Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: MEMBONGKAR KORUPSI KE MEDIA
#
Jam lima pagi.
Kami bernam sudah berkumpul di warnet yang sama.
Aku, Vanya, Adrian, Nareswari, Arjuna, Bu Ratna.
Ibu sudah mulai membaik. Tadi pagi dia sempat buka mata. Senyum tipis waktu aku pegang tangannya. Dokter bilang kondisinya stabil. Aku titip ayah sama Pak Hadi buat jagain ibu di puskesmas.
Sekarang waktunya.
Waktunya kami bongkar semuanya.
Nareswari buka laptop pinjaman baru dari Bu Ratna. Dia masukin flashdisk. Dia buka file laporan yang kemarin kami susun.
Dua puluh halaman. Lengkap dengan ratusan foto dokumen. Puluhan rekaman audio. Semua bukti kejahatan Pak Bambang dan Pak Julian.
"Oke. Siap?"
Kami semua ngangguk.
Nareswari mulai kirim email.
Email pertama ke Kompas. Subjek: LAPORAN PENGADUAN KORUPSI DANA BEASISWA PRESTASI KEDOKTERAN SMA NEGERI 3 JAKARTA.
Kirim.
Email kedua ke Detik. Kirim.
Email ketiga ke Tempo. Kirim.
Email keempat ke Metro TV. Kirim.
Satu per satu. Ke semua media nasional yang kami tau.
Terus ke lembaga-lembaga.
KPK. Kirim.
Ombudsman. Kirim.
Kemendikbud. Kirim.
Kepolisian. Kirim.
Total dua puluh tiga email.
Selesai.
Kami semua tarik napas lega.
"Udah. Semua terkirim."
Tapi Adrian geleng. "Belum cukup. Kita harus bikin viral. Kita harus upload ke media sosial. Biar semua orang tau."
Arjuna ngangguk. "Gue setuju. Kita bikin video. Video Satria cerita tentang semuanya. Tentang penderitaan dia. Tentang korupsi beasiswa. Upload ke semua platform."
Aku liat mereka. "Video? Tapi... tapi aku gak bisa ngomong di depan kamera..."
Vanya pegang tangan aku. "Sat, lu cuma perlu cerita jujur. Cerita dari hati. Gak usah dibuat-buat. Orang-orang bakal ngerti. Mereka bakal tersentuh."
Bu Ratna senyum. "Satria, kamu sudah berjuang sejauh ini. Jangan takut sekarang. Ceritakan semua yang kamu rasakan. Biar seluruh Indonesia tau apa yang terjadi di sekolah kita."
Aku mikir. Terus aku ngangguk. "Oke. Aku akan lakuin."
***
Kami pinjam kamera video dari Bu Ratna. Kamera digital yang dia pake buat ngajar.
Kami setup di sudut warnet yang paling terang.
Aku duduk di depan kamera. Vanya, Adrian, Nareswari, Arjuna berdiri di belakang kamera.
"Sat, lu siap?" tanya Adrian.
Aku tarik napas dalam. "Siap."
"Oke. Rekaman dimulai. Tiga... dua... satu... mulai!"
Lampu merah kamera nyala.
Aku liat kamera. Jantung berdetak cepat.
Mulai ngomong.
"Nama saya Satria Bumi Aksara. Siswa kelas dua belas SMA Negeri 3 Jakarta. Saya... saya anak miskin. Ayah saya lumpuh. Ibu saya tukang cuci. Kami tinggal di kontrakan yang... yang kemarin dibakar."
Suaraku gemetar. Tapi aku lanjutin.
"Saya masuk SMA Negeri 3 lewat jalur beasiswa prestasi. Nilai saya selalu sempurna. Tapi... tapi saya selalu dihina. Diludahi. Dijauhin. Karena saya miskin. Karena baju saya lusuh. Karena saya jalan kaki lima kilometer ke sekolah."
Air mata mulai keluar. Tapi aku gak lap. Biar keliatan.
"Saya ikut seleksi beasiswa prestasi kedokteran dari pemerintah. Saya jawab semua soal dengan benar. Tapi saya gak lolos. Yang lolos... yang lolos semua anak orang kaya. Anak-anak yang nilai mereka jelek. Kenapa?"
Aku keluarin foto-foto dokumen dari amplop. Aku tunjukin ke kamera satu per satu.
"Karena ini. Karena korupsi. Pak Bambang Sutrisno, Kepala Yayasan SMA Negeri 3 Jakarta, sama Pak Julian Mahendra, Wakil Kepala Sekolah, mereka jual kursi beasiswa. Lima ratus juta per kursi. Total mereka dapet miliaran rupiah."
Aku tunjukin foto Pak Bambang nerima amplop dari ayahnya Bagas.
"Ini buktinya. Foto transaksi. Dokumen transfer. Rekaman percakapan. Semua ada."
Aku taruh foto-foto itu. Aku liat kamera lagi.
"Saya dan teman-teman saya... kami berjuang untuk membongkar ini. Kami dipukul preman. Rumah saya dibakar. Ibu saya kolaps. Tapi... tapi kami gak akan berhenti. Karena ini bukan cuma tentang saya. Ini tentang ribuan anak miskin lain yang haknya dicuri oleh orang-orang serakah."
Air mata jatuh makin deras. Suaraku patah-patah.
"Kepada Bapak Presiden... kepada KPK... kepada semua orang yang punya hati nurani... tolong... tolong selamatkan anak-anak miskin seperti saya. Tolong hukum orang-orang yang mencuri masa depan kami. Tolong... tolong jangan biarkan mereka lolos..."
Aku tutup muka pake tangan. Nangis.
"Cukup. Stop rekaman."
Adrian matiin kamera.
Vanya langsung peluk aku. "Sat... lu hebat... lu beneran hebat..."
Aku nangis di pelukan Vanya. Semua keluar. Semua sakit. Semua penderitaan.
***
Kami edit video itu. Cuma potong bagian awal sama akhir. Sisanya kami biarkan apa adanya. Raw. Asli.
Total durasi video tujuh menit.
Kami upload ke semua platform.
Tiktok. Instagram. Facebook. Twitter. Youtube.
Judul: ANAK MISKIN BONGKAR KORUPSI BEASISWA DI SMA NEGERI 3 JAKARTA.
Upload.
"Selesai. Sekarang kita tunggu."
Kami duduk di warnet. Nunggu. Liat layar komputer.
Satu jam pertama, gak ada yang nonton. Cuma puluhan views.
Jam kedua, mulai naik. Ratusan views.
Jam ketiga, ribuan views.
Jam keempat, puluhan ribu views.
Dan...
Komentarnya berdatangan.
"Ya Allah, ini nyata? Kasian banget anak ini..."
"Bapak Bambang harus ditangkap! Ini korupsi jelas!"
"Saya ikut sedih nonton video ini. Semangat Satria!"
"Share sebanyak-banyaknya! Jangan biarkan koruptor lolos!"
Adrian teriak. "Sat! Video lu viral! Udah dua ratus ribu views!"
Vanya ketawa sambil nangis. "Orang-orang pada dukung kita! Mereka percaya sama kita!"
Nareswari liat emailnya. "Sat! Ada wartawan yang mau wawancara kita! Dari Kompas! Dari Metro TV! Mereka mau datang ke sekolah!"
Jantungku berdetak kenceng.
Ini... ini beneran terjadi.
Kami... kami berhasil bikin heboh.
***
Siang itu, wartawan-wartawan mulai berdatangan ke SMA Negeri 3 Jakarta.
Mobil-mobil van media parkir di depan sekolah. Kamera besar. Mikrofon. Reporter-reporter dengan blazer rapi.
Kami berempat Vanya, Adrian, Nareswari, Arjuna berdiri di depan gerbang sekolah. Aku gak bisa masuk karena masih diskors. Tapi wartawan minta wawancara aku di luar.
"Satria, bisa ceritakan kronologi kejadian korupsi beasiswa ini?"
Aku cerita dari awal. Dari aku ikut seleksi. Gak lolos. Dapet info dari Pak Joko. Ketemu Vanya yang punya bukti. Nareswari yang kumpulin dokumen. Arjuna yang bantuin ambil dokumen dari brankas.
Semua aku ceritain. Jelas. Detail.
Wartawan-wartawan pada catat. Kamera ngerekam.
"Satria, apa yang kamu mau dari pemerintah?"
"Saya mau... saya mau keadilan. Saya mau Pak Bambang dan Pak Julian dihukum. Saya mau dana beasiswa yang dikorupsi dikembalikan. Dan saya mau... saya mau semua anak miskin yang jadi korban dapat haknya."
"Kamu tidak takut dituntut pencemaran nama baik?"
"Saya gak takut. Karena saya punya bukti. Bukti yang jelas. Saya siap dihadapkan ke pengadilan. Saya siap mempertanggungjawabkan semua yang saya katakan."
Wartawan ngangguk. "Terima kasih, Satria. Kamu anak yang sangat berani."
***
Wartawan masuk ke sekolah. Mereka minta wawancara Pak Bambang dan Pak Julian.
Di ruang Kepala Sekolah, Pak Bambang sama Pak Julian duduk dengan muka tegang.
Wartawan langsung tanya. "Pak Bambang, bagaimana tanggapan Bapak tentang tuduhan korupsi dana beasiswa?"
Pak Bambang geleng keras. "Ini fitnah! Ini tuduhan yang gak berdasar! Kami tidak pernah korupsi apapun!"
"Tapi ada bukti foto, dokumen transfer, rekaman percakapan. Bagaimana Bapak jelaskan itu?"
Pak Bambang keringetan. "Itu... itu foto palsu! Rekayasa! Anak-anak itu yang bikin-bikin!"
"Kalau foto itu palsu, kenapa di foto itu terlihat jelas wajah Bapak menerima amplop dari orang tua murid?"
Pak Bambang gak bisa jawab. Mukanya pucat.
Pak Julian coba bantuin. "Kami... kami akan tuntut Satria dan kawan-kawannya dengan pencemaran nama baik. Mereka sudah merusak reputasi sekolah kami!"
Wartawan nyodorin mikrofon. "Jadi Bapak akan menuntut anak-anak yang membongkar korupsi? Bukannya seharusnya Bapak berterima kasih karena mereka berani mengungkap kebenaran?"
Pak Julian terdiam. Keringat bercucuran.
***
Sore itu, berita tentang korupsi beasiswa di SMA Negeri 3 Jakarta jadi headline di semua media.
TV nasional nge-breaking news. Koran online pasang judul gede. Media sosial rame banget.
Aku, Vanya, Adrian, Nareswari, Arjuna nonton berita di warung Pak Hadi.
Di TV, reporter berdiri di depan sekolah.
"Kasus korupsi dana beasiswa yang dilakukan Kepala Yayasan SMA Negeri 3 Jakarta kini menjadi sorotan publik. Lima siswa berani membongkar kejahatan ini meski menghadapi ancaman dan intimidasi. Mereka adalah pahlawan sesungguhnya."
Kami saling pandang. Senyum.
Pahlawan.
Kami dipanggil pahlawan.
Tapi entah kenapa... aku gak ngerasa kayak pahlawan.
Aku cuma... cuma anak yang pengen keadilan.
***
Malam itu, jam delapan.
Hape Bu Ratna berdering. Dia angkat.
"Halo? Iya, benar. Saya guru di SMA Negeri 3 Jakarta. Oh, dari KPK? Iya, saya bisa bantu. Baik. Besok pagi? Baik. Kami akan siap. Terima kasih."
Bu Ratna tutup telpon. Mukanya seneng banget.
"Anak-anak! KPK resmi buka penyelidikan! Mereka akan datang besok pagi untuk periksa dokumen dan wawancara kita semua!"
Kami teriak seneng. Pelukan rame-rame.
"KITA MENANG! KITA BENERAN MENANG!"
Tapi aku diem.
Ini belum menang.
Ini baru awal.
Pertempuran sesungguhnya... baru akan dimulai.
***
*