Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.
Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.
Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Harus Sempurna
Klik.
Suara pintu ruang ganti yang tertutup rapat itu terdengar seperti vonis mati bagi Genta. Begitu slot kunci berputar, seluruh kekuatan yang tadi menopang punggungnya seolah menguap ke udara. Ia menyandarkan tubuhnya ke pintu kayu yang dingin, membiarkan kepalanya terkulai lemas.
Di luar, suara keriuhan ribuan mahasiswa dan dentuman musik pembukaan Orientasi Mahasiswa Baru terdengar lamat-lamat, teredam oleh dinding beton. Namun, di dalam kepala Genta, kebisingan itu justru berkali-kali lipat lebih kencang.
Genta mengangkat tangan kanannya. Di bawah lampu neon yang berkedip di langit-langit, jari-jarinya bergetar hebat. Bukan hanya gemetar kecil, melainkan tremor yang membuat seluruh lengannya terasa kaku. Ia mengepalkan tangan itu dengan kasar, menekannya ke dada, mencoba meredam detak jantung yang berdegup liar seperti genderang perang yang tidak sinkron.
Perutnya melilit. Rasa mual yang familiar itu merayap naik ke tenggorokannya. Genta segera berlari menuju wastafel di sudut ruangan, mencengkeram pinggiran porselen putih itu hingga buku jarinya memutih. Ia memejamkan mata erat-erat, mengatur napas pendek-pendek.
Satu... dua... tiga... hembuskan.
Kecemasan sosial bukan sekadar rasa malu bagi Genta, itu adalah monster fisik yang mencoba mencabik-cabik tubuhnya dari dalam setiap kali ia harus menjadi pusat perhatian.
Genta perlahan membuka mata dan menatap pantulannya di cermin. Di sana, ia melihat seorang pria yang nampak sangat berwibawa. Jas almamater biru tua yang melekat di tubuhnya terlihat sempurna tanpa cela. Rambutnya masih tertata rapi, dan rahangnya nampak kokoh. Namun, Genta benci pria di dalam cermin itu. Pria itu adalah kebohongan terbesar yang pernah ia ciptakan.
"Jangan membuat malu, Genta."
Suara itu muncul begitu saja di benaknya. Bukan suaranya, melainkan suara ayahnya. Dingin, tajam, dan tidak mengenal ampun. Genta bisa membayangkan wajah ayahnya, seorang diplomat sukses yang memandang emosi sebagai kelemahan dan kegagalan sebagai aib.
“Seorang pemimpin tidak boleh berkeringat. Seorang pemimpin tidak boleh gemetar. Jika kamu tidak bisa menguasai dirimu sendiri, bagaimana kamu bisa menguasai ribuan orang?”
Kalimat-kalimat itu telah dijahit ke dalam jiwanya sejak ia masih berusia tujuh tahun. Genta mengingat hari di mana ia menangis karena kalah dalam lomba pidato di sekolah dasar, dan ayahnya hanya menatapnya dengan pandangan jijik sebelum pergi meninggalkannya sendirian di panggung. Sejak saat itu, Genta belajar membangun topeng. Ia belajar bicara dengan nada bariton yang datar untuk menyembunyikan getaran suaranya. Ia belajar berjalan tegak meski kakinya terasa seperti terbuat dari jeli.
"Kamu adalah Presiden Mahasiswa," bisiknya pada pantulannya sendiri. Suaranya pecah di ruang yang sunyi itu. "Kamu tidak boleh terlihat lemah. Tidak boleh."
Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, membiarkan tetesannya membasahi kerah kemeja putihnya yang mulai lembap karena keringat dingin. Ia harus kembali menjadi 'Pangeran Es'. Ia harus menjadi robot yang diinginkan semua orang. Karena jika mereka tahu siapa dia sebenarnya, seorang pemuda yang ingin muntah hanya karena harus menyapa orang asing, maka seluruh dunianya akan runtuh.
Genta merogoh saku celananya, mengambil ponselnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia tidak membuka media sosial. Ia tidak memeriksa pesan dari Kania atau grup BEM yang pasti sedang meledak karena koordinasi acara.
Ia membuka aplikasi Fantasy World.
Hanya butuh beberapa detik baginya untuk menemukan log obrolan dari semalam. Matanya terpaku pada pesan terakhir dari Rara_The_Healer.
“...bayangin aja aku ada di sudut ruangan, siap nge-cast skill 'Motivation Buff' buat kamu.”
Genta menatap layar itu cukup lama. Tanpa ia sadari, otot-otot wajahnya yang kaku perlahan mulai merileks. Sebuah senyum, senyum yang sangat tipis, hampir tak terlihat, namun benar-benar tulus, muncul di bibirnya. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di kampus ini.
Rara. Gadis itu tidak tahu siapa dia. Di mata Rara, dia hanyalah Paladin_Z, seorang ksatria berarmor perak yang hebat namun memiliki sisi rapuh. Genta merasa aman di sana. Di dunia digital itu, ia tidak perlu menjadi sempurna. Ia bisa mengakui bahwa ia takut, dan Rara akan membalasnya dengan meme kucing konyol alih-alih penghinaan.
Tiba-tiba, ia teringat wajah gadis logistik yang tadi ia tegur di atas panggung. Siapa namanya tadi? Rara? Namanya sama dengan healer-nya. Genta merasa bersalah sesaat. Ia melihat gadis itu sangat kelelahan, matanya sembap karena kurang tidur, dan ia malah membentaknya dengan dingin.
Sebenarnya, saat ia menegur gadis itu, Genta sedang berada di ambang ledakan panik. Ia bicara tajam hanya agar ia tidak perlu bicara lebih lama, karena ia takut jika ia bicara lebih dari tiga kalimat, suaranya akan mulai bergetar dan semua orang akan tahu bahwa sang Ketua BEM sedang ketakutan setengah mati.
Maafkan aku, Rara di dunia nyata, batinnya pahit. Kamu hanya kebetulan berada di sana saat topengku hampir retak.
Tok! Tok! Tok!
"Genta? Kamu di dalam? Acara akan dimulai lima menit lagi. Rektor sudah duduk di baris depan." Suara Kania terdengar dari balik pintu, terdengar mendesak dan penuh tuntutan.
Genta mematikan layar ponselnya. Ia menarik napas dalam-dalam, menahannya selama lima detik, lalu menghembuskannya perlahan. Ia bisa merasakan adrenalin mulai mengambil alih, menekan rasa mualnya kembali ke dasar perut.
Ia memperbaiki letak dasinya. Ia memastikan kerah jasnya berdiri tegak. Ia mengusap sisa air di wajahnya hingga kering. Perlahan, sorot matanya yang tadi nampak ketakutan berubah menjadi tajam dan tidak terbaca. Tremor di tangannya belum hilang sepenuhnya, tapi ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana untuk menyembunyikannya.
Genta berjalan menuju pintu. Ia berhenti sejenak, menatap gagang pintu itu seolah itu adalah gerbang menuju arena gladiator.
"Siap," ucapnya dingin. Suaranya kini kembali berat dan berwibawa.
Genta memutar kunci, membuka pintu, dan melangkah keluar. Begitu kakinya melewati ambang pintu, ia langsung disambut oleh Kania dan beberapa anggota BEM lainnya. Genta tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk singkat, wajahnya kembali membeku, menjadi sosok 'Pangeran Es' yang dipuja sekaligus ditakuti.
Ia berjalan menuju panggung, setiap langkahnya terasa berat seperti beban berton-ton. Di kejauhan, ia melihat gadis logistik bernama Rara itu sedang sibuk merapikan lakban di lantai panggung. Genta mengalihkan pandangannya dengan cepat, memfokuskan matanya pada podium di tengah panggung yang kini nampak seperti tiang gantungan baginya.
Dia harus sempurna. Karena baginya, menjadi manusia biasa adalah sebuah kemewahan yang tidak mampu ia bayar.