Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.
Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.
Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.
Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.
Still you.
Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Yang Hampir Terucap
Tender resmi dimenangkan.
Malam itu kota kecil itu merayakan festival lampion tahunan. Jalan utama dipenuhi lampu gantung, musik tradisional lembut, dan aroma jajanan manis yang menggoda.
Aurora memaksa Arka keluar hotel.
“Sekali ini saja! Kita sudah kerja keras. Masa langsung tidur?”
“Aku tidak suka keramaian.”
“Kamu tidak suka banyak hal. Hidupmu capek nggak sih?”
Arka mendesah panjang.
"Oke...iya..iya...berangkat!!!" dengan nada kesal
Tapi tetap ikut.
Aurora berdiri di bawah ribuan lampion yang menggantung di langit malam.
Cahaya oranye keemasan jatuh di wajahnya.
Arka terdiam.
Wajah itu.
Senyum itu.
Ada sesuatu yang menusuk memorinya lagi.
Aurora berbalik tiba-tiba dan memergokinya menatap.
“Kenapa melihatku begitu?”
“Kamu berisik.” Ucap Arka
Aurora mengernyit. “Hah?”
“Lampionnya kalah terang.”
Aurora terdiam dua detik.
Lalu wajahnya merah total.
“Arka...ihh gombal dehh..!!”
“Aku tidak sedang menggombal.”
“Itu jelas gombal!”
Arka mencondongkan sedikit wajahnya. “Kalau aku serius?”
Aurora mundur satu langkah.
Detak jantungnya mulai tidak terkendali.
Mereka berdiri terlalu dekat.
Suara festival seakan menjauh.
Yang terdengar hanya napas mereka.
Aurora bisa melihat pantulan dirinya di mata Arka.
Arka mengangkat tangan, merapikan helaian rambut Aurora yang tertiup angin.
Sentuhan itu pelan.
Terlalu pelan.
Aurora membeku.
Arka menunduk sedikit.
Sangat sedikit.
Jarak mereka tinggal beberapa senti.
Dan...
“Woiii! Foto couple seratus ribuuu!”
Seorang fotografer dadakan muncul di samping mereka.
Aurora langsung mundur tiga langkah, sambil tertawa...
Arka memijat pelipisnya dan menggerutu
“Damn!!!”
Aurora menepuk dahinya pelan. “Astaga… hampir saja…”
Arka menatapnya.
“Hampir apa?”
Aurora terdiam.
“A-apa-apa.”
Arka tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya… ia merasa kesal karena gangguan itu.
Di sudut jalan yang lebih gelap.
Seseorang menurunkan kamera panjangnya.
Klik!!!.
Foto mereka barusan sudah tersimpan.
Pria itu menatap layar kameranya.
Fokus pada wajah Aurora.
Lalu tersenyum samar.
Ia mengetik sesuatu di ponselnya.
Dan mengirimkan foto itu.
Malam semakin larut....
Aurora tertidur di perjalanan pulang ke hotel.
Kepalanya tidak sengaja bersandar di bahu Arka.
Arka tidak memindahkannya.
Ia hanya menatap wajah Aurora yang tertidur.
Dan tanpa sadar… mengusap pelan rambutnya.
Tiba-tiba Aurora mengerutkan kening dalam tidur.
Bibirnya bergerak pelan.
“kejar…”
Arka menegang.
Aurora berbisik lagi.
“kejar aku kak…”
Jantung Arka seperti dihantam sesuatu.
Suara itu.
Nada itu.
Persis seperti suara kecil yang pernah memanggilnya dulu.
Arka memegang bahu Aurora pelan.
“Kamu bilang apa?”
Aurora terbangun perlahan.
“Eh… kita sudah sampai?”
“Kamu meminta siapa untuk mengejarmu.”
Aurora terlihat bingung.
“Aku?”
Arka menatapnya tajam.
“Kamu punya kakak sebelum diadopsi tuan Surya?”
Aurora menggeleng cepat.
“Tidak… aku rasa tidak…”
Ia benar-benar terlihat tidak tahu.
Dan itu justru membuat Arka semakin tidak tenang.
Lalu mereka turun dari mobil dan kembali ke kamar masing-masing.
Di depan kamar hotel,
Aurora berdiri canggung.
“Arka…”
“Hm.”
“Kalau tadi tidak diganggu fotografer…”
Arka menatapnya.
Aurora menelan ludah.
“Apa kamu akan….”
Arka melangkah mendekat satu langkah.
Aurora otomatis mundur hingga punggungnya menyentuh pintu.
Arka menahan pintu dengan satu tangan di samping kepalanya.
Posisi terjebak.
Tatapan intens.
“Kalau tadi tidak diganggu,” suara Arka rendah,
“saya mungkin melakukan sesuatu yang tidak profesional.”
Aurora hampir tidak bisa bernapas.
“Apa itu?”
Arka tersenyum tipis.
“Sesuatu yang tidak bisa aku tarik kembali.”
Wajah mereka sangat dekat, dekat sekali.
Aurora mematung.
Dan lagi.!!!
Ponsel Arka berdering.
Nama yang muncul di layar: Surya Pradana.
Suasana berubah seketika.
Arka menjauh.
Aurora menatapnya.
Arka mengangkat telepon itu dengan tatapan gelap.
Di seberang sana, suara Surya terdengar tenang.
“Tendernya lancar?”
Arka menjawab datar. “Sangat lancar.”
Surya terdiam beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Jaga Aurora baik-baik, Arka.”
Nada itu.
Seperti ancaman.
Seperti peringatan.
Atau… seperti seseorang yang tahu terlalu banyak.
Arka menutup telepon perlahan.
Tatapannya kini berbeda.
Bukan hanya cinta yang tumbuh.
Tapi juga bahaya yang mulai mendekat.
Dan di tempat lain.
Pria misterius tadi berdiri di depan Surya Pradana.
Menyerahkan kamera.
Surya menatap foto Arka dan Aurora di bawah lampion.
Tatapannya lembut…
Namun penuh rencana.
“Waktunya hampir tiba,” gumamnya.
😭😭😭