"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua puluh Tujuh
\~
"Kejadian kebakaran di rumahmu dulu adalah penyebab dari adik kandung Papa kamu, Meira."
Meira terkesiap. "Adik kandung? Papa punya adik?"
Febrian membuang napasnya pelan. Benar dugaannya selama ini, bahwa Meira sama sekali tidak tahu mengenai Saudara kandung Papanya.
"Tunggu sebentar."
Febrian bangkit dari duduknya untuk mengambil sebuah berkas yang ia simpan di dalam lemari besar di ruangannya.
"Kamu lihat ini." Pria itu memberikan kartu keluarga beserta foto keluarga yang sudah sedikit kusam.
"Rendy Wijaya. Anak dari Bapak Wijaya dan Ibu Renata. Adik kandung Papa kamu." terang Febrian.
Meira sangat terkejut melihat selembar foto yang diberikan Febrian. Foto itu sama persis dengan yang ia lihat pada saat hari pertama ia menginjakkan kakinya di rumah milik Kakek-Neneknya Ayara. Foto yang membuatnya berpikir keras karena salah satu pria disana terlihat buram.
"Kakak sudah menduga kamu pasti tidak akan tahu kalau Papamu memiliki adik, Mei." ucapan Febrian berhasil membuyarkan lamunan Meira.
"Dulu, saat kamu masih dalam kandungan, Rendy dan istrinya pindah ke Australia untuk mengembangkan bisnis Pak Wijaya disana. Sembilan tahun mereka tinggal di Australia. Sampai akhirnya di tahun ke kesepuluh, bisnis mereka kacau dan bangkrut. Rendy tidak punya uang untuk pulang ke Indonesia. Dia berusaha menghidupi istri dan anaknya yang saat itu sudah berusia sepuluh tahun dengan uang seadanya disana." Febrian menghela napas sejenak sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
"Pak Wijaya tentunya tidak tinggal diam, tidak mau anaknya mati karena kesengsaraan. Beliau menyuruh Rendy untuk pulang ke Indonesia dan menanggung semua biaya kepulangan mereka. Dua hari setelah kepulangan Rendy, Pak Wijaya dan Ibu Renata meninggal akibat kecelakaan di perjalanan saat akan menghadiri pertemuan dengan kolega bisnis. Satu minggu setelah pembagian warisan, Istri Rendy tenggelam saat menyelamatkan anaknya di kolam renang rumah Pak Wijaya. Istrinya meninggal karena terlambat diselamatkan."
"Anak? Maksud Kakak—"
"Iya, anak Rendy dan Stefani, istrinya. Kalau tidak salah namanya Ayara. Setahu Kakak, dia seumuran sama kamu, cuma beda beberapa bulan."
"Jadi, kenapa Om Rendy tega membakar rumah dan menembak Papa?" Meira berusaha tenang, ia harus mendapatkan informasi jelas tentang Papa dan Mama nya.
"Itu semua disebabkan karena Rendy iri sama Papa kamu. Dia mengira kalau semua harta warisan dan juga perusahaan Pak Wijaya akan diberikan sepenuhnya pada Papamu. Nyatanya, Rendy juga mendapatkan hak yang sama, walau tidak sebanyak yang diberikan kepada Papamu. Termasuk yayasan ini."
"Rendy marah besar dan akhirnya dia membuat rencana untuk membakar rumah Papamu." Febrian menghentikan ucapannya.
"Rendy tahu Papamu akan mengadakan pesta perayaan ulangtahun kamu yang kesepuluh. Hari dimana Papamu mengundang banyak sekali orang. Oleh sebab itu, banyak sekali korban di hari itu. Termasuk Amel, adik kandung Kakak. Dia meninggal akibat kejadian itu." Febrian menghapus air mata sebelum sempat menetes dipipinya.
Sementara itu, Meira sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia menggigit bibir bawahnya guna menghindari isakan.
"Kakak hanya bisa memberikan penjelasan mengenai Papamu, Meira. Kakak sama sekali tidak tahu tentang keberadaan Mamamu. Bu Arini menghilang tanpa meninggalkan jejak dimanapun. Terakhir kali kita bertemu tiga tahun lalu, saat ia pamit dari Panti dan menitipkan Panti ini pada Kakak. Setelah itu, tidak ada kabar lagi darinya. Maafkan, Kakak, Mei." Febrian mengusap bahu Meira lembut.
"Kamu tidak usah khawatir. Perusahaan Papa kamu sekarang di kelola oleh Kakak dan Rendy, adik Papamu. Kakak akan berusaha pegang amanah dari Papamu untuk menjaga Perusahaan dia dan juga yayasan ini. Kakak juga akan bantu kamu menemukan Bu Arini."
\~
"Sekarang aku tahu alasan kamu maksa mindahin foto di rumah ke gudang. Aku juga udah dapat jawaban dari ukiran nama 'Tya' di miniatur yang ada di kamar. Itu bekas kamar Papaku kan? Dan miniatur itu juga punya Papa. Tya, dari namanya Aditya." air mata menetes ketika Meira mengedipkan matanya. "Semua sudah terjawab, Ayara. Sekarang aku tahu, kalau selama ini Om Jay yang aku kenal adalah Rendy Wijaya, adik kandung Papa. Paman kandungku."
"Dan, kamu.." Meira menatap Ayara yang ikut meneteskan air mata. "Kamu saudara aku, Ra. Bukan hanya sebatas sahabat."
"Lo benar, Mei. Semua yang lo katakan emang benar." Ayara mulai membuka suara. "Bunda meninggal gara-gara gue. Kalau aja waktu itu gue nggak bandel, nggak maksa buat berenang disaat Bunda lagi sakit. Mungkin Bunda masih ada sampai detik ini. Bunda pasti bakal meluk gue kalau gue lagi sedih kayak sekarang." Ayara terisak.
Meira berjalan mendekat ke arah Ayara, hendak memeluk cewek itu agar lebih tenang. Namun, Ayara malah mundur menjauh beberapa langkah.
"Papa gue emang salah, Mei. Tapi, satu tahun setelah insiden itu, dia akhirnya sadar kalau perbuatannya salah besar. Dia bukan cuma bunuh Kakaknya sendiri, tapi banyak korban lain yang sama sekali gak terlibat. Dan, lo harus tahu, yang nembak Papa lo di kejadian itu bukan Papa gue, tapi sekutu Papa lo yang emang punya kesempatan di tragedi itu. Papa gue cuma nyewa orang buat bakar rumah lo, bukan bunuh dia dengan cara ditembak. Itu semua diluar dugaan Papa." jelas Ayara, ia mengusap kedua pipinya yang sudah banjir air mata.
"Gue dan Papa ngedeketin lo bukan tanpa alasan. Papa pengen perbaiki karma buruk dia ke lo selaku anak dari Kakaknya. Papa nggak mau terus-terusan dihantui rasa bersalah. Dan Papa sengaja nggak ceritain ini ke lo, karena takut lo malah ngejauh dan benci sama dia dan gue."
Meira mendekat lalu membawa Ayara ke dalam pelukannya. Ayara tidak berontak sama sekali, ia malah semakin terisak.
"Aku nggak mungkin benci, apalagi dendam sama saudaraku sendiri. Cuma kamu dan Om Jay yang aku punya sekarang."
"Gue..." ucapan Ayara terputus. "Gue nggak akan pernah minta maaf sama lo."
Ayara melepaskan pelukan Meira perlahan. Ia menatap Meira yang terlihat kebingungan.
"Karena meskipun gue minta maaf sama lo, dan lo maafin gue, itu gak akan pernah bisa ubah apapun. Semuanya udah terjadi, Mei." ucapnya lirih.
Meira menggeleng pelan, ia menggapai kedua tangan Ayara dan menggenggamnya erat. "Aku tahu, kamu dan Om Jay sangat menyesali semuanya. Harusnya kalian seneng bahwa aku masih hidup. Coba bayangin, kalau seseorang yang kamu mintai maaf udah gak ada, kamu pasti akan sangat menyesal melebihi rasa penyesalanmu sekarang. Karena kamu gak punya kesempatan buat meminta maaf meski cuma sekali." Meira tersenyum di sela tangisnya. "Aku baik-baik aja, Ra. Bahkan, aku seneng bisa dipertemukan dengan saudara sebaik kamu dan Om Jay."
Meira melepaskan genggamannya, kemudian mulai melangkahkan kakinya pelan hendak meninggalkan Ayara.
"Mei..." tahan Ayara dengan suara sangat pelan.
Meira berhenti melangkah, ia mengusap air matanya terlebih dahulu sebelum membalikkan badan. Ayara belum membuka suara. Pandangannya terpaku pada Meira yang juga menatapnya. Lidahnya seperti berat untuk berbicara.
"Kamu gak perlu ngomong, Ra, aku udah tahu." Meira kembali mendekat satu langkah dari pijakannya. "Aku tahu, kamu berteriak keras buat minta maaf sama aku..." tangannya terangkat perlahan menuju dada sebelah kiri Ayara, tempat dimana hatinya berada.
"Di sini." kata Meira sambil memaksakan senyumnya. "Hati gak bisa dibohongin, Ra."
"Omongan lo bener."
Meira dan Ayara kompak mengalihkan perhatian mereka pada seseorang yang baru saja datang dan berdiri tak jauh dari tempat mereka.
"Lo bener." ia berjalan mendekat, menatap Meira dan Ayara bergantian. "Kehilangan seseorang ketika kita bersalah dan gak sempat minta maaf adalah penyesalan paling besar dalam hidup."
"Kamu, kenapa bisa ada disini?" Ayara bertanya pelan.
Orang yang ditanya malah membalas dengan senyuman tipisnya. "Kali ini gue harus berkata jujur, Ayara. Kalau selama ini, tunangan yang pernah gue ceritakan ke lo, dia ... udah meninggal. Dan dia bukan tunangan gue. Gue bohong sama lo."
Ayara sontak membelalakkan matanya. Sedangkan Meira tidak terlalu terkejut karena ia sudah tahu lebih awal kemarin, saat Abil cerita padanya.
"Abil.. kamu?..." Ayara tidak melanjutkan ucapannya.
Orang yang berada di hadapan Meira dan Ayara kini menghela napas panjang, kemudian membuangnya kasar. Ia berusaha mengabaikan keterkejutan cewek di depannya. Mungkin, ini waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Sebelum jam kosong kelas mereka habis, dan ia tidak bisa membicarakan tentang Lyra seleluasa sekarang.
...\~\~\~...
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰