Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengetahui kisah masa silam
Sudah hampir satu jam Annette membolak-balik isi buku yang ia temukan dari kamar ibunya tapi tidak satupun kalimat atau bahkan kata yang ia mengerti.
"Ahh buku apa ini sebenarnya," teriak Annette merasa frustasi.
Leon yang masih tidur pun akhirnya terbangun karena teriakan Annette yang tidak disengaja itu.
"Maaf, tidurlah lagi..." kata Annette berbisik pelan.
Bukannya tidur kembali, Leon justru menyibak selimut dan mendekati Annette yang duduk di depan jendela.
"Kau sedang apa ?" tanya Leon menyipitkan matanya. Matanya masih terasa lengket tapi ia harus bangun.
"Aku tidak bisa membaca tulisan ibu di buku ini. Sedikitpun aku tidak mengerti apa yang ibu tulis," adu Annette pada Leon seolah Leon mampu menolongnya.
"Coba sini kulihat," kata Leon lalu menyerahkan buku yang diserahkan oleh Annette.
"Ini ditulis dalam bahasa kuno. Wah aku tidak tau kalau ibumu bisa menulisnya," kata Leon tersenyum kecil.
"Bahasa kuno ?" beo Annette.
"Jadi kau bisa membacanya ?" tanyanya lagi penuh harap dan anggukan kepala Leon menambah daftar kekaguman Annette pada Leon.
"Aku menulis ini sebagai pengganti ucapanku pada Wiles yang sekarang tidak pernah mau mendengarkan ku bicara," Leon mulai membaca di halaman pertama.
"Cepat lanjutkan," desak Annette saat melihat Leon menguap.
"Aku masih mengantuk, Annette.." kata Leon memelas.
"Nanti kau bisa tidur lagi. Aku janji tidak akan mengganggu mu," kata Annette sembari mengangkat tangannya dengan simbol dua jari.
Apa boleh buat, akhirnya Leon membacakan semua tulisan yang ada di buku itu. Tintanya mulai mencair dan menembus halaman selanjutnya namun Leon masih bisa membacanya.
Aroma buku yang pengap seakan membawa kisah masa lalu. Annette mendengarkan Leon yang suaranya semakin serius tanpa menyela sama sekali.
Ibunya menulis betapa ia mencintai Annette dengan sepenuh jiwa tapi ia tidak bisa melawan takdir apabila kelak memisahkan mereka.
'Seandainya aku bisa kembali ke masa lalu dan mengetahui akhir dari kisahku dan Wiles, maka aku tetap akan menikah dengannya agar aku memiliki Annette sebagai pelengkap hatiku yang terluka karena pengkhianatan,'
Pada saat itu Annette meneteskan air matanya. Ibunya benar-benar mencintainya. Sejujurnya Annette melupakan beberapa kenangan setelah jiwanya hilang.
'Aku merasa Vivian merencanakan sesuatu yang buruk. Tapi ia begitu baik padaku. Dia kini sering mengalah dan membiarkan Wiles menghabiskan waktu lebih banyak denganku,'
'Sudah satu bulan aku sering memuntahkan darah dan dokter yang datang selalu mengatakan aku baik-baik saja. Tapi aku merasa ada sesuatu yang berbeda dalam diriku,'
'Ketakutanku hanya satu. Aku takut tidak bisa menjaga Annette lagi. Aku takut membiarkannya hidup sendirian di dunia ini,'
'Meninggalkannya bersama Wiles dan Vivian bukanlah jalan yang benar,'
'Akhirnya aku tau kenapa aku menjadi sakit-sakitan. Vivian sudah mencampurkan racun dengan dosis yang kecil pada setiap makanan yang kumakan hingga nantinya kematian ku tidak mencurigakan,'
'Aku tidak menduga jika Vivian sanggup menghabisi seorang wanita yang masih memiliki anak kecil. Bagaimana jika aku tiada dan dia melakukan hal yang sama pada Annette ?'
'Aku mendengar Vivian mulai menyebarkan rumor di rumah ini jika aku memiliki penyakit menular hingga semua pelayan tidak berani mendekatiku, termasuk Wiles juga,'
'Aku mulai menolak memakan makanan yang diberikannya padaku dan dia marah besar. Dia menginjak tanganku dan menyuapkan makanan yang sudah jatuh ke tanah ke dalam mulutku. Aku tidak bisa melawan karena tubuhku sudah lemah dimakan racun dari dalam,'
Leon menyelesaikan membaca di halaman terakhir dengan suara berat. Hatinya seolah ikut merasakan apa yang ibu mertuanya rasakan. Ia tidak menyangka jika kepergian Nyonya Isabela yang dicintai banyak orang rupanya adalah perbuatan istri Tuan Wiles yang lain.
Annette diam tidak menangis atau mengatakan apa-apa. Matanya memang memerah dan berkaca-kaca tapi pandangannya tidak berada disini.
"Annette..." panggil Leon seraya menyentuh pundak Annette.
"Dia membunuh ibuku, Leon" ujar Annette pelan. Suaranya serak seakan tidak mau keluar.
"Tenangkan dirimu. Jangan tampakkan kesedihan di depan orang yang menganggap mu musik," kata Leon .
Annette menatap Leon dengan tatapan tidak terbaca. Lalu Leon segera memeluknya dengan erat dan saat itulah pecah juga tangis Annette.
Leon ikut menangis juga tapi ia segera menghapus air matanya. Dalam hatinya ia bersyukur ayah dan ibunya dulu saling mencintai dan tidak menghadirkan orang ketiga dalam pernikahan mereka. Namun sayangnya mereka tetap pergi dengan membawa adiknya yang masih ada di dalam kandungan.
"Aku akan membalasnya, Leon. Aku akan membalas kematian ibuku," kata Annette dengan suara terbata-bata.
"Tapi kita harus memastikan dulu," balas Leon.
"Memastikan apa ? kau kira ibuku mengarang cerita dengan mengatakan jika Vivian meracuninya ?" sentak Annette yang emosi. Ia melepaskan paksa pelukan Leon.
"Bukan begitu," kata Leon bingung juga bagaimana ia menjelaskan.
"Aku percaya pada ibuku. Aku sangat percaya. Asal kau tau, Leon. Vivian juga melakukan hal yang sama padaku saat aku terbaring lemah hampir satu minggu tidak bisa bangun. Bukankah kau juga tau ? Dia memberiku makanan yang mengandung racun hingga aku hampir mati," kata Annette penuh amarah. Entah ia marah pada Leon yang meragukan ibunya atau marah pada Vivian karena ia sudah tahu kebenarannya.
"Apa ? Apa yang kau katakan, Annette ? kenapa tidak pernah memberitahu ku," tanya Leon terkejut.
"Aku memang tidak memberitahu mu karena kau mencintai Emilie dan pasti tidak percaya jika wanita yang kau anggap lembut dan lugu itu tega ikut dalam rencana untuk menyingkirkan ku," kata Annette lagi. Kini tangisnya benar-benar pecah.
Leon ingin memeluknya lagi tapi tangannya ditepis oleh Annette. Ia mengatakan tidak mau Leon menyentuhnya. Akhirnya Leon hanya diam dibelakang Annette dan menghembuskan nafas beratnya.
"Maafkan aku, Annette. Maaf jika aku gagal menjagamu," kata Leon lirih namun Annette masih bisa mendengarnya.
"Apa kau ingin aku melakukan sesuatu pada Emilie dan ibunya ?" tanya Leon penuh tekad. Ia memang tidak ingin ikut campur dalam urusan orang tua apalagi sudah berlalu. Namun saat tau jika Nyonya Vivian ingin menyingkirkan Annette, rasanya ia tidak terima.
Bagaimana seseorang dengan mudahnya menghilangkan nyawa orang lain yang dianggap sebagai batu sandungan.
"Tidak perlu, Leon. Kau tidak perlu melakukan apapun. Biarkan aku yang membalasnya. Aku akan memb*n*h mereka dengan kedua tanganku sendiri," jawab Annette yang kini mulai menatap Leon.
"Jangan lakukan itu. Sebuah penjara akan sangat menyakitkan bagi mereka yang selama ini hidup dalam kemewahan," kata Leon sembari memegang erat tangan Annette.
"Tangan selembut ini yang ahli menciptakan kerajinan tidak boleh melakukan sesuatu yang kotor," katanya lagi lalu mencium kedua tangan Annette.
"Setidaknya biarkan aku memberikan pelajaran kecil untuk ibu dan anak itu sebelum mengirim mereka ke penjara," pinta Annette dan Leon mengangguk. Leon tidak mengatakan akan membantu Annette membalas dendam tapi ia berjanji akan melindungi Annette dari apapun yang membahayakan nya.
...
saat istri lagi hamil malah bawa pelakor ke rumah...
burungnya minta disunat itu ..
🤣😄😄😍😍💪
apa yg akan dilakukan leon dan annete ya buat balas vivian..
😍😍❤❤💪💪
keren banget si leon
😍😍😍❤💪
😍😍💪❤❤
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤
❤❤❤💪💪💪
🤣😄😄❤💪💪
😍❤❤❤💪💪💪💪
🤣😄❤❤💪