Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 1: Cawan Anggur Beracun dan Kebangkitan Sang Iblis
Rasa sakit itu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia seperti ribuan jarum panas yang dipaksa masuk ke dalam tenggorokan, menjalar ke paru-paru, dan membakar jantung. Elara terjatuh di atas karpet beludru merah di ruang kerjanya yang mewah. Napasnya tersengal, pendek, dan berbau besi—bau darahnya sendiri.
Di depannya, berdiri seorang pria yang selama lima tahun ini ia panggil "suami". Adrian. Pria dengan wajah malaikat itu kini menatapnya dengan pandangan dingin yang kosong, seolah Elara hanyalah rongsokan yang menghalangi jalan. Di samping Adrian, berdiri Sera—asisten pribadi Elara yang sudah ia anggap seperti adik sendiri. Sera tidak lagi menunduk malu; ia berdiri tegak, tangannya melingkar mesra di lengan Adrian.
"Kenapa...?" bisik Elara, darah mulai merembes dari sudut bibirnya.
Adrian berlutut, menyamakan tingginya dengan Elara yang sekarat. Ia mengusap pipi Elara dengan lembut—sentuhan yang dulu membuat jantung Elara berdebar, namun kini membuatnya mual.
"Kau terlalu pintar, Elara. Kau membangun kerajaan bisnis ini dengan sangat baik hingga aku merasa seperti bayang-bayang. Dan sekarang, setelah semua aset dialihkan atas namaku, kau sudah tidak berguna lagi. Sera lebih tahu cara menyenangkan pria daripada kau yang selalu sibuk dengan laporan keuangan."
Sera terkekeh, suara tawa yang sangat berbeda dari suara lembut yang biasa Elara dengar. "Terima kasih atas segalanya, Kak Elara. Jangan khawatir, aku akan merawat Adrian... dan hartamu, dengan sangat baik."
Dunia Elara perlahan menjadi gelap. Hal terakhir yang ia dengar adalah suara pintu yang tertutup rapat, meninggalkannya mati sendirian di dalam kegelapan. Namun, di ambang kematiannya, sebuah siluet mendobrak pintu. Seorang pria dengan jubah hitam besar, matanya yang tajam tampak berkaca-kaca saat meneriakkan namanya.
Grand Duke Alaric? Kenapa dia ada di sini?
Lalu, semuanya lenyap. Hitam total.
[Dua Tahun Sebelumnya]
Sret!
Elara tersentak bangun. Ia menarik napas dalam-dalam, paru-parunya terasa seolah baru saja menghirup oksigen untuk pertama kalinya setelah tenggelam. Keringat dingin membasahi dahi dan punggungnya. Ia segera meraba lehernya.
Dingin. Halus. Tidak ada bekas luka. Tidak ada rasa terbakar.
Ia menoleh ke sekeliling. Ini bukan ruang kerja tempat ia mati. Ini adalah kamar tidurnya di kediaman keluarga Marquess, rumah masa kecilnya sebelum ia menikah dengan Adrian. Sinar matahari pagi masuk melalui jendela besar, menerangi debu-debu halus yang menari di udara.
Elara bangkit dengan kaki gemetar dan berjalan menuju cermin besar. Di sana, ia melihat pantulan dirinya. Seorang wanita muda berusia 22 tahun dengan rambut putih panjang yang berkilau seperti perak dan mata pink menyala yang tampak jernih—belum redup oleh kesedihan pernikahan yang gagal.
"Aku... kembali?" bisiknya. Suaranya masih utuh. Belum rusak oleh racun.
Sebuah kalender di meja rias menarik perhatiannya. 15 Mei 2024. Ini adalah hari di mana Adrian akan datang ke rumahnya untuk melamarnya secara resmi di depan ayahnya. Di kehidupan sebelumnya, hari ini adalah awal dari nerakanya. Namun kali ini, hari ini akan menjadi awal dari pembalasan dendamnya.
"Nona? Anda sudah bangun?" Sebuah suara lembut terdengar dari balik pintu. Itu adalah kepala pelayan setianya, Martha, yang di kehidupan lalu dipecat oleh Adrian dengan tuduhan palsu.
"Masuklah, Martha," jawab Elara, berusaha menstabilkan suaranya.
Martha masuk membawa nampan berisi teh hangat. "Tuan Besar berpesan agar Nona segera bersiap. Tuan Muda Adrian akan segera tiba untuk kunjungan penting."
Mendengar nama itu, mata pink Elara berkilat dengan kebencian yang murni. "Martha, ganti teh ini dengan kopi hitam yang paling pahit. Aku butuh sesuatu untuk mengingatkanku pada kenyataan."
Martha tampak bingung, namun ia patuh. Elara duduk di depan cermin, membiarkan pelayan lain menata rambut putihnya. Ia menolak gaun merah muda yang biasa ia pakai untuk menyenangkan Adrian.
"Ambilkan aku gaun berwarna ungu tua dengan aksen hitam. Dan pastikan perhiasanku bukan mutiara, tapi batu rubi merah," perintah Elara dingin.
Dua jam kemudian, Elara menuruni tangga utama dengan langkah yang anggun namun penuh penekanan. Di ruang tamu bawah, Adrian sudah duduk bersama ayahnya, Marquess Lane. Adrian tampak sangat tampan dengan setelan jas abu-abunya, senyum "pria budiman" terpatri di wajahnya.
Namun, saat Elara muncul, senyum Adrian sedikit goyah. Ia terbiasa melihat Elara yang lembut dan memakai warna-warna pastel yang feminin. Elara yang sekarang tampak seperti seorang ratu yang siap berangkat perang.
"Elara, sayang, kau tampak... berbeda hari ini," ucap Adrian sambil berdiri dan mencoba meraih tangan Elara untuk menciumnya.
Elara menarik tangannya dengan halus sebelum Adrian sempat menyentuhnya, berpura-pura merapikan rambutnya. "Benarkah? Mungkin hanya karena aku akhirnya bisa melihat segala sesuatunya dengan lebih jelas, Adrian."
Marquess Lane berdehem. "Adrian baru saja menyampaikan niatnya untuk melamarmu, Elara. Dia bilang dia ingin menjagamu selamanya."
Menjagaku? Atau menjagat hartaku? batin Elara pedas.
"Aku sangat tersanjung, Ayah," Elara duduk di kursi tunggal, bukannya di samping Adrian. "Namun, pernikahan adalah hal besar. Aku punya satu syarat sebelum kita melangkah lebih jauh."
Adrian mengerutkan kening. Di kehidupan lalu, Elara langsung menerima tanpa syarat. "Apa pun untukmu, Elara."
"Aku ingin semua kontrak bisnis yang sedang dikerjakan keluarga kita mulai hari ini, harus melewati tanda tanganku secara pribadi. Tidak ada satu pun dokumen yang boleh keluar tanpa persetujuanku," kata Elara dengan nada yang tak terbantah.
Wajah Adrian memucat sesaat. "Tapi Elara, kau tahu bisnis itu melelahkan. Aku ingin menikahimu agar kau bisa beristirahat dan biarkan aku yang memikul beban itu—"
"Aku tidak butuh istirahat, Adrian. Aku butuh kontrol," Elara memotong pembicaraan dengan tajam. Matanya yang pink menyala seolah menembus jiwa Adrian yang busuk. "Jika kau keberatan, mungkin kau bukan pria yang tepat untukku."
Suasana di ruangan itu membeku. Marquess Lane menatap putrinya dengan takjub; ia belum pernah melihat Elara setegas ini. Sementara Adrian, yang sangat ambisius, terpaksa menelan amarahnya dan tersenyum paksa. "Tentu, jika itu yang membuatmu tenang, aku setuju."
Sore harinya, Elara meminta kereta kudanya disiapkan. Ia tidak pergi ke butik atau ke taman bunga. Ia pergi ke wilayah utara kota yang dingin dan terasing, tempat berdirinya kastil hitam yang megah.
Kastil Ravenhurst.
Ia turun dari kereta dan berdiri di depan gerbang besi raksasa yang dijaga oleh prajurit berseragam hitam. "Katakan pada Grand Duke Alaric, bahwa Elara Lane ingin menagih janji yang belum pernah ia ucapkan."
Para penjaga sempat ragu, namun aura yang dipancarkan Elara membuat mereka tidak berani menolak. Tak lama kemudian, gerbang terbuka. Elara dibawa masuk ke dalam aula besar yang gelap, hanya diterangi oleh obor-obor di dinding.
Di ujung aula, di atas tahta yang terbuat dari obsidian, duduklah pria itu. Alaric von Ravenhurst. Pria yang di kehidupan lalu menatap mayatnya dengan penuh duka. Rambutnya hitam legam, matanya tajam seperti elang, dan kehadirannya seolah menghisap udara di sekitarnya.
Alaric bangkit dari duduknya, langkah sepatunya bergema di lantai marmer. Ia berhenti tepat di depan Elara.
"Putri Marquess Lane datang ke tempat terkutuk ini tanpa undangan," suara Alaric berat dan dalam. "Apa kau tahu apa yang biasanya terjadi pada orang yang mengusik ketenanganku?"
Elara tidak mundur satu inci pun. Ia menengadah, menatap mata Alaric. "Aku tahu kau mencintaiku, Alaric. Dan aku tahu kau membenci Adrian lebih dari apa pun di dunia ini."
Alaric terdiam. Ekspresi dinginnya retak sejenak, digantikan oleh keterkejutan yang murni. "Dari mana kau—"
"Itu tidak penting," potong Elara. Ia mendekat, aroma parfum mawar dan besi bercampur di antara mereka. "Aku datang untuk menawarkan aliansi. Bantu aku menghancurkan Adrian dan setiap orang yang berdiri di belakangnya. Sebagai gantinya, kau bisa memilikiku, atau hartaku, atau apa pun yang kau inginkan setelah semuanya berakhir."
Alaric menatapnya dengan intens. Ia bisa melihat api dendam yang membara di mata pink Elara—api yang tidak pernah ada sebelumnya. Ia mengulurkan tangannya yang besar, jemarinya menyentuh dagu Elara dengan posesif.
"Aku tidak butuh hartamu, Elara," bisik Alaric, suaranya mengandung ancaman sekaligus pengabdian. "Aku hanya butuh kau tetap hidup. Jika kau memintaku membakar dunia untuk pembalasan dendammu, aku akan menyalakan apinya sekarang juga."
Elara tersenyum—senyum pertamanya yang tulus sejak ia terlahir kembali. Ini adalah awal yang sempurna. Ia tidak lagi sendirian. Di sampingnya, kini ada iblis yang akan melindunginya dari iblis lain.
"Maka mulailah, Alaric. Mari kita buat mereka memohon kematian."
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔