NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Murni
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Permainan Ular Tangga di Meja Kopi

Siang itu, matahari Jakarta bersinar terik, memanggang aspal jalanan hingga uap panas terlihat menguar di udara. Namun, di dalam sebuah kafe eksklusif di kawasan Senopati, udara terasa sejuk dan beraroma biji kopi panggang yang menenangkan.

Kafe itu sepi pengunjung, tempat yang sempurna untuk pembicaraan rahasia yang tidak boleh didengar oleh telinga-telinga penasaran.

Nala duduk di sebuah meja sudut yang menghadap ke jendela kaca besar. Ia mengenakan blus sutra berwarna beige yang dipadukan dengan celana kulot hitam berpotongan rapi. Sebuah kacamata hitam besar tergeletak di atas meja, di samping cangkir teh chamomile yang masih mengepulkan uap tipis.

Penampilannya tenang, anggun, dan tak tersentuh. Jauh berbeda dari Nala yang dulu selalu menunduk dan mengenakan pakaian bekas yang kebesaran.

Namun, di bawah meja, tangan Nala meremas kain celananya dengan kuat. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin. Ini adalah pertama kalinya ia berinisiatif menemui "musuhnya" tanpa Raga di sampingnya. Ia merasa seperti prajurit muda yang maju ke medan perang sendirian.

Dua meja dari tempatnya duduk, Sera duduk santai sambil membolak-balik majalah mode. Di hadapannya ada segelas es kopi yang belum disentuh. Meski terlihat santai, Nala tahu mata tajam pengawal wanitanya itu mengawasi setiap pergerakan di pintu masuk, siap menerjang jika ada bahaya mengancam.

Lonceng di pintu kafe berdenting pelan.

Seorang wanita muda masuk dengan langkah terburu-buru dan wajah masam. Itu Bella.

Nala mengamati kakaknya dari balik bulu matanya yang lentik. Bella mengenakan gaun pendek bermotif bunga yang Nala tahu harganya mahal, tapi terlihat sedikit kusut di bagian bawah. Rambutnya yang biasanya ditata salon kini hanya digerai biasa, sedikit lepek karena keringat. Wajahnya dipoles makeup tebal untuk menutupi lingkaran hitam di bawah matanya.

Bella tampak kacau.

Bella mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan kesal, lalu matanya berhenti saat melihat Nala. Ada kilatan kebencian yang langsung menyala di sana. Dengan langkah menghentak, Bella berjalan mendekati meja Nala dan menarik kursi di hadapannya dengan kasar, menimbulkan bunyi decit yang menyakitkan telinga.

"Kau punya nyali juga memintaku datang ke sini," desis Bella tanpa basa-basi. Ia melempar tas tangannya ke meja, hampir menyenggol cangkir teh Nala. "Apa maumu? Mau pamer lagi? Mau menertawakanku karena kartu kreditku diblokir?"

Nala tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cangkir tehnya dengan tenang, menyesapnya perlahan, membiarkan keheningan menyiksa Bella. Ia belajar trik ini dari Raga. Diam adalah senjata yang ampuh untuk membuat lawan gelisah.ambil

"Duduklah, Kak," ucap Nala lembut, namun ada nada perintah yang tak terbantahkan di sana. "Pesanlah sesuatu. Minuman di sini enak."

"Aku tidak butuh traktiranmu!" bentak Bella, namun matanya melirik menu dengan lapar. Nala tahu Bella pasti sedang kesulitan uang saku karena ulah Raga yang memutus kontrak bisnis ayah mereka.

Nala memberi isyarat pada pelayan. "Satu Iced Caramel Macchiato dan Croissant almond untuk kakak saya."

Bella terdiam. Itu menu favoritnya. Dulu, Nala lah yang selalu disuruh mengantre membelikan minuman itu untuk Bella, sementara Bella menunggu di mobil ber-AC. Sekarang, Nala memesankannya sebagai tuan rumah.

"Jangan sok baik," cibir Bella, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan angkuh. "Katakan saja apa maumu. Aku sibuk. Aku punya janji fitting baju dengan desainer terkenal sore ini."

"Desainer mana?" tanya Nala santai. "Setahu aku, semua desainer top di Jakarta sudah diinstruksikan oleh manajemen Adhitama Group untuk mem-blacklist nama Aristha sementara waktu karena masalah pembayaran."

Wajah Bella memucat seketika. Kebohongannya terbongkar dengan mudah. Bibirnya bergetar menahan malu dan marah.

"Kau... kau benar-benar ular berbisa sekarang, Nala. Suami cacatmu itu sudah meracuni otakmu," geram Bella.

Nala meletakkan cangkirnya perlahan. Suara denting keramik bertemu tatakan terdengar jelas. Nala menatap Bella lurus-lurus, tatapannya dingin dan tajam.

"Berhenti berpura-pura, Kak," kata Nala. "Aku tahu kau yang mengirim foto itu."

Bella tertawa renyah, tawa yang dibuat-buat dan terdengar sumbang. "Foto apa? Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."

"Foto aku makan di lantai teras dua belas tahun lalu," jelas Nala, tidak terpancing emosi. "Foto yang kau ambil sambil tertawa bersama teman-temanmu. Foto yang kau kirim kemarin pagi ke rumahku dengan tulisan ancaman murahan."

Tawa Bella berhenti. Wajahnya berubah menjadi topeng kebencian murni. Ia memajukan tubuhnya, menatap Nala dengan mata melotot.

"Kalau iya, kenapa?" tantang Bella. "Kau takut? Baguslah. Aku ingin kau sadar diri, Nala. Kau bisa memakai berlian dan sutra, tapi di dalam, kau tetaplah anak haram yang menjijikkan. Kau tidak pantas hidup enak di istana itu sementara aku dan Ayah menderita!"

"Kalian menderita karena keserakahan kalian sendiri," balas Nala tenang. "Ayah menjualku untuk melunasi hutang. Aku sudah melakukan tugasku. Sekarang Raga memutus hubungan bisnis karena kalian terus mengganggu. Itu konsekuensi, Kak. Bukan salahku."

"Tutup mulutmu!" Bella menggebrak meja pelan. "Kau pikir kau siapa menceramahiku? Kau hanya pelacur yang beruntung dibeli oleh monster kaya!"

Di meja sebelah, Sera sudah meletakkan majalahnya, siap berdiri. Tapi Nala memberikan isyarat tangan kecil di bawah meja agar Sera tetap duduk. Nala bisa menangani ini.

"Aku ke sini bukan untuk bertengkar soal masa lalu," ucap Nala, mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna putih. Ia meletakkan amplop itu di tengah meja, di antara cangkir teh dan gelas kopi Bella yang baru datang.

Mata Bella tertuju pada amplop itu. Tebal. Dan dari celah yang sedikit terbuka, terlihat warna merah muda uang pecahan seratus ribu rupiah.

"Apa ini?" tanya Bella curiga, namun nada suaranya sedikit melunak karena melihat uang.

"Lima puluh juta rupiah. Tunai," jawab Nala datar.

Mata Bella membelalak. Lima puluh juta. Itu jumlah yang sangat besar baginya saat ini, di saat ayahnya memotong semua fasilitas. Itu bisa untuk belanja tas baru, pesta, atau sekadar bertahan hidup gaya sosialita selama sebulan.

"Kau... kau mau menyuapku?" tanya Bella sinis, tapi tangannya gatal ingin meraih amplop itu. "Kau pikir harga diriku bisa dibeli?"

"Semua orang punya harga, Kak. Ayah menjualku seharga hutang perusahaan. Sekarang aku membeli informasi darimu seharga lima puluh juta," kata Nala.

"Informasi apa?"

Nala mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mata Bella intens.

"Siapa yang bekerja sama dengan Ayah untuk menjatuhkan Raga?"

Bella tersentak mundur. Wajahnya yang tadi merah karena marah kini berubah menjadi pias ketakutan. Matanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri.

"Aku... aku tidak tahu maksudmu," elak Bella gugup.

"Jangan bohong," desak Nala. "Kemarin pabrik tekstil suami saya terbakar karena sabotase. Raga bilang itu peringatan karena dia memutus kontrak dengan Ayah. Ayah tidak cukup pintar atau cukup berani untuk melakukan pembakaran sendiri. Dia pasti punya sekutu. Seseorang yang tahu seluk beluk bisnis Raga. Siapa dia?"

Bella diam seribu bahasa. Tangannya gemetar saat memegang gelas kopinya.

"Ayahmu sedang terdesak, Kak," lanjut Nala, menekan titik lemah Bella. "Dia butuh uang. Dia pasti bicara padamu atau Ibu. Siapa orang yang sering dia temui akhir-akhir ini? Atau siapa yang sering meneleponnya malam-malam?"

Bella menelan ludah. Ia menatap amplop tebal di meja itu. Lima puluh juta. Ia sangat membutuhkannya. Tapi ia juga takut pada ayahnya.

"Kalau aku memberitahumu... kau tidak akan bilang pada Ayah kalau aku yang bocorkan, kan?" tanya Bella dengan suara berbisik.

"Rahasiamu aman bersamaku," janji Nala.

Bella menghela napas panjang, lalu melihat sekeliling kafe dengan paranoid.

"Aku tidak tahu namanya," aku Bella cepat. "Tapi... beberapa hari yang lalu, Ayah menerima tamu di rumah saat tengah malam. Ibu sudah tidur, tapi aku terbangun karena haus."

"Lalu?"

"Tamu itu laki-laki. Dia memakai topi dan masker, jadi aku tidak lihat wajahnya. Tapi... dia berjalan pincang," ungkap Bella.

Jantung Nala berdegup kencang. Pincang?

"Pincang bagaimana?"

"Kaki kanannya diseret sedikit. Dan dia... dia memakai tongkat," lanjut Bella, berusaha mengingat detail malam itu. "Aku mendengar mereka bertengkar di ruang kerja Ayah. Orang itu marah karena Raga tidak hancur sesuai rencana. Dia bilang... dia bilang, 'Anak itu punya sembilan nyawa, kita harus memotong kepalanya langsung'."

Nala merinding. Ancaman itu terdengar sangat nyata dan mengerikan.

"Ada lagi?" tanya Nala.

"Orang itu... dia memanggil Ayah dengan sebutan 'Bram'. Dan Ayah memanggil dia..." Bella mengerutkan kening, berpikir keras. "Ayah memanggil dia 'Pakde'. Atau sesuatu yang mirip itu."

"Pakde?" ulang Nala. Itu panggilan untuk paman atau orang yang lebih tua dalam bahasa Jawa. Apakah itu kerabat?

"Hanya itu yang aku tahu. Sumpah," kata Bella, tangannya sudah menyentuh amplop uang itu. "Sekarang uang ini milikku, kan?"

Nala mengangguk. "Ambillah. Dan satu lagi, Kak."

Bella yang sudah memeluk amplop itu menoleh.

"Jangan pernah kirim teror padaku lagi," ucap Nala dingin. "Kali ini aku memberimu uang. Tapi kalau kau mengganggu ketenanganku atau suamiku lagi, yang aku kirim bukan uang, tapi surat panggilan polisi. Kau tahu Raga punya pengacara terbaik di negeri ini. Dia bisa membusukkanmu di penjara hanya dengan jentikan jari."

Bella menelan ludah, ketakutan melihat sisi gelap adiknya yang baru. Nala yang ada di hadapannya bukan lagi adik kecil yang bisa ia bully. Nala sudah menjadi wanita dewasa yang berbahaya.

"A-aku mengerti," gagap Bella. Tanpa menghabiskan minumannya, Bella menyambar tas dan amplop uang itu, lalu bergegas lari keluar kafe seolah dikejar setan.

Nala menghembuskan napas panjang setelah punggung Bella menghilang di balik pintu kaca. Bahunya merosot lemas. Bersikap intimidatif ternyata sangat melelahkan.

Sera bangkit dari mejanya dan pindah duduk di kursi bekas Bella.

"Kerja bagus, Nyonya," puji Sera datar. "Teknik interogasi yang lumayan untuk pemula. Umpan dan ancaman."

"Kakiku gemetar, Sera," aku Nala sambil memegang lututnya di bawah meja. "Aku takut dia melempar kopi ke wajahku."

"Dia tidak akan berani. Dia butuh uang itu lebih dari harga dirinya," kata Sera bijak. "Jadi, pria pincang bertongkat. Informasi itu cukup spesifik. Tuan Raga pasti bisa melacaknya."

Nala mengangguk. Ia menatap ke luar jendela. Langit mulai mendung.

"Kita harus pulang, Sera. Aku harus memberitahu Mas Raga."

Namun, sesampainya di rumah, Raga belum pulang.

Pak Hadi memberitahu bahwa Raga masih di pabrik mengurus dampak kebakaran dan berurusan dengan polisi serta asuransi. Nala menunggu dengan cemas. Ia mondar-mandir di ruang tamu, lalu pindah ke studio, mencoba melukis tapi tidak bisa konsentrasi.

Jam dinding berdetak lambat. Pukul delapan malam. Pukul sembilan. Pukul sepuluh.

Baru pada pukul sebelas malam, suara deru mobil terdengar di halaman depan.

Nala langsung berlari ke pintu utama.

Pintu terbuka. Raga masuk didorong oleh asisten pribadinya. Penampilannya sangat berantakan. Kemeja putihnya yang tadi pagi rapi kini kusut, kotor oleh debu hitam, dan berbau asap yang menyengat. Lengan kemejanya digulung asal, memperlihatkan goresan luka kecil di lengannya yang sepertinya tergores benda tajam. Wajahnya, di balik topeng perak itu, terlihat sangat lelah. Lingkaran hitam di bawah mata kanannya terlihat jelas.

"Mas Raga!" seru Nala. Ia langsung berlutut di samping kursi roda, memeriksa keadaan suaminya. "Mas terluka?"

Raga menatap Nala dengan pandangan sayu. Ia tersenyum tipis, sangat tipis.

"Hanya goresan kecil. Tidak apa-apa," suara Raga serak, sepertinya karena terlalu banyak menghirup asap. "Kenapa belum tidur? Ini sudah malam."

"Bagaimana aku bisa tidur kalau suamiku sedang bertaruh nyawa di luar sana?" omel Nala, matanya berkaca-kaca.

Raga terkekeh pelan, lalu terbatuk kecil. "Aku tidak bertaruh nyawa. Hanya memarahi beberapa manajer yang tidak becus."

"Ayo ke kamar. Aku siapkan air hangat," Nala mengambil alih kursi roda dari asisten Raga. "Terima kasih, Pak. Biar saya yang urus sisanya."

Di kamar mandi, Nala dengan telaten menyeka lengan Raga yang kotor dengan handuk basah hangat. Ia membersihkan luka gores itu dan memberinya antiseptik. Raga duduk diam di kursi kloset yang tertutup, membiarkan Nala merawatnya.

Bau asap masih menguar kuat dari tubuh Raga.

"Pabriknya hancur?" tanya Nala pelan sambil membalut luka di lengan Raga dengan perban.

"Satu gudang habis. Kerugian miliaran," jawab Raga datar, seolah sedang membicarakan cuaca. "Tapi tidak ada korban jiwa. Itu yang penting. Uang bisa dicari lagi."

"Mas sudah tahu pelakunya?"

Raga menggeleng. "CCTV dirusak sebelum kejadian. Penjaga malam dibius. Pelakunya profesional. Atau orang dalam yang sangat tahu celah keamanan."

Nala terdiam sejenak. Ia menimbang-nimbang apakah ini saat yang tepat untuk memberitahu informasi dari Bella. Raga terlihat sangat lelah. Tapi informasi ini mungkin kunci segalanya.

"Mas," ucap Nala ragu.

"Hm?" Raga memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan Nala yang hangat.

"Tadi siang aku bertemu Bella."

Mata Raga langsung terbuka. Tajam dan waspada. "Apa? Kau menemuinya? Di mana? Apa dia menyakitimu?"

"Tidak, tidak. Aku yang mengajaknya bertemu. Aku membawa Sera," Nala buru-buru menenangkan. "Aku... aku menyuapnya untuk bicara."

"Menyuap?" alis Raga terangkat heran.

"Aku memberinya lima puluh juta dari uang yang Mas kasih. Maaf kalau aku lancang menggunakan uang itu," kata Nala.

"Aku tidak peduli soal uangnya. Apa yang dia katakan?" desak Raga.

"Dia bilang, beberapa hari lalu Ayah menerima tamu misterius tengah malam. Mereka bertengkar karena rencana menghancurkan Mas gagal. Bella bilang, tamu itu laki-laki, memakai tongkat, dan berjalan pincang. Ayah memanggilnya 'Pakde'."

Tubuh Raga menegang seketika.

Hening yang panjang dan mencekam mengisi kamar mandi yang luas itu. Hanya suara tetesan air keran yang terdengar.

Wajah Raga berubah pucat, lalu perlahan memerah karena amarah yang tertahan. Tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Napasnya menjadi berat dan cepat.

"Pincang..." bisik Raga, suaranya bergetar penuh emosi. "Pakde..."

Nala melihat reaksi itu. Ia tahu Raga mengenali ciri-ciri itu.

"Mas tahu siapa dia?" tanya Nala hati-hati.

Raga menunduk, menatap lantai marmer dengan tatapan kosong namun mengerikan. Memori masa lalu seolah berputar kembali di kepalanya. Memori tentang seseorang yang dulu sangat ia percayai. Seseorang yang ia anggap keluarga.

"Burhan," desis Raga. Nama itu keluar dari mulutnya seperti racun. "Burhan Prasetya. Mantan direktur keuangan perusahaan kakekku. Dia dipecat lima tahun lalu karena kasus penggelapan dana, tepat sebelum aku kecelakaan."

Raga mengangkat wajahnya, menatap Nala dengan sorot mata yang membuat Nala merinding. Itu bukan tatapan Raga yang lembut. Itu tatapan predator yang baru saja menemukan jejak mangsanya.

"Dia punya kaki pincang karena jatuh dari tangga saat mencoba kabur dari audit internal. Dan panggilannya di kalangan staf lama adalah 'Pakde'," jelas Raga.

Jadi itu orangnya. Burhan. Orang yang punya motif dendam karena dipecat, dan punya pengetahuan tentang perusahaan.

"Dia masih hidup..." gumam Raga, tawa kecil yang sinis keluar dari bibirnya. "Aku pikir dia sudah lari ke luar negeri. Ternyata ular tua itu bersembunyi di selokan bersama ayahmu."

Raga meraih tangan Nala, mencium punggung tangannya dengan keras, hampir menyakitkan.

"Kau hebat, Nala. Kau luar biasa," ucap Raga penuh semangat. "Informasi ini... ini adalah kunci yang kucari selama lima tahun. Polisi tidak pernah mencurigai dia karena dia dianggap sudah hilang. Tapi berkat kau, sekarang aku tahu ke mana harus membidik."

Nala tersenyum lega. Uang lima puluh juta itu tidak sia-sia.

"Apa yang akan Mas lakukan?" tanya Nala.

Raga berdiri dari duduknya, lupa sejenak pada kakinya sendiri karena terlalu bersemangat, namun untungnya ia segera berpegangan pada wastafel seolah-olah ia menarik dirinya naik dengan susah payah. Nala yang sedang sibuk membereskan kotak P3K tidak menyadari gerakan refleks kaki Raga yang sempat menapak kuat itu.

"Aku akan memancing ular itu keluar dari lubangnya," kata Raga, matanya berkilat licik. "Dia ingin perang? Aku akan berikan dia perang yang tidak akan pernah dia menangkan."

Raga menatap cermin di atas wastafel. Ia melihat bayangan dirinya dan Nala.

"Mandilah, Mas. Mas bau asap," kata Nala membuyarkan ketegangan.

Raga tersenyum, kembali menjadi suami yang hangat. "Baiklah, Istriku. Terima kasih sudah menjadi mata-mata terbaikku."

Malam itu, di tengah kelelahan fisik dan mental, Raga merasa hidup kembali. Misteri yang selama ini menghantuinya mulai terurai. Dan semua itu berkat gadis kecil yang ia nikahi karena paksaan.

Nala bukan lagi sekadar pelengkap. Dia adalah ratu di papan caturnya. Dan bersama-sama, mereka bersiap untuk melakukan skakmat pada raja hitam yang bersembunyi di balik bayang-bayang masa lalu.

1
ren_iren
bagus ceritanya 🤗
Almahara Ara
keren bgt cerita nya... ga bertele tele... best thor
Risma Hye Chan
kalimatnya sngat indah perpaduan mkna kiasan dan sesungguhnya ak suka baca novel yg sprti ini kalimat ny tidak membosankan mksih kak
Bunga
lanjut Thor
ceritanya bagu😍
Hazard: bagus mbak bunga🤭
total 1 replies
Ayu Rahayu
lajuttt kak .Hem suka bgettt crityaa😢
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Luar biasa
Bunga
semangat Thor
Bunga
salam kenal thor😍
Hazard: salam kenal🙏
total 1 replies
moon
karyanya menarik, suka dengan cerita yang taak bertele-tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!