NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.

Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.

Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.

Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.

"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan Tanpa Cinta

Gaun putih ini terasa seperti kain kafan.

Aku berdiri di depan cermin besar di sebuah butik mewah di Jakarta Selatan, menatap pantulan diriku sendiri yang terasa asing. Gaun ini indah, iya, sangat indah. Terbuat dari sutra impor dengan bordir tangan yang rumit, ekor gaun mengembang sempurna di lantai marmer. Ibu yang memilihkannya semalam, tangannya gemetar waktu menyentuh kain halus ini, air matanya jatuh tanpa suara.

Tapi aku tidak bisa merasakan apa-apa melihat diriku seperti ini. Pengantin. Kata itu seharusnya penuh kebahagiaan, kan? Seharusnya ada senyum, ada degup jantung karena cinta, ada... harapan.

Yang kurasakan cuma hampa.

"Cantik sekali, Nona Nadira," bisik perias yang sedang memperbaiki tatanan rambutku. Suaranya terdengar kagum, tapi juga... kasihan? Apa dia tahu? Apa semua orang di ruangan ini tahu bahwa ini bukan pernikahan biasa?

Aku tidak menjawab. Tidak bisa. Tenggorokanku tercekat.

Pintu terbuka. Ibu masuk dengan mata sembab. Dia sudah menangis sejak pagi, bahkan sejak kemarin malam. Ayah mengikuti di belakangnya, wajahnya pucat seperti mayat hidup. Mereka berdua menatapku dengan tatapan yang membuat dadaku sesak.

"Nad..." suara Ibu pecah. Dia menghampiri, tangannya yang kurus meraih wajahku. "Nak, kita masih bisa batalkan ini. Ayah dan Ibu... kita akan cari jalan lain. Kamu tidak harus..."

"Ibu," aku menggenggam tangannya, memaksakan senyum walau bibirku terasa kaku. "Sudah terlambat. Kontraknya sudah ditandatangani."

"Tapi ini hidupmu! Lima tahun, Nadira! Lima tahun!" Ibu meninggikan suaranya, panik. "Kamu masih muda, kamu seharusnya menikah karena cinta, bukan karena..."

Dia tidak melanjutkan. Tidak perlu. Kami semua tahu. Karena utang. Karena ancaman. Karena ketakutan.

Ayah mendekat, tangannya menyentuh pundakku. "Ini salah Ayah. Semua ini... ini semua kesalahan Ayah." Suaranya bergetar hebat. "Harusnya Ayah yang menanggung, bukan kamu. Harusnya..."

"Pak, sudahlah." Aku berbalik menatapnya. Melihat pria yang dulu begitu kuat, yang dulu selalu jadi pahlawanku, sekarang hancur seperti ini... rasanya seperti ada yang merobek dadaku dari dalam. "Ini pilihan saya. Saya yang memutuskan."

Bohong. Aku tahu itu bohong. Mereka tahu itu bohong. Tapi apa lagi yang bisa kita lakukan selain berpura-pura bahwa ini pilihan, bukan paksaan?

Ketukan di pintu memotong pembicaraan kami. Seorang pria berjas hitam masuk. Wajahnya keras, matanya tajam. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.

"Waktunya. Tuan Leonardo sudah menunggu." Suaranya datar, tanpa hangat.

Jantungku berdegup kencang. Ini benar-benar terjadi. Ini nyata.

Ibu memelukku erat, tubuhnya bergetar karena isak tangis yang ditahan. "Maafkan kami, Nad. Maafkan Ibu dan Ayahmu yang tidak berguna ini..."

"Ibu, jangan..." aku balas memeluknya, mencoba kuat walau air mataku sudah membasahi pipinya. "Ibu dan Ayah sudah melakukan yang terbaik. Ini bukan salah siapa-siapa."

Ayah ikut memeluk kami berdua. Untuk beberapa saat, kami bertiga hanya berdiri seperti itu, saling berpelukan seperti ini adalah pertemuan terakhir kami. Dan entah kenapa, rasanya memang seperti itu. Seperti setelah ini, aku tidak akan pernah jadi Nadira Azzahra yang dulu lagi.

Pria berjas hitam itu berdeham. "Maaf, tapi kita harus pergi sekarang."

Aku melepaskan pelukan itu perlahan. Mengusap air mata Ibu, mencoba tersenyum walau hatiku remuk.

"Aku akan baik-baik saja," bisikku. Entah aku meyakinkan mereka atau diriku sendiri.

Mobil mewah sudah menunggu di depan butik. Sedan hitam yang kacanya gelap, aku bahkan tidak bisa melihat siapa yang ada di dalam. Pria berjas itu membukakan pintu untukku.

Aku masuk dengan gaun yang panjang ini agak susah. Dan saat aku duduk, aku baru menyadari ada seseorang di sebelahku.

Leonardo.

Mengenakan jas putih yang sempurna, rambutnya ditata rapi, wajahnya... tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang akan menikah hari ini. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan, tidak ada apa-apa. Hanya kekosongan.

"Kau cantik," ucapnya datar. Pujian yang terdengar seperti pernyataan fakta, bukan ekspresi kekaguman.

Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku hanya diam. Mobil mulai melaju.

"Pernikahannya akan sederhana. Hanya di kantor catatan sipil, saksi-saksi yang sudah kuatur, dan selesai," Leonardo menjelaskan dengan nada seperti orang yang sedang membahas kontrak bisnis. "Setelah itu kita langsung ke bandara."

"Bandara?" aku menatapnya.

"Kita akan tinggal di Lugano. Swiss."

Swiss. Negara yang bahkan belum pernah kukunjungi. Negara yang jaraknya ribuan kilometer dari rumah, dari Ayah dan Ibu, dari segala yang kukenal.

"Tapi... Ayah dan Ibu saya..."

"Akan baik-baik saja. Aku sudah mengurus semuanya. Utang lunas. Rumah kalian aman. Ditambah uang tunai tiga miliar untuk modal usaha." Dia menatapku dengan mata kelabu itu. "Itu bagian dari kesepakatan, kan?"

Tiga miliar. Tadinya dua. Dia menambahkannya? Entah kenapa itu malah membuatku semakin tidak enak. Seperti harga diriku yang naik.

Perjalanan ke kantor catatan sipil terasa seperti mimpi buruk yang bergerak lambat. Aku melihat jalanan Jakarta yang macet, orang-orang yang sibuk dengan kehidupan mereka, sementara hidupku... hidupku sedang berubah total dan mereka semua tidak tahu apa-apa.

Di kantor catatan sipil, semuanya sudah disiapkan. Tidak ada dekorasi, tidak ada tamu, tidak ada keluarga. Hanya aku, Leonardo, dua orang saksi yang wajahnya asing, dan petugas yang akan menikahkan kami.

Saat pengucapan akad dimulai, tanganku gemetar. Leonardo menggenggam tanganku. Genggamannya kuat, dingin. Seperti sedang memegang sesuatu yang tidak boleh lepas.

"Aku bersedia," ucap Leonardo dengan suara yang sangat jelas.

Semua mata beralih padaku.

"Saya..." suaraku nyaris tidak keluar. Tenggorokanku tercekat. Ini salah. Semua ini salah. Tapi kenapa aku tidak bisa berhenti?

"Saya bersedia."

Kata-kata itu keluar seperti bisikan, tapi cukup keras untuk didengar. Dan seketika, semuanya selesai. Kami diminta menandatangani dokumen. Leonardo menandatangani dengan gerakan cepat dan percaya diri. Giliranku, tanganku gemetar saat memegang pena.

Nadira Azzahra.

Tandatangan terakhirku dengan nama gadis itu.

Setelah ini, aku akan jadi Nadira Valerio.

Rasanya seperti kehilangan identitas.

"Selamat untuk kalian berdua," ucap petugas dengan senyum ramah yang tidak kumengerti. Tidak ada yang perlu dirayakan di sini.

Leonardo tidak membuang waktu. Dia langsung mengajakku keluar, tangannya memegang pinggangku dengan posesif. Di mobil, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil lagi. Cincin kawin. Sepasang. Yang untuknya simple, emas putih polos. Yang untukku... berlian lagi, lebih mewah dari cincin pertunangan kemarin.

Dia memasangkan cincin itu di jariku, lalu menyerahkan cincinnya padaku. Aku memasangkannya dengan tangan yang masih gemetar.

"Sempurna," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri.

Perjalanan ke bandara Soekarno-Hatta terasa sangat cepat sekaligus sangat lambat. Aku tidak mengerti bagaimana waktu bisa terasa seperti itu. Di bandara, kami tidak masuk terminal biasa. Mobil langsung masuk ke area pribadi, menuju sebuah jet privat yang sudah menunggu.

Jet pribadi. Tentu saja pria sekaya Leonardo punya jet pribadi.

Di dalam pesawat, interior serba cream dan emas. Kursi kulit yang empuk, meja kayu mahoni, bahkan ada kamar tidur di bagian belakang. Mewah. Sangat mewah. Tapi terasa dingin.

Aku duduk di salah satu kursi, menatap keluar jendela. Jakarta mulai terlihat kecil di bawah sana. Rumahku. Ayah dan Ibu ku. Semuanya semakin jauh.

Leonardo duduk di seberangku, membuka laptop. Mulai bekerja seolah ini bukan hari pernikahannya.

"Kau boleh istirahat di kamar belakang kalau lelah," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Aku hanya mengangguk kecil.

Sejam berlalu dalam diam. Dua jam. Aku tidak tahu berapa lama penerbangan ke Swiss, tapi rasanya seperti selamanya. Aku ingin menghubungi Ibu, ingin mendengar suaranya sekali lagi. Aku meraih ponselku dari tas kecil yang kubawa.

"Jangan."

Suara Leonardo membuatku tersentak. Dia menatapku, matanya tajam.

"Jangan apa?" tanyaku pelan.

"Jangan hubungi siapa pun tanpa izinku."

Aku terdiam. "Saya cuma mau telepon Ibu saya..."

"Nanti. Setelah kita sampai dan kau sudah terbiasa dengan aturan." Dia menutup laptopnya, berdiri, lalu mendekat. Duduk di kursi sampingku. Terlalu dekat.

"Aturan?" aku menatapnya bingung.

"Ya. Aturan. Kau sekarang istriku, Nadira. Itu artinya hidupmu, langkahmu, keputusanmu, semuanya ada di bawah pengawasanku." Suaranya sangat tenang, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat buluku kuduk merinding.

"Tapi di kontrak tidak ada tulisan seperti itu..." protesku lemah.

"Kontrak itu hanya formalitas." Dia mengangkat tanganku, jari-jarinya menyentuh cincin berlian di jariku. "Ini yang nyata. Kau milikku sekarang. Dan aku tidak suka barang milikku keluar dari pengawasanku."

Barang milik.

Bukan istri. Bukan pasangan. Barang milik.

Aku menarik tanganku, jantungku berdegup cepat. "Saya bukan barang."

"Memang." Dia tersenyum tipis. Senyum yang membuat darahku mendingin. "Kau jauh lebih berharga dari sekadar barang."

Dia berdiri, kembali ke kursinya, membuka laptop lagi seolah percakapan itu sudah selesai.

Aku menatap ponsel di tanganku. Ingin sekali menekan nama Ibu di kontak, mendengar suaranya, menangis dan bilang bahwa aku salah, ini semua kesalahan, tolong jemput aku...

Tapi aku tidak berani.

Karena entah kenapa, aku tahu Leonardo tidak main-main dengan kata-katanya.

Pesawat mendarat setelah perjalanan panjang yang terasa seperti mimpi buruk tanpa akhir. Aku bahkan tidak tahu sudah berapa jam kami terbang. Waktu terasa kabur.

Di Lugano, udara dingin menyambutku saat kami turun dari pesawat. Ini masih awal musim semi, tapi udaranya jauh lebih dingin dari Jakarta. Aku menggigil dalam gaun pengantin tipis ini.

Leonardo melepas jasnya dan melemparkannya ke pundakku. Bukan dengan lembut, bukan dengan perhatian. Hanya... melempar saja.

"Pakai itu. Aku tidak mau kau sakit."

Mobil lain sudah menunggu. Sedan hitam mengkilap. Kami masuk, dan mobil melaju melintasi jalan-jalan yang indah. Lugano cantik, itu harus kuakui. Danau yang luas, pegunungan di kejauhan, bangunan-bangunan klasik yang tertata rapi. Seperti di kartu pos.

Tapi aku tidak bisa menikmati keindahan itu. Yang kurasakan cuma takut.

Mobil berhenti di depan sebuah vila yang... megah tidak cukup untuk menggambarkannya. Bangunan tiga lantai dengan arsitektur modern minimalis, dikelilingi taman yang luas, pagar besi tinggi dengan kamera keamanan di mana-mana. Di depan pintu utama, sudah ada beberapa orang berseragam menunggu. Pelayan, mungkin.

"Selamat datang, Tuan. Nyonya." Seorang wanita tua dengan rambut abu-abu tersenyum ramah padaku. Tapi matanya... matanya seperti punya rahasia.

Leonardo tidak menjawab sapaan itu. Dia langsung masuk, dan aku mengikutinya.

Dalam rumah, semuanya putih dan abu-abu. Bersih. Steril. Tidak ada kehangatan. Seperti rumah sakit mewah.

"Kamarmu di lantai dua, ujung koridor," ucap Leonardo sambil melepas jas.

"Kamar saya? Memang kita tidak..."

"Aku tidak suka berbagi kamar. Kecuali aku yang meminta." Dia menatapku dengan tatapan yang membuatku ingin mundur. "Tapi jangan salah paham. Kau tetap istriku. Dan kapan aku mau, kau harus datang."

Aku menelan ludah susah payah.

"Sofia akan menunjukkan kamarmu dan menjelaskan aturan rumah ini." Dia mengangguk pada wanita tua tadi. "Besok pagi kita akan sarapan bersama jam tujuh. Jangan terlambat."

Lalu dia pergi begitu saja. Meninggalkan aku berdiri sendirian di ruang tamu yang mewah dan dingin ini.

Wanita tua itu, Sofia, mendekat dengan senyum yang terlihat simpati. "Ikut saya, Nyonya Nadira."

Aku mengikutinya naik ke lantai dua. Koridor panjang dengan pintu-pintu tertutup rapat. Di ujung, Sofia membuka satu pintu.

Kamar tidur yang... indah. Tempat tidur besar dengan seprai putih bersih, jendela lebar menghadap danau, lemari besar yang sudah penuh dengan pakaian-pakaian mewah. Semua serba putih dan abu-abu. Seperti seleranya Leonardo.

"Semua pakaian ini sudah disiapkan Tuan untuk Nyonya. Ukurannya pas, jangan khawatir. Kamar mandi di sana." Sofia menunjuk pintu di samping. "Dan ini..."

Dia mengeluarkan sebuah gelang dari sakunya. Gelang emas rosegold yang cantik. Tapi ada layar kecil digital di permukaannya.

"Gelang ini harus Nyonya pakai setiap saat. Ini terhubung dengan sistem keamanan rumah. Semua pintu di sini dikunci secara digital, dan hanya bisa dibuka dengan gelang ini atau izin langsung dari Tuan Leonardo."

Jantungku berhenti sejenak. "Jadi... saya tidak bisa keluar tanpa izinnya?"

Sofia tersenyum sedih. "Maaf, Nyonya. Ini aturan Tuan."

Dia memasangkan gelang itu di pergelangan tanganku. Klik kecil, dan gelang itu terkunci. Aku mencoba melepasnya, tapi tidak bisa.

"Istirahatlah, Nyonya. Besok akan ada banyak hal yang perlu Nyonya pelajari." Sofia membungkuk sopan, lalu keluar, menutup pintu.

Aku berdiri sendirian di kamar yang indah tapi terasa seperti sel tahanan ini.

Perlahan, aku mendekati pintu, memutar kenop.

Terkunci.

Aku mencoba lagi. Dan lagi.

Terkunci.

Gelang di tanganku bergetar pelan, layarnya menyala. Muncul tulisan: AKSES DITOLAK.

Kakiku lemas. Aku merosot ke lantai, punggungku bersandar di pintu.

Ini bukan rumah. Ini penjara.

Dan Leonardo bukan suami. Dia penjaga penjara. Atau lebih tepatnya... sipir yang punya kunci atas hidupku.

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan lagi. Tubuhku bergetar, isakku pecah di ruangan sunyi ini. Aku memeluk lututku, menangis sejadi-jadinya untuk pertama kalinya sejak semua mimpi buruk ini dimulai.

Lima tahun.

Aku harus bertahan lima tahun seperti ini.

Dan aku bahkan tidak tahu... kenapa Leonardo melakukan semua ini padaku.

1
Abel Incess
tp sebenarnya ada baik"nya juga sih karna nadira tdk pernah di lecehkan
checangel_
Iya sih, taat pada suami harus, tapi jika aturan yang kau buat penuh tekanan untuk Nadira, apakah itu baik, Leon?🤧
checangel_
Luka bukan air mata 🤧
checangel_: Tapi lebih baik nggak dua²nya deh Kak /Facepalm/, karena terlalu riuh, kasian pikirannya 🤭
total 2 replies
checangel_
No! Penghulunya mana? Asal bilang sudah jadi milikmu 🤧
checangel_
Lima tahun itu berapa lama? 365×5= bersamanya yang penuh aturan dalam mengartikan cinta? 🤧/Facepalm/
checangel_
Seberat itu memang utang dalam realita 🤧, 50 Meter (Milyar) itu sebanyak apa /Sob/
checangel_
Meet with Rain again 🎶🤭
Leoruna: tetap mengalir🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!