Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Presentasi Maut dan Celana Gosong
Ruang rapat utama NVT Tower biasanya dingin dan kaku. Tapi pagi ini, atmosfernya setegang ruang sidang pengadilan militer.
Meja panjang berbentuk oval dari kayu jati mengkilap mendominasi ruangan. Di ujung meja, Adi duduk di kursi kebesarannya. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam seperti elang yang mengincar mangsa. Di belakangnya berdiri Bu Ratna, sekretarisnya, yang memegang tumpukan dokumen dengan tangan gemetar.
Pintu ganda terbuka lebar. Nyonya Mariana dan Clara melangkah masuk dengan gaya catwalk. Meski rambut mereka sedikit berantakan sisa "panjat tebing toren" tadi, mereka berusaha tetap terlihat angkuh.
"Selamat pagi, Adi," sapa Nyonya Mariana dengan senyum manis yang dibuat-buat, langsung duduk di kursi sebelah kanan Adi tanpa dipersilakan. Clara duduk di sebelahnya, mengedipkan mata genit pada Adi.
"Pagi, Tante. Pagi, Clara," jawab Adi singkat, tanpa senyum balasan.
"Kami dengar kamu butuh bantuan soal krisis keracunan itu," Nyonya Mariana langsung to the point. "Tenang saja. Tim legal Bank saya sudah siapkan draf tuntutan untuk Sifa. Kami juga sudah siapkan press release untuk membersihkan nama NVT. Sifa akan jadi kambing hitam yang sempurna."
Clara mengangguk setuju. "Iya, Di. Kamu nggak perlu pusing. Biar aku yang urus media. Kamu tinggal tanda tangan surat pemecatan resmi Sifa dan surat penunjukan Bank Mama sebagai mitra eksklusif NVT."
Adi memutar pulpen di tangannya. "Menarik. Sangat efisien."
"Tentu saja. Kami profesional," kata Clara bangga.
Adi menekan tombol di meja interkom. "Silakan masuk."
Pintu samping—pintu yang biasanya untuk staf katering—terbuka.
Clara dan Nyonya Mariana menoleh, berharap melihat pelayan membawa kopi.
Tapi yang masuk bukan pelayan.
Sifa.
Dia mengenakan kemeja putih bersih dan celana bahan hitam yang rapi (dipinjam dari stok seragam kantor yang ada di apartemen). Wajahnya segar, matanya tajam penuh percaya diri. Di pergelangan tangannya, Chrono menyala biru terang.
Clara terlonjak dari kursinya. "Lho?! Kok dia ada di sini?! Bukannya dia buronan polisi?!"
Nyonya Mariana membelalak. "Adi! Apa maksudnya ini?! Kenapa kamu bawa tersangka terorisme ke ruang rapat?!"
"Duduk," perintah Adi. Suaranya tidak keras, tapi auranya membuat Clara refleks duduk kembali.
Sifa berjalan tenang menuju kursi di seberang Clara. Dia duduk, menatap Clara lurus-lurus.
"Hai, Clara. Hai, Tante. Apa kabar toren di rumah? Udah penuh airnya?" tanya Sifa santai sambil tersenyum miring.
Wajah Nyonya Mariana memerah padam. "Kurang ajar! Jadi itu ulah kamu?!"
"Cukup," potong Adi tegas. Dia menatap Nyonya Mariana. "Tante, sebelum kita bicara soal kerjasama, saya ingin Tante dan Clara nonton film pendek sebentar. Bu Ratna, tolong nyalakan proyektor."
Layar proyektor raksasa di dinding menyala.
Video dimulai. Bukan rekaman CCTV biasa yang buram. Ini rekaman kualitas 4K yang sudah di-enhance oleh Chrono.
Di layar, terlihat jelas lorong pantry kantor. Waktunya menunjukkan pukul 11.45 kemarin.
Seorang pria berseragam Cleaning Service masuk. Topinya menutupi wajah.
"Itu kan penyusup yang aku bilang!" seru Adi.
Tiba-tiba, video itu berhenti pause. Gambar wajah pria itu diperbesar zoom.
"Enhancing Image Resolution... Removing Hat Obstruction..." Tulisan digital Chrono muncul di layar.
Topi di kepala pria itu secara digital "dihapus" oleh AI, memperlihatkan wajah aslinya dengan sangat jelas.
Mata Clara dan Nyonya Mariana hampir copot.
Itu wajah Pak Surya. Kepala keamanan mereka sendiri.
"I-itu... itu editan!" bantah Clara panik. "Deepfake! Bohong!"
Video berlanjut. Pak Surya terlihat mengeluarkan botol kecil dari saku celananya, menuangkannya ke dalam panci bumbu nasi goreng Sifa. Lalu dia membuang botol kosong itu ke tong sampah.
Dan yang paling mematikan: Pak Surya terlihat mengangkat telepon dan bicara.
Chrono menampilkan transkrip audio dari rekaman suara CCTV yang sudah dibersihkan noise-nya.
"Lapor, Bu Mariana. Racun sudah masuk. Misi sukses."
Suara itu jelas. Sangat jelas.
Hening.
Ruang rapat itu senyap seperti kuburan.
Adi menatap Nyonya Mariana dengan tatapan kecewa berat. "Tante... Tante tega meracuni 50 karyawan saya? Karyawan yang punya keluarga? Demi apa? Demi menjatuhkan satu anak magang?"
Nyonya Mariana terdiam, wajahnya pucat pasi. Tangannya mencengkeram tas Hermes-nya. Bukti ini terlalu telak. Dia tidak bisa mengelak.
"Ini... ini jebakan..." desis Nyonya Mariana.
"Jebakan?" Sifa angkat bicara. "Tante yang bikin jebakan. Saya cuma bongkar jebakannya."
"Dan soal tuduhan terorisme," lanjut Adi, mengeluarkan selembar kertas fax dari laci. "Saya baru saja dapat konfirmasi dari Mabes Polri. Status tersangka Sifa dicabut karena kurang bukti. Dan Pak Broto, teman Tante di kepolisian itu, sedang diperiksa Propam karena penyalahgunaan wewenang."
Clara mulai menangis. Rencananya hancur berantakan. "Adi... maafin aku... aku cuma cemburu... aku sayang sama kamu..."
"Sayang?" Adi tertawa miris. "Kalau kamu sayang sama saya, kamu nggak bakal nyakitin orang-orang di kantor saya, Clara. Kamu bukan sayang saya. Kamu terobsesi."
Tiba-tiba, pintu utama didobrak kasar.
Pak Surya masuk dengan napas ngos-ngosan. Dia membawa alat berbentuk kotak hitam di tangannya dengan banyak antena. Wajahnya garang.
"Bu! Jangan takut! Saya di sini!" teriak Pak Surya heroik. "Saya bawa Jammer versi 2.0! Lebih kuat! Saya akan matikan semua alat elektronik di sini termasuk bukti video itu!"
Pak Surya mengacungkan alat itu tinggi-tinggi. Dia menekan tombol merah besar.
KLIK.
Sifa melirik jam tangannya. Chrono berkedip merah jahil.
"Oh, dia nantangin gue lagi? Cute," komentar Chrono di kepala Sifa. "Dia nggak tau kalau gue udah hack frekuensi alat itu pas dia masuk lobi tadi. Gue balikkan polaritas gelombangnya."
"Maksudnya?" tanya Sifa dalam hati.
"Liat aja celananya."
Di tengah ruangan, Pak Surya menunggu efek Jammer-nya bekerja mematikan proyektor.
Tapi proyektor tetap menyala.
Yang terjadi justru...
ZRT! ZRT!
Suara korsleting listrik terdengar dari saku celana bahan Pak Surya.
"Lho? Kok panas?" Pak Surya bingung, meraba saku celananya.
Tiba-tiba...
DUAR! (Suara letupan kecil seperti petasan).
Asap putih mengepul tebal dari selangkangan Pak Surya.
"PANAS! PANAS! WOY!" Pak Surya menjerit histeris, melompat-lompat kayak kangguru.
Baterai cadangan Jammer yang dia taruh di saku celana meledak kecil dan terbakar karena overheat akibat ulah Chrono.
Celana Pak Surya mulai berasap, lalu bolong besar di bagian vital.
"TOLONG! MASA DEPAN SAYA TERBAKAR!" teriak Pak Surya sambil lari muter-muter ruangan, nepuk-nepuk pantatnya sendiri.
Pemandangannya sungguh absurd. Seorang mantan pasukan khusus yang garang, kini lari-lari dengan celana berasap di depan bos besarnya.
Clara menjerit. "Ew! Surya! Jangan deket-deket! Bau gosong!"
Nyonya Mariana menepuk jidatnya. Facepalm terparah dalam sejarah. Ajudan andalannya dikalahkan oleh korsleting celana.
Adi dan Sifa saling pandang, lalu menahan tawa mati-matian. Bahu Adi berguncang hebat.
"Pak Satpam!" panggil Adi lewat interkom, suaranya bergetar menahan tawa. "Tolong bawa Pak Surya ke klinik... dan panggil pemadam kebakaran mini."
Dua satpam masuk, menyeret Pak Surya yang masih berasap keluar ruangan.
Suasana tegang tadi langsung cair—atau lebih tepatnya, ambyar. Wibawa Nyonya Mariana dan Clara sudah lenyap tak berbekas.
"Tante," kata Adi, menghapus air mata gelinya. "Saya rasa meeting ini selesai. Kerjasama kita batal. Dan saya sarankan Tante segera cari pengacara bagus. Karena bukti video ini akan saya serahkan ke polisi siang ini juga."
Nyonya Mariana berdiri dengan gemetar. Dia kalah. Kalah telak oleh anak muda dan jam tangan.
"Ayo, Clara," ajak Nyonya Mariana lemah. "Kita pulang."
"Tapi Ma... toren di rumah..." rengek Clara.
"Kita nginep di hotel! Diam kamu!"
Mereka berdua berjalan keluar dengan langkah gontai, diiringi tatapan dingin Adi dan senyum puas Sifa.
Setelah pintu tertutup, Adi menghela napas panjang. Lega.
Dia menatap Sifa.
"Kamu hebat, Sifa," kata Adi tulus. "Kamu beneran 'Wonder Woman' saya."
"Ah, Mas Adi bisa aja," Sifa tersenyum malu, mengelus Chrono. "Ini kerja tim kok. Tim Nasi Goreng."
"Jadi..." Adi berdiri, berjalan mendekati Sifa, lalu duduk di tepi meja tepat di depan gadis itu. Jarak mereka dekat sekali. "Sekarang musuh udah pergi. Nama kamu udah bersih. Terus... status kita gimana?"
"Status?" Sifa bingung. "Status karyawan magang?"
"Bukan," Adi menatap mata Sifa lekat-lekat. "Status 'Teman Makan Nasi Goreng'. Apa bisa naik pangkat?"
Jantung Sifa berdegup kencang. "Naik pangkat jadi apa, Mas?"
"Jadi... partner eksklusif? Yang masakin saya seumur hidup? Dan saya janji bakal ngabisin masakan kamu walau keasinan?"
Sifa tertawa kecil, matanya berkaca-kaca haru. "Mas Adi... kalau mau ngelamar jadi pelanggan tetap, ada syaratnya lho."
"Apa syaratnya?"
"Harus mau makan cimol di pinggir jalan sama Sifa. Nggak boleh jaim."
"Siap. Demi kamu, saya rela makan cimol tiap hari," jawab Adi mantap.
Mereka tertawa bersama. Tawa yang lepas dan bahagia. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi fitnah. Hanya ada dua sahabat yang perlahan tapi pasti melangkah menuju sesuatu yang lebih indah.
Dan di pergelangan tangan Sifa, Chrono berkedip biru lembut membentuk pola hati pixelated <3.
"Misi: Secure The Romance. Status: 99% Complete. Tinggal nunggu undangan nikah," gumam Chrono puas.