NovelToon NovelToon
Dipaksa CEO Dingin

Dipaksa CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Showbiz / Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Demene156

Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.

"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"

"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."

*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 PENYELAMAT DI TENGAH BADAI

​Suasana di ruang tamu kediaman Bryan Santoso semakin memanas. Suara benda-benda berharga yang pecah berkeping-keping terus terdengar, menciptakan irama kekacauan yang mengerikan.

Arion tampak panik melihat keponakan kecilnya kehilangan kendali. Namun, yang lebih menakutkan baginya adalah raut wajah kakaknya yang sudah berada di ambang ledakan amarah.

"Bang, kita tidak bisa membiarkan ini terus terjadi! Kenapa kita tidak panggil Kirana saja sekarang?" desaknya, suaranya hampir tenggelam oleh bunyi benda jatuh.

Bryan tidak langsung menjawab. Wajahnya setenang pahatan es, tetapi tatapannya tajam mengunci Kael.

"Kita tidak bisa menghubunginya tanpa alasan jelas," ucapnya dingin.

Arion menarik napas panjang, berusaha tetap sabar. "Bang, tolong... Kael itu masih anak-anak, bukan karyawan SantoPrime yang bisa Abang beri sanksi begitu saja. Jangan terlalu keras. Anak kecil mana yang tidak pernah tantrum?"

Bryan menoleh sekilas. Tatapannya menusuk, membuat Arion bergidik.

"Bukan hakmu mengajariku cara membesarkan anakku, Arion."

Ekspresinya tetap tak tergoyahkan. Ia jelas bertekad tidak membiarkan Kael terbiasa bertingkah sesuka hati atau merusak barang demi keinginannya. Disiplin adalah prinsipnya, meski tampak kejam di mata orang lain.

Situasi itu membuat Arion pening. Ia merasa terjebak di antara ayah dan anak yang sama-sama keras kepala. Kekhawatiran lain menyelinap di benaknya—jika keadaan makin kacau dan orang tua mereka turun tangan menyelidiki, rahasia bahwa ia pernah membawa Kael ke bar KTV bisa saja terbongkar.

'Kirana, cepat datang ke sini! Selamatkan kami dari badai ini!' batinnya panik.

Saat Bryan bergegas mengejar Kael yang berlari liar, Arion diam-diam mengeluarkan ponselnya. Dengan jari gemetar, ia mengirim pesan darurat ke Kirana.

Di tempat lain yang jauh lebih tenang, Kirana sedang duduk santai di apartemennya sambil membaca naskah drama terbaru. Sesekali ia membalas pesan teman-temannya di Discord.

Tak lama, satu balasan muncul dari akun bernama Raja Peri Jahat.

Raja Peri Jahat: "Kirana, tidak bisakah kau ganti nama Discord-mu yang kuno itu? Sakit mata melihatnya."

Kirana tersenyum tipis dan mengetik balasan.

Kesepian Ibarat Anak Panah Tak Berujung di Kekosongan: "Dan kau pikir nama 'Raja Peri Jahat' itu elegan? Selera kita sama buruknya."

Raja Peri Jahat: "Baiklah, lupakan nama. Aku pulang ke Indonesia bulan depan. Jemput aku di bandara."

Kesepian Ibarat Anak Panah Tak Berujung di Kekosongan: "Tidak. Aku sibuk."

Raja Peri Jahat: "Kau harus datang."

Kesepian Ibarat Anak Panah Tak Berujung di Kekosongan: "Sudah kubilang sibuk."

Raja Peri Jahat: "Datang atau tidak?"

Kesepian Ibarat Anak Panah Tak Berujung di Kekosongan: "Pihak sini memutuskan berhenti menanggapi dan melempar seekor kucing ke arahmu."

Raja Peri Jahat: "Dan pihak sini menangkap kucingmu lalu menjebaknya sebagai sandera."

Kesepian Ibarat Anak Panah Tak Berujung di Kekosongan: "Kasihan sekali. Kucing malang itu pasti merasa seperti ditusuk jarum… kecil sekali sampai tidak terasa."

Raja Peri Jahat: "Sialan! Kenapa mulutmu makin tajam! Apa kau sedang mengejekku?"

Kesepian Ibarat Anak Panah Tak Berujung di Kekosongan: "Kau yang memulai. Aku harus kembali menghafal naskah."

Raja Peri Jahat: "Ayolah, Kirana. Itu cuma peran kecil. Apa yang bisa dipelajari? Kita pernah pacaran, kau tega dingin begini?"

Kesepian Ibarat Anak Panah Tak Berujung di Kekosongan: "Aku sudah berkencan dengan banyak orang. Kau mantan nomor berapa, ya? Aku hampir lupa."

Raja Peri Jahat: "Kirana kecil! Tunggu saja balasanku!"

Kirana langsung keluar dari Discord dan mematikan laptop dengan sedikit kesal. Ia mencoba kembali fokus pada naskahnya.

Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal muncul di layar.

Ia ragu sejenak, lalu mengangkatnya.

"Halo, Kirana... tolong kami! Cepat datang!" Suara di seberang terdengar panik dan terengah.

Kirana mengernyit. "Maaf, Anda siapa?"

"Ini aku, Arion Santoso! Cepat ke kompleks Istana Emerald. Sesuatu terjadi pada Kael!"

"Apa?! Kael kenapa?!" Jantung Kirana langsung berdegup kencang.

"Ini darurat besar, cepat—Bro, bro, tenang! Bang Bryan, dia masih kecil—Kael! Jangan lempar itu—ah, gawat!"

Suara pecahan benda terdengar jelas dari balik telepon, membuat Kirana makin cemas.

"Baik! Aku berangkat sekarang!" katanya cepat sambil beranjak.

Ia sendiri heran pada reaksinya. Seharusnya ia tidak secemas ini. Ia baru mengenal Kael beberapa hari, tetapi perasaan di dadanya seolah menolak untuk mengabaikan anak itu.

Kompleks elit Istana Emerald cukup jauh dari apartemennya. Jika naik mobil, perjalanan bisa memakan waktu empat puluh menit karena macet. Tanpa ragu, ia memilih sepeda motor matik pribadinya agar bisa lebih lincah menembus jalan.

Hasilnya, jarak yang biasanya ditempuh empat puluh menit berhasil ia lalui hanya dalam lima belas menit karena melaju dengan kecepatan tinggi.

​Sesampainya di gerbang kompleks perumahan paling elit di Jakarta, Kirana berasumsi Arion pasti sudah memberi tahu petugas keamanan.

Dugaannya benar. Begitu ia menyebutkan namanya dengan napas terengah, petugas langsung mempersilakannya masuk tanpa prosedur berbelit.

Ia memacu motornya menuju kediaman Santoso nomor 8. Seorang pelayan sudah menunggu di depan pintu utama dengan wajah cemas.

Penampilan Kirana malam itu sangat berbeda dari biasanya. Ia mengenakan jaket kulit hitam ketat dan celana senada yang menonjolkan postur tubuhnya yang proporsional. Setelah turun dari motor, ia melepas helm dan sarung tangan. Rambut hitam panjangnya terurai hingga bahu seperti aliran air.

Di bawah cahaya lampu taman, ia tampak anggun sekaligus tangguh—terlalu memukau untuk seseorang yang baru saja menerobos malam dengan kecepatan tinggi.

Dari dalam rumah, Arion hampir saja bersiul melihat penampilan itu.

Namun suasana di ruang tamu masih tegang.

Di sudut ruangan yang berantakan, Bryan akhirnya berhasil menangkap putranya. Kael, yang sudah kehabisan tempat lari, kini berada dalam pelukan ayahnya yang kuat.

Meski begitu, bocah itu masih meronta hebat seperti anak kucing liar yang menolak dijinakkan.

"Jangan!" teriak Kirana sambil berlari mendekat.

Tanpa ragu, ia langsung merebut Kael dari pelukan Bryan.

Kael mengangkat kepala. Begitu melihat siapa yang memeluknya, ia langsung terdiam. Matanya yang bulat perlahan memerah dan berkaca-kaca. Ia memeluk Kirana erat, seolah menemukan satu-satunya tempat aman di dunia.

Melihat tubuh kecil itu gemetar ketakutan, hati Kirana terasa nyeri. Rasa iba bercampur marah memenuhi dadanya.

Ia menatap Bryan tanpa gentar.

"Tuan Bryan, saya tahu saya hanya orang luar dan mungkin tidak berhak mencampuri urusan keluarga Anda."

Ia menarik napas.

"Tetapi sebagai manusia, saya harus mengatakan ini. Ada yang salah dengan cara Anda memperlakukan Kael."

"Anak seusianya butuh kehangatan, kasih sayang, dan pengertian—terlebih dengan kondisi mentalnya yang rapuh. Dia sudah mengalami trauma, dan dia tidak punya sosok ibu di sisinya."

Nada suaranya meninggi.

"Sebagai ayah, Anda seharusnya lebih sabar. Bagaimana Anda bisa bersikap sekeras ini padanya malam-malam begini?"

"Anda lihat sendiri betapa takutnya dia. Tapi bukannya menenangkannya, Anda malah mengangkat tangan!"

Bryan terdiam. Tatapannya perlahan melunak saat melihat betapa protektifnya Kirana terhadap anaknya.

"Saya… yang salah," ucapnya pelan.

'…Hah. Aku tidak salah dengar, kan?' batin Arion, nyaris tertawa.

Baginya, melihat kakaknya—kaisar bisnis yang tak pernah tunduk pada siapa pun—mengakui kesalahan di depan seorang wanita adalah pemandangan langka tingkat legenda.

'Tadi waktu aku bilang kau salah, aku dimarahi habis-habisan. Sekarang Kirana bilang hal yang sama, kau langsung patuh. Diskriminasi ini!' gerutunya dalam hati.

Sejak Kirana datang, sikap Kael berubah total. Ia mendadak jinak seperti anak kucing yang baru menemukan pemiliknya.

Ia menggenggam tangan Kirana dan menurut saat dibawa kembali ke kamar di lantai atas.

Di dalam kamar, Kirana duduk di tepi sofa empuk sambil mengelus kepala Kael dengan lembut.

"Kael, ceritakan pada Tante. Tadi sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah semuanya baik-baik saja saat kita bicara di telepon semalam?"

Arion, yang ikut masuk, langsung menjawab dengan nada penuh semangat.

"Masalahnya sederhana. Dia merindukanmu. Kael ingin bertemu denganmu malam ini, tapi Bang Bryan tidak mengizinkan karena takut mengganggu waktumu."

Ia melanjutkan, "Karena frustrasi, dia mengamuk dan menghancurkan barang di bawah. Bang Bryan tidak mau kebiasaan itu jadi cara Kael mendapatkan keinginannya, jadi mereka bentrok. Lalu kau datang seperti malaikat penyelamat."

Kirana mengernyit. "Jadi semua itu hanya karena dia tidak bisa bertemu denganku?"

Arion mengangguk mantap.

"Kau meremehkan pengaruhmu. Ingat waktu kau pingsan di gudang bar KTV? Kael melarang siapa pun mendekatimu. Akhirnya Bang Bryan sendiri yang menggendongmu ke rumah sakit."

Kirana refleks menoleh ke arah Bryan.

'Dia yang membawaku…?' batinnya.

"Di rumah sakit," lanjut Arion, "saat Kael bangun dan kau tidak ada, dia kira kau meninggal karena menolongnya. Dia hampir lompat dari jendela. Baru tenang setelah Bang Bryan menunjukkan catatan yang kau tulis."

Arion belum selesai.

"Kemarin dia mogok makan supaya bisa bertemu denganmu. Tapi malam ini kau menyuruhnya makan banyak lewat telepon. Jadi dia kekenyangan dan tidak bisa pakai taktik itu lagi."

"Makanya dia pilih cara ekstrem—menghancurkan barang."

'Makan terlalu banyak… gara-gara aku?' batin Kirana, tertegun.

Ia menatap Kael yang masih memegang lengannya erat.

"Kael sayang, jujur pada Tante. Kamu merusak semua itu karena ingin bertemu Tante?"

Kael mengangguk pelan.

Kirana mengerutkan kening dan memasang wajah serius.

"Kamu tahu itu salah?"

Kael menggeleng pelan. Ia benar-benar tidak mengerti.

Saat itulah Kirana memahami alasan Bryan bersikap keras. Anak ini terlalu sering dimanjakan hingga mengira dunia harus selalu mengikuti keinginannya.

Tatapannya menajam, namun suaranya tetap lembut.

"Dengar, Sayang. Apa yang kamu lakukan tadi tidak benar. Hanya anak nakal yang merusak barang saat keinginannya tidak dituruti."

"Janji pada Tante, kamu tidak akan melakukan itu lagi."

Kael terdiam sebentar, lalu mengangguk mantap.

Ekspresi Bryan sulit dijelaskan—lega, heran, sekaligus kagum.

Ia tahu betul, jika Kael sudah berjanji, ia akan menepatinya. Para psikiater terbaik pernah mencoba berbagai metode untuk menghentikan kebiasaan buruk anak itu, tetapi tak ada hasil.

Kakek-neneknya pun selalu menyerah sebelum hukuman selesai karena terlalu menyayanginya.

Namun malam ini, satu teguran Kirana berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan para ahli.

Setelah menenangkan Kael, Kirana tersenyum lembut.

"Karena Kael sudah janji, Tante nyanyikan lagu supaya kamu cepat tidur, ya?"

Kael langsung mengangguk antusias.

"Kita nyanyi apa, ya… ah, Tante tahu."

Ia mulai bersenandung pelan, suaranya lembut dan menenangkan.

Di ambang pintu, Arion hampir tersedak menahan tawa.

"Bang, anak jenius seperti dia kok malah suka lagu anak-anak sederhana begitu?" bisiknya.

Namun ia segera sadar dugaannya keliru.

Kael mendengarkan dengan wajah damai. Dan yang lebih mengejutkan, Bryan juga berdiri diam—ikut larut mendengarkan nyanyian itu dengan tatapan dalam.

​Setelah si kecil Kael benar-benar terlelap, Kirana perlahan berdiri dan meregangkan tubuhnya yang pegal.

"Rasanya aku sudah menyanyikan hampir semua lagu anak yang pernah kuketahui di dunia…" gumamnya pelan.

Arion menahan ekspresi antara ingin tertawa dan menangis.

"Lalu kenapa harus lagu anak terus? Kau bisa saja menyanyi lagu modern! Tadi aku hampir mati kebosanan."

Kirana mengikat rambut panjangnya dengan karet gelang dari pergelangan tangan, lalu menatapnya tajam.

"Kau harus tahu, Arion. Selain lagu anak, hampir semua lagu yang kuhafal tidak pantas didengar anak kecil."

Bryan langsung teringat momen saat Kirana bernyanyi di apartemennya malam sebelumnya—lagu yang jelas bukan lagu anak.

Arion mendadak bersemangat.

"Hahaha, serius? Lagu apa itu? Coba nyanyikan sedikit!"

Tatapan Bryan langsung menukik tajam.

Arion spontan meringkuk. Ia tampak seperti anak anjing yang baru disadari berdiri di depan harimau lapar.

'Ternyata kakakku tipe pencemburu akut kalau urusannya Kirana,' batinnya.

Bryan mengalihkan pandangan ke Kirana.

"Apakah tadi Anda berada di dekat sini?"

Ia curiga. Tidak mungkin seseorang tiba secepat itu jika datang dari jauh.

"Tidak, Tuan Bryan. Aku dari apartemenku. Aku ke sini naik motor dengan kecepatan tinggi. Cepat sekali, kan?"

Bryan terdiam.

Baru sekarang ia menyadari pakaian Kirana malam ini. Jaket kulit hitam ketat. Celana senada. Kemarin ia tampak anggun dan konservatif. Hari ini… liar, bebas, memikat.

"Cara berkendara seperti itu berbahaya, Nona Kirana," ucapnya dingin.

Tatapannya sekilas menyapu Arion—sumber panggilan darurat ini.

Arion langsung bersenandung pura-pura tak tahu apa-apa.

"Ah, tidak. Aku sangat mahir mengendarai motor," kata Kirana sambil melambaikan tangan, lalu menguap. "Karena Kael sudah tidur, aku pamit dulu."

"Nona Kirana."

Langkahnya terhenti.

"Saya punya permintaan. Mungkin terdengar lancang."

Kirana berbalik sopan.

"Silakan. Jika masih dalam kemampuanku, aku akan membantu."

Nama keluarga Santoso bukan sekadar terpandang. Di dunia atas maupun bawah, pengaruhnya seperti hukum gravitasi—tak terlihat, tapi tak bisa dilawan. Bryan sendiri dijuluki banyak orang sebagai Bos Iblis, pria yang konon bisa menghancurkan hidup seseorang hanya dengan satu kalimat.

Bryan menoleh ke arah Kael yang tidur. Tatapannya berat.

"Apa yang terjadi di gudang KTV tempo hari ternyata meninggalkan trauma lebih dalam dari yang saya kira."

Ia berhenti sejenak.

"Saat ini sepertinya hanya Anda yang bisa menenangkannya."

Ia menatap langsung ke mata Kirana.

"Jadi sampai kondisi mental Kael pulih, saya berharap Anda bersedia tinggal di rumah ini sementara."

Kirana membeku.

"Hah…? Tinggal di sini? Bersama kalian?"

"Ya."

Ia menarik ujung rambutnya gugup.

"Tuan Bryan… bukankah itu tidak pantas? Kalau Kael ingin bertemu, aku bisa datang kapan saja."

Bryan mengusap dahi.

"Itu berisiko. Jika terjadi keadaan darurat di tengah malam seperti tadi, berbahaya bagi Anda harus berkendara ke sini lagi."

Ia melanjutkan tenang.

"Selain itu, posisi saya di SantoPrime tidak memungkinkan saya sering membawa Kael keluar. Saya tahu ini merepotkan, tapi saya memohon sebagai ayah."

Kepala Kirana terasa pening.

Jika Bryan memaksa dengan kekuasaan, ia pasti sudah menolak dan pergi. Namun pria itu justru meminta dengan tulus—tanpa aura dominasi sedikit pun.

Ditambah lagi wajah tampan dan karismanya…

Sulit sekali mengatakan tidak.

Di samping mereka, Arion menatap kagum.

'Luar biasa. Teknik negosiasi tingkat dewa.'

Bryan barusan mengubah kelemahan menjadi senjata. Kael bukan lagi beban, melainkan kartu truf untuk mendekati Kirana.

Tiba-tiba—

Prang!

Suara pecahan dari dalam kamar.

Kael rupanya terbangun dan melompat turun dari ranjang hingga menjatuhkan lampu tidur.

Begitu melihat Kirana masih ada, ketakutan di matanya langsung mereda. Ia berlari secepat anak panah dan menabrak pelukan Kirana.

Kirana langsung merunduk dan membuka tangan.

"Sayang, ada apa? Kenapa bangun?"

Kael memeluk lehernya erat, seolah takut ia menghilang.

"Tenang… Tante di sini. Tidak apa-apa."

Kirana menepuk punggung kecil itu perlahan. Aroma susu lembut dari tubuh Kael membuat hatinya terasa aneh.

'Aku biasanya menghindari kontak dengan anak kecil… jadi kenapa sekarang aku justru merasa nyaman?' batinnya.

Dengan sabar ia menenangkan Kael lagi sampai anak itu kembali tertidur.

Setelah memastikan kael tertidur, Kirana menutup pintu kamar dengan sangat pelan lalu melangkah keluar.

​Saat turun ke lantai bawah, Kirana menyadari kekacauan besar di ruang tamu tadi sudah lenyap tanpa jejak. Semua kembali rapi, seolah tidak pernah terjadi apa pun.

'Seperti yang diharapkan dari pelayan profesional keluarga Santoso; efisien dan terlatih,' batin Kirana kagum.

Para pelayan itu jelas penasaran dengan identitas tamu wanita yang datang larut malam. Namun tak satu pun berani melirik terlalu lama, apalagi bergosip. Mereka hanya menyelesaikan tugas masing-masing, lalu pergi dengan tenang.

Bryan Santoso melihat Kirana akhirnya keluar dari kamar. Kali ini ia tidak memaksa atau berbicara. Ia hanya berdiri diam, menatapnya dalam-dalam.

Kirana tampak ragu. Namun bayangan wajah Kael yang tadi memeluknya erat kembali terlintas di benaknya.

Ia menarik napas panjang.

"Baiklah, Tuan Bryan. Saya setuju dengan permintaan Anda. Anggap saja ini balasan atas jasa Kael yang secara tidak langsung telah menyelamatkan nyawa saya di gudang bar tempo hari."

Bryan langsung terlihat lega. "Terima kasih banyak, Kirana."

"Karena Kael bisa saja bangun sewaktu-waktu dan mencariku, sepertinya aku tidak akan pulang ke apartemen malam ini. Tapi semua barangku masih di sana…" ujar Kirana ragu.

"Itu bukan masalah," jawab Bryan sigap. "Aku akan menyuruh seseorang mengambil semua barang yang Anda butuhkan sekarang juga."

Ia langsung memberi instruksi tegas pada kepala pelayan.

Arion, yang sejak tadi hanya diam seperti patung, menatap adegan itu dengan mata membulat.

'Jadi… segampang itu semuanya terjadi? Sekarang mereka benar-benar akan tinggal serumah?' batinnya tak percaya.

"Arion, apakah kau masih membutuhkan sesuatu di sini?" tanya Bryan sambil melirik tajam.

"Ah! Tidak! Aku pergi sekarang juga!" seru Arion.

Sang "orang ketiga" yang tersingkir halus itu segera kabur tanpa menoleh lagi.

Dalam hati ia mengakui satu hal: kakaknya bukan tak paham cara mendekati wanita. Ia hanya tidak pernah tertarik pada siapa pun—sampai bertemu Kirana.

Bryan kemudian mengantar Kirana ke sebuah kamar mewah di sebelah kamar Kael.

"Mulai malam ini Anda bisa tinggal di sini. Besok aku akan memanggil desainer interior untuk menata ulang kamar ini sesuai selera Anda."

Kirana langsung melambaikan tangan panik.

"Tidak perlu, Tuan Bryan! Sungguh tidak perlu. Aku hanya tinggal sementara, bukan menetap selamanya. Renovasi segala itu terlalu merepotkan."

"Sama sekali tidak merepotkan bagi saya, Kirana," balas Bryan tenang, nada suaranya tak memberi ruang bantahan.

Ia mengambil seikat kunci dari tangan kepala pelayan lalu menyerahkannya pada Kirana.

"Ini semua kunci rumah ini. Anda bebas keluar masuk kapan saja. Pintu utama memakai kode digital: 591414."

Ia mengangkat satu kunci lagi.

"Ini kunci loteng. Simpan baik-baik, karena itu tempat persembunyian favorit Kael. Anak itu kadang suka mencurinya diam-diam. Dan ini juga kunci—"

"Tunggu, tunggu dulu, Tuan Bryan!" potong Kirana panik. "Anda terlalu ceroboh. Tidakkah Anda takut kalau saya sebenarnya berniat merampok rumah ini?"

Bryan menatapnya serius, tanpa sedikit pun tanda bercanda.

"Lalu apa yang sebenarnya kau inginkan dari rumah ini? Katakan saja. Aku akan menyuruh orang memindahkannya untukmu."

Bersambung…

1
Ira Janah Zaenal
up up up 💪💪💪💪😍😍😍😍
Arini
Lanjutannya dong
falea sezi
lanjut
falea sezi
semangat kirana
falea sezi
yg tidur ma Kirana Brian y
falea sezi
lah anak yg di kandung Kirana mana keguguran apa gimana
falea sezi
kasian kirana
Ira Janah Zaenal
semangat Kiara atau putri Laura Pitaloka tunjukkan pesonamu💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!