Nabila Zahra Kusuma gadis cantik yang hidup dengan keluarga yang sangat berantakan. Saat ibunya Siti Nurhaliza pergi meninggalkan dia dan ayahnya untuk memilih hidup dengan pria lain yang memiliki banyak harta. Sedangkan Hariyanto Kusuma ayahnya suka dengan dunia malam, minuman dan perjudian.
Nabila yang masih bersekolah kini harus berjuang untuk hidupnya sendiri, apalagi dia tidak ingin putus sekolah.
Setiap pulang sekolah, Nabila selalu menyempatkan diri kerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang buat membiayai hidupnya.
Hidupnya sangat sulit. Terkadang dia harus menahan air mata agar tidak dianggap lemah oleh orang lain. Nabila juga sering mendapatkan perundungan dari teman sekelas yang menganggap dia rendah.
Semua itu dia hadapi dengan menjadi perempuan yang sangat kuat. Sifat lembut dalam dirinya dia sembunyikan hanya untuk mempertahankan diri.
Setiap hari Nabila harus menyaksikan ayahnya bersama perempuan lain dengan tubuh terbuka di ruang tamu rumah mereka. Pakaian mere
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Pergilah!! Anggap saja aku telah mati!" ucap Hariyanto kepada Nabila. Kali ini hati Nabila benar-benar hancur – kedua orang tuanya tidak ada satupun yang menginginkannya.
Nabila menangis hingga akhirnya duduk di tengah jalanan yang basah. Wajah sendu terpancar jelas dari wajahnya. Semua topeng keberanian, kegigihan, dan sikap keras yang selalu dia tunjukkan kini hilang begitu saja ketika sang ayah menjualnya dengan uang. Keadaan semakin menyakitkan ketika hujan deras mengguyur Kota Perak. Reynaldo hanya berdiri diam menatapnya – hujan seolah menyembunyikan aliran air matanya yang tak berhenti.
Nabila menangis sekuat hatinya. Reynaldo yang melihatnya merasa tidak nyaman – dia tidak suka melihat orang menangis, apalagi wanita yang sudah membuat dia merasa berbeda.
Reynaldo menjulurkan tangannya ke arah Nabila.
"Ayo pulang.. ini bukan tempatmu lagi.." ucapnya dengan suara yang lebih lembut dari biasanya. Nabila berdiri dan menghadapinya dengan wajah penuh kemarahan.
"Kauu!!! Kauuu yang membuat semua seperti ini!! Sejak pertemuanku denganmu, hidupku semakin kacauu!!" teriak Nabila kepada Reynaldo.
"Kenapa!!! Kenapa kau mengacaukan hidupku!! Kau membuat hidupku jadi berantakan!!!" teriaknya lagi, merasa seluruh dunia sudah runtuh di sekitarnya.
Nabila merasa hidupnya semakin tidak berarti. Dia memukul-mukul dada Reynaldo dengan kedua tangannya – meskipun pukulan itu tidak memberikan rasa sakit, Reynaldo hanya berdiri diam melihatnya semakin putus asa. Lambat laun gerakan pukulannya melemah, kemudian dia berlari menjauh dari Reynaldo.
Reynaldo segera mengejarnya. Nabila terus berlari dengan lemah, hingga tiba-tiba dia terjatuh dan pingsan di tengah jalan hujan.
Reynaldo dengan cepat mendekat dan menggendongnya ala bridal style, kemudian membawanya ke mobil. Saat berada di dalam mobil, dia sering melihat wajah Nabila yang pucat – kali ini dia merasa kasihan padanya. Sejak kematian ibunya dan kehilangan kekasihnya Maya, Reynaldo menjadi pria yang tidak mengenal belas kasihan. Tapi kehadiran Nabila seolah memberikan sedikit warna dalam kehidupannya yang dingin, meskipun cara mereka bertemu tidak baik.
Setelah sampai di Istana Mahkota Perak, Reynaldo memerintahkan pengawal untuk menghubungi dokter pribadinya. Dia membawa Nabila ke kamar yang sudah disiapkan khusus untuknya, diikuti oleh beberapa pelayan yang ditugaskan untuk merawatnya.
Reynaldo meletakkan Nabila di atas ranjang kingsize.
"Bersihkan dirinya!!" perintahnya kepada para pelayan. "Baik tuan!!" jawab mereka serentak.
Reynaldo meninggalkan kamar dan pergi ke kamarnya sendiri untuk membersihkan tubuhnya yang basah karena hujan. Dia merendam tubuhnya di bathtub sambil mencoba menenangkan pikiran – hari ini benar-benar melelahkan. Besoknya ayahnya akan datang memaksanya menikah dengan Sophia Wijaya, dan itu membuatnya semakin kesal. Sambil berendam, dia masih mengerjakan pekerjaan melalui tabletnya.
Setelah selesai berendam, seorang pelayan datang menemukannya.
"Maaf tuan, nona Nabila sudah sadar tapi dia menangis terus-menerus dan tidak mau makan sama sekali..." ucap pelayan itu dengan suara khawatir.
Reynaldo yang mendengar itu langsung bergegas ke kamar Nabila.
"Gadisss itu benar-benar menyusahkan!!" gumamnya meskipun hati sebenarnya khawatir.
"Kaliaann pergilah tinggalkan aku sendiri!!" teriak Nabila dengan histeris, masih menangis deras. "Nyonya berhentilah menangis, kau akan semakin lemah jika terus seperti ini..." ucap pelayan membujuknya.
"Kaliaann pergilah!! Aku bukan nyonya kaliann!!" bentak Nabila dengan suara keras.
"Tapi nyonyaa.. tubuhmu sangat lemahhh..!" ucap pelayan itu masih berusaha mendekatinya.
"Pergiii kaliann sialaann!!" teriak Nabila sambil melempar bantal ke arah para pelayan.
Reynaldo yang sudah berada di depan pintu melihat semua itu.
"Kalian pergilah!!" perintahnya kepada para pelayan, yang langsung keluar meninggalkan mereka berdua sendirian.
"Apa yang kau lakukan disini!!" teriak Nabila kepada Reynaldo.
"Menunggumu sampai selesai berteriak!" jawabnya dengan nada datar.
"Pergilah aku ingin sendiri!"
"Siapa kau berani mengusirku! Kau lupa Istana Mahkota Perak ini milik siapa !!" ucap Reynaldo dengan tatapan tajam.
"Baiklahh aku yang akan pergii!" ucap Nabila berusaha bangkit dari ranjang.
"Kau tidak bisa pergi!!"
"Siapa kau melarangku!"
"Aku sudah membayarmu 100 juta dolar jadi kau milikku sekarang!!" ucap Reynaldo menatapnya dengan tegas.
Nabila terdiam seketika – kata-kata itu menusuk hati nya lebih dalam dari sebelumnya. Dia kembali menjerit dan menangis lebih deras lagi.
"Heii!! diamlahhh!!" ucap Reynaldo sedikit panik saat melihatnya semakin tidak terkendali. Tangisan Nabila membuat hatinya merasa tertekan dan tidak nyaman.
"Hisskkk!!hisskk..!!" tangisannya semakin merusak ketenangan Reynaldo.
"Nabila Zahra Kusuma berhenti menangis!!" bentak Reynaldo dengan suara yang cukup keras. Seketika Nabila terdiam dan menatapnya dengan mata merah karena menangis.
"Kauuu!! Untuk apa menangisi seseorang yang tidak menginginkanmu!! Lihatlah – mereka bahkan tidak pernah memikirkan perasaanmuu!! Jangan bodoh Nabila!!" ucap Reynaldo dengan tegas. "Sekarang berhentilah menangis!! Dan beristirahatlah – kau hanya membuat dirimu semakin menderita.." tambahnya dengan nada yang lebih lembut.
"Nabila dengarkan aku – menangis tidak akan menyelesaikan masalahmu! Kau harus kuat dan mempertahankan diri sendiri..!" ucap Reynaldo sambil menatap wajahnya yang terlihat sangat lusuh.
"Makanlah sedikit.." ucapnya kemudian menyuapkan makanan ke bibir Nabila.
Nabila hanya diam dan memakan apa yang disuapkan. Setelah selesai makan, Reynaldo memberinya obat yang diresepkan dokter untuk menenangkan pikirannya agar bisa tidur nyenyak.
Setelah Nabila tertidur lelap, Reynaldo baru meninggalkan kamar. Dia melihat wajah cantiknya yang menyimpan begitu banyak kesedihan – sesuatu yang membuatnya ingin melindunginya. Kemudian dia keluar dan memerintahkan para pelayan untuk tetap menjaga Nabila.
Hari berganti pagi. Reynaldo bersiap untuk pergi ke kantor. Saat hendak keluar, terdengar suara keributan dari ruang tamu istana.
"Adaa apaa ini!!" teriak Reynaldo kepada pengawalnya.
"Tuan besar Raden Wijaya datang bersama nyonya Alisha, tuan.." ucap pengawal itu dengan suara gugup.
"Ahhhkk sialann!! Mengapa si brengsek itu menggangguku lagi!!" ucap Reynaldo marah saat melihat kedatangan ayahnya Raden Wijaya dan istri mudanya Alisha.
"Apa yang kalian cari..!" ucap Reynaldo dengan nada dingin.
"Menagih janjimu nak!!" jawab Raden Wijaya dengan suara tegas.
"Mengapa kau selalu mengganggu kehidupanku! Urus saja hidupmu sendiri!" ucap Reynaldo menatap tajam ayahnya.
"Aku masih ayah mu, jadi kau harus menuruti permintaanku!! Lagipula bukankah Reynaldo Wijaya tidak pernah mengingkari janji!!" ucap Raden Wijaya mengetahui kelemahan putranya yang selalu menjunjung tinggi janji.
"Kau tak perlu mengajarkanku tentang menepati janji! Pergi dari istana ini atau aku akan membuatmu menyesal..!" ucap Reynaldo datar.
"Sayangg.. berhentilah seperti itu, menikahlah dengan Sophia.." ucap Alisha kepada Reynaldo dengan nada licik.
"Tutup mulutmu bangsat! Ingat kau bukan siapa-siapa disini!" pekik Reynaldo dengan suara yang semakin meninggi.
"Reynaldo!! Jaga bicaramu – dia juga ibumu sekarang!!" bentak Raden Wijaya.
"Dia ibu!! Dengarkan aku – wanita jalang ini tidak pantas dianggap ibu!!" pekik Reynaldo semakin marah.
"Ingat Reynaldo kau harus menikah dengan Sophia! Jika kau menolak, kau hanya seorang pengecut!!" ucap Raden Wijaya dengan tegas.
"Aku bukan pengecut bangsatt!!" teriak Reynaldo.
"Jika begitu dimana wanitamu?? Kau tak bisa temukan seorang pun sampai saat ini kan? Kalau begitu kau harus menikah dengan Sophia!!" ucap Raden Wijaya dengan yakin.
"Maaaffff ayahh mertuaa.. Reynaldo Wijaya Mahkota tidak akan menikah dengan siapapun! Karena aku adalah Istrinya!!" suara Nabila terdengar membuat semua orang terkejut.
Nabila sudah bangun sejak pagi dan terlihat sangat cantik – para pelayan telah memberikan riasan alami di wajahnya. Saat hendak pergi ke taman istana, dia mendengar keributan dan bertanya kepada asisten pribadi Reynaldo yang lewat. Setelah mengetahui semua permasalahan, dia memutuskan untuk berpura-pura sebagai istri Reynaldo.
"Ka-kaaau siaapa??" ucap Alisha dengan wajah terkejut.
"Ohh iya aku lupa mengenalkan diri..! Perkenalkan – namaku Nabila Zahra... ehh salah, Nabila Zahra Wijaya Mahkota!" ucap Nabila dengan senyuman manis.
"Kau pasti berbohong?" tanya Raden Wijaya tidak percaya.
"Untuk apa aku berbohong.. ohh iya aku lupa – Reynaldo belum memberi tahu kalian kan.." ucap Nabila dengan nada seolah merasa tidak enak hati.
"Sayanggg.. kau bukannya berjanji akan memberitahu ayah mertua tentang pernikahan kita.." ucap Nabila dengan suara manja sambil memeluk tubuh Reynaldo.
"Maafkan aku sayang, aku hanya ingin memberitahukannya saat aku tidak terlalu sibuk.." jawab Reynaldo dengan lancar, bahkan mencium kening Nabila untuk membuatnya lebih meyakinkan.
"Ohh iyaa maaf ayah mertua, Reynaldo adalah suamiku jadi tolong jangan pernah menyuruhnya menikah dengan orang lain ya? Siapa namanya lagi sayang aku lupa? Ohh iya Sophia.. ya siapapun itu, aku tidak akan membiarkan suamiku direbut oleh siapapun! Ingatlah – aku tidak akan membiarkan wanita itu melihat dunia lagi jika sampai menyentuh suamiku!!" ucap Nabila dengan nada yang sedikit sinis.
"Kaliann sudah mendengar apa yang istriku katakan! Jadi pergilah – aku tidak ingin melihat kalian lagi!!" ucap Reynaldo dengan nada sinis.
"Pengawal usirr mereka keluar dari istana!!" perintahnya kepada para pengawal.
Kemudian Reynaldo menggendong tubuh Nabila ala bridal style menuju lantai atas. Sebelum pergi, dia memberikan senyum kemenangan kepada ayahnya dan Alisha.