Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CURIGA
Tangan Aruna meraih bagian belakang kepala Javi. Karena tali kacamata itu tersangkut di antara helai rambut Javi yang halus meski sudah penuh bedak agar terlihat ubanan, Aruna harus bekerja ekstra keras. Wajah mereka kini hanya terpaut beberapa senti.
Aruna bisa mencium aroma Javi. Bukan lagi bau parfum Christian Dior yang mahal, tapi campuran bau matahari, bau es mambo melon, dan sedikit bau sabun colek dari cucian piring tadi pagi. Anehnya, bagi Aruna, bau itu jauh lebih memabukkan.
Javi terdiam. Dari balik lensa biru yang buram, dia menatap wajah Aruna. Dia melihat bintik-bintik halus di hidung Aruna, kacamata Aruna yang sedikit melorot, dan mata Aruna yang fokus bekerja.
"Aruna," bisik Javi.
Suaranya rendah, bergema di ruangan sempit itu, menciptakan getaran yang membuat bulu kuduk Aruna berdiri.
"A-apa?" Aruna terbata, jemarinya mendadak kaku saat menyentuh tengkuk Javi.
"Kenapa jantung kamu bunyinya keras sekali? Apakah kamu juga baru saja makan ayam geprek level maut tanpa memberi tahu saya?"
Wajah Aruna mendadak panas.
"Itu... itu efek kafein! Aku kan minum kopi banyak tadi malam!"
"Tapi bunyinya seperti sedang melakukan beatbox," lanjut Javi polos.
Dia perlahan menurunkan tangannya dan, entah karena insting apa, tangannya mendarat di pinggang Aruna untuk menyeimbangkan posisi Aruna yang sedang berjinjit.
Aruna membeku. Sentuhan tangan Javi di pinggangnya terasa seperti sengatan listrik statis.
"Ujang... tanganmu... turunin..."
"Kenapa? Saya hanya ingin membantu Anda agar tidak jatuh. Anda terlihat sangat kecil dan... ringkih. Seperti kaktus yang baru saja saya timpa kemarin."
"Aku nggak ringkih! Aku ini mahasiswi DKV tangguh yang sanggup bawa papan ujian saat badai!"
Aruna akhirnya berhasil melepas kacamata renang itu.
Saat kacamata itu terlepas, mata mereka bertemu secara langsung. Tanpa penghalang plastik biru, tanpa embun. Mata Javi yang tajam namun penuh rasa ingin tahu menatap langsung ke dalam manik mata Aruna.
Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti. Aruna merasa dirinya sedang tenggelam dalam tatapan Ujang yang amnesia ini. Ada sesuatu di sana yang terasa sangat akrab, sangat hangat, dan sangat berbahaya bagi kesehatan mentalnya.
Keheningan itu pecah dengan cara yang paling konyol.
Sreeeeeet... PLUP!
Lilitan sarung di pinggang Javi, yang sejak tadi memang sudah goyah karena dipakai lari maraton dan audisi, tiba-tiba menyerah pada gravitasi. Sarung itu melorot jatuh ke lantai, menyisakan Javi yang hanya memakai celana training lusuh di balik kemeja flanelnya.
Aruna langsung meloncat mundur sampai menabrak lemari pakaian.
"HUWAAAA! UJANG! SARUNGMU!"
Javi menatap ke bawah dengan wajah tanpa dosa.
"Oh. Sepertinya energi dari kacamata renang tadi telah membuat pinggang saya menyusut."
"PAKAI LAGI! JANGAN BERDIRI KAYAK PATUNG GITU!"
Aruna menutupi matanya dengan kedua tangan, padahal dia sebenarnya mengintip dari celah jari.
Javi dengan santai memungut sarungnya.
"Kenapa Anda berteriak? Saya masih memakai celana latihan di dalamnya. Apakah di dunia non-kloning, melihat pria memegang sarung adalah sebuah pelanggaran hukum?"
"Bukan masalah hukum! Masalahnya jantungku hampir copot, Bego!"
Aruna mengatur napasnya.
"Sudah, pakai yang bener! Dan sekarang, duduk di sana! Kita harus bicara serius."
Javi duduk di lantai dengan gaya cross-legged yang tetap terlihat anggun. Aruna duduk di depannya, memeluk bantal sofa yang sudah kempes.
"Ujang," panggil Aruna, suaranya kini lebih tenang.
"Kamu tadi di kampus... gerakan kamu... pose kamu... itu bukan gerakan orang biasa."
Javi menatap tangannya.
"Saya juga merasa begitu, Aruna. Saat saya berdiri di sana, tubuh saya seolah tahu apa yang harus dilakukan sebelum otak saya memerintahkannya. Rasanya seperti... saya sudah melakukan itu jutaan kali di depan jutaan pasang mata."
"Tapi kamu nggak ingat apa-apa?"
Javi menggeleng.
"Saya hanya ingat kegelapan, rasa dingin, dan lalu... wajah Anda yang sedang mengancam saya dengan penggaris besi. Itulah memori pertama saya."
Aruna merasa ada rasa bersalah yang menusuk hatinya. Dia telah membohongi pria ini. Dia menjadikannya asisten, tukang cuci piring, dan memberinya nama Ujang padahal pria ini mungkin adalah bintang paling terang di langit hiburan.
"Gimana kalau... gimana kalau kamu ternyata bukan kloningan gagal?" tanya Aruna hati-hati.
"Gimana kalau kamu itu orang penting yang lagi dicari-cari?"
Javi menatap Aruna dalam-dalam.
"Jika saya orang penting, kenapa saya merasa lebih bahagia di sini? Mencuci piring Anda, makan es mambo bersama Anda, dan dikejar wanita gila pemegang megafon?"
Aruna tertegun.
"Karena kamu belum tahu capeknya jadi rakyat jelata yang harus mikirin bayar kosan tiap bulan!"
"Mungkin,"
Javi tersenyum kecil.
"Tapi Aruna, jika suatu saat nanti pria di poster itu datang dan mengaku sebagai saya... tolong jangan serahkan saya begitu saja."
"Kenapa?"
"Karena pria di poster itu terlihat sangat kesepian. Sedangkan Ujang... Ujang punya Aruna yang selalu meneriakinya."
Aruna merasakan wajahnya memanas lagi.
"Itu karena kamu emang bikin darah tinggi!"
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang sangat pelan terdengar. Bukan ketukan Mbak Widya yang biasanya seperti mau merobohkan bangunan, tapi ketukan yang mencurigakan.
Tok... Tok... Tok...
"Aruna... ini Mbak Widya... buka pintunya bentar... Mbak mau ngomong..." suara Mbak Widya terdengar berbisik di luar.
Aruna dan Javi saling pandang. Javi langsung sigap memasang kembali kacamata renangnya kali ini terbalik.
"Sembunyi di kolong kasur! Cepat!" bisik Aruna.
"Lagi? Kolong kasur Anda adalah tempat paling tidak estetik yang pernah saya kunjungi!" protes Javi, namun tetap merangkak masuk ke kolong kasur dengan susah payah karena badannya yang besar.
Aruna membuka pintu sedikit. Mbak Widya berdiri di sana dengan wajah serius, membawa sebuah majalah gosip terbaru.
"Ar... kamu liat ini nggak?"
Mbak Widya menyodorkan majalah itu. Fotonya menampilkan siluet Javi LUMINOUS yang sedang hilang.
"Mbak barusan dapet info dari grup WA Pecinta Daster Nasional. Katanya ada saksi mata liat pria mirip Javi lagi pake daster pink di sekitar sini."
Aruna tertawa paksa.
"Hahaha! Mbak, masa idol pake daster? Itu mah emang Ujang yang lagi kumat!"
"Nah, itu dia masalahnya!"
Mbak Widya mendekatkan wajahnya.
"Mbak curiga... jangan-jangan si Ujang itu sebenernya Javi yang lagi nyamar jadi orang udik buat riset film terbarunya?! Kalau bener gitu, Mbak mau minta tanda tangan di daster Mbak yang dipake dia kemarin! Biar harga dasternya naik jadi sepuluh juta!"
Aruna melirik ke kolong kasur. Javi sedang mencoba menahan bersin karena debu di bawah sana.
"Nggak mungkin, Mbak! Ujang itu... dia itu nggak bisa nyanyi! Dia cuma bisa nyanyi lagu Cicak-Cicak di Dinding versi metal! Mana mungkin dia Javi!"
Tiba-tiba dari bawah kasur terdengar suara:
HATCHIIIIIIIII!
Dan karena bersinnya sangat kuat, kepala Javi terbentur rangka kasur kayu Aruna.
DUAAAK!
Kasur itu sampai terangkat sedikit.
Mbak Widya meloncat kaget.
"Suara apa itu?! Kasur kamu bisa bersin?!"
"Itu... itu... kasur saya emang lagi alergi debu, Mbak! Kan kasur lama!"
Aruna langsung menutup pintu dengan cepat.
"Maaf ya Mbak, saya mau lanjut ngerjain tugas! Bye!"
Aruna mengunci pintu dan langsung menarik Javi keluar dari kolong. Javi keluar dengan wajah penuh debu dan kacamata renang yang miring.
"Aruna," ucap Javi sambil mengusap kepalanya.
"Saya rasa... debu di bawah sana telah merusak sistem pernapasan kloningan saya. Saya butuh es mambo sebagai pertolongan pertama."
Aruna terduduk di lantai, tertawa lemas.
"Kamu ya... bener-bener pembawa sial yang paling ganteng yang pernah aku kenal."
"Terima kasih atas pujiannya, Majikan. Sekarang, bolehkah saya tidur di atas kasur? Bersembunyi di bawah sana membuat saya merasa seperti monster yang sedang dikarantina."
"Nggak! Kamu tidur di lantai!"
"Tapi lantai ini dingin. Bagaimana kalau kloningan saya membeku?"
"Pake sarung kakekku itu! Double-in!"
Malam itu, di kamar kos yang sempit, rasa canggung itu masih tersisa di udara, berbaur dengan tawa kecil dan bunyi kipas angin. Mereka tidak tahu bahwa di luar sana, member LUMINOUS sedang berdiskusi dengan Mbak Widya di ruang tamu, menyamar sebagai mahasiswa pindahan yang ingin menyewa kamar di sebelah Aruna.
Ujang sedang dalam bahaya besar, tapi setidaknya malam ini, dia punya es mambo stroberi dan seorang gadis galak yang diam-diam mulai peduli padanya.