"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Pergi ke Lembah Roh
Baru saja menjalani pengobatan yang menguras sebagian tenaga, kini angin pagi di Puncak Terasing sudah buru-buru membawa hawa dingin yang menusuk tulang, menggerakkan kabut tebal yang menyelimuti paviliun penerimaan misi. Guiren berdiri diam di depan papan kayu besar yang dipenuhi gulungan-gulungan kecil berisi tugas sekte. Tangannya meraba permukaan kayu yang kasar, hingga jemarinya berhenti pada sebuah segel lilin merah yang dingin.
Lembah Roh. Pengambilan Tanaman Obat.
Di sampingnya, Xiaolian berdiri, melihat ke arah yang sama. Gadis itu tidak bicara, namun napasnya yang gemetar memberi tahu Guiren segalanya. Di Sekte Mo-Yun, misi luar adalah garis tipis antara pembuktian diri dan pembuangan. Bagi seorang murid luar yang buta, ini lebih mirip dengan vonis.
"Aturan tetap aturan," ucap Guiren, suaranya sedatar permukaan danau yang membeku. "Hanya murid resmi yang diizinkan melintasi batas gerbang lembah."
"Kak, tapi aku takut mereka tidak akan membantumu," bisik Xiaolian, matanya menatap tajam ke arah tiga murid berbaju abu-abu perak yang berdiri beberapa depa dari mereka. "Aku bisa lihat bagaimana mereka menatapmu. Mereka tidak melihat rekan satu tim. Mereka melihat penghalang."
Guiren tidak perlu melihat untuk mengetahui tatapan itu sekalipun dirinya buta. Ia sudah bisa merasakan niat tajam yang menusuk punggungnya, campuran antara iri hati atas kemenangannya melawan Bai Feng dan penghinaan murni terhadap statusnya.
"Yuen Guiren!" seorang murid bertubuh jangkung dengan pedang tersampir di punggung melangkah maju. Namanya Lu Zhen, salah satu pengikut setia di lingkaran luar Bai Feng. "Jangan membuat kami menunggu lebih lama. Jika kau butuh waktu tambahan untuk meraba-raba jalan, sebaiknya kau mundur sekarang dan biarkan pria yang punya mata melakukan pekerjaan ini."
Dua murid lainnya tertawa lepas. Salah satunya, seorang gadis dengan wajah kaku bernama Mei, menambahkan, "Aku masih tidak mengerti mengapa Penatua membiarkan seorang cacat ikut dalam tim pengambilan obat. Lembah Roh bukan tempat untuk melukis awan, itu tempat di mana satu kesalahan langkah bisa membuat kita semua terkubur."
Guiren mengabaikan mereka. Ia berbalik sepenuhnya ke arah Xiaolian. Tangannya terangkat, meraba sisi wajah adiknya dengan gerakan yang sangat lembut, sebuah kontras tajam dengan atmosfer dingin di sekitar mereka.
"Selama aku pergi, pergilah ke tempat Nona Yue," perintah Guiren. "Dia membutuhkan dukunganmu, dan kau akan lebih aman di sana daripada di gubuk kita sendirian. Mengerti?"
Xiaolian menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. Ia tahu ini adalah cara Guiren melindunginya, menaruhnya di bawah perlindungan putri Penatua saat Guiren tidak ada. "Aku mengerti. Tapi kau harus kembali. Jangan biarkan mereka menang dengan cara yang licik."
"Aku punya tinta untuk menjaga jalanku," jawab Guiren. “Dan janji yang aku pegang dengan ibu untuk tetap bertahan hidup.”
Pemisahan itu terasa berat, sebuah tarikan emosional yang nyata di tengah hiruk-pikuk persiapan misi. Guiren merasakan kehadiran Xiaolian menjauh saat gadis itu berjalan menuju kediaman Yue Chuntao, meninggalkan Guiren sepenuhnya terisolasi di tengah tim yang membencinya.
"Ayo," geram Lu Zhen, mulai berjalan menuju gerbang bawah gunung. "Dan ingat, si buta. Jika kau tertinggal, kami tidak akan kembali untuk menjemputmu. Tanaman Lidah Roh tidak akan menunggu sampai matamu sembuh."
Perjalanan menuruni gunung dilakukan dalam keheningan yang menyesakkan. Setiap kali ada akar pohon yang menonjol atau celah di bebatuan, tidak ada satu pun anggota tim yang memberi peringatan. Guiren menggunakan tongkat bambunya, mengetuk tanah dengan ritme yang konstan, sementara Visi Qi miliknya memetakan aliran energi di sekitarnya.
Ia bisa merasakan bagaimana ketiga rekan timnya sengaja mempercepat langkah, mencoba meninggalkannya di belakang. Namun, Guiren tetap menempel di belakang mereka dengan presisi yang mulai membuat Lu Zhen merasa tidak nyaman.
"Statusmu sebagai murid luar tidak berubah hanya karena kau beruntung sekali di menara," Mei berbisik saat mereka mencapai kaki lembah yang lembap. "Lembah Roh tidak peduli pada trik persepsimu. Di sana, predator tidak menyerang matamu, mereka menyerang jiwamu."
Guiren tidak membalas. Ia merasakan udara di sekelilingnya mulai berubah, menjadi lebih tebal, lebih wangi, dan penuh dengan aura yang berdenyut tidak stabil. Lembah Roh terbentang di hadapan mereka, sebuah ngarai hijau yang tertutup kabut abadi, di mana tanaman obat langka tumbuh di atas tulang-tulang mereka yang gagal.
Ia tahu, kebencian rekan setimnya adalah bahaya yang bisa ia prediksi. Namun, saat ia melangkah masuk ke dalam kabut lembah, ada sesuatu yang jauh lebih gelap yang mulai merayap di pinggiran kesadarannya. Sesuatu yang bukan tanaman, dan bukan pula manusia.
Langkah kaki mereka bergema masuk ke dalam kegelapan lembah, sementara di Puncak Terasing, Xiaolian menatap ke arah gerbang gunung dengan tangan terkepal, berharap suara tongkat bambu kakaknya akan segera terdengar kembali.