NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 - Tamu di Sekolah

Riuh rendah kantin sekolah di jam istirahat tidak mampu meredam kegelisahan di hati Aura. Ia duduk menusuk-nusuk baksonya tanpa minat, sementara Zahra di sampingnya sedang sibuk bercerita tentang konser yang ingin ia datangi. Mawar, seperti biasa, hanya diam menyimak dengan kepala tertunduk, sesekali melirik Aura yang tampak melamun.

Tiba-tiba, seorang siswi kelas sepuluh menghampiri meja mereka dengan napas sedikit terengah.

"Kak Aura? Itu... ada tamu di ruang piket. Katanya ada urusan penting banget, kakaknya katanya," ujar siswi itu sopan.

Aura mengerutkan kening. "Kak Bima? Tadi dia bilang mau langsung ke bengkel temannya."

"Bukan Kak Bima, Ra. Cowoknya... ganteng banget, pake jaket hitam. Sopan banget tadi pas nanya," imbuh siswi itu sambil tersipu malu.

Jantung Aura seolah berhenti berdetak sejenak. Ia tahu siapa itu. Ia melirik Mawar, dan Mawar hanya menatapnya dengan pandangan teduh yang seolah berkata, 'Hadapi, Ra.'

Dengan langkah berat, Aura berjalan menuju ruang piket. Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat sosok Arfan yang berdiri tegak di dekat pintu masuk. Arfan sedang berbicara dengan salah satu guru, dan guru itu tampak mengangguk-angguk sambil tersenyum kagum, seolah terpesona dengan aura kesopanan yang terpancar dari pria itu.

Begitu menyadari kehadiran Aura, wajah Arfan langsung cerah. Ia melangkah mendekat dengan langkah yang tenang dan pasti.

"Ra," sapa Arfan lembut. "Maaf ya, saya lancang datang ke sekolah tanpa memberi tahu kamu dulu."

Aura tidak membalas senyuman itu. Ia justru mundur selangkah, menciptakan jarak yang nyata di antara mereka. Rasa risih yang sejak semalam ia pendam kini mulai mengkristal menjadi ketidaksukaan yang nyata.

"Kak Arfan ngapain ke sini? Ini jam sekolah, Kak. Lagian tadi pagi kan sudah ketemu," suara Aura terdengar datar, nyaris dingin.

Arfan seolah tidak menyadari perubahan nada bicara Aura. Ia justru menyodorkan sebuah kantong kertas berisi wadah bekal yang tadi pagi ia bawa ke rumah. "Bunda tadi lupa memberikan ini. Saya sudah buatkan jus buah segar dan vitamin tambahan untukmu. Saya khawatir tadi pagi kamu tidak sempat sarapan dengan benar karena..."

Aura tidak memberikan kesempatan bagi Arfan untuk melanjutkan kalimatnya. Begitu Arfan menyebut-nyebut soal kepeduliannya, Aura langsung memotong dengan nada yang lebih tajam dari biasanya.

"Makasih, Kak. Tapi aku nggak lapar. Dan tolong, sekarang Kakak pergi. Aku harus masuk kelas," ujar Aura dingin.

Ia tidak ingin mendengar alasan apa pun lagi. Baginya, kehadiran Arfan di sekolah benar-benar sudah melampaui batas privasinya. Tanpa menunggu balasan atau sekadar pamit dengan sopan seperti biasanya, Aura berbalik dan melangkah cepat, meninggalkan Arfan yang masih berdiri mematung di tengah koridor dengan kantong kertas di tangannya.

Langkah kaki Aura terasa menghentak di lantai koridor. Dadanya sesak. Ia merasa oksigen di sekitarnya seolah tersedot habis setiap kali Arfan muncul secara tiba-tiba seperti itu.

Sesampainya di kelas, Aura langsung duduk dan menelungkupkan kepalanya di atas meja. Bahunya naik turun, menahan emosi yang meluap.

"Ra? Kamu nggak apa-apa?" Suara lembut Mawar terdengar di sampingnya. Mawar mengusap punggung Aura dengan pelan.

Aura mendongak, matanya berkaca-kaca karena kesal. "War, aku mulai takut. Kak Arfan... dia kayak nggak punya batasan. Dia datang ke sini cuma buat anter vitamin, padahal aku nggak minta. Aku merasa diawasi terus, War."

Mawar terdiam sejenak, tangannya masih mengusap lembut bahu Aura. Ia mengatur napasnya agar tetap tenang, meski di dalam hatinya ada riak yang tak seorang pun tahu. Dengan suara yang nyaris seperti desiran angin, ia berucap.

​"Aura, mungkin Kak Arfan hanya terlalu takut kehilangan orang yang dia sayangi. Kadang, kebaikan yang terlalu besar memang terasa seperti beban, tapi cobalah berhusnuzan. Barangkali dia hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja," kata Mawar dengan kebijaksanaan yang menghanyutkan. Tatapannya begitu dalam, seolah ia sedang membela seseorang yang sangat berharga baginya tanpa ingin terlihat mencolok.

​Baru saja Aura hendak membalas, Zahra datang dengan gaya hebohnya, langsung duduk di depan mereka sambil mengibaskan rambut pirangnya.

​"Ya ampun, Ra! Gue tadi liat Kak Arfan di depan. Sumpah ya, lo itu lebay banget jadi cewek," celetuk Zahra tanpa saringan. "Cowok spek dewa kayak gitu bela-belain dateng ke sekolah cuma buat anter vitamin, dan lo malah pasang muka ketus? Itu namanya cinta, Aura! Romantis tahu nggak? Kalau gue jadi lo, udah gue pamerin ke seluruh sekolah!"

​Aura mendongak, menatap Zahra dengan sisa kekesalan di matanya. "Bukan gitu, Zah. Ini bukan soal romantis, ini soal privasi. Masa sampai jam dua pagi dia diem di depan rumah gue? Terus sekarang muncul di sini?"

​"Ya itu namanya protektif, Sayang! Dia mau jagain lo," bantah Zahra santai.

​"Jagain atau ngekang?" potong Aura cepat. "Tahu nggak, Zah? Kemarin pas pulang sekolah, Kak Arfan tiba-tiba nahan gue buat nggak ambil beasiswa ke London. Dia minta gue kuliah di Jakarta aja biar dia bisa pantau terus."

​Seketika, ekspresi Zahra berubah total. Wajahnya yang tadi penuh canda langsung mengeras. Ia menggebrak meja pelan, matanya menyipit tajam.

​"Hah?! Serius lo?!" nada suara Zahra naik satu oktav. "Gue tarik omongan gue tadi. Itu sih bukan cinta, itu namanya red flag tingkat nasional! Gila ya, London itu mimpi kita berdua, Ra. Kita udah begadang bareng, nangis-nangis belajar bareng, terus dia mau hancurin gitu aja cuma biar lo bisa dia pantau? Siapa dia? Satpam komplek?"

​Zahra mendengus emosi, benar-benar tidak terima. "Nggak bisa, Ra! Gue nggak setuju. Cowok kalau udah mulai larang-larang mimpi pas belum jadi apa-apa, gimana ntar kalau udah lebih? Lo jangan mau kalah! Gue bakal pasang badan kalau dia berani ngalangin lo lagi."

​Di sisi lain, Mawar hanya terpaku. Ia menunduk semakin dalam, jemarinya meremas rok panjangnya di bawah meja. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya mendengar kenyataan bahwa Arfan begitu tidak ingin Aura pergi, begitu ingin memiliki Aura seutuhnya di dekatnya.

​"Zahra, jangan terlalu emosi. Mungkin Kak Arfan cuma khawatir soal lingkungan di sana..." sela Mawar lirih, mencoba mendinginkan suasana.

​"Khawatir atau obsesi, War?" sahut Zahra sengit. "Mimpi orang nggak boleh ditawar-tawar, apalagi pake kedok peduli. Aura harus terbang, dan nggak boleh ada satu orang pun yang boleh motong sayapnya!"

​Aura terdiam, menatap kedua sahabatnya. Ia merasa bersyukur ada Zahra yang mendukung mimpinya dengan berapi-api, tapi ia juga merasa bingung dengan ketenangan Mawar yang seolah-olah selalu punya cara untuk memaklumi tindakan Arfan.

Bersambung.......

Assalamualaikum semuanya, jangan lupa like dan komen yaaa🫶🏻.

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!