku benci kamu!" Teriak Bella, ia pergi dari hadapan Dariush dan duduk di sofa dengan menutupi wajahnya.
Isak tangis Bella begitu menyayat hati. Dariush bersimpuh di kaki istrinya. Ia memeluk kedua kaki Bella. Tangannya terulur menghapus air mata istrinya.
"Arabella, aku kalah telak! Aku benar benar mencintai mu. Kamu wanita pertama dalam hidupku yang membuatku berlutut! Aku memohon dan meminta padamu, jangan tinggalkan diriku! Akan ku lakukan apapun untuk membuat mu di sisiku." Suara Dariush semakin melemah.
Pertama kalinya dalam hidup, Dariush bersimpuh pada seorang wanita yaitu istrinya. Ia meneteskan air matanya dan membelai wajah cantik sang istri.
Mafia berparas tampan ini sekali lagi, bertekuk lutut di hadapan wanitanya. Ia tak takut p*luru ataupun musuh musuhnya. Dariush hanya takut kehilangan orang yang dicintainya sekarang.
"Ini yang aku takutkan Dariush! Aku takut mencintaimu. Aku takut... Aku...!"
Dariush berdiri dan menarik Bella ke dalam pelukannya. Ia menciumi kepala istrinya. Ternyata Bella sudah mulai mencintainya.
"Katakan, kamu mencintai ku Arabella." Lirih Dariush.
"Yah! Kamu benar! Tanpa aku sadari, aku sudah mencintai mu, mungkin! Kebersamaan kita setiap waktu membuatku nyaman dengan mu. Aku merasa di lindungi oleh mu." Ucap Bella dengan suara seraknya.
Tangan Dariush semakin mengeratkan pelukannya. Akhirnya setelah perjuangan dia selama ini, hati Bella luluh. Pertahanan Bella runtuh ketika melihat masa lalu suaminya datang. Ia tak bisa menahan kecemburuannya.
Tangisan Bella semakin melemah, ia semakin menelusupkan kepalanya ke tubuh suaminya. Kedua tangannya terangkat melingkar memeluk pinggang Dariush.
Dariush menangkup wajah istrinya yang sudah bengkak akibat tangisannya yang tak kunjung reda. Bella menatap kembali suaminya ini. Ada perasaan yang tak bisa ia ungkapkan.
Perlahan namun pasti Dariush mencium lembut bibir istrinya. Bella pun membalasnya dengan berlinang air mata. Malam ini ia benar benar merasakan ketulusan seorang Dariush.
Mata Bella terpejam merasakan setiap sentuhan dari suaminya. Bibir Dariush menciumi seluruh wajahnya tanpa melewatkan sedikit pun.
Bella melihat air mata jatuh di pipi Dariush. Ia menghapus air mata itu dan mencium kedua mata suaminya.
"Satu tahun lalu, orang tuaku meninggal dalam kecelakaan tragis. Pelakunya belum di temukan. Aku dan Sean sudah buntu mencari petunjuk. Hingga akhirnya aku tahu, kalau orang tuamu dan orang tua ku bersahabat. Tapi aku tidak tahu, kenapa mertuaku tidak datang ke pemakaman saat orang tuaku meninggal." Lirih Dariush.
"Aku yakin pertemuan kita adalah pertanda untuk ku menemukan pelaku pemb*nuhan orang tuaku. Yaitu melalui mertuaku. Orang tuamu! Pasti mereka tahu sesuatu." Lanjut Dariush.
Perkataan Dariush cukup membuat Bella syok. "Apa? Jadi orang tuaku_" Bella tak melanjutkan lagi perkataannya.
Dariush tahu, arah pembicaraan Bella. "Bukan! Mereka bukan pelaku! Aku hanya ingin mencari informasi dari orang tuamu, tentang semua ini." Ucap Dariush.
Bella menunduk lemah, rupanya Dariush mempunyai luka yang mendalam. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Bibirnya keluh untuk bicara.
Tangan Dariush membuka pakaian istrinya dan menggantinya dengan baju tidur tipis. Bella hanya diam di perlakukan manis oleh suaminya.
Dariush mengelus leher putih istrinya dan menyesapnya dalam. Bella sudah mengeluarkan desahan kecil dari mulutnya. Tangannya melepaskan semua pakaian suaminya dan melemparnya jauh.
Bella mendorong dada suaminya pelan hingga ke kasur. Ia menindih tubuh Dariush dan mulai bermain di atasnya. Dariush di buat mabuk kepayang oleh istrinya. Dengan liar Bella memanjakan junior suaminya dulu.
"Oh f*ck argh...!" Kepala Dariush sudah mengadah ke atas, juga matanya yang sayu membuatnya semakin melayang. Rupanya istrinya sekarang sudah pintar memanjakannya.
Bella tersenyum puas melihat suaminya yang sudah kewalahan. Sampai akhirnya Dariush mengeluarkan pelepasannya. "Argh... Damn!"
"Oh my God... Kamu membuatku gila."
Dariush membalikkan tubuh istrinya dan menarik kedua kakinya hingga ke ujung kasur. Di sana ia mulai memompa aset Bella yang semakin nikmat.
"Eugh... Ahhh... Ahhh..." Semakin nikmat, keduanya bergelut di atas kasur. Lalu Dariush membawanya ke sofa dan ke setiap sudut kamar itu.
Bohong kalau Bella tidak menikmati. Justru kali ini iya yang kecanduan. Racauan Bella membuat Dariush semakin dalam memompanya, tangannya ikut bermain di lembah nirwana istrinya ini.
Kini keduanya bermain di depan kaca jendela yang besar sambil menatap langit. Dariush bisa melihat punggung istrinya yang putih mulus tanpa cacat. Ia terus memacunya dari belakang.
Permainan itu berakhir di kasur, Dariush berkali kali memuntahkan lahar panasnya ke dalam rahim istrinya. Peluh keringat membasahi keduanya.
Bella langsung membelakangi suaminya dan menyelimuti dirinya. "Hei sayang...kenapa hmm?" Tanya Dariush lembut.
"Aku capek... Sa-sayang..."
Dariush tercengang, pertama kalinya kata itu keluar dari mulut istrinya. "Ucapkan sekali lagi."
"Yang mana?"
"Yang tadi sayang." Lanjut Dariush.
Bella tertawa kecil dan membalikkan badannya. Ia mengecup duluan suaminya. "Tidak ada pengulangan. Aku capek ngantuk mau tidur."
Tiba tiba raut wajah Dariush berubah menjadi datar. "Jadi kamu tidak akan mengucapkan kata itu?"
Tangan Bella meraba dada bidang suaminya yang s*ksi. Dariush mulai mendesah lagi. "Aku lelah sayang, aku mau tidur. Aku menyayangi mu, Dariush." Ucapnya, dengan suara paraunya.
"F*ck! Kamu berhasil membuatku bertekuk lutut honey." Tutur Dariush, ia memeluk istrinya dan melakukan lagi penyatuan. Sepertinya Bella tidak merasakan lelah, justru kali ini ia yang minta nambah.
Dirasa sudah terlalu lama, Bella menyudahinya. Matanya benar benar tak kuat. "Lihat sudah jam 1 malam. Besok lagi yah please..."
"Iya sayang...kita istirahat. Aku mencintai mu Arabella."
Mata Arabella menatap dalam suaminya. "Hmm... Aku tahu."
-
-
-
Matahari sudah menyoroti kamar pasangan suami istri ini. Bella menggeliatkan badannya, ia membuka matanya perlahan. Namun ketika bangun, suaminya sudah tak ada di pinggirnya. "Kemana dia?" Gumamnya.
Tiba tiba Dariush datang dengan membawa secangkir kopi untuk istrinya dengan bertelanj*ng dada. Tubuh atletis suaminya mampu menghipnotis jantung Bella.
"Morning babe..." Ucap Dariush lembut.
"Hmm morning." Bella mengecup duluan bibir suaminya.
Senyum Dariush mengembang. Ia membawakan sandwich untuk istrinya. "Di makan dulu, nanti kita makan di bawah yah." Ucapnya, lembut.
"Terima kasih suamiku."
Bella memakan makanan yang di bawa suaminya dan meminum secangkir kopi. Seusai sarapan pagi, keduanya mandi bersama tanpa ada penyatuan lagi. Dariush tahu jika istrinya kelelahan akibat semalam.
Bella memilih baju yang akan di pakainya. Tangan Dariush mengambil dress berwarna biru langit selutut lengkap dengan coat-nya. Bella menerimanya dengan senang hati.
Dariush yang memakaikan baju pada istrinya. Ia juga mengeringkan rambut istrinya yang basah. Sedangkan Bella sibuk merias dirinya.
"Cantik."
Kepala Bella menoleh ke arah suaminya. "Apa kamu lelah menghadapi ku?" Tanya Bella tiba tiba.
"Tidak! Akan ku hadapi wanita cantik ini sampai titik dar*h penghabisan." Jawab Dariush penuh keyakinan.
"Berjuanglah... Karena sepertinya aku semakin akan membuatmu kewalahan."
"Coba saja sayang."