Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Namira akhirnya duduk bersila di atas karpet bulu dengan wajah yang ditekuk sedalam-dalamnya. Di depannya, Kitab Jurumiyah sudah terbuka lebar, tampak sangat mengintimidasi dibandingkan ponselnya yang sedari tadi bergetar karena notifikasi TikTok.
Ayyan duduk dengan tenang di sofa kecil, menyesap kopi hitam tanpa gula—persis seperti kepribadiannya yang pahit tapi bikin candu bagi Namira.
"Ayo, mulai dari bab Kalam. Jangan cuma dilihatin, kitabnya nggak bakal hafal sendiri kalau cuma dipelototin pakai mata galakmu itu," ucap Ayyan tanpa menoleh.
Namira menghela napas dramatis. "Mas, apa nggak bisa metode belajarnya diganti? Misalnya, Mas baca satu baris, terus aku balas dengan satu ciuman? Pasti aku langsung hafal satu kitab dalam semalam!"
Ayyan hampir saja tersedak kopinya. Ia berdehem keras, mencoba mengembalikan wibawa ustadz-nya yang nyaris runtuh. "Namira Salsabila, fokus. Jangan mulai nawar yang aneh-aneh. Cepat baca."
Namira mengerucutkan bibirnya. "Iya, iya! Al-kalamu huwal lafzhul murakkabul mufidu bil wad'i..." Namira membaca dengan nada yang sengaja diseret-seret, seperti anak kecil yang dipaksa makan sayur.
Setelah satu halaman berlalu dengan penuh perjuangan, Namira mendadak berhenti. Ia menatap suaminya dengan tatapan menyelidik.
"Mas... aku mau tanya serius."
Ayyan menutup kitab kecil di tangannya, memberi perhatian penuh. "Tanya apa? Ada yang belum paham?"
"Bukan soal kitab. Tapi soal tadi... Pas di depan Randi, Mas bilang 'Saya yang punya kunci kamar kamu'. Itu... Mas dapet inspirasi dari mana? Kok bisa se-savage itu?" Namira menumpu dagunya dengan kedua tangan, matanya berkedip-kedip penasaran.
Ayyan terdiam sejenak. Ia mengalihkan pandangan ke arah jendela, telinganya mendadak memerah. "Hanya refleks. Dia terlalu sombong dengan hartanya, seolah-olah semuanya bisa dibeli. Padahal kenyataannya, dia bahkan tidak bisa membeli senyum tulus kamu."
Namira senyum-senyum sendiri. "Terus, Mas beneran cemburu ya pas dia bahas dres aku?"
Ayyan menghela napas, akhirnya ia menyerah untuk bersikap dingin. "Namira, dengar. Laki-laki mana pun yang punya harga diri tidak akan suka melihat istrinya dipuji secara terang-terangan oleh pria dari masa lalu. Apalagi dia terang-terangan ingin mengajakmu ke acaranya."
"Jadi beneran cemburu nih?" goda Namira lagi, wajahnya makin mendekat ke arah Ayyan.
"Sedikit," jawab Ayyan singkat.
"Sedikit apa banyak?"
"Sedikit... banyak."
Namira tertawa puas. "Hahaha! Akhirnya ngaku juga Gus satu ini! Tenang aja, Mas. Randi itu cuma masa lalu yang kayak ampas teh, udah tawar. Kalau Mas Ayyan kan kayak kopi ini, item, kuat, bikin melek, walaupun kadang pahit di mulut!"
Ayyan menarik hidung Namira gemas sampai istrinya itu memekik. "Bisa saja alasannya. Sudah, lanjut setorannya. Kalau tidak selesai satu setengah bab, besok tidak ada jatah jalan-jalan ke pasar malam."
"HAH?! Pasar malam?! Yang ada bianglala sama arum manis itu?!" Mata Namira langsung berbinar-binar.
"Iya. Tapi syaratnya tetap: Jurumiyah dulu."
Namira langsung tegak sempurna. Semangatnya terbakar hebat. "Oke! Siapa takut! Wa aqsamuhu tsalatsatun: ismun, wa fi'lun, wa harfun ja'a liman'an..."
Ayyan memperhatikan istrinya yang kini membaca dengan kecepatan penuh. Senyum tipis terukir di wajahnya. Meskipun Namira sangat "ajaib" dan hobi makan seblak level tinggi, Ayyan tahu bahwa tidak ada wanita lain yang bisa membuat harinya yang kaku menjadi sehidup ini.
Namun, di tengah semangat Namira, ponsel Ayyan yang berada di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
“Gus, jangan terlalu percaya diri. Tanah wakaf itu hanya pembuka jalan. Saya tidak terbiasa kalah, apalagi soal wanita.”
Rahang Ayyan mengeras. Ia melirik Namira yang masih asyik menghafal dengan ceria, tidak menyadari bahwa Randi benar-benar serius dengan tantangannya.
Ayyan menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama. Jempolnya bergerak tenang, menghapus pesan ancaman dari Randi tersebut tanpa berniat membalasnya. Baginya, meladeni orang seperti Randi dengan kata-kata hanya akan membuang energi. Tindakan jauh lebih nyata daripada sekadar perang teks.
"Mas? Mas Ayyan! Kok malah bengong? Aku udah selesai nih bab Alamatul I'rab! Mas dengerin nggak sih?" Namira menepuk lutut Ayyan, membuyarkan lamunannya.
Ayyan kembali meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah. Ia menatap Namira yang sedang mengatur napas karena habis membaca kitab dengan kecepatan cahaya.
"Sudah selesai? Coba ulangi sekali lagi tanpa melihat kitab," tantang Ayyan sambil bersedekap.
Namira memutar bola matanya, tapi kemudian ia mulai merapal hafalan dengan lancar. Meski sesekali terhenti untuk mengingat-ingat, Namira berhasil menyelesaikannya.
"Gimana? Lulus kan? Pasar malam jadi kan, Mas? Bianglala, here I come!" seru Namira girang, ia bahkan melakukan tarian kecil dengan bahunya.
Ayyan mengangguk tipis. "Lulus. Tapi ada satu syarat lagi."
Namira langsung berhenti menari. "Duh, apalagi sih Mas? Jangan bilang harus hafal Alfiyah Ibnu Malik malam ini juga ya? Bisa tipes aku, Mas!"
Ayyan terkekeh, suara tawa rendahnya terdengar sangat menenangkan. "Bukan. Syaratnya adalah... besok di pasar malam, kamu tidak boleh jauh-melihat dari saya. Dan satu lagi, pakai hijab yang menutup dada dengan sempurna. Saya tidak mau 'penggemarmu' di sana nanti lebih fokus ke kamu daripada ke dagangannya."
Namira menyipitkan mata, senyum jahil terukir di wajahnya. "Oalah... ternyata efek pesan Randi tadi masih berasa ya? Mas Ayyan beneran mau jadi satpam aku besok?"
"Bukan satpam, Namira. Saya cuma menjalankan tugas sebagai imam untuk menjaga makmumnya," jawab Ayyan diplomatis, meski hatinya memang sedang dalam mode waspada.
Namira beranjak dari duduknya, lalu duduk di samping Ayyan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya itu. "Tenang aja, Mas. Di mata aku, Randi itu cuma remahan rengginang. Mas Ayyan itu menu utamanya. Mana ada sih orang mau tukar nasi padang sama rengginang?"
Ayyan terdiam sejenak, lalu tangannya bergerak mengelus puncak kepala Namira yang masih tertutup ciput. "Kamu ini... analoginya selalu soal makanan."
"Ya habisnya makanan itu jujur, Mas. Kayak perasaan aku ke Mas," gumam Namira mulai mengantuk karena energi habis dipakai menghafal.
"Namira?"
"Hmm?"
"Terima kasih ya."
Namira mendongak, menatap mata tajam Ayyan yang kini meredup lembut. "Buat apa?"
"Buat tetap jadi Namira yang bawel. Jangan pernah berubah jadi pendiam hanya karena saya orangnya kaku. Saya... lebih suka kamu yang seperti ini," ucap Ayyan tulus.
Namira tertegun. Jantungnya kembali melakukan maraton. Ia tidak menyangka suaminya yang "kulkas dua pintu" itu bisa berkata seindah itu tanpa naskah.
"Kalau gitu, Mas harus siap-siap ya. Karena kalau aku nggak berubah, berarti Mas harus siap dengerin aku minta seblak dan jajan dres tiap hari sampai kita punya cucu!"
Ayyan tersenyum tipis, lalu ia mengecup dahi Namira cukup lama. "Asal kamu rajin setor hafalan, gudang dres dan pabrik seblak pun saya usahakan."
"MAS AYYAN! JANGAN GOMBAL TERUS, AKU BISA MELEPEH!" teriak Namira sambil menyembunyikan wajahnya yang merah padam di dada Ayyan.
Keesokan malamnya, suasana pasar malam sangat ramai. Lampu warna-warni dan aroma harum jajanan memenuhi udara. Namira tampak sangat cantik dengan gamis simpel berwarna cokelat susu dan khimar senada yang menutup dada, sesuai permintaan Ayyan.
Ayyan berjalan di sampingnya, mengenakan jaket bomber gelap yang membuatnya tidak terlalu terlihat seperti ustadz, melainkan seperti pria muda yang sedang berkencan biasa. Namun, tangannya tidak pernah lepas menggenggam jemari mungil Namira.
"Mas! Lihat itu! Ada tembak-tembak berhadiah boneka! Mas kan jago memanah, pasti jago nembak itu juga dong!" Namira menarik tangan Ayyan menuju stan permainan.
Ayyan hanya pasrah mengikuti istrinya. "Itu cuma permainan ketangkasan, Namira. Hadiahnya juga tidak seberapa."
"Ih, bukan soal hadiahnya! Tapi soal gengsi Mas sebagai Gus paling keren! Ayo, tembak satu buat aku!"
Saat Ayyan sedang fokus membidik sasaran dengan senapan mainan, seorang pria dengan topi hitam yang ditarik rendah berdiri tidak jauh dari mereka, sedang memperhatikan setiap gerak-gerik pasangan itu sambil berbicara lewat handsfree.
"Target sudah di lokasi. Mereka sedang lengah," bisik pria itu.