Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Kejutan Berdarah di Balai Tugas
Fajar menyingsing di atas Sekte Awan Hijau, membawa serta embun pagi yang dingin.
Di Balai Tugas Puncak Awan Dalam, puluhan murid mondar-mandir untuk melapor atau mengambil misi baru. Suasana pagi itu berjalan seperti biasa, hingga sepasang siluet muncul di ambang pintu masuk utama.
Siluet pertama adalah seorang pemuda berjubah putih yang dipenuhi noda darah mengering dan debu, memanggul dua karung besar yang tampak sangat berat. Di belakangnya, melangkah seorang pemuda berjubah hitam pudar dengan topi caping bambu. Wajah pemuda kedua itu sepucat kertas, langkahnya pelan, seolah hembusan angin keras bisa merobohkannya kapan saja.
Kerumunan perlahan terbelah. Bisik-bisik mulai terdengar.
"Tunggu... bukankah itu Zhao Yun dan Mu Chen?"
"Mustahil! Regu Garda Depan Ketiga seharusnya belum kembali! Kudengar ada badai Qi Logam di Lembah Sayatan Angin yang menewaskan banyak kultivator liar dua hari lalu!"
Zhao Yun mengabaikan tatapan heran orang-orang. Ia berjalan lurus menuju meja pelaporan dan menurunkan dua karung raksasa itu hingga terdengar bunyi debum yang keras.
Diaken Balai Tugas yang sedang menulis catatan di atas gulungan bambu mendongak. Matanya membelalak lebar melihat kedua pemuda itu.
"Kalian..." Diaken itu menelan ludah, suaranya sedikit bergetar. Ia menatap ke belakang mereka. "Di mana Pemimpin Regu Han Sen dan Liu Kai? Mengapa hanya kalian berdua yang kembali?"
Di lantai dua Balai Tugas, di balik tirai bambu yang mengaburkan pandangan, Tetua Wang yang sedang meminum teh spiritual pagi tiba-tiba membeku. Tangan tuanya yang keriput mencengkeram cangkir gioknya erat-erat.
Bagaimana mungkin?! batin Tetua Wang, matanya memancarkan ketidakpercayaan. Empat algojo elit Gigi Hitam ditambah Han Sen dan Liu Kai. Enam ahli tingkat tinggi gagal membunuh dua bocah ingusan ini?!
Di lantai bawah, Zhao Yun menangkupkan kedua tangannya memberi hormat kepada Diaken. Sesuai dengan cerita yang telah ia susun bersama Lin Xuan malam sebelumnya, Zhao Yun memasang ekspresi muram.
"Lapor, Diaken," kata Zhao Yun dengan nada berduka yang dibuat-buat. "Regu kami disergap oleh sekelompok pembunuh liar di Lembah Sayatan Angin. Pemimpin Han Sen dan Saudara Liu Kai mengorbankan diri mereka untuk menahan para pembunuh itu agar kami berdua bisa melarikan diri."
Sebuah kebohongan yang sempurna. Menjadikan pengkhianat sebagai pahlawan yang gugur, sehingga sekte tidak akan menyelidiki lebih dalam tentang bagaimana mereka mati, sekaligus menutupi fakta bahwa Lin Xuan yang membantai semuanya.
"Pembunuh liar?" Diaken itu mengerutkan kening. "Lalu bagaimana kalian berdua bisa selamat dan membawa barang misi ini?"
Zhao Yun menendang karung goni di depannya hingga terbuka.
SRAAAK!
Ratusan batang Rumput Pedang Besi yang memancarkan kilau kelabu metalik tumpah ke lantai. Jumlahnya bukan puluhan, melainkan lebih dari tiga ratus batang! Jauh melebihi kuota misi yang hanya meminta lima puluh batang.
Mata Diaken dan para murid di sekitar terbelalak.
"Kami bersembunyi di dasar kawah saat para pembunuh itu pergi," lanjut Zhao Yun lancar. "Di sana, kami menemukan hamparan rumput ini. Selain itu... kami juga sangat beruntung. Di dasar kawah, ada dua ekor Binatang Roh tingkat tinggi yang baru saja mati karena saling bertarung memperebutkan wilayah. Kami hanya memungut hasil akhirnya."
Zhao Yun meletakkan sebuah kristal bundar memancarkan cahaya keemasan di atas meja. Inti Singa Bersisik Emas.
Seluruh aula meledak dalam seruan kaget. "Inti Binatang Roh Tingkat 2 Puncak! Surga, keberuntungan macam apa ini?!"
Semua orang kini menatap Zhao Yun dengan iri. Di dunia kultivasi, mengambil untung dari pertarungan pihak lain (memancing di air keruh) adalah taktik bertahan hidup yang sangat umum dan dianggap sebagai bagian dari nasib baik. Tidak ada yang curiga bahwa singa raksasa itu dibunuh dengan satu pukulan fisik.
Di lantai dua, cangkir giok di tangan Tetua Wang retak. Omong kosong! Pembunuh Gigi Hitam tidak pernah membiarkan mangsanya lari! Tetua Wang melepaskan sedikit untaian Mata Batinnya (Divine Sense), memindai tubuh Lin Xuan yang berdiri diam di belakang Zhao Yun.
Pancaran aura Lin Xuan masih berada di Qi Condensation Lapisan 6. Meridian di lengan kanannya terasa semakin hancur dan layu. Namun, Tetua Wang tidak menyadari bahwa di balik ilusi meridian yang rusak itu, kerangka Lin Xuan kini tidak lagi berwarna hitam murni.
Semalaman menyerap Esensi Emas Putih di kawah, Lin Xuan telah berhasil menembus tahap Tulang Tembaga Darah. Tulang-tulangnya kini memiliki kilau tembaga kemerahan. Kepadatan tubuhnya meningkat tiga kali lipat. Jika sebelumnya ia harus menahan sakit saat menahan serangan, kini senjata tingkat menengah bahkan tidak akan mampu menggores kulitnya jika ia mengalirkan Qi ke ototnya.
Lin Xuan melangkah maju mendekati meja pelaporan. Langkahnya pelan, kepalanya sedikit tertunduk.
Ia merogoh sakunya perlahan, lalu meletakkan sebuah benda kecil berwarna hitam pekat di atas meja, tepat di samping tumpukan Rumput Pedang Besi.
Takk.
"Diaken," suara Lin Xuan terdengar parau dan lemah. "Saat kami melarikan diri dari para pembunuh itu, salah satu dari mereka menjatuhkan benda ini. Mungkin Balai Hukuman bisa menggunakannya untuk melacak siapa yang membunuh Pemimpin Han Sen."
Mata Diaken itu tertuju pada benda tersebut. Itu adalah sebuah token logam berbentuk taring serigala, dengan ukiran aksara merah berdarah: Gigi Hitam.
Di lantai dua, cangkir giok di tangan Tetua Wang akhirnya hancur berkeping-keping menjadi debu.
Udara di sekitar Tetua Wang tiba-tiba anjlok suhunya. Matanya yang setajam elang menyipit, memancarkan Niat Membunuh yang sangat pekat meski tertahan rapat di balik tirai bambu.
Token itu... itu adalah token yang sama yang ia berikan kepada kelompok pembunuh tersebut sebagai tanda kontrak klan Wang!
Jika Balai Hukuman yang dipimpin oleh Tetua Mo sampai menyelidiki token ini, mereka akan dengan mudah melacak aliran ribuan Batu Roh dari kas klan Wang ke dunia bawah. Ini bukan lagi sekadar dendam antar murid, melainkan skandal yang bisa menghancurkan posisinya dalam pemilihan Wakil Pemimpin Sekte!
Bocah ini... dia menaruh pisau tepat di leherku, geram Tetua Wang dalam hatinya. Apakah dia tahu? Atau dia benar-benar hanya memungutnya?
Lin Xuan perlahan mendongakkan kepalanya sedikit. Mata hitam legamnya mengintip dari balik tepi topi caping bambunya, menatap lurus menembus tirai bambu di lantai dua, langsung bertemu dengan tatapan Tetua Wang.
Sudut bibir pucat Lin Xuan melengkung tipis. Sangat tipis, nyaris tak terlihat. Namun itu adalah senyuman provokasi yang mutlak. Senyum seekor predator yang mengabarkan bahwa ia telah memakan umpan beserta kail dan pancingannya sekaligus.
Jantung Tetua Wang berdegup kencang sedetik. Dia tahu! Bocah sampah ini tahu semuanya!
"Token ini..." Diaken itu mengerutkan kening, mengambil taring hitam itu dengan hati-hati. "Ini adalah lambang kelompok pembunuh bayaran dunia bawah. Ini masalah serius. Aku akan segera melaporkannya ke Tetua Mo!"
"Tunggu."
Suara berat dan berwibawa menggema dari lantai dua. Tetua Wang melangkah keluar dari balik tirai bambu, jubah merah tuanya berkibar memancarkan tekanan spiritual seorang ahli Nascent Soul setengah langkah.
Semua murid di aula, termasuk Zhao Yun, langsung membungkuk hormat. Hanya Lin Xuan yang tetap berdiri tegak, memandang Tetua Wang dengan wajah tanpa emosi.
Tetua Wang melayang turun dan mendarat di depan meja pelaporan. Ia mengambil token taring hitam itu dari tangan Diaken.
"Tidak perlu merepotkan Tetua Mo dengan urusan sekecil ini," kata Tetua Wang dengan senyum kebapakan yang sangat dipaksakan. "Pembunuh liar di Pegunungan Seribu Pedang adalah hal yang lumrah. Mereka bertindak tanpa tuan. Aku sendiri yang akan memimpin tim investigasi untuk menyapu bersih sarang mereka demi membalas dendam murid-murid kita yang gugur."
Sambil berkata demikian, Tetua Wang mengalirkan Qi panas ke telapak tangannya. Token taring hitam yang merupakan barang bukti paling mematikan itu seketika meleleh menjadi cairan logam dan menguap menjadi asap di genggamannya.
Barang bukti telah dihancurkan.
Zhao Yun nyaris memprotes, namun Lin Xuan menyentuh lengannya pelan dari belakang, memberi isyarat untuk diam.
"Kebijaksanaan Tetua Wang sungguh tiada tara," kata Lin Xuan datar, suaranya mengandung ironi yang hanya dipahami oleh mereka berdua. "Dengan Tetua yang turun tangan, hamba yakin kebenaran di balik kematian Han Sen akan terkubur... ah, maksud saya, terungkap dengan adil."
Otot di rahang Tetua Wang berkedut hebat. Ia memaksakan sebuah tawa hambar.
"Tentu saja. Kalian berdua telah berjasa besar membawa kembali hasil panen ini. Diaken, berikan mereka lima ribu Poin Kontribusi dan akses ke Lantai Dua Paviliun Warisan sebagai hadiah penyelesaian misi khusus."
Hadiah yang sangat besar itu sebenarnya adalah 'uang tutup mulut'.
Diaken segera mengurus token poin mereka dengan tangan gemetar.
"Terima kasih atas kemurahan hati Tetua," ucap Zhao Yun, meski ia kini menyadari betapa kotornya politik sekte tingkat atas ini.
Lin Xuan mengambil token misinya, berbalik, dan berjalan keluar dari Balai Tugas bersama Zhao Yun.
Tetua Wang menatap punggung Lin Xuan yang menjauh dengan mata menyala-nyala. Di dalam kepalanya, peringatan bahaya berdering tanpa henti.
Bocah ini tidak cacat, batin Tetua Wang, menyadari kesalahan fatal faksi mereka. Atau jika dia cacat, ada monster tua dari luar sekte yang melindunginya di alam liar. Aku tidak bisa menyentuhnya secara langsung di dalam sekte tanpa memicu perang faksi dengan Tetua Mo.
Tetua Wang mendengus dingin, berbalik dan melesat kembali ke paviliunnya. Jika rencana pembunuhan tidak berhasil, maka ia harus menggunakan aturan sekte itu sendiri untuk menghancurkan Lin Xuan secara legal.
Di luar Balai, Zhao Yun menghela napas panjang, merasa seolah baru saja lolos dari mulut harimau.
"Itu tadi sangat menegangkan, Saudara Mu," bisik Zhao Yun. "Tetua Wang menghancurkan buktinya. Dia benar-benar dalang di balik semua ini."
"Buktinya tidak penting," jawab Lin Xuan sambil terus berjalan menapaki tangga batu giok. "Aku memberikannya token itu bukan untuk mencari keadilan. Keadilan tidak ada harganya. Aku memberikannya agar rubah tua itu tahu bahwa aku memegang kelemahannya."
"Lalu sekarang apa?" tanya Zhao Yun.
Lin Xuan menatap langit sekte yang cerah, namun matanya memancarkan kegelapan absolut. Di dalam Dantian-nya, sembilan pilar hitamnya yang kini diperkuat Esensi Emas Putih berputar perlahan. Ia bisa merasakan retakan di pilarnya seolah hidup, menunggu untuk merobek fondasinya dari dalam.
"Sekarang," kata Lin Xuan, "aku butuh waktu untuk mencabut duri di dalam dagingku sendiri. Sebelum duri itu membunuhku."