Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat dari Agartha
Putri Lily berlari kecil menyusuri jalan tanah yang mulai menggelap. Ia menghembuskan napas lega begitu kakinya menginjak halaman rumah. Bangunan itu luas dan lapang, terbuat dari pahatan kayu tua dan anyaman bambu pilihan. Di sekeliling rumah, berbagai tanaman dan bunga tumbuh subur. Tak jauh dari sana, Danau Teratai Lilac mengalir tenang, membawa suara gemericik yang menenangkan jiwa.
Sebelum melangkah ke dalam rumah, Putri Lily terlebih dahulu menuntun Eri ke kandangnya. Sebuah bangunan kayu kokoh tepat di sebelah rumah pengawal bayangan. Eri masuk tanpa perlawanan, sebab esok hari ia tahu Sang Putri akan kembali membawanya untuk berpetualang.
Lily mengelus surai Eri dengan lembut.
“Setelah aku menemui Ayahanda dan Ibunda, aku akan mengantar daging rusa untukmu.”
Eri mengeluarkan suara rendah dari tenggorokannya, dengusan lembut yang artinya menerima.
Barulah setelah memastikan Eri tenang di rumahnya, Lily merapikan gaun linennya dan melangkah menuju kediaman keluarganya, tanpa tahu bahwa malam itu akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
Sang Putri batal melangkah masuk, sebab suara tapak kuda menggema di indra pendengarannya. Seorang pria tua turun dari kuda, tepat di depan rumah pengawal bayangan.
“Kakek!”
Seruan Lily meluncur ringan. Ia mengangkat gaun linennya agar tidak terseret tanah, lalu berlari menghampiri pria itu dengan senyum lebar.
“Selamat datang, Kakek.”
Pria itu terdiam sejenak. Ser Wilhelm, pemimpin pengawal rumah bayangan segera menunduk hormat, tangan kanannya mengepal di dada.
“Saya tidak pantas mendapatkan sapaan kehormatan ini, Putri.”
Namun Lily hanya tertawa kecil, mata coklatnya berbinar hangat.
“Kakek tetaplah Kakek,” katanya ringan, seolah tak ada hierarki yang memisahkan mereka.
Kata-kata sederhana itu membuat dada Wilhelm membuncah. Ia hanyalah pengawal rendahan, pria yang hidupnya dihabiskan dalam bayang-bayang tugas dan kesetiaan. Namun di hadapan Putri Lily ia tak pernah dipandang rendah, apalagi dianggap kecil.
Ia menunduk lebih dalam, menyembunyikan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Suatu kehormatan tak ternilai bagi saya mendapatkan gelar Kakek dari Anda, Putri. Semoga keberuntungan dari Dewa selalu menyertai hidup Anda.”
"Terimakasih, Kakek."
Pandangan Lily lalu tertuju pada gulungan perkamen yang terikat rapi di pelana kuda Wilhelm.
“Apa itu, Kakek?” tanyanya penasaran.
Wilhelm menarik napas, lalu menjawab dengan suara yang lebih serius. “Itu surat dari Kerajaan Agartha, ditujukan kepada Tuanku Alexius.”
Mata Lily berbinar. “Kalau begitu aku akan mengantarkannya pada Ayahanda.”
Wilhelm tersenyum tipis, menyerahkan perkamen itu. “Terima kasih atas kebaikan hati Anda, Putri.”
Lily tersenyum, lalu mengangkat gaun linennya agar tidak terseret tanah. Ia berlari kecil melewati halaman rumah yang dipenuhi bunga dan tumbuhan, melewati aroma kayu dan tanah basah yang selalu menyambutnya pulang. Suara Danau Teratai Lilac mengiringi langkahnya, mengalir tenang di sisi rumah seakan ikut menjaga rahasia yang ia bawa.
“Ayahanda…!”
“Ibunda…!”
Suara Lily menggema riang saat ia berlari masuk ke dalam rumah, napasnya sedikit terengah, rambutnya berayun oleh angin senja, namun wajahnya bercahaya oleh antusiasme.
"Ayahanda... Ibunda... aku pulang." katanya menunduk hormat.
“Putriku,” Anastasia menoleh, suaranya lembut namun mengandung teguran seorang ibu. “lain kali jangan biarkan senja mengejarmu hingga ke pintu rumah.”
Lily menunduk sedikit, mengangkat gaunnya dengan sopan.
“Maafkan Lily, Ibunda.”
Anastasia mengangguk, lalu menoleh pada benda di tangan putrinya.
"Apa itu, Putri?"
Lily melangkah mendekat.
“Ayahanda, Ibunda,” Ia segera menyerahkan gulungan perkamen itu dengan kedua tangan. “Ini surat dari Kerajaan Agartha yang dibawa oleh Kakek Wilhelm.”
Udara di ruang makan seketika berubah lebih berat. Gulungan perkamen tidak akan datang tanpa maksud. Lexus menerima gulungan itu, mematahkan segel lilin dengan gerakan terlatih. Matanya menyusuri baris demi baris tulisan, dan setiap kata seakan menambah beban di bahunya.
Kepada kakakku Lexus, Kaisar yang dahulu memerintah dengan kebijaksanaan.
Dengan segala kerendahan hati dan kehormatan yang tersisa, aku, Alexius, menuliskan surat ini di tengah malam yang gelisah. Kerajaan Agartha kini berdiri di ambang kehancuran. Ancaman datang dari berbagai penjuru. Batas wilayah diganggu dan kepercayaan rakyat mulai goyah.
Aku telah berusaha mempertahankan mahkota sebagaimana yang kau wariskan, namun kekuatan yang kuhadapi melampaui kemampuanku seorang diri. Maka aku memohon, bukan sebagai Kaisar kepada rakyatnya, melainkan sebagai adik kepada kakaknya.
Kembalilah, Kakak. Seperti janjimu dahulu, bantulah aku mempertahankan kerajaan yang kita cintai. Agar Imperial Agartha tidak jatuh menjadi kisah yang hanya dikenang dalam sejarah.
Dengan hormat dan harap yang mendalam,
Alexius
Kaisar Imperial Agartha
Lexus menutup surat itu perlahan. Wajahnya tetap tenang, namun mata kelabunya menyimpan sesuatu yang dalam.
Anastasia menatapnya lekat, “Ada apa, Suamiku?” tanyanya pelan.
Lexus menggulung kembali surat itu, menyimpannya di sisi meja.
“Kita makan dahulu, istriku.” katanya dengan suara yang tetap tenang, meski jelas menahan sesuatu. “Perkara ini akan kita bicarakan setelahnya.”
Anastasia mengangguk, patuh pada keputusan yang dipilih suaminya.
“Baik, Suamiku.”
Ia lalu menoleh pada Lily.
“Bersihkan dirimu terlebih dahulu, Putri. Setelah itu kita akan makan malam bersama.”
Sang Putri mengangguk, berjalan ke kamar mandi sesuai perintah ibundanya.
Cahaya lampu menyinari ruang utama rumah kayu itu dengan kehangatan. Meja makan telah terhidang, rapi dan sederhana, namun cukup untuk sebuah keluarga yang terbiasa hidup dalam tata krama istana. Aroma roti hangat, sup bening, dan daging panggang memenuhi udara.
Makan malam berlangsung dalam keheningan, waktu seolah memilih melambat demi menghormati kebersamaan mereka. Lexus memperhatikan makanan istrinya, Anastasia, perempuan yang dicintainya dengan seluruh hidup dan jiwanya. Tatapannya bukan sekadar memastikan hidangan itu layak, melainkan ungkapan kasih yang telah teruji oleh pengorbanan dan kebersamaan panjang.
Anastasia menangkap pemandangan itu, membalasnya dengan senyum lembut yang tak perlu kata. Senyum seorang permaisuri yang telah merasakan dicintai seutuhnya.
Setelah itu, tanpa isyarat apa pun, perhatian mereka berpindah pada anak-anak mereka. Pada Pangeran Lian yang makan dengan tenang dan tertib, pada Pangeran Leo yang menyimpan bara semangat di balik geraknya yang gelisah, dan pada Putri Lily, permata keluarga yang duduk anggun, yang membawa cahaya hutan Moonveil bahkan ke meja makan mereka.
Anastasia tersenyum lembut, meski di relung hatinya bersemi firasat bahwa ada sesuatu yang besar tersembunyi di balik surat itu. Sebuah bayangan yang belum berbentuk kata, namun cukup berat untuk dirasakan.
Namun ketika pandangannya bertaut dengan mata Lexus, kegelisahan itu perlahan mereda. Tatapan suaminya yang tenang, teguh, dan penuh keyakinan menjadi jangkar bagi jiwanya. Selama Lexus berdiri di sisinya, Anastasia tahu, apa pun yang menanti di depan akan mereka hadapi bersama tanpa gentar. Lexus adalahperisai keluarga, seorang suami sekaligus ayah bagi ketiga anak-anak mereka.
nenek sihirny nanti Menjelma jdi Cinderelaa Loh CiLLLL🤣