Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pagi itu kantor Pradikta cabang satu terasa lebih sibuk dari biasanya. Rangga melangkah masuk dengan map tebal di tangannya, wajahnya datar namun pikirannya penuh. Perintah Arya semalam masih terngiang jelas...ia harus memastikan kepindahan Zane ke cabang satu berjalan mulus. Tanpa celah. Tanpa kesalahan.
Rangga tahu betul siapa Zane Pradikta.
Putra tunggal Arya. Seumuran dengannya dan Gibran. Sama-sama tumbuh di lingkaran elite, tapi dengan karakter yang bertolak belakang. Jika Gibran pendiam dan penuh perhitungan, Zane adalah api...angkuh, meledak-ledak, dan selalu merasa dunia berutang hormat padanya. Dan itulah alasan Rangga tak pernah benar-benar akur dengannya.
“Semua dokumen mutasi sudah lengkap,” ujar Rangga kepada staf HR. “Ruangannya juga sudah disiapkan.”
“Baik, Pak Rangga,” jawab staf itu sigap.
Rangga mengangguk singkat lalu berbalik, hendak menuju lantai atas. Namun langkahnya terhenti.
Di kejauhan, dekat pintu lift eksekutif, ia melihat sosok yang sangat ia kenal.
Nadia.
Rangga mengernyit. Ia hampir yakin penglihatannya keliru. Tapi tidak...itu benar-benar Nadia. Rambutnya tergerai rapi, pakaiannya jauh berbeda dari yang biasa ia lihat. Lebih formal. Lebih… asing.
Yang membuat Rangga semakin terpaku adalah satu hal lain.
Nadia berjalan beriringan dengan Zane.
Keduanya masuk ke dalam lift yang sama. Zane melangkah lebih dulu, sementara Nadia mengikutinya dengan kepala sedikit menunduk. Ada jarak di antara mereka, tapi jelas...mereka bersama.
“Apa-apaan ini…?” gumam Rangga pelan.
Ia berdiri mematung beberapa detik sebelum akhirnya tersadar dan menekan tombol lift lain. Dadanya terasa tak nyaman. Ada perasaan aneh yang mengusik...campuran kaget dan curiga.
Di lantai atas, Rangga akhirnya bertemu Zane di lorong kantor.
“Kau cepat juga adaptasinya,” ujar Rangga dingin. “Belum sehari sudah punya pengawal.”
Zane berhenti melangkah, menoleh dengan senyum miring.“Pengawal?” katanya sinis. “Oh, maksudmu asisten pesuruhku?”
Rangga menyipitkan mata.“Asisten?” ulangnya. “Sejak kapan Nadia kerja di Pradikta?”
Zane tertawa kecil, meremehkan.
“Sejak dia punya hutang padaku,” jawabnya ringan, seolah itu hal sepele.
Rangga membeku.“Hutang?”
Zane melanjutkan langkahnya.“Bukan urusanmu, Rangga. Fokus saja ke tugasmu. Ayahmu...eh, maksudku ayahku...tidak suka orang ikut campur.”
Rangga mengepalkan tangan.“Jangan main-main dengan orang yang tidak paham duniamu, Zane,” ucapnya rendah. “Nadia bukan bagian dari permainanmu.”
Zane berhenti lagi, kali ini tatapannya berubah tajam.“Justru karena dia bukan bagian dari dunia ini,” katanya dingin, “aku yang pegang kendali.”
Pikirannya langsung melayang pada satu nama lain—Gibran.
Kalau Gibran tahu…
Rangga menghembuskan napas berat. Satu hal kini jelas baginya. kehadiran Nadia di kantor Pradikta bukan kebetulan. Dan keterlibatannya dengan Zane adalah awal dari masalah yang jauh lebih besar...masalah yang bisa menyeret mereka semua kembali ke pusaran keluarga Pradikta yang tak pernah benar-benar aman.
Zane Perlahan menoleh, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sarat ejekan.“Tunggu. Jadi,” ucapnya santai namun menusuk, “kau kenal dengan gadis pengantar makanan itu?”
Rangga menatapnya tajam.“Jaga ucapanmu,” katanya dingin. “Dia punya nama. Nadia.”
Zane terkekeh pelan.“Oh?” Ia mengangkat alis. “Menarik. Dunia memang sempit.”
Rangga mendekat selangkah.“Apa yang kau lakukan padanya, Zane?”
Zane menyandarkan tubuhnya ke dinding koridor, tampak sama sekali tak terintimidasi.“Aku hanya memberi dia pekerjaan,” jawabnya ringan. “Atau kau lebih suka menyebutnya… kesempatan?”
“Kau memaksanya,” balas Rangga cepat. “Aku tahu caramu.”
Zane tersenyum miring.“Dia menabrak mobilku. Kerugiannya tidak kecil,” katanya dingin. “Aku hanya menawarkan jalan keluar. Dia setuju.”
“Setuju karena terdesak,” potong Rangga. “Itu bukan pilihan.”
Tatapan Zane mengeras.“Kau terlalu sentimentil,” katanya ketus. “Dia bukan siapa-siapamu.”
Rangga mengepalkan tangan.“Dia bukan bagian dari dunia kita,” ucapnya tegas. “Dan justru itu alasannya kau seharusnya menjauh.”
Zane tertawa pendek.“Lucu,” katanya. “Kau, Gibran, kalian selalu sok jadi penyelamat. Pahlawan kesiangan yang haus sensasi publik."
Ia melirik ke arah pintu ruangannya, tempat Nadia tadi masuk lebih dulu.
“Tenang saja,” lanjutnya. “Selama dia bekerja dengan baik, aku tidak akan menyulitkannya.”
Rangga menatapnya dengan sorot tak percaya.“Kau benar-benar tidak sadar,” katanya rendah. “Memperlakukan orang seperti itu hanya akan menimbulkan masalah.”
Zane melangkah pergi, suaranya terdengar dingin tanpa menoleh.
“Masalah hanya muncul kalau orang lemah lupa posisinya.”
Rangga berdiri terpaku di lorong itu, rahangnya mengeras. Di benaknya hanya ada satu keyakinan yang semakin kuat...
selama Nadia berada di sisi Zane, ia tidak akan pernah benar-benar aman. Dan cepat atau lambat, Gibran harus tahu kebenaran ini.
**********
Sore itu langit tampak muram, seolah ikut menyesuaikan suasana hati Gibran yang sejak tadi duduk diam di ruang kerjanya. Dokumen di hadapannya tak benar-benar ia baca. Pikirannya melayang ke satu nama yang selalu berhasil membuat pertahanannya runtuh...Nadia.
Ketukan pintu terdengar pelan namun tergesa.
“Masuk,” ucap Gibran tanpa menoleh.
Rangga melangkah masuk. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras seperti menahan sesuatu yang tak menyenangkan. Ia menutup pintu di belakangnya, lalu berdiri beberapa langkah dari meja Gibran.
“Ada apa?” tanya Gibran akhirnya, menyadari ekspresi sahabatnya tak biasa.
Rangga menarik napas dalam.
“Aku baru dari kantor Pradikta cabang satu,” katanya pelan. “Mengurus kepindahan Zane.”
Nama itu membuat Gibran langsung menegakkan tubuhnya.“Zane?” alisnya berkerut. “Dia sudah kembali rupanya."
Rangga mengangguk.“Dan aku melihat sesuatu yang… harus kamu tahu.”
Gibran menatap Rangga lurus.
“Katakan.”
Rangga terdiam sejenak, seolah memilih kata yang paling tidak menyakitkan.
“Nadia,” ucapnya akhirnya. “Dia bekerja di sana.”
Gibran membeku.“Apa?” suaranya terdengar lirih, nyaris tak percaya. “Kau bercanda.”
“Aku berharap begitu,” jawab Rangga serius. “Tapi tidak. Aku melihat sendiri. Dia datang dan pergi beriringan dengan Zane.”
Gibran bangkit dari kursinya.“Itu tidak mungkin,” katanya cepat. “Nadia tidak pernah bilang apa-apa. Dia tidak mungkin... "
“Justru itu yang membuatku khawatir,” potong Rangga. “Dia bekerja sebagai asisten pesuruh Zane.”
Kata-kata itu menghantam Gibran tanpa ampun.“Asisten… pesuruh?” ulangnya pelan, seperti mencoba mencerna makna di baliknya. “Bagaimana bisa?”
“Zane bilang Nadia punya hutang padanya,” lanjut Rangga. “Dan itu cara dia ‘membayar’.”
Gibran mengepalkan tangannya. Wajahnya berubah tegang, matanya mengeras oleh amarah yang tertahan.
“Sial…” gumamnya. “Dia masuk terlalu dalam.”
Rangga mendekat.“Bran, ini berbahaya. Kamu tahu sendiri seperti apa keluarga Pradikta. Dan Zane…” ia menggeleng pelan. “Dia bukan orang yang punya empati.”
Gibran mengusap wajahnya kasar.
“Kenapa dia tidak bertanya?” katanya penuh frustrasi. “Kenapa Nadia tidak mencari tahu dengan siapa dia bekerja?”
“Karena dia terdesak,” jawab Rangga. “Dan karena dia tidak tahu dunia kita seperti apa.”
Gibran menatap kodong ke arah jendela.
“Ini salahku,” katanya lirih. “Aku terlalu sibuk menjauh, sampai tidak sadar dia melangkah ke tempat paling berbahaya.”
Rangga terdiam, membiarkan Givran menelan rasa bersalah itu.“Kamu harus melakukan sesuatu,” ucap Rangga akhirnya. “Kalau Arya tahu, atau kalau Zane mulai bermain-main… Nadia bisa hancur.”
Gibran mengangguk pelan, sorot matanya kini penuh tekad.“Aku tidak akan diam,” katanya tegas. “Sekalipun aku harus kembali berhadapan dengan keluarga itu.”
Rangga menatapnya, paham betul arti kata-kata itu.
Di luar, langit semakin gelap. Dan di dalam ruangan itu, Givran sadar...
usaha kerasnya menjauh demi melundungi Nadia justru gagal.
Karena tanpa ia sadari, gadis itu kini telah terjerat lebih dalam ke dalam keluarga Pradikta… keluarga yang sejak awal ingin ia hindari dengan segala cara.