Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
16
Pagi itu, suara ketukan palu kayu beradu dengan bambu terdengar ritmis dari belakang rumah Anjeli. Gadis itu tidak sedang memegang cangkul, melainkan seikat tali ijuk dan parang. Ia sedang memperkuat pagar belakang yang berbatasan dengan pohon jati besar. Pagar yang tadinya hanya setinggi dada, kini ia tambah dengan bilah-bilah bambu runcing hingga setinggi kepala orang dewasa.
"Kak, kenapa pagarnya dibuat tinggi sekali? Nanti Aris tidak bisa lagi lihat burung-burung di pohon jati itu.” tanya Aris sambil membawakan nampan berisi dua gelas teh hangat dan singkong goreng.
Anjeli berhenti sejenak, menyeka keringat di pelipisnya dengan lengan baju. Ia menatap adiknya dengan lembut. "Supaya tanaman kita tidak diganggu ulat besar, Dek. Dan supaya Kakak bisa bekerja lebih tenang tanpa merasa diperhatikan."
Aris mengangguk meski tidak sepenuhnya mengerti. Ia meletakkan nampan di atas tunggul kayu. "Ayah tadi bilang, kalau pagarnya sudah selesai, Ayah mau coba jalan ke sini tanpa kursi roda."
Mendengar itu, semangat Anjeli kembali berkobar. Ia segera menyelesaikan sisa ikatan bambunya. Di sela-sela bambu itu, ia sengaja menyisipkan dahan-dahan Mawar Pelindung yang sudah ia stek. Dalam beberapa hari, mawar itu akan merambat dan menyatu dengan pagar bambu, menciptakan barikade berduri yang wangi namun sulit ditembus mata maupun raga.
Setelah urusan pagar selesai, Anjeli beralih ke tanaman seladanya. Ia melihat ada sesuatu yang menarik. Selada keriting yang ia siram dengan Cairan Pembenah Tanah Yang ia campuran Air Rohani dan ekstrak mawar menunjukkan kualitas yang berbeda. Daunnya tidak hanya hijau, tapi memiliki kilau seperti berlapis lilin alami, yang artinya tanaman itu memiliki daya tahan tinggi terhadap panas matahari.
Anjeli berjongkok, mengamati tanah di sekitar perakaran. Tanah itu terasa sangat remah dan dingin, meskipun matahari mulai terik.
"Satu petak ini mungkin hanya menghasilkan tujuh kilo," gumam Anjeli. "Tapi kalau kualitasnya begini, Bu Widya pasti tidak akan keberatan membayar lebih."
Ia mulai mencatat perkembangan tanamannya di sebuah buku tulis lusuh buku bekas sekolahnya dulu yang masih memiliki halaman kosong. Ia mencatat kapan ia menyiram, berapa dosis pupuk komposnya, dan bagaimana reaksi daunnya. Ia ingin memiliki catatan yang terlihat profesional jika suatu saat ada pihak berwenang atau pengacara yang meragukan cara kerjanya.
Siang harinya, momen yang ditunggu-tunggu terjadi. Pak Burhan keluar dari pintu belakang. Ia tidak duduk di kursi roda. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah tongkat kayu jati tua milik mendiang kakek Anjeli.
"Ayah! Pelan-pelan," seru Anjeli sambil berlari kecil untuk berjaga-jaga di samping ayahnya.
Pak Burhan menarik napas panjang, wajahnya menunjukkan konsentrasi penuh. Langkah pertamanya gemetar, namun kaki kirinya mendarat dengan mantap di atas tanah. Kemudian kaki kanannya menyusul. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah.
"Lihat, Nak. Ayah bisa jalan dan tanpa jatuh," suara Pak Burhan serak karena menahan haru.
Aris yang melihat dari kejauhan langsung bertepuk tangan kegirangan. "Ayah hebat! Ayah seperti pahlawan di televisi!"
Pak Burhan berhasil mencapai bangku kayu di bawah pohon mangga, tempat yang berjarak sekitar lima meter dari pintu rumah. Ia duduk di sana dengan napas terengah namun senyumnya sangat lebar. Ia melihat ke arah pagar baru yang dibangun Anjeli.
"Pagarmu bagus, Nak. Kokoh. Tapi Ayah merasa ada yang aneh sejak pagar itu berdiri, suasana di kebun ini terasa lebih tenang. Seperti ada dinding yang menahan suara-suara bising dari luar," komentar Pak Burhan.
Anjeli tersenyum dalam hati. Ia tahu itu adalah pengaruh dari Mawar Pelindung yang mulai bekerja memberikan aura ketenangan. "Mungkin karena udaranya jadi lebih bersih karena banyak daun, Pak."
Saat mereka sedang menikmati momen keberhasilan Pak Burhan, Anjeli merasakan getaran aneh dari cincinnya. Ia menoleh ke arah celah kecil di pagar bambu yang baru ia buat. Di sana, ia melihat sekelebat bayangan orang yang sedang berjongkok di balik pohon jati, namun orang itu tidak membawa kamera lagi.
Kali ini, orang itu tampak sedang menulis sesuatu di buku catatan.
Anjeli tidak langsung melabraknya. Ia tidak ingin merusak suasana bahagia ayahnya. Namun, ia mengambil sebuah keranjang berisi sisa potongan bambu dan berjalan perlahan menuju area pagar tersebut, berpura-pura sedang merapikan tanah.
Saat jaraknya sudah cukup dekat, ia berbisik dengan nada dingin namun tenang. "Siapa pun Anda di balik pohon itu, jika Anda mencari kesalahan kami, Anda tidak akan menemukannya. Tapi jika Anda mencari kebenaran, maka masuklah lewat pintu depan seperti tamu yang punya sopan santun."
Suasana mendadak hening. Tidak ada jawaban, namun terdengar suara gesekan ranting kering yang menandakan orang di balik pohon itu terkejut dan segera pergi menjauh.
Anjeli berdiri tegak, menatap ke arah hutan jati. Ia menyadari bahwa keberhasilan pertaniannya yang meskipun kecil, telah mengundang rasa penasaran yang lebih luas dari sekadar tetangga yang iri.
"Siapa pun dia, dia harus tahu kalau rumah ini bukan lagi tempat yang lemah," gumam Anjeli.
Malam itu, di meja makan, mereka bertiga makan dengan sangat lahap. Nasinya adalah campuran beras biasa dengan segenggam Beras Emas. Kekuatan Pak Burhan yang mulai pulih dan hasil kebun Anjeli yang mulai dilirik pembeli besar adalah bukti bahwa kehidupan mereka perlahan-lahan sedang merangkak naik, setapak demi setapak, menuju kebahagiaan yang sesungguhnya.
semangat updatenya 💪💪