Kehidupan seorang pengacara tampan yang sukses dan termuda begitu banyaknya rintangan untuk menghadirkan buah hatinya. Setelah sang istri mengalami keguguran dan hampir meninggal, membuat pria itu trauma untuk memiliki anak lagi.
Dan setelah banyaknya rintangan yang kedua pasangan itu lewati akhirnya Tuhan memberikan buah hati yang tidak terduga. Keluarga Syein begitu lengkap dengan hadirnya penerus keluarga Syein Biglous yang kembar tiga.
Bagaimanakah nasib Jeerewat ketika ia melewati masa-masa kehamilan yang di kelilingi dengan keluarga yang sangat posesif padanya ?
Apakah kehidupan mereka akan tetap bahagia kedepannya atau sebaliknya, silahkan simak cerita ini yah.
Cerita ini adalah lanjutan dari cerita "Istri Seksi Milik Pengacara Tampan".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keanehan Di Kediaman Syein
Jac tertegun seketika mendengar jawaban dari Alfy. "M-maksud, Tuan?" tanyanya tidak mengerti.
"Yah, aku memberi jadwal bagi siapa pun yang akan mengunjungi anakku harus sesuai dengan jadwal yang sudah kubuat di depan pintu kamar nanti. Selebihnya adalah waktu untukku dengan anak-anakku. Begitu juga dengan Jee, dia harus memberi waktu untukku." ucap Alfy yang tertawa puas.
Kali ini tidak ada yang boleh membantahnya atau Alfy akan memiliki satu ancaman untuk membungkam mulut kedua Kakek yang super berkuasa itu.
Jac dan Delon yang mendengar ucapan Alfy hanya terdiam berfikir apakah Tuannya masih sadar dengan keputusannya itu. Semua terjadi begitu aneh di telinga mereka, tapi itulah kenyataan hidup di keluarga Syein Biglous. Harus siap menerima kenyataan yang terdengar tidak masuk akal akan terjadi kapan saja.
Alfy yang membayangkan esok pagi harus mendapat jatah waktu Jee mengantarnya ke halaman rumah sama seperti Zeyra yang mengantar Delon tadi pagi.
"Tidak ada yang boleh menentang peraturanku di rumah itu." ucap Alfy dalam hati.
Delon tertawa ketika mengintip jadwal hasil kerjaan Tuannya. Sepertinya Alfy benar-benar iri dengan perlakuan Delon pada Zeyra tadi pagi. Pantas saja jika wajah Tuannya selalu tertekuk sejak pergi dari rumah tadi.
Hari begitu cepat ketiga pria itu bergegas meninggalkan kantor dengan ekspresi yang berbeda-beda. Jac yang merasa enggan untuk segera pulang berfikir harus kemana ia setelah ini. Sedangkan Delon terlihat datar saja seperti ekspresi biasanya yang tidak terlihat ada beban.
Alfy yang begitu antusias dengan misinya kali ini merasa tidak sabaran ingin segera sampai di rumah. Tentu ia tidak sabar bagaimana ekspresi keluarganya yang melihat jadwal yang sudah ia atur sejak di kantor tadi.
***
Jee yang tengah berbaring di kamar anak-anaknya terbangun saat melihat kehadiran Alfy.
"Kau sudah pulang, Sayang?" tanyanya yang terbangun dari tidurnya.
Alfy hanya mengangguk tersenyum, Jee yang melihat wajah suaminya hanya menatap bingung. Ada apa lagi dengan suaminya kali ini? berangkat dengan wajah menekuk pulang dengan wajah tersenyum.
"Ayo ke kamar." ajak Alfy pada Jee dan memilih cuek pada kedua kakek di ruangan itu.
Jee beranjak dari ruangan mengikuti langkah suaminya ke kamar. Ia membantu Alfy menyiapkan bajunya. Pria itu masih belum juga berbicara satu kata pun. Setelah cukup lama Alfy bersantai di kamar, kini pria itu pun mengeluarkan selembar kertas dan menyodorkan pada sang istri.
"Apa ini?" tanya Jee penasaran.
Matanya mengerjap beberapa kali melihat kertas di genggamannya. "Jadwal mengurus suami?"
"Ya, mulai saat ini kau harus mengikuti jadwal itu, Sayang. Aku juga harus di urusi dan pagi jangan sampai lupa mengantarku ke depan seperti sebelum-sebelumnya." jelas Alfy yang tersenyum mendekat ke arah Jee.
Pria itu perlahan merebahkan kepalanya di pangkuan Jee yang tengah duduk di pinggir kasur. "Dan sekarang jadwalnya kau bersamaku." lanjut Alfy lagi.
"Kau ini bagaimana kalau anak kita nangis?" sahut Jee yang tidak masuk akal dengan peraturan suaminya.
"Yah kita bawa ke kamar saja, jangan sampai kedua kakeknya harus ikut ke kamar ini juga." jawab Alfy yang memejamkan matanya dan melingkarkan tangan di pinggang Jee yang masih duduk lalu membenamkan wajahnya di perut sang istri.
Jee tidak lagi berbicara, ia hanya menghela nafasnya kasar. "Astaga suamiku, apa yang terjadi denganmu?" gumam Jee yang mengelus lembut kepala Alfy layaknya seorang anak dengan ibunya.
Wanita itu masih menatap terus jadwal di tangannya. Harus mengurus suami ketika pagi hingga memastikan suami berangkat kerja, dan menyambut kedatangan suami ketika sore hari di depan rumah. Malam bersama suami dan anak di kamar tanpa kedua kakek.
Begitu isi jadwal yang Alfy berikan pada sang istri tanpa mendengar suara Jee. Belum lama keduanya terdiam Alfy kembali terbangun dari tidurnya.
"Ada apa?" tanya Jee yang penasaran.
Alfy tidak mejawab, pria itu hanya bergegas dari kamarnya di ikuti dengan Jee. Alfy mengendap-endap keluar kamar. Matanya menangkap dua sosok pria paruh baya yang baru saja ingin keluar kamar anaknya.
"Yes." ucap batin Alfy yang mengepal tangannya seraya menunjukkan ekspresi penuh kemenangan.
Alfy terus berdiam hingga benar-benar memastikan jika kedua pria itu pergi dari kamar anaknya. Yah Tuan Reindra dan Tuan Indrawan tidak ada yang mau pergi mandi jika keduanya tidak bersamaan. Dan akhirnya mereka keluar dari kamar itu bersamaan agar adil waktunya.
Alfy dengan cepat berlari menghampiri kamar anaknya menempel sebuah kertas dan mengambil kunci kamar itu kembali membawanya masuk ke kamar. Jee yang ikut pada suaminya di kamar penasaran.
"Sayang, itu kertas apa?" tanya Jee.
"Bukan apa-apa, hanya jadwal keadilan saja kok. Sekarang aku mau tidur." ucap Alfy tersenyum legah.
Jee pun keluar dari kamar dan mengisi botol asi ketiga anaknya, wanita itu merasa penasaran dengan kertas yang di tempel suaminya di depan pintu itu.
"Astaga, apa yang dia lakukan?" ucap Jee terkejut melihat di hadapannya saat ini.
Dengan cepat ia pun kembali masuk ke kamar, sayangnya Alfy sudah terlelap di kasur. Pria itu tampaknya kelelahan. Jee yang sudah merasa cukup kuat kini turun ke lantai bawah berkumpul dengan Nyonya Flora dan Nyonya Syein.
"Wah ada Zeyra dan Syanin juga ternyata." Suara Jee terdengara dari tangga.
Semua menatap ke arahnya tersenyum. Mereka pun berkumpul di ruangan itu berbicara dengan bahagianya tertawa hingga terdengar di setiap sudur rumah itu. Tak lama kemudian Tuan Reindra dan Tuan Indrawan kembali terlihat heboh. Keduanya berhitung di balik pintu kamar agar bisa keluar bersamaan.
Semua menatap ke arah dua kamar mereka. "1, 2, 3." Suara serentak Tuan Reindra dan Tuan Indrawan segera berlari menaiki anak tangga.
Jee yang belum sempat memberi tahu pada kedua pria itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Astaga lama-lama suami kita seperti akan kehilangan akal sehatnya." sahut Nyonya Flora pada Nyonya Syein.
"Bukan suami Mamah dan Mami saja, Jee juga akan mengalami hal seperti itu pastinya." jawab Jee yang menekuk wajahnya kesal.
"Ada apa dengan Alfy, Jee?" tanya Nyonya Flora penasaran.
Jee belum saja sempat menjawab kini sudah terdengar teriakan Tuan Indrawan dan Tuan Reindra.
"Alfy...Alfy...buka pintunya." teriak kedua pria itu bergantian di depan kamar cucunya.
Semua menatap ke arah atas. Entah apa yang di lakukan Alfy pada kedua pria itu sampai membuatnya menghebohkan seisi rumah.
"Pah, ayo makan malam." panggil Nyonya Syein yang berteriak kecil dari bawah.
"Yasudah kita makan dulu nanti kita urus ini. sahut Tuan Reindra dan mengajak Tuan Indrawan turun kembali.
Di meja makan Tuan Reindra tiba-tiba berbicara. "Ada apa dengan suamimu itu, Jee? mengapa bisa memberikan jadwal segila itu pada kami? kami ini kan kakeknya." bantah Tuan Reindra yang tampak kesal.
"Jee juga tidak tahu Pah. Alfy yang memutuskannya sendrian." jawab Jee yang baru saja duduk di kursi meja makan.
Sementara salah satu pelayan berusaha membangunkan Alfy dengan mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Tuan Reindra yang menatap kesal dengan pintu kamar cucunya yang tertutup akhirnya menarik tangan Tuan Indrawan menjauh dari meja makan.
"Ada apa?" tanya Tuan Indrawan.
"Kalau begini jadinya kita tidak akan bisa bertemu cucu kita, bagaimana kalau kita memberinya obat tidur saja. Tidak ada yang berani mencegah kita jika Alfy sudah tidur, kan?" tanya Tuan Reindra terdengar liciknya.
dengerin novel ini aja bisa nangis anjai
sedih banget menusuk hati kepergian jee
ya ampunn
jee
plis bikin prart ke 3 jee
bikin sakit keritis dan sembuh kembali aja
gak rela jee meningal ya tuhan