NovelToon NovelToon
Sinyal Dari Lantai 4.5

Sinyal Dari Lantai 4.5

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Action / Tamat
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Di dunia ini, semua gedung tinggi secara hukum tidak boleh memiliki lantai 13 atau 4. Namun, seorang pemuda bernama Genta , seorang tukang servis lift yang punya insting tajam, menemukan bahwa lantai-lantai yang "hilang" itu sebenarnya ada secara fisik, tapi hanya bisa diakses dengan kode lift tertentu.

Lantai-lantai tersembunyi ini (Lantai 4.1, 4.2, dst.) adalah kantor pusat "Konsorsium Semesta "organisasi yang mengatur segala hal "kebetulan" di dunia. Mulai dari kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah, sampai kenapa harga cabai naik tiba-tiba. Genta tidak sengaja terjebak di Lantai 4.5 dan membawa kabur sebuah "Remote Pengatur Sial".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Koordinat Sial Dan Pisang goreng Dingin

Genta merasa paru-parunya seperti sedang diperas oleh tangan raksasa. Berlari mengikuti Aki ternyata lebih berat daripada menarik kabel baja lift di siang bolong. Kakek itu, meski terlihat seperti pensiunan yang hanya peduli pada burung perkutut, ternyata punya kecepatan lari yang sangat tidak sopan untuk usianya.

"Aki! Tunggu!" Genta terengah-engah, suaranya parau karena debu gang sempit Jakarta masuk ke tenggorokannya. "Itu... itu orang-orang tadi... mereka bawa apa? Senjata mesin? Kita harus ke kantor polisi!"

Aki berhenti mendadak di balik sebuah tumpukan peti kayu bekas botol kecap. Dia menoleh ke arah Genta dengan tatapan yang sangat serius, salah satu lensa kacamatanya yang retak berkilat terkena cahaya matahari.

"Polisi?" Aki mendengus, lalu meludah ke samping. "Nak, di mata sistem, kamu itu bahkan sudah tidak ada. Kamu lapor ke polisi, yang ada mereka malah bingung karena data KTP-mu tiba-tiba berubah jadi data inventaris kulkas di gudang pemerintah. Konsorsium tidak main-main kalau soal menghapus orang."

Genta bersandar di tembok, dadanya naik turun. Dia merogoh sakunya, memastikan remote aneh itu masih ada. "Data KTP saya jadi kulkas? Yang benar saja, Ki! Saya cicilan motor saja belum lunas, masa sudah dianggap barang elektronik?"

"Dengar," Aki memegang pundak Genta, "Alat yang kamu bawa itu adalah 'The Shifter'. Mereka menggunakannya untuk menyeimbangkan energi dunia. Kalau ada satu orang yang terlalu beruntung, harus ada seribu orang yang sial agar alam semesta tidak meledak. Dan sekarang, alat itu mengunci identitasmu. Kamu bukan lagi sekadar Genta si tukang servis lift. Kamu adalah 'Anomali Nomor 4.5'."

Genta menatap remotenya. Layarnya masih menunjukkan angka yang terus bergerak: Luck: 485.

Tiba-tiba, suara dengungan halus terdengar dari langit-langit gang. Genta mendongak. Sebuah drone kecil, bentuknya hampir mirip lalat tapi dengan lampu LED merah yang berkedip sinis, terbang rendah di atas mereka.

"Waduh, lalatnya bawa kamera," gumam Genta.

"Itu bukan lalat, bego! Itu drone pemindai nasib!" Aki menarik kerah baju Genta. "Lari! Kalau lampu itu berubah jadi ungu, berarti mereka sudah mengunci koordinat serangan 'kebetulan'!"

"Serangan kebetulan?" Genta bertanya sambil mulai berlari lagi, mengikuti Aki menembus labirin pemukiman padat.

"Iya! Mereka tidak akan menembakmu dengan peluru biasa kalau di tempat umum. Itu terlalu kotor. Mereka akan mengatur agar ada AC jatuh dari lantai tiga tepat di kepalamu, atau ban truk meledak saat kamu lewat. Mereka menyebutnya 'Kematian yang Wajar'."

Baru saja Aki menyelesaikan kalimatnya, sebuah pot bunga jatuh dari balkon salah satu rumah warga, meluncur deras tepat ke arah kepala Genta.

"GILA!" Genta melompat ke samping dengan gaya yang lebih mirip katak tertabrak lari daripada pahlawan aksi. Pot itu hancur berkeping-keping di tempat Genta berdiri sedetik yang lalu.

"Tuh kan! Baru saja dibilangin!" Aki berteriak tanpa menoleh.

Mereka berdua masuk ke sebuah bangunan tua yang tampak seperti bekas pabrik kerupuk. Di dalamnya gelap, pengap, dan dipenuhi aroma tepung yang sudah kadaluwarsa. Aki segera mengunci pintu besi yang berkarat itu dengan sebatang kayu besar.

Genta duduk di lantai yang berdebu, mencoba menenangkan jantungnya. "Ki, saya cuma mau hidup tenang. Saya mau pulang, makan mie instan pake telur, terus tidur. Kenapa saya harus dikejar-kejar begini cuma gara-gara masuk ke lantai yang nggak sengaja saya temuin?"

Aki menghela napas, dia duduk di depan Genta dan mengeluarkan sisa pisang gorengnya yang sudah dingin dari kantong plastik. Dia menyodorkannya pada Genta. "Makan ini. Gula bisa bikin otakmu tidak terlalu lemot."

Genta mengambilnya dengan ragu. "Terima kasih."

"Genta," suara Aki melunak. "Dunia ini tidak seperti yang kamu lihat di berita. Kamu pikir harga beras naik itu karena panen gagal? Kamu pikir kamu telat kerja karena macet itu murni musibah? Tidak. Semuanya diatur dari Lantai 4.5. Ada orang-orang di sana yang duduk di depan layar, memutar tuas, memutuskan siapa yang hari ini harus sedih dan siapa yang harus senang. Mereka adalah Tuhan-Tuhan kecil yang pakai dasi."

Genta menggigit pisang goreng itu, rasanya hambar, tapi setidaknya dia merasa lebih baik. "Dan remote ini... ini apa?"

"Itu adalah kunci untuk keluar dari skenario mereka. Dengan alat itu, kamu bisa membelokkan 'kebetulan'. Kamu bisa membuat pot bunga yang tadi jatuh malah mengenai drone mereka. Tapi masalahnya, kamu belum tahu caranya, kan?"

Genta menggeleng lesu. "Saya cuma tahu cara benerin sensor pintu lift, Ki. Bukan benerin takdir."

Tiba-tiba, pintu besi pabrik itu bergetar. Bukan karena digedor, tapi seperti ada gelombang energi yang menekannya dari luar. Suara desisan halus terdengar, seolah-olah ada gas yang merembes masuk lewat celah pintu.

Aki langsung berdiri, wajahnya menegang. "Cepat sekali. Mereka menggunakan 'Sinyal Pembersih'. Kalau gas ini mengenai kulitmu, sarafmu akan lumpuh dan kamu akan merasa sangat mengantuk sampai tidak sadar saat mereka membawamu pergi."

"Terus kita lewat mana? Nggak ada pintu lain!" Genta mulai panik.

"Lihat remotemu! Cari menu 'Environmental Glitch'!" perintah Aki setengah berteriak.

Genta dengan tangan gemetar mengotak-atik tombol di samping remote. Layarnya menyala terang, menampilkan diagram ruangan pabrik itu dalam garis-garis biru transparan. Di sana ada tulisan: [PIPA GAS TUA - STATUS: RAPUH].

"Tekan tombol Execute di pipa itu!" Aki menunjuk ke arah pipa besi besar di atas mereka.

"Tapi nanti meledak, Ki!"

"Pilih mana, meledak sedikit atau tidur selamanya di laboratorium mereka?!"

Genta memejamkan mata, jempolnya menekan tombol Execute dengan keras.

*KLIK.*

Bukan ledakan besar yang terjadi. Pipa itu tiba-tiba mengeluarkan uap putih yang sangat tebal dengan suara mendesis yang memekakkan telinga. Uap itu memenuhi ruangan dalam sekejap, menutupi pandangan siapa pun yang mencoba masuk. Bersamaan dengan itu, langit-langit pabrik yang sudah rapuh tiba-tiba runtuh, menutup jalan masuk utama bagi para pria berjas hitam.

"Berhasil?" Genta bertanya di balik kepulan uap.

"Lumayan untuk ukuran pemula," Aki menarik tangan Genta. "Ayo, ada lubang pembuangan di belakang mesin penggiling. Itu satu-satunya jalan keluar kita sebelum mereka mendatangkan helikopter."

Genta merangkak masuk ke dalam lubang yang sempit dan bau itu. Dia tidak pernah membayangkan bahwa karirnya sebagai teknisi lift akan membawanya masuk ke saluran pembuangan pabrik kerupuk.

Saat mereka merayap di dalam kegelapan, Genta melihat ke layar remotenya lagi. Angkanya berubah.

*Luck: -450.*

"Ki," panggil Genta pelan.

"Apa lagi?"

"Kalau angka ini sampai nol, apa yang terjadi?"

Aki terdiam sejenak di depan Genta. "Kalau sampai nol, berarti kamu sudah tidak punya 'jatah sial' lagi. Dan di dunia ini, Genta, orang yang terlalu beruntung biasanya tidak akan dibiarkan hidup lama oleh sistem. Jadi, pastikan kamu tetap sedikit sial agar tetap hidup."

Genta menghela napas. "Baru kali ini saya dengar ada orang yang disuruh tetap sial supaya selamat. Benar-benar hari yang aneh."

Di ujung saluran, cahaya mulai terlihat. Tapi itu bukan cahaya matahari. Itu adalah lampu sorot biru dari kendaraan patroli Konsorsium yang sudah menunggu di luar.

"Sembunyi!" Aki menekan kepala Genta ke bawah lumpur saluran.

Genta hanya bisa pasrah. Dalam hatinya dia berjanji, kalau dia selamat dari hari ini, dia tidak akan pernah lagi mengeluh soal gaji kecil atau lift yang macet. Karena ternyata, terjebak di dalam lift jauh lebih aman daripada terjebak di dalam permainan takdir yang gila ini.

1
Melissa McCarthy
mantap bang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!