Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.
Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMORI HATI YANG TERTINGGAL
Rio menarik kursi dari kubikel sebelah dan duduk dengan posisi terbalik, menyandarkan dagunya di sandaran kursi sambil menatap Arka dengan serius. Wajahnya yang biasanya penuh canda kini terlihat keras kepala.
"Ah, biarin aja! Gue tetep bakal cek. Lo boleh bilang nggak penasaran lagi, tapi gue ini sahabat lo, Ka. Gue yang nemenin Ibu lo nangis-nangis di rumah sakit selama tiga tahun. Gue yang jagain barang-barang lo yang hancur itu. Gue butuh penutupan, kalaupun lo ngerasa nggak butuh," ucap Rio tegas, suaranya merendah namun penuh penekanan.
Arka hanya menghela napas, kembali menatap layar monitornya yang menampilkan barisan angka Excel yang membosankan. "Yo, gue cuma takut. Kalau ternyata isi di balik sim card itu justru ngerusak apa yang udah gue bangun sama Arunika kemarin... gimana?"
Rio terdiam sejenak, lalu menggeleng. "Kebenaran nggak pernah ngerusak apa-apa, Ka. Kebenaran cuma naruh segala sesuatu di tempat yang seharusnya. Kalau lo emang ditakdirkan buat dia, masa lalu nggak akan bisa ngerubah itu."
Setelah jam kantor berakhir, Rio tidak langsung pulang. Ia membawa Arka menuju sebuah toko reparasi ponsel kecil di sudut gelap pusat elektronik Bandung. Tempat itu pengap, dipenuhi bau timah solder dan tumpukan kerangka ponsel tua. Di sana, seorang pria berkacamata tebal bernama Doni sedang berkutat dengan sebuah alat pembaca chip yang terhubung ke monitor besar.
"Gimana, Don?" tanya Rio langsung.
Doni tidak menoleh. Matanya terpaku pada baris kode hijau yang bergerak lambat di layar. "Chip-nya udah lemah banget. Gue harus suntik tegangan stabil biar datanya mau keluar. Tapi masalahnya bukan cuma di hardware, tapi di cloud akun aplikasinya. Karena nomor ini mati tiga tahun, sistemnya ngebekuin data."
Arka berdiri di pojok ruangan, merasa seperti sedang melihat proses otopsi pada dirinya sendiri. Benda kecil berukuran satu sentimeter itu adalah kotak hitam kehidupannya yang hilang.
"Bisa nggak?" desak Rio.
"Gue lagi coba bypass verifikasi dua langkahnya. Tapi jujur, ini bakal makan waktu lama. Chip-nya bermasalah, sering error di tengah jalan. Dia kayak lagi nyambungin saraf-saraf yang putus. Tuh, lihat layarnya... masih loading terus," jelas Doni sambil menunjuk bilah persentase yang tertahan di angka 15%.
Arka mendekat ke layar. Di sana, ia belum melihat pesan apa pun. Hanya putaran lingkaran kecil yang seolah mengejek kesabarannya. Identitas "Senja" atau "A" masih terkunci rapat di dalam sana.
Satu jam berlalu, dan angka di layar hanya bergeser ke 18%. Rio mulai tampak tidak sabar, ia mondar-mandir di ruangan sempit itu sambil sesekali mengintip layar monitor. Sementara Arka, ia justru merasa lega dengan keterlambatan ini. Seolah semesta memberinya waktu tambahan untuk menikmati "Arka yang sekarang" sebelum ditarik kembali ke masa lalu.
"Don, nggak bisa dipercepat?" tanya Rio.
"Nggak bisa, Yo. Kalau gue paksa, chip-nya bisa terbakar dan datanya hilang permanen. Kita harus tunggu alirannya stabil. Ini benar-benar butuh waktu lama, mungkin semalaman," jawab Doni sambil mengusap peluh di dahinya.
Arka menyandarkan punggungnya ke dinding yang kusam. "Sudahlah, Yo. Mungkin memang belum waktunya. Sim card itu butuh waktu buat 'bangun', sama kayak gue kemarin."
Rio akhirnya menyerah dan duduk di sebelah Arka. "Gue cuma pengen lo tahu siapa lo sebenernya, Ka. Biar lo nggak ngerasa jadi bayangan orang lain saat bareng Arunika."
"Tapi gimana kalau 'orang lain' itu ternyata jauh lebih baik dari gue?" bisik Arka lirih. Pertanyaan itu menggantung di udara, diiringi bunyi dengung mesin komputer Doni yang masih berjuang membaca data yang rusak.
Tiba-tiba, monitor itu berkedip merah. Suara beep pendek terdengar, namun bilah persentase tetap tidak bergerak. Doni mengumpat pelan.
"Ada yang nyangkut. Ini datanya banyak banget, jutaan bita pesan yang ketahan di server selama 1.000 hari lebih. Tiap kali mau kebuka, sistemnya crash karena terlalu berat," Doni menjelaskan dengan nada frustrasi.
Arka menatap lingkaran loading itu. Ia teringat pesan Arunika pagi tadi tentang hatinya yang sudah tidak terasa berat lagi. Ia merasa bersalah jika ia justru dengan sengaja membongkar kotak pandora ini saat mereka baru saja mulai bernapas lega.
"Don, matiin aja dulu kalau emang susah," ucap Arka tiba-tiba.
"Loh, kenapa?" Rio kaget.
"Gue mau nemuin Arunika sekarang. Gue nggak mau dapet jawaban dari mesin ini. Gue mau cari tahu lewat cara kita kemarin," jawab Arka mantap. "Kalau sim card itu emang mau kebuka, biarin dia kebuka pas gue udah siap. Sekarang, yang gue butuhin bukan data, tapi kehadiran."
Arka berdiri, mengambil tasnya, dan berjalan keluar dari toko pengap itu. Rio tertegun, namun kemudian ia tersenyum dan mengikuti langkah sahabatny
Arka berjalan menuju halte bis, tempat yang sama di mana ia bertemu Arunika kemarin. Langit Bandung sore itu berwarna ungu kemerahan, senja yang paling indah. Kali ini, dadanya tidak sesak. Justru rasanya sangat lapang, seolah ia sudah mendapatkan jawaban tanpa perlu bantuan teknologi Doni.
Ia merogoh ponselnya, bukan untuk melihat masa lalu, tapi untuk mengirim pesan baru.
"Nika, aku di halte. Nggak ada data yang berhasil kebuka hari ini, tapi anehnya, aku ngerasa lebih kenal sama diriku sendiri pas lagi nunggu kamu begini. Kamu mau ketemu?"
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar.
"Aku otw, Arka. Nggak perlu data apa pun, aku cuma mau lihat bando kelincimu lagi."
Arka tertawa kecil di tengah keramaian halte. Mungkin sim card itu memang butuh waktu lama untuk pulih, tapi hatinya ternyata hanya butuh waktu sehari untuk menemukan kembali pemiliknya.
Lampu jalanan mulai berpendar satu per satu di sepanjang trotoar, memberikan nuansa emas pada aspal yang masih lembap. Dari kejauhan, di antara kerumunan orang yang baru saja turun dari angkutan kota, sosok itu muncul.
Arka berdiri tegak, matanya terkunci pada seorang gadis yang berjalan dengan langkah ringan namun penuh energi. Arunika masih mengenakan seragam kantornya—sebuah kemeja rapi yang dipadukan dengan kerudung berwarna senada yang membingkai wajah manisnya. Di tengah hiruk-pikuk orang-orang yang tampak lelah sepulang kerja, Arunika terlihat seperti satu-satunya objek yang memiliki warna paling terang di mata Arka.
Begitu mata mereka bertemu, wajah Arunika langsung merekah. Tanpa mempedulikan tatapan orang di sekitarnya, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan melambai dengan semangat yang menular. Senyumnya begitu lebar, jenis senyum yang sanggup meruntuhkan sisa-sisa kegelisahan Arka soal sim card yang bermasalah tadi.
"Arka!" serunya dari kejauhan, suaranya bersaing dengan deru mesin bis.
Arka tak bisa menahan diri untuk tidak ikut tersenyum. Ia melangkah maju beberapa tindak, menyambut gadis yang kini sudah berada beberapa meter di depannya. Saat Arunika sampai di hadapannya, gadis itu sedikit terengah-engah, namun matanya berbinar jenaka.
"Tepat waktu kan? Aku tadi hampir lari dari lobi kantor supaya nggak ketinggalan bis yang searah sama kamu," ucap Arunika sambil mengatur napas.
Arka menatapnya lamat-lamat. Ia melihat sedikit noda pulpen di jari telunjuk Arunika dan kerudungnya yang sedikit miring karena terburu-buru. Hal-hal kecil dan manusiawi seperti ini terasa jauh lebih berharga bagi Arka daripada ribuan data digital yang sedang diusahakan oleh Doni.
"Kenapa lihatinnya gitu? Bando kelincinya ketinggalan ya?" goda Arunika sambil membetulkan letak tasnya.
Arka tertawa kecil, ia menggeleng pelan. "Enggak. Aku cuma lagi mikir... ternyata kamu jauh lebih nyata daripada semua pesan singkat yang pernah aku baca atau aku tunggu."
Arunika terdiam sejenak, senyumnya melunak menjadi tatapan yang hangat. "Tadi Rio bilang soal sim card itu kan? Kamu... sudah tahu semuanya?"
"Belum. Katanya butuh waktu lama karena chip-nya rusak parah. Masih loading terus," jawab Arka santai sambil mulai berjalan bersisian dengan Arunika menyusuri trotoar. "Tapi pas aku lihat kamu melambaikan tangan tadi, aku tiba-tiba ngerasa kalau aku nggak butuh loading itu selesai. Aku sudah punya jawaban yang aku mau, tepat di depan mataku."
Arunika tertawa, kali ini semburat merah muncul di pipinya. "Gombalnya mulai lagi. Padahal baru bangun koma, belajarnya cepat banget ya?"
"Bukan belajar, Nika. Ini namanya insting bertahan hidup," balas Arka sambil menyelipkan tangannya di saku jaket, merasa benar-benar utuh untuk pertama kalinya.
Gemini said
Aroma sambal terasi dan gurihnya minyak goreng mulai tercium saat mereka berjalan melewati deretan tenda kaki lima yang berjejer di pinggir jalan Bandung. Suara gesekan ulekan pada cobek batu menjadi musik latar yang pas untuk malam yang mulai mendingin.
"Aku lagi pengen pecel lele deh," ucap Arunika tiba-tiba, matanya melirik ke arah tenda spanduk bergambar lele dan ayam yang berkibar pelan tertiup angin.
Arka menoleh, melihat binar lapar yang jujur di mata gadis itu. "Ayo, aku juga mau. Kebetulan perutku sudah demo dari tadi gara-gara nungguin kamu," balas Arka sambil tertawa.
Mereka pun masuk ke dalam tenda plastik itu, duduk di bangku kayu panjang yang sederhana. Di bawah cahaya lampu neon yang sedikit berkedip, mereka duduk berhadapan. Suasananya begitu santai, begitu cair. Jika ada orang asing yang melihat, mereka pasti menyangka Arka dan Arunika adalah sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan bertahun-tahun.
Ada kemudahan yang tidak masuk akal dalam cara mereka mengobrol. Arka secara otomatis mengambilkan tisu untuk Arunika, dan Arunika secara alami menggeser gelas teh hangat ke arah Arka. Gestur-gestur kecil itu mengalir begitu saja, seolah otot-otot mereka memiliki memori sendiri yang tidak butuh izin dari otak yang sedang amnesia atau sim card yang sedang rusak.
"Kamu tahu nggak, Arka?" Arunika memulai sambil mematahkan kerupuk di tangannya. "Duduk di sini, nunggu lele goreng sama kamu, rasanya jauh lebih 'nyata' daripada tiga tahun aku meluk ponsel cuma buat baca pesan lama."
Arka terdiam, ia menatap Arunika yang sedang sibuk mengaduk sambalnya. "Aku juga ngerasain itu, Nika. Kemarin-kemarin aku merasa kayak orang asing yang maksa masuk ke cerita hidup orang lain. Tapi sekarang... aku ngerasa cerita ini emang punya aku. Punya kita."
Meski ingatan Arka masih tertutup kabut dan bukti-bukti digital di sim card lamanya masih tertahan dalam proses loading yang entah kapan selesainya, perasaan itu tidak bisa berbohong. Perasaan itu sudah lama terkubur jauh di bawah luka kecelakaan dan koma yang panjang. Dan malam ini, di depan sepiring pecel lele sederhana, perasaan itu akhirnya berhasil menggali jalan keluarnya sendiri.
"Mungkin ingatan bisa hilang, Nika. Tapi cara hatiku deg-degan pas lihat kamu melambai tadi... itu nggak bisa dimanipulasi sama amnesia manapun," tambah Arka dengan nada yang lebih serius namun lembut.
Arunika tersenyum manis, sebuah senyuman yang menjadi jawaban atas segala penantiannya. "Kalau gitu, nggak usah dipaksa ingat ya? Kita mulai aja dari pecel lele ini."
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍