Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah untuk Mamanya
Sepanjang jalan, ekspresi Maggie tetap cerah. Mereka masuk ke bundaran besar lain, dan seperti bias, Maggie berteriak saat sopir bermanuver masuk lalu keluar dari bundaran tugu.
“Aku enggak bakal pernah terbiasa sama ini!”
Mereka sampai di deretan toko yang Kael incar. Sesuai dugaan, lalu lintas di sini sepi dan tidak ada lapak suvenir. Pengunjungnya kebanyakan warga lokal, semuanya berpakaian batik, sangat rapi.
Maggie memperhatikan sekitar. Dia mengintip lewat jendela sambil membetulkan sling di bahunya. “Untung aku ganti baju. Gaun katun tadi enggak bakal cocok di sini.”
Dia menoleh ke kursi tempat Biann mulai terbangun, sekarang mobil berhenti bergerak. “Ayo, Nak. Kita lihat, apa yang bisa kita temuin buat kamu.”
Matahari menjelang siang menembus kulit mereka saat menyusuri trotoar dan mengintip etalase. Maggie menopang bayi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam tangan Kael.
Saat jari-jari Kael menutup di atas jari Maggie, rasa tenang menyelimuti mereka. Maggie jelas tidak pernah berjalan di jalanan Jogjakarta sambil menggendong bayi.
Para pembeli pun menatap mereka bergantian, lalu ke bayi itu, dengan senyum lembut. Maggie tidak pernah menyangka, berjalan santai seperti ini bisa memberi rasa senang sebesar itu.
“Oh,” Maggie menghela napas, berhenti di depan sebuah etalase.
Itu toko bayi, dengan pajangan indah berisi satu set lengkap pakaian, sepatu, dan aksesori yang menggemaskan.
“Ayo!” ajak Maggie.
Kael melangkah lebih dulu dan membukakan pintu. Toko itu dua lantai, sebagian besar berupa ruang terbuka. Seorang perempuan muda pun mendekat, rok khaki dan blus birunya serasi dengan palet warna toko.
“Wilujeng,” katanya. "Silakan. Siapa yang punya hajat hari ini?"
“Wilujeng,” jawab Maggie, suaranya agak ragu. “Ini Biann.”
“Bayi nya gwanteng. Kecil sekali. Dua bulan?” Bahasa penjaga toko itu kental dengan aksen Jogjakarta.
“Hampir tujuh minggu,” kata Maggie.
Perempuan itu bertepuk tangan. “Kami punya banyak sekali pilihan buat Biann.”
Maggie menggeleng. “Semuanya cantik.”
“Silakan lihat-lihat, ya. Saya di sini kalau ada pertanyaan.”
Baru setelah percakapan itu selesai, perempuan itu melirik ke arah Kael. “Kamu pasti ayahnya.”
Kael dan Maggie saling bertukar pandang. “Oh, aku di sini cuma buat bawa barangnya,” katanya santai.
Penjaga toko tertawa. “Baik sekali. Kalau gitu semua keranjang belanjanya nanti kami berikan ke kamu, ya.”
Maggie berkeliling toko. Setiap kali dia berhenti, setiap kali dia menyentuh sesuatu, dia memberi isyarat kecil pada penjaga toko. Maggie mengobrol, sementara perempuan lain mengikuti mereka diam-diam dan mengumpulkan semua barang yang dia sentuh.
“Lihat ini,” kata Maggie sambil mengangkat baju terusan biru dengan kemeja berkancing yang manis di dalamnya. Lengkap dengan dasi kupu-kupu kecil. “Ini bakal sempurna buat hadiah pernikahan.”
“Pasti,” kata Kael.
“Kami juga punya sepatu yang serasi,” ujar perempuan itu, menggiring Maggie ke rak yang penuh sepatu mungil.
Mereka membandingkan pilihan, sementara Kael mendekati perempuan yang mengumpulkan barang belanjaan.
“Kirim semuanya ke hotel Royal Malioboro,” kata Kael dan perempuan itu mengangguk.
Maggie kembali membawa sepasang loafer cokelat super kecil. “Lucu banget, kan?”
“Banget.”
Maggie lanjut ke aksesori.
“Kalau tas ini?” Dia mengangkat tas popok yang ukurannya mirip dengan miliknya sekarang. Bedanya, yang ini dari kulit cokelat polos, dengan saku dan penutup yang fungsional tapi tetap sederhana.
“Aku suka,” jawab Kael.
Penjaga toko melangkah maju. “Mau saya rapikan tasnya di sini?”
“Oh,” kata Maggie. “Ya, tentu. Kayaknya itu bakal menghemat waktu.”
Maggie menyerahkan tas Labubu nya pada perempuan itu. “Makasih.”
“Silakan lanjut lihat-lihat,” kata penjaga toko.
Maggie mengusap bagian depan piyama bayi. “Lembut banget, ya ... tapi dia sudah punya banyak.”
Kael mendekat. “Kamu enggak mau ambil beberapa ukuran yang lebih besar, biar dia punya baju dari Jogjakarta pas nanti dia besar?”
Maggie melirik sekeliling. “Mungkin satu. Aku enggak nyangka piyama ini punya set empeng yang serasi.”
Penjaga toko membuka kemasannya. “Dan lihat, ini juga pakai pengait yang senada.” Dia memasang empeng itu ke penjepit khusus yang sudah menyatu dengan piyama.
“Aku suka ini.” Maggie menatapnya. “Kita beli aja, ya?”
“Ambil tiga ukuran!” paksa Kael. “Biar Kamu bisa pakai lebih lama.”
Penjaga toko mengangguk dan mengambil tiga set plus paket empengnya.
“Kayaknya cukup,” kata Maggie. “Kita udah buat kerusakan."
Penjaga toko memiringkan kepala. “Kerusakan apa?”
“Itu cuma ungkapan,” kata Maggie. “Belanjanya kebanyakan. Kerusakan buat rekening kita.”
Maggie sadar telah mengucapkan kata kita dan menggigit bibir, menatap Kael sambil mengangkat bahu.
Kael menyerahkan kartu kredit pada penjaga toko, sementara perempuan lain mengepak ulang tas.
“Kamu bisa ngawasin barangnya,” saran Kael pada Maggie.
Maggie berjalan ke ujung meja kasir, memudahkannya membayar beberapa paket tambahan tanpa sepengetahuan Kael.
“Kami akan langsung mengirimkannya,” kata penjaga toko. “Tas popok lama mau dimasukkan ke mobil?”
Maggie menggeleng. “Kirim bersama yang lain aja.”
Maggie meminta perempuan itu memasukkan piyama dan empeng ke tas popok baru sebagai pakaian cadangan.
Saat mereka keluar, Maggie menarik napas panjang. “Seru banget. Makasih banyak buat hadiahnya.”
“Kita bakal punya bayi paling keren di pernikahan Adiputra,” kata Kael. Dia menyodorkan siku, dan Maggie menggenggamnya.
“Selanjutnya ke mana?” tanya Maggie.
“Biann gimana?”
Maggie membetulkan kain sling. “Tidur ... pulas.”
“Bagus. Kalau bayinya dapat baju baru, Mamanya juga seharusnya dapat.”
“Oh, enggak bisa.”
Dia mengedipkan mata. “Aku yakin kamu pasti bisa.”
Maggie tersenyum, matanya berbinar. “Oke. Mungkin satu aja.”
...────୨ৎ────...
Saat mereka kembali duduk nyaman di dalam Limusin, Maggie menimbang apakah sebaiknya menerima hadiah lagi?
Kael sedang menerima telepon di seberang, menghadap jendela supaya dia punya privasi saat bergulat dengan Biann. Bayi itu begitu lelah sampai Maggie memutuskan berbaring di bangku panjang dan menyusuinya.
Maggie memperhatikan Kael berbicara. Suaranya terdengar stabil dan terkendali. Tapi sesekali dia mengepalkan tangan, dan Maggie tahu dia sedang menahan diri. Dia pasti belum merapikan jenggot hari ini, karena telapak tangannya terus mengusapnya.
Maggie membayangkan bagaimana rasanya menggesekkan pipinya di janggut yang kasar itu.
Maggie pandai membaca laki-laki. Sangat pandai. Dia tahu Kael tertarik. Tapi Kael tidak melakukan langkah apa pun. Pasti dia mempertimbangkan kalau situasi mereka rumit.
Dan dia benar. Bayi saja sudah cukup rumit, belum lagi mereka tinggal terpisah oleh ribuan kilometer. Perbedaan gaya hidup mereka juga terlalu jauh.
Kael mulai mengetukkan kaki, tanda tingkat emosinya naik. Nada tak sabar semakin terasa di kata-katanya. Dia menjauh dari jendela, dan Maggie menurunkan pandangan supaya Kael tidak sadar kalau sedang diperhatikan.
Biann sudah tertidur, dagunya terkulai.
...𓂃✍︎...
...Jika berujung asing, untuk apa canda dan tawa menghiasi kemarin?...
...────୨ৎ────...
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .