Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemain cadangan
Mereka semua duduk di tribun sambil minum air dan berbicara satu sama lain. Zea duduk seorang diri sambil meminum dan melihat kesekeliling, lantaran ia belum mengenal semua anggota tersebut, hanya rafael yang ia kenal, itupun cowok tersebut sedang berbincang dengan beberapa anggota baru lainnya.
"ZEA!!" teriak kedua gadis dipinggir lapangan basket.
Zea menoleh ke arah sumber suara, dan dengan spontan ia berdiri sambil melambaikan tangannya, senyumnya terpatri indah dibibirnya.
"Haii...." balas zea.
Chacha dan angel menghampiri zea dengan napas yang masih sedikit terengah-engah.
"Gila, capek banget gue." kata chacha sambil ngos-ngosan.
"Lagian ngapain lari-lari segala sih?" tanya zea heran.
"Nih anak yang ngajak." sahut angel sarkas sambil mengatur napasnya.
"Habis dari klub debat, gue langsung ke sini tapi lo masih latihan tadi. Akhirnya gue nyamperin angel yang kebetulan baru keluar dari ruang teater, terus kita berdua langsung lari ke sini deh!" jelas chacha panjang lebar.
"Serius? bilang aja kalo mau liat gua." ujar digo yang tiba-tiba nyelonong diantara mereka dengan percaya diri.
Chacha mengangkat satu alis, bibirnya sedikit mencibir, dan terlihat jelas di wajahnya seperti tidak menyukai kehadiran cowok tersebut.
"Idih....amit-amit." sarkas chacha.
"Apa! gua tampan?" tanya digo, dengan ekspresi antara tersenyum dan tertawa.
"Narsis lo, nggak usah kepedean deh." sarkas chacha kembali.
"Terima kasih." balas digo, Sambil meletakkan telapak tangannya kedada dan sedikit membungkuk.
Zea dan angel saling pandang, menahan agar tidak tertawa, wajah mereka merah karena berusaha tidak meledak, zea menggigit bibir bawahnya.
"Awas cha dari amit-amit bisa jadi amin-amin." kata zea.
"Kamseupay." ujar chacha.
"Ehem....serek tenggorokan gue." ujar angel dengan menatap kearah lain sambil mengelus tenggorokannya.
"Banyak nyamuk ngel." kata zea.
"Iya nih, salah satunya lo!"
"Dan lo." zea menahan tawanya kembali.
"Lo berdua kenapa sih? aneh banget."
"Ini loh cha, nyamuknya banyak banget." timbal zea.
"Iya, takut ah! nanti kena demam berdarah." sahut angel.
"Nggak ada kok."
Sedangkan digo hanya tersenyum lebar, menunjukkan gigi putihnya yang tersusun rapi.
"Semuanya! saya minta kalian kumpul kembali seperti semula." tiba-tiba suara briton coach andi memanggil semua anggota basket untuk mendekat kelapangan.
Semua orang terkejut, tapi kemudian mereka semua mulai berteriak.
"Kumpul! Kumpul! Kumpul!"
"Gue kumpul lagi ya." kata zea.
"Iya ze." jawab chacha.
"Ze, semangat!." ujar angel.
Zea memandang kedua sahabatnya dan tersenyum.
"Makasih guys." ujarnya.
Zea berjalan kearah lapangan basket dengan enteng dan percaya diri. Dibelakangnya ada digo yang juga berjalan mengikuti langkahnya.
Leo memandang zea kembali, entahlah sudah berapa kali hari ini ia melirik gadis itu secara diam-diam.
"Cha." panggil angel sedikit berbisik.
"Apa?"
"Coba lo perhatiin kak leo di ujung sana!"
Chacha mengikuti arah pandang angel. Ia melihat cowok yang berperawakan tinggi dengan rahang tegas, sedang berdiri di sudut ujung tribun, menatap ke arah sahabatnya, zea.
"Serius ngel? kak leo ngelirik zea?"
"Yap, lo nggak salah liat."
"Kayaknya bentar lagi bakal membuahkan hasil." lanjut angel.
"Dan gue minta, semoga kali ini kak leo yang bakal ngejar-ngejar zea." balas chacha.
"Gue harap juga gitu."
Ditengah lapangan coach andi sudah berdiri tegap, menunggu kedatangan para anggota.
"Baik, sekarang saya sudah selesai menilai kemampuan kalian semua, jadi tolong dengarkan saya baik-baik, karena saya akan mengumumkan hasil seleksi tadi." kata coach andi, membuat mereka disana menjadi sedikit tegang dan bercampur gugup.
"Tapi sebelum itu, saya ingin mengatakan bahwa kalian semua sudah menunjukkan kemampuan yang sangat baik. Saya sangat puas dengan penampilan kalian hari ini."
"Terima kasih coach." ujar mereka serempak.
"Sekarang saya akan mengumumkan siapa orang yang tepat untuk masuk menjadi anggota inti tim basket sekolah ini."
"Orang yang tepat adalah....."
Jantung mereka semua berdegup kencang, napas mereka seakan-akan tercekat. Coach andi sengaja menjeda ucapannya hanya untuk membuat mereka semua menunggu dengan rasa penasaran yang semakin besar.
"RAFAEL...!!" teriak coach andi dengan semangat.
Suasana menjadi hening sejenak. Lalu menjadi meledak dengan sorakan dan tepuk tangan.
Rafael sendiri masih berdiri membeku, tidak percaya bahwa namanya lah yang disebut. "Ini serius coach?" tanyanya, untuk menyakinkan bahwa yang ia dengar adalah kebenaran.
"Iya rafael."
"Terima kasih coach, terima kasih!" rafael langsung memeluk coach andi dengan gembira.
Mereka semua yang ada di sana tersenyum dan memberikan selamat kepada rafael, termasuk zea yang juga tersenyum lebar.
"Selamat ya!" kata zea sambil mengulurkan tangannya.
"Makasih ze." rafael menerima uluran tangan zea.
"Iya, tadi lo keren banget el." ucap zea.
"Lo juga ze, gua nggak nyangka ternyata lo juga bisa main basket."
"Hahaha....tapi nggak sejago lo."
"Kita seimbang."
"Ya ya ya." zea hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sanbil tersenyum.
Sesosok mata tajam memperhatikan zea dengan wajah datar, mengamati setiap gerakan dan ekspresi gadis itu. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat beberapa langkah, namun tidak terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh, sehingga bisa melihat zea dengan jelas. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun, tapi matanya masih senantiasa menatap gadis itu.
Coach andi kembali mengambil alih suasana, suaranya yang tegas dan lantang membangkitkan kembali perhatian semua orang.
"Rangga, zea, nedi, ilham, refky dan fandi. Nama-nama yang saya sebutkan barusan, kalian semua lolos seleksi sebagai anggota cadangan tim." lanjut coach andi.
Mereka yang namanya disebutkan tidak bisa menyembunyikan kegembiraan mereka, melompat-lompat kecil dan berteriak gembira.
Zea tersenyum lebar, walaupun tidak masuk sebagai anggota inti, ia sudah sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari klub tersebut, bahkan sebagai anggota cadangan.
"Dan yang lain, sudah saya katakan sebelumnya, kalian juga bisa menjadi bagian dari tim manajemen, atau membantu dalam pengembangan komunitas kita. Dan saya ingatkan sekali lagi, jangan pernah merasa kalian tidak berguna, karena setiap orang memiliki peran penting dalam tim!"
"SIAP COACH." jawab mereka.
"Oh iya, jangan lupa! jadwal latihan kita hari selasa, kamis, dan sabtu, setelah pulang sekolah! nanti saya tambahkan nomor kalian yang sudah ditulis di formulir ke grup whatsapp tim basket, kalian bisa lihat sendiri jadwal dan kegiatannya di sana." tambah coach andi.
"Baik coach."
Kerumunan mulai bubar perlahan, mereka mulai sibuk mengobrol tentang latihan pertama mereka minggu depan.
Zea berdiri di pinggir lapangan, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena latihan, ia menghela napas lega. Walaupun hanya cadangan, setidaknya ia berhasil masuk tim, itu sudah lebih dari cukup baginya.
"Cadangan juga nggak buruk." suara berat tiba-tiba terdengar dari sampingnya.
Zea menoleh, leo berdiri di sana dengan tangan dimasukkan ke saku celana training, wajahnya datar seperti biasa, tapi matanya menatap zea lurus.
"Eh… kak leo." zea sedikit kaget. "Iya….gue juga mikir gitu."
Leo mengangguk pelan. "Main lo tadi bagus."
Zea berkedip, seolah memastikan ia tidak salah dengar. "Serius?"
"Iya, lo cepat." jawab leo singkat.
Zea tersenyum kecil. "Makasih kak."
Beberapa detik hening, suasana di antara mereka canggung tapi anehnya tidak membuat zea tidak nyaman. Justru ada sesuatu yang membuat jantungnya sedikit berdebar.
Di kejauhan, angel dan chacha yang masih berdiri di tribun langsung saling sikut.
"Tuh kan!" bisik angel.
"ASTAGA… dia yang nyamperin duluan!" balas chacha pelan tapi heboh.
Bersambung