“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
"Sepertinya mereka benar-benar mulai ngelunjak!" geram Jeremy sambil mencengkeram besi balkon kamar tidurnya.
Mata tajamnya menatap ke bawah, ke arah gerbang mansion yang baru saja terbuka. Ini sudah pukul tujuh malam dan dua orang yang memenuhi pikirannya sepanjang hari itu baru saja menampakkan batang hidungnya.
"Enak saja pergi tanpa ijin dariku. Apa mereka menganggap ku benda mati selama ini?"
Di halaman depan, Jeremy melihat Alvino turun dari mobilnya. Dengan sok gentleman, pria itu membukakan pintu untuk Cahaya dan membantu Elio turun.
Tawa Elio terdengar sampai ke balkon.
Ya, tawa yang sangat renyah. Tawa yang tidak pernah Jeremy dapatkan selama tinggal bersamanya.
"Harusnya aku tidak peduli. Mau pulang jam berapa pun, itu urusan mereka!" gumam Jeremy dengan tangan terkepal erat hingga kuku-kukunya memutih.
"Tapi ini rumahku! Ada aturan di sini!"
Amarahnya memuncak bukan karena aturan, melainkan karena rasa panas yang membakar dadanya melihat Alvino mengusap puncak kepala Elio dan mencium kening Cahaya sebelum akhirnya pergi.
Setelah mobil putih itu menghilang, Jeremy langsung bergegas turun ke lantai bawah dengan langkah lebar
"Darimana saja kalian?" tanya Jeremy dingin saat Cahaya dan Elio baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu.
Cahaya diam saja. Ia seolah-olah melewati sebuah patung tak bernyawa.
Cahaya hanya fokus membenarkan letak tas sekolah Elio di bahunya tanpa melirik sedikit pun ke arah pria yang sedang berdiri dengan aura mencekam itu.
"Ayo, Lio. Masuk kamar, kita mandi dan bersih-bersih. Pasti badanmu lengket semua kan?" ajak Cahaya dengan lembut.
"Cahaya! Aku sedang bicara padamu!" seru Jeremy, suaranya naik satu oktaf.
Namun, Cahaya tetap tak mempedulikannya. Ia terus menuntun Elio menuju lantai atas. Cahaya enar-benar menganggap Jeremy sebagai udara kosong.
"Sial! Gadis itu benar-benar menguji kesabaranku!" umpat Jeremy dengan wajah frustrasi.
Jeremy ingin sekali mengejar, tapi harga dirinya menahan kakinya di tempat. Ia hanya bisa menatap punggung mereka dengan perasaan campur aduk.
Dan yang paling menyakitkan adalah, Jeremy merasa asing di rumahnya sendiri.
"Saran yang kau berikan tadi pagi, mungkin harus aku pikirkan lagi, Martha!" gerutu Jeremy.
*
*
Sesampainya di kamar, Elio meletakkan tasnya ke atas ranjang lalu menatap Cahaya yang sedang merapikan tempat tidurnya.
"Kak Aya, kenapa Kakak diam saja saat daddy bertanya tadi?" tanya Elio dengan wajah polos.
Cahaya menghentikan gerakannya sejenak, lalu tersenyum tipis. "Biarkan saja, Lio. Sekali-kali daddy harus diberi pelajaran. Paling setelah ini dia marah dan mengomel nggak jelas. Itu hobi daddy-mu, kan?"
"Tapi daddy tadi kelihatan berbeda, Kak..." Elio menundukkan wajahnya.
"Sudah, jangan dipikirkan. Sekarang Lio mandi ya, Kak Aya siapkan air hangat dulu biar badannya segar. Bagaimana tadi jalan-jalannya? Suka?"
Mata Elio kembali berbinar.
"Suka, Kak! Makan es krim enak, main di taman juga seru." Namun, binar itu meredup lagi dengan cepat.
"Tapi Kak... lain kali ajak Daddy jalan-jalan juga, ya?"
Cahaya yang sedang menyiapkan handuk tertegun. "Ajak Daddy? Lio serius?"
"Iya. Kasihan Daddy," ucap Elio lirih, jemari mungilnya memainkan ujung selimut. "Tadi pas pulang, Lio lihat daddy berdiri sendirian di balkon. Daddy kelihatannya sedih dan kesepian sekali. Lio tidak tega melihat Daddy seperti itu, Kak. Daddy seperti orang yang tidak punya teman."
Hati Cahaya mencelos. Kata-kata polos itu terasa lebih tajam daripada makian Jeremy. Ia berlutut di depan Elio, menggenggam tangan kecil yang terasa dingin itu.
Ada sesak yang menyeruak di dadanya melihat betapa besarnya kapasitas hati bocah ini untuk memaafkan ayahnya yang kaku.
"Lio sayang daddy, ya?" tanya Cahaya.
"Sayang banget, Kak. Elio cuma ingin daddy tidak sendirian lagi. Elio tidak mau daddy sedih terus karena mommy sudah di surga," jawab Elio dengan wajah menunduk, butiran bening mulai menggantung di bulu matanya.
Cahaya menarik napas panjang, mencoba menelan gumpalan pahit di tenggorokannya. Ia ikut sedih melihat Elio yang begitu merindukan sosok ayah yang hangat.
"Baiklah. Kak Aya janji, lain kali kita ajak daddy," ucap Cahaya dengan tulus.
Elio mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap Cahaya penuh harap. "Kakak serius? Kakak tidak bohong?"
"Tentu saja tidak. Nanti kita bertiga liburan bersama. Tidak ada kak Alvin, tidak ada pekerjaan daddy. Hanya kita bertiga," jawab Cahaya meyakinkan.
Elio tiba-tiba mengeluarkan jari kelingkingnya yang mungil. "Janji?"
"Janji, Sayang," ucap Cahaya sembari menautkan jari kelingkingnya ke jari Elio.
Elio langsung menubruk Cahaya, memeluknya erat seolah-olah Cahaya adalah pelindung terakhir yang ia miliki.
Cahaya mendekap kepala Elio, mencium rambutnya, dan tanpa sadar air matanya jatuh. Ia sadar, di balik kemewahan mansion ini, ada dua orang pria yang sama-sama sekarat karena kesepian.
Bedanya, yang satu mengakui, sementara yang satunya lagi terlalu sombong untuk bicara jujur.
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭