NovelToon NovelToon
Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!

Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.

Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.


Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.

Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai pecah di altar

Musik "A Thousand Years" mengalun memenuhi gereja.

Pintu besar terbuka lebar, dan semua mata tertuju pada Mayra Andini Kusumo yang berdiri di ambang pintu dengan gaun pengantin yang memukau. Cahaya matahari dari jendela kaca patri menerpa veil-nya, menciptakan efek ethereal yang membuat dia terlihat seperti bidadari yang turun dari surga.

Ratusan tamu berdiri, menoleh ke belakang dengan senyum kagum. Kamera berkedip tanpa henti. Bisikan "cantik sekali" terdengar di sana-sini.

Tapi Mayra tidak melihat mereka semua.

Matanya langsung mencari satu sosok di barisan paling belakangdan dia menemukannya.

Dev Armando duduk di pojok kanan, barisan terakhir, mengenakan tuxedo hitam yang sempurna di tubuh atletisnya. Rambut hitam tersisir rapi ke belakang, wajah tampan dengan ekspresi tenang tapi mata tajam yang menatap Mayra dengan intens.

Saat mata mereka bertemu, Dev mengangguk sedikit, sebuah gesture kecil yang mengatakan: "Saya di sini. Lakukan sesuai rencana."

Mayra merasakan dadanya yang sesak sedikit lega. Dia tidak sendirian.

Bambang memegang lengan Mayra dengan lebih erat. "Kamu siap, sayang?"

Mayra menarik napas dalam dan mengangguk. "Siap, Pa."

Mereka mulai berjalan perlahan di aisle yang dihias dengan rangkaian bunga mawar putih dan pita satin. Setiap langkah terasa berat, bukan karena gaun yang berat, tapi karena beban yang dia pikul.

Mata Mayra akhirnya beralih ke depan--ke altar.

Arman berdiri di sana dengan tuxedo hitam, bow tie putih, boutonniere mawar putih di dada kirinya. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya tampan dengan senyum lebar yang terlihat sangat... bahagia.

Pria itu menatap Mayra dengan mata berbinar, seolah dia benar-benar jatuh cinta. Seolah dia tidak pernah mengkhianati.

Di sebelah Arman berdiri groomsmen-nya, lima orang dengan tuxedo matching. Dan di sisi lain altar, bridesmaids sudah berdiri rapi dengan bouquet mereka.

Zakia berdiri di posisi pertama sebagai maid of honor, tersenyum manis sambil memegang bouquet-nya. Tapi Mayra bisa melihat, mata kakak tirinya itu sesekali melirik ke Arman dengan tatapan yang... penuh hasrat.

Mayra merasakan amarah mendidih di perutnya. Tapi wajahnya tetap tenang, senyumnya tetap sempurna.

Saat Mayra dan Bambang sampai di tengah aisle, Mayra melirik ke kanan, ke barisan keluarga pengantin pria.

Pak Hendra dan Nyonya Dewi duduk di barisan depan dengan senyum lebar, terlihat sangat bangga. Di belakang mereka ada saudara-saudara keluarga Prasetyo, semua berpakaian mewah, semua tersenyum.

Mereka tidak tahu badai apa yang akan datang.

Lalu Mayra melirik ke kiri, barisan keluarga pengantin wanita.

Siska duduk di samping kursi kosong (kursi ayahnya yang sekarang sedang mengantarkan Mayra), mengenakan dress cream dengan perhiasan berlebihan, makeup menor, tersenyum lebar sambil sesekali mengelap air mata, sebuah acting yang berlebihan.

Di belakangnya ada kerabat keluarga Kusumo, teman-teman keluarga, semua datang untuk menyaksikan pernikahan "bahagia" ini.

Akhirnya, setelah yang terasa seperti berjalan selamanya, Mayra dan Bambang sampai di depan altar.

Pastor--seorang pria paruh baya dengan rambut beruban dan senyum hangat--menyambut mereka.

"Siapa yang menyerahkan wanita ini untuk menikah dengan pria ini?" tanya Pastor dengan suara khidmat.

Bambang menarik napas bergetar. "Saya, ayahnya."

Air mata mulai mengalir di pipi Bambang. Dia melepas tangan Mayra perlahan, lalu mencium kening putrinya dengan lembut.

"Papa mencintaimu, Mayra. Selamanya," bisiknya dengan suara serak.

Mayra merasakan dadanya sesak. "Aku juga mencintai Papa."

Bambang tersenyum meskipun air mata terus mengalir, lalu dia menyerahkan tangan Mayra ke tangan Arman.

Arman menggenggam tangan Mayra dengan hangat--terlalu hangat untuk pria yang sudah mengkhianatinya.

"Kamu cantik luar biasa," bisik Arman sambil menatap mata Mayra dengan tatapan yang terlihat sangat tulus.

Mayra hanya tersenyum, senyum yang tidak sampai ke mata.

Bambang kembali ke barisan keluarga dan duduk di samping Siska. Musik perlahan berhenti. Kemudian gereja menjadi hening.

Pastor tersenyum pada Mayra dan Arman. "Silakan, mari kita mulai."

Arman dan Mayra berdiri berhadapan di depan altar. Groomsmen dan bridesmaids berdiri di samping mereka. Semua mata tertuju pada pasangan pengantin.

Pastor membuka buku besar di tangannya dan mulai berbicara dengan suara yang mengalun khidmat ke seluruh gereja.

"Saudara-saudara sekalian, kita berkumpul di sini pada hari yang indah ini untuk menyaksikan penyatuan dua jiwa--Mayra Andini Kusumo dan Arman Prasetyo--dalam ikatan pernikahan yang kudus."

Mayra bisa mendengar beberapa tamu menyeka air mata. Siska sudah terisak pelan dengan tisu di tangan. Nyonya Puspita tersenyum bangga sambil memegang tangan suaminya.

Semua orang terlihat bahagia.

Kecuali Mayra.

Di balik senyumnya, dia sedang menghitung detik.

"Pernikahan adalah institusi yang sakral," Pastor melanjutkan. "Sebuah janji seumur hidup yang dibuat di hadapan Tuhan dan saksi-saksi di sini. Ini bukan keputusan yang dibuat dengan tergesa-gesa, tapi dengan pertimbangan matang dan cinta yang tulus."

Cinta yang tulus. Mayra hampir tertawa sinis mendengar kata-kata itu.

Pastor menatap Arman dan Mayra. "Arman Prasetyo, apakah Anda datang ke sini dengan kehendak bebas untuk menikahi wanita ini?"

"Ya, Pastor. Saya datang dengan kehendak bebas," jawab Arman dengan suara lantang dan percaya diri--suara pria yang tidak punya dosa di hatinya.

"Mayra Andini Kusumo, apakah Anda datang ke sini dengan kehendak bebas untuk menikahi pria ini?"

Mayra terdiam satu detik, satu detik yang terasa seperti jam.

"Ya, Pastor. Saya datang dengan kehendak bebas," jawabnya dengan suara yang lebih tenang tapi tetap jelas.

Beberapa tamu tersenyum haru. Tidak ada yang menyadari ironi di balik jawaban Mayra.

Pastor melanjutkan dengan pembacaan doa panjang tentang makna pernikahan, tentang komitmen, tentang cinta yang abadi. Mayra mendengar dengan setengah telinga. Pikirannya terus menghitung.

Sebentar lagi. Sebentar lagi.

Setelah doa selesai, Pastor menutup bukunya dan menatap jemaat.

"Sebelum kita lanjut ke pembacaan janji pernikahan, ada prosedur yang harus saya lakukan sesuai tradisi gereja," kata Pastor sambil memindai seluruh jemaat dengan tatapan serius.

Ini dia.

Moment yang Mayra tunggu-tunggu.

Jantungnya mulai berdebar kencang. Tangannya yang dipegang Arman mulai berkeringat. Napasnya menjadi sedikit pendek.

Di sudut matanya, Mayra bisa melihat Dev masih duduk tenang di barisan belakang. Tapi postur tubuhnya sedikit tegang, siap untuk bergerak.

Pastor mengambil napas dalam dan bersuara dengan nada khidmat yang bergema di seluruh gereja:

"Jika ada seseorang di sini yang memiliki alasan sah mengapa kedua insan ini tidak seharusnya dipersatukan dalam pernikahan yang kudus..."

Keheningan total.

Semua orang menahan napas--meskipun ini hanya formalitas, tapi tetap moment yang menegangkan.

"...silakan angkat bicara sekarang, atau selamanya diam."

Detik pertama--hening.

Detik kedua--tidak ada yang bergerak.

Detik ketiga--

"SAYA KEBERATAN!"

Suara Mayra memecah keheningan seperti petir di siang bolong.

Seluruh gereja sontak membeku.

Pastor menatap Mayra dengan mata melebar, tidak percaya.

Arman langsung pucat pasi. "Mayra... apa yang kau--"

"Saya keberatan dengan pernikahan ini," ulang Mayra dengan suara lebih keras, lebih tegas--suara yang penuh keteguhan.

Gereja meledak dalam bisikan keras. Tamu-tamu berbisik dengan bingung, shock, tidak percaya apa yang baru saja terjadi.

"Oh my God!"

"Apa yang terjadi?"

"Pengantin wanitanya yang keberatan?!"

"Ini lelucon apa?!"

Bambang berdiri dari kursinya. "Mayra! Sayang! Apa yang kamu lakukan?!"

Siska ikut berdiri dengan wajah merah padam. "MAYRA ANDINI KUSUMO! APA-APAAN INI?!"

Nyonya Puspita terlihat sangat shock sampai tangannya menutupi mulut. Pak Hendra berdiri dengan wajah marah. "Apa maksud semua ini?!"

Tapi Mayra tidak melihat mereka semua.

Matanya tertuju pada satu sosok di barisan belakang.

"Pak Dev Armando," panggil Mayra dengan suara yang mengalun jelas di tengah chaos. "Maukah Bapak maju ke depan?"

Semua mata langsung mencari sosok yang dimaksud.

Dev berdiri perlahan dari kursinya.

Langkah pertamanya membuat seluruh gereja semakin heboh.

"Dev?!" Pak Hendra menatap adiknya dengan mata melebar. "Apa yang kau lakukan?!"

Tapi Dev tidak menjawab. Dia berjalan dengan tenang melewati barisan demi barisan dengan langkah panjang yang penuh wibawa. Tuxedo hitamnya sempurna, auranya menakutkan tapi juga memukau.

Semua orang memberi jalan dengan tatapan shock.

Arman menatap pamannya dengan wajah yang semakin pucat. "Paman... ini... apa yang--"

Zakia terlihat sangat bingung dan sedikit panik. "Mayra, apa yang kamu lakukan?!"

Mayra melepaskan tangannya dari genggaman Arman dan melangkah mundur beberapa langkah.

Dev akhirnya sampai di depan altar. Dia berdiri di samping Mayra, menatapnya dengan tatapan yang dalam.

"Anda yakin dengan ini?" bisik Dev, cukup pelan untuk hanya Mayra yang mendengar.

"Sangat yakin," bisik Mayra balik.

Dev mengangguk, lalu dia berbalik menghadap seluruh jemaat yang masih dalam keadaan shock total.

Pastor terlihat sangat bingung. "Nona Kusumo... Tuan Armando... bisa tolong jelaskan apa yang sedang terjadi?"

Mayra mengambil napas dalam. Ini dia. Moment of truth.

Dia berbalik menghadap jemaat, ratusan pasang mata yang menatapnya dengan bingung, marah, shock.

"Saya keberatan dengan pernikahan ini," Mayra berbicara dengan suara yang jelas dan tegas. "Karena pria yang seharusnya jadi suami saya--Arman Prasetyo--telah berselingkuh dengan kakak tiri saya sendiri."

BOOM.

Seolah bom dijatuhkan.

Gereja meledak dalam kekacauan total.

"WHAT?!"

"Oh my God!"

"Tidak mungkin!"

"SCANDAL!"

Bambang hampir jatuh, untung Siska sempat menopangnya meski wajahnya sendiri shock luar biasa.

Nyonya Puspita berteriak. "INI FITNAH! ANAK SAYA TIDAK MUNGKIN MELAKUKAN ITU!"

Pak Hendra menatap Arman dengan tatapan menyelidik. "Arman... apa ini benar?"

Arman terlihat seperti akan pingsan. Wajahnya putih pucat, mulutnya terbuka tapi tidak ada kata yang keluar.

Dan Zakia-- perempuan itu mundur beberapa langkah dengan wajah yang tiba-tiba berubah sangat pucat.

"May... Mayra... apa yang kamu bicarakan?" suara Zakia bergetar.

Mayra menatap kakak tirinya dengan tatapan dingin yang membuat zakia bergidik.

"Jangan pura-pura tidak tahu, Kak," kata Mayra dengan suara yang sangat tenang tapi menusuk. "Aku punya buktinya."

Mayra memberi isyarat pada wedding organizer yang berdiri bingung di samping. Wanita itu tertegun, tapi akhirnya menghampiri Mayra dengan tablet di tangan, sebuah tablet yang sudah Mayra siapkan sejak tadi pagi.

Mayra mengambil tablet itu dan menyerahkannya pada Pastor. "Pastor, tolong tampilkan di proyektor."

Pastor terlihat sangat ragu, tapi akhirnya mengambil tablet itu dengan tangan gemetar.

Layar besar di samping altar--yang seharusnya untuk menampilkan slide doa—tiba-tiba menyala.

Dan foto pertama muncul.

Arman dan zakia di lounge hotel The Ritz-Carlton, mereka duduk terlalu dekat. Terlihat Arman yang memeluk bahu zakia.

Gereja meledak lagi.

"Oh my God!"

"Itu benar Arman!"

"Dan itu... Zakia? Kakaknya Mayra?!"

Foto kedua muncul, Zakia mencium pipi Arman. Sangat jelas dan tidak bisa dibantah.

Foto ketiga--mereka tertawa bersama dengan intim, tangan Arman berada di pinggang Zakia.

Dan foto-foto lainnya,puluhan foto yang Mayra ambil malam itu.

Bukti yang tidak bisa dibantah.

Nyonya Puspita menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata mengalir. Pak Hendra menatap anaknya dengan tatapan yang penuh kekecewaan dan amarah.

Bambang terlihat hancur-- pria yang kuat itu terduduk lemas di kursi dengan wajah yang sangat pucat.

Sementara Rani, dia terlihat mencoba berlari menuju pintu keluar.

"ZAKIA!" teriak Siska. "KE MANA KAU MAU PERGI?!"

Tapi Zakia tidak peduli. Dia berlari dengan dress bridesmaid-nya, mencoba kabur dari aib yang baru saja terbongkar.

Dev memberi isyarat pada dua orang security yang langsung menghalangi pintu. Zakia terjebak.

Semua mata kembali ke altar.

Arman akhirnya bicara dengan suara bergetar. "Mayra... aku... ini tidak seperti yang kamu kira... kami hanya--"

"Hanya apa, Arman?" potong Mayra dengan suara dingin. "Hanya berselingkuh di belakangku selama berbulan-bulan? Hanya mengkhianatiku dengan kakak tiriku sendiri sambil terus berpura-pura mencintaiku?"

Arman terdiam. Tidak ada pembelaan yang bisa dia berikan.

Mayra menatap seluruh jemaat dengan kepala tegak--tidak ada air mata, tidak ada kesedihan, hanya kekuatan.

"Saya tidak akan menikah dengan pria yang sudah mengkhianati saya," kata Mayra dengan tegas.

Lalu dia berbalik menatap Dev yang berdiri tenang di sampingnya.

"Tapi saya akan tetap menikah hari ini," lanjut Mayra sambil menatap mata Dev.

Dan dengan suara yang mengalun jelas ke seluruh gereja, Mayra berkata:

"Dev Armando, maukah Anda menikahi saya?"

******

1
arniya
mampir kak
Siti Maryati
enak alur ceritanya
Siti Maryati
👏👏👏👏
Ryn
lanjut thourr
Siti Maryati
aku juga siap .....
menunggu mu update lagi
Siti Maryati
Doble triple ya up nya
olyv
lanjut....
Siti Maryati
seru
Siti Maryati
ditunggu up nya ya
astr.id_est 🌻
😄😄 wahh karya baru lagi thor semangat terus ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!