Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.
Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!
Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 : Ujian
"Dia curiga karena melihatku berdiri tadi pagi. Kita harus lebih sinkron. Jika aku bertingkah gila, kau harus menjadi satu-satunya orang yang bisa menjinakkanku."
"Kakiku lumpuh, aku tidak akan merasa sakit sedikitpun bahkan jika air panas mengenaiku. Lagipula aku bisa meminta bibi pong untuk membantuku, tapi kau sudah bertindak lebih cepat."
Aku juga sekalian mengujimu. Apakah kau masih menganggapku musuh atau justru rekan. Untung saja kau menyelamatkan kakiku, jika tidak... Batin Bai Hua lega.
Bai Hua mendengus, mencoba memutar roda kursi rodanya, namun tangannya terasa lemah. Kelelahan fisik dari tubuh aslinya yang rapuh mulai terasa menghimpit.
"Tubuh ini... benar-benar sampah. Aku bahkan tidak bisa mencekikmu dengan benar tanpa merasa sesak napas."
Wan Long berbalik, matanya yang tajam menyapu tubuh ringkih Bai Hua dengan penilaian taktis. "Itu karena ototmu mengalami atrofi dan aliran darahmu tersumbat residu racun menahun. Di abad 21, kita punya fisioterapi canggih. Di sini, kita punya teknik pernapasan Neigong."
Wan Long mendekat, menarik sebuah kursi kayu dan duduk tepat di depan Bai Hua. "Dengar, Aku tidak akan membiarkanmu menjadi beban saat kita ke rumah ayahmu besok lusa. Ikuti instruksiku. Tarik napas melalui hidung, tahan di titik dua inci di bawah pusar, lalu tekan ke arah tulang belakang."
"Kau mengajariku meditasi kuno? Jangan bercanda," Bai Hua tertawa hambar.
"Aku mengajarimu cara memompa oksigen ke saraf yang mati," potong Wan Long tegas, suaranya tidak menerima bantahan. "Lakukan. Sekarang."
Selama satu jam berikutnya, suasana kamar itu berubah menjadi kamp latihan militer rahasia. Wan Long memaksa Bai Hua mengatur napas hingga keringat dingin membasahi pelipis gadis itu. Anehnya, setelah beberapa putaran yang menyakitkan, Bai Hua merasakan sensasi hangat---seperti aliran listrik kecil yang menggelitik---mulai merayap di pangkal pahanya yang biasanya dingin dan mati rasa.
"Kerja bagus," gumam Wan Long. Ia kemudian mengambil sepasang sumpit bambu dari atas meja kayu. "Sekarang, ujian refleks. Mari kita lihat apa tanganmu masih ingat caranya menggunakan pisau atau sudah ikut lumpuh bersama kakimu."
Wan Long tiba-tiba melemparkan satu sumpit ke arah wajah Bai Hua dengan kecepatan yang tak terduga.
Sret!
Tangan Bai Hua bergerak secepat kilat, menangkap sumpit itu hanya beberapa milimeter dari kornea matanya. Namun, Wan Long tidak berhenti. Ia melemparkan sumpit kedua dengan sudut yang lebih sulit, mengincar bahu kiri. Bai Hua memiringkan kepalanya dengan gerakan minimalis, menangkapnya dengan tangan kiri tanpa melihat.
"Lumayan," ujar Wan Long, meski sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Hanya lumayan?" Bai Hua menyeringai licik. Dengan satu sentakan pergelangan tangan yang presisi, ia mengembalikan kedua sumpit itu ke arah Wan Long dalam satu lintasan lurus.
Wan Long menghindar dengan memutar tubuhnya selembut angin, namun satu sumpit berhasil merobek sedikit ujung jubah merahnya dan menancap kuat di tiang ranjang kayu hingga kayu itu retak sedikit dan sumpitnya bergetar hebat.
"Jangan remehkan aku, Jenderal," ujar Bai Hua dengan mata berkilat penuh tantangan. "Aku mungkin tidak bisa mengejarmu, tapi aku bisa menjatuhkanmu dari jarak sepuluh meter bahkan sebelum kau sempat mengedipkan mata."
Wan Long menatap sumpit yang menancap dalam di tiang itu, lalu menatap Bai Hua. Untuk pertama kalinya. "Kalau begitu, siapkan senjatamu. Perjalanan ke kediaman Menteri Bai besok tidak akan menggunakan kereta kuda biasa yang nyaman. Wan Jin telah mengatur agar kita melewati 'Jalur Hutan Bambu'—tempat favorit para perampok bayaran untuk membuang mayat tak dikenal."
"Darimana kau tau?" Selidik Bai Hua.
Wan Long tertawa mengejek. "Aku bisa menyelinap dengan lincah, jadi aku bisa menguping segala pembicaraan di istana tanpa ketahuan."
"Bagus," Bai Hua menyandarkan punggungnya, memutar-mutar sumpit di jemarinya yang pucat. "Aku butuh beberapa target hidup untuk pemanasan otot."
***
Malam itu, saat seluruh istana terlelap dalam kesunyian yang mencekam, Bai Hua tidak tidur. Ia membongkar tusuk konde emas yang diberikan Bibi Pong dengan cekatan. Dengan bantuan minyak lampu dan sepotong batu asah kecil yang ia temukan, ia mengasah ujung tusuk konde itu hingga setajam jarum operasi, lalu mengolesinya dengan residu jelaga lampu yang ia campur dengan sisa obat pahitnya---menciptakan racun pelumpuh sederhana.
Di sisi lain kamar, Wan Long duduk bersila di lantai, tangannya sibuk merakit sesuatu dari bambu tipis dan tali sutra yang dipintal kuat---sebuah busur mini tersembunyi (hidden wrist-bow) yang bisa dilingkarkan di balik lengan bajunya.
"Kau sedang membuat mainan untuk besok?" tanya Bai Hua sinis, meskipun ia terkesan dengan ketelatenan pria itu.
"Aku sedang membuat asuransi jiwa," jawab Wan Long tanpa menoleh, fokusnya tidak goyah. "Dan bai hua...besok, saat di rumah ayahmu, jangan makan apa pun yang tidak aku cicit-cicitkan lebih dulu. Aku tidak ingin kau mati konyol sebelum aku sempat mengalahkanmu secara adil dalam duel yang sesungguhnya."
Bai Hua tertegun sejenak mendengar perhatian yang tersamar di balik kesombongan itu, lalu ia membuang muka. "Kau terlalu percaya diri, Wang Yu. Fokus saja pada akting idiotmu. Jangan sampai kau lupa dan malah memberi perintah militer pada kuda kita di depan umum."
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih
definisi sebel tapi rindu
benci tapi butuh🤣🤣
ya elah mati aja ga mau ngalah lu bang
ok Leh yuk lah bareng "🫣🤣
jadi bayangin visual merekanya bertarung
anak kan cuman niru orang tuannya yaa
jgn salahin kalau jadi anak durhaka
tih punya orang tua durhaka
mang disini pada ngeluh masalah retensinya
banyak othor yg juga akhirnya nyerah dan banyak pindah ke berbagai platform 🥹🥹.
semangat ya Thor...
aku mah dukung aja
karena terkadang penghargaan itu ga butuh cuman pengakuan,tapi cuan yg menentukan 🤣🤣
lu pikir bisa mengendalikan seluruh permainan
hei..masa depan itu lebih menakutkan dr yg dilihat
dimana ga ada binatang buas di hutan belantara
tapi manusia yg punya nafsu buas di antara hutan sesungguhnya.
beginilah realita di masa depan.
sebenarnya siapa yg jebak siapa.🫣
hayooo kau berhadapan dengan polisi dan mata mata dr masa depan lu bang
siap siap aja yaa