NovelToon NovelToon
PENYESALAN SANG PENGUASA

PENYESALAN SANG PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa

Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Jejak yang Dihapus dan Siasat Sang Pemangsa

Layar tablet di tanganku mendadak berubah menjadi merah pekat, memberikan peringatan bahwa pertahanan digital yang dibangun Rian sedang dihantam oleh kekuatan yang tidak main-main. Aku duduk di tepi ranjang rumah baru kami, membiarkan Seeula terlelap di kamar sebelah sementara aku bertarung dengan bayangan. Rian segera menghubungi jalurnya dengan suara yang terdengar sangat tertekan.

"Yansya, mereka tidak mencoba mencuri data saham. Mereka mencari folder 'Memorabilia'. Mereka mencari foto itu!" lapor Rian dengan deru napas yang memburu.

Aku mengetuk jemariku di atas meja kayu yang solid. "Biarkan mereka masuk ke folder jebakan, Rian. Berikan mereka versi yang sudah kau edit."

"Kau gila? Itu bisa memancing Gautama untuk bertindak lebih jauh," sahut Rian dengan nada tidak percaya.

"Justru itu tujuanku. Aku ingin dia percaya bahwa aku tidak tahu apa-apa tentang hubungan di foto itu," cetusku sambil memperhatikan grafik serangan yang mulai melambat.

Aku mematikan tablet dan berjalan menuju balkon. Di kejauhan, lampu kota tampak seperti barisan pion catur yang sedang menunggu giliran untuk digerakkan. Gautama mengira dia memegang kendali karena rahasia darah, tapi dia lupa bahwa di duniaku yang lama, aku sudah belajar cara menghancurkan keluarga sendiri jika itu diperlukan untuk bertahan hidup.

Keesokan paginya, aku sudah berada di kantor Widowati Group sebelum para karyawan datang. Seeula masuk ke ruanganku dengan membawa dua cangkir kopi, wajahnya tampak jauh lebih segar meskipun matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang besar.

"Kau berangkat terlalu pagi lagi, Yansya. Apakah ada masalah dengan proyek pelabuhan itu?" tanya Seeula sambil meletakkan kopi di mejaku.

Aku berdiri dan menyambutnya dengan senyum yang paling akrab. "Hanya memastikan semua dokumen tender bersih dari intervensi Gautama, Seeula. Kau sendiri, bagaimana laporan operasional hari ini?"

"Semuanya berjalan lancar. Tapi, ada satu hal aneh. Bank Artha Kencana tiba-tiba menawarkan pinjaman tambahan tanpa bunga yang sangat besar," jelas Seeula dengan dahi berkerut.

"Jangan ambil satu rupiah pun dari mereka. Itu adalah umpan agar kita memiliki ketergantungan pada sistem mereka," sergahku dengan nada yang sangat tegas.

Seeula menatapku lama, mencoba mencari alasan di balik sikap protektifku yang terkadang terlihat berlebihan. "Kau seolah tahu apa yang akan terjadi sebelum mereka melangkah, Yansya. Bagaimana kau bisa seyakin itu?"

"Anggap saja itu insting seorang pria yang tidak ingin melihat wanitanya jatuh ke lubang yang sama dua kali," jawabku sambil menyesap kopi yang masih panas.

Telepon di meja kerjaku berdering. Sekretaris mengabarkan bahwa ada tamu yang memaksa masuk tanpa janji temu. Aku memberikan isyarat pada Seeula untuk tetap berada di sampingku. Pintu terbuka, dan Adrian masuk dengan wajah yang sudah tidak lagi segarang tempo hari.

"Yansya, kita perlu bicara. Ayahku... dia sedang dalam masalah besar karena dokumen yang kau kirim kemarin," ucap Adrian dengan suara yang terdengar sangat putus asa.

Aku menyandarkan punggung di kursi kebesaranku, menatapnya dengan pandangan yang sangat meremehkan. "Masalah ayahmu bukan urusanku, Adrian. Aku sudah memberikan peringatan, dan kalian memilih untuk mengabaikannya."

"Gautama menarik semua dukungannya setelah tahu kau menyerang bank kami! Kami akan hancur jika kau tidak menarik laporan itu!" teriak Adrian sambil memukul meja.

Seeula tampak tersentak, namun dia tetap berdiri tegak di sampingku. Aku berdiri perlahan, memangkas jarak dengan Adrian hingga dia terpaksa mundur selangkah.

"Hancurnya bank kalian adalah harga dari kesombonganmu di jalanan waktu itu. Sekarang, keluar dari kantorku sebelum aku memanggil tim keamanan untuk menyeretmu," perintahku dengan otoritas yang sangat dingin.

Setelah Adrian pergi dengan sisa kehinaan yang melekat pada wajahnya, Seeula memegang lenganku. "Apakah ini benar-benar perlu, Yansya? Menghancurkan keluarga orang lain seperti itu?"

"Dunia ini tidak mengenal belas kasihan bagi mereka yang mencoba memanfaatkan orang lain, Seeula. Jika aku tidak menghancurkan mereka, mereka yang akan menghancurkamu," jawabku sambil mengusap jemarinya dengan lembut.

Rian mengirimkan pesan singkat ke ponselku: Lokasi penyusup terdeteksi. Itu dari panti asuhan tua di pinggiran kota. Tempat ibumu dulu dibesarkan.

Darahku berdesir hebat. Gautama tidak hanya bermain di pasar saham; dia mulai menyerang akar sejarahku. Aku segera mengambil jas dan kunci mobil, tidak ingin membuang waktu satu detik pun.

"Aku harus pergi sebentar, Seeula. Ada urusan mendesak dengan vendor teknologi kita," pamitku dengan alasan yang sudah kusiapkan.

"Hati-hati, Yansya. Perasaanku tidak enak tentang hari ini," pesan Seeula dengan nada yang sangat cemas.

Aku memacu mobil menuju pinggiran kota, meninggalkan kemegahan gedung pencakar langit menuju kawasan yang sudah lama aku lupakan. Panti asuhan itu tampak sangat reyot, dengan cat yang sudah mengelupas di sana-sini. Aku turun dari mobil dan langsung disambut oleh seorang wanita tua yang sedang menyapu halaman.

"Anda mencari seseorang, Nak?" tanya wanita tua itu dengan suara yang serak.

"Aku mencari catatan tentang seorang wanita bernama Martha yang tinggal di sini dua puluh tahun lalu," jawabku tanpa basa-basi.

Wanita itu berhenti menyapu, menatapku dengan sorot mata yang penuh dengan ketakutan. "Kau punya mata yang sama dengan pria yang datang tadi malam. Pria dengan rambut putih yang sangat angkuh."

"Gautama sudah di sini?" cetusku dengan rahang yang mengeras.

"Dia mengambil semua berkas tentang Martha. Dia bilang dia ingin menghapus semua bukti bahwa Martha pernah ada di dunia ini," jelas wanita itu dengan tangan yang mulai gemetar.

Aku segera masuk ke dalam gedung, mencari ruang arsip yang mungkin masih menyisakan sedikit jejak. Di pojok ruangan, aku melihat sebuah kotak kayu yang sudah terbuka dan isinya berserakan. Aku memungut selembar kertas kecil yang terselip di bawah rak.

Itu adalah surat wasiat ibuku yang belum sempat dikirim.

Untuk putraku yang akan membawa beban dunia. Jangan pernah percaya pada singa yang memberimu emas, karena dia adalah pembunuh ayahmu yang sebenarnya.

Aku mengepalkan tangan hingga kertas itu remuk dalam genggamanku. Fakta ini jauh lebih mengerikan dari apa yang aku bayangkan di kehidupan masa depanku. Gautama bukan sekadar musuh bisnis; dia adalah monster yang membunuh orang tuaku dan mencoba berpura-pura menjadi pelindung.

Ponselku berdering. Itu adalah panggilan dari nomor tersembunyi. Aku menjawabnya dengan napas yang tertahan.

"Sudah kau baca pesannya, Yansya? Masa lalumu sangat membosankan, bukan?" suara Gautama terdengar sangat puas di seberang sana.

"Kau baru saja menandatangani surat kematianmu sendiri, Gautama," ancamku dengan suara yang paling rendah.

"Tertawalah selagi bisa. Lihatlah ke arah jendela depan pantimu sekarang," sahut Gautama sebelum memutuskan sambungan.

Aku berlari menuju jendela dan melihat sebuah mobil hitam baru saja berhenti. Di dalamnya, aku melihat Seeula sedang duduk terikat dengan pengawal yang menodongkan senjata ke arah kepalanya.

Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku baru saja menyadari bahwa Seeula mengikuti mobilku karena rasa cemasnya, dan dia baru saja masuk ke dalam jebakan yang paling mematikan.

"Lepaskan dia!" teriakku pada udara kosong, sementara mobil itu mulai melaju kencang meninggalkan halaman panti.

1
ZasNov
Semangat Yansya, kalahkan mereka semua.. 💪😎
ZasNov
Semoga kali ini Yansya bisa benar2 melindungi Seeula..
ZasNov
Ga bisa nolak tuh kalau udah diancam begitu..
ZasNov
Madam Widowati udah kayak dijatuhkan dari gedung tinggi.. 🤭
ZasNov
Wah keren Yansya, dia datang menyerang dengan senjata rahasia yang tidak terduga.. 😂👍
ZasNov
Madam Widowati salah target ternyata 😂
ZasNov
Ayo tunjukan siapa dirimu Yansya, beri Madam Widowati pelajaran & selamatkan Seeula..
ZasNov
Nah lho, keadaan beneran berbalik. Bukan Pak Hermawan & Adrian lagi yang mengancam Yansya, sekarang Yansya yang menekan Pak Hermawan.. 😎👍
ZasNov
Ga nyangka banget kan Pak Hermawan, kalau Yansya punya kartu As yang bisa membalikan keadaan.. 😆
ZasNov
Mantap Yansya.. bisa tetap tenang, malah makin bersemangat menunjukkan taringnya.. 😎👍
Pipit Jambu
iya
ZasNov
Tuh kan, mulai banyak orang memanfaatkan nama Seeula untuk menekan Yansya.. 😖
ZasNov
Aduh, bagusnya Seeula sllu dalam perlindungan Yansya. Karena Darwin udah tau kelemahan Yansya itu Seeula..
ZasNov
Nyesel kan.. Udah telat. Kalau dikasih kesempatan kedua, jangan disia2in lagi ya
ZasNov
Selain penasaran sama rencana Yansya selanjutnya, kepo juga sama cara dia deketin Seeula.. 😄
ZasNov
Tanpa basa-basi langsung ditolak.. 😆👍
ZasNov
Hadeuh, Yansya.. Kamu bisa sukses juga berkat doa & usaha istrimu juga. Giliran ga diurusin, kamu juga bakalan berantakan..
Seeula
dari rawrrr ke aongg aonggg aongg🤣
Seeula
tamu2 tak diundang 😏
Seeula
gak gak ini mh kaya preman minta2 uang buncit gini mh😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!