"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilas Balik: Kehilangan sosok paling berarti
“Aku ada di mana ini…?”
Suara itu keluar tanpa bunyi. Seperti teredam kabut. Bai Ruoxue berdiri di tengah ruang yang terasa asing sekaligus sangat akrab. Udara di sekelilingnya hangat, berbau kayu tua dan teh yang baru diseduh. Cahaya matahari jatuh dari jendela kisi, lembut, tidak menyilaukan. Segalanya terasa… damai. Terlalu damai.
Di hadapannya, ia melihat seorang gadis kecil duduk bersila di atas tikar anyaman. Rambutnya dikepang dua, pipinya sedikit tembam, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. Gadis kecil itu tertawa, tawa yang ringan, polos, tanpa beban apa pun.
Di kanan dan kirinya duduk dua orang dewasa.
Seorang pria dengan wajah tegas namun penuh senyum, lengannya melingkari bahu sang anak dengan protektif. Seorang perempuan di sisi lain, wajahnya lembut, matanya penuh kasih, tangannya sibuk merapikan pakaian sang anak.
“Ayah…? Ibu…?”
Suara itu kembali keluar, kali ini disertai getaran di dada. Bai Ruoxue dewasa melangkah maju satu langkah, lalu berhenti. Ada perasaan aneh—seolah ia hanya penonton. Tak bisa menyentuh, tak bisa ikut bicara.
“Ayah lihat lukisanmu hari ini,” ujar pria itu sambil tertawa kecil. “Gurumu bilang kau yang paling rapi.”
Gadis kecil itu mendongak bangga. “Benarkah, Ayah?”
“Tentu saja,” jawab sang ibu sambil tersenyum. “Putri kecil ibu memang pintar. Tidak hanya rajin, tapi juga berhati lembut.”
“Iya, Bai Ruoxue,” tambah ayahnya sambil mengusap kepala anak itu. “Kau kebanggaan ayah.”
Kalimat itu sederhana. Tapi dada Bai Ruoxue dewasa terasa sesak. Ia menatap adegan itu tanpa berkedip, seolah takut semuanya akan menghilang jika ia lengah.
Hari-hari berlalu.
Waktu di tempat itu seperti mengalir lembut, tanpa suara jam, tanpa tekanan. Pagi-pagi dipenuhi tawa. Siang diisi pelajaran membaca dan menulis. Malam dengan cerita sebelum tidur. Setiap hari, ayah selalu pulang tepat waktu. Selalu ada suara langkah di depan pintu, selalu ada sapaan hangat.
“Ruoxue, ayah pulang.”
Dan gadis kecil itu akan berlari, tanpa ragu, tanpa takut. Selalu.
Ia tumbuh menjadi anak yang manis. Ceria. Pintar. Terlalu mudah percaya pada dunia. Terlalu yakin bahwa tangan yang merangkul hari ini akan selalu melindungi esok hari.
Ibunya sering berkata, “Jangan bicara sembarangan di luar, Ruoxue.”
Tapi itu lebih terdengar seperti nasihat lembut, bukan peringatan. Tidak pernah ada ancaman di rumah itu. Tidak ada bisik-bisik. Tidak ada ketegangan.
Sampai suatu hari.
Hari itu dimulai seperti biasa. Matahari tetap terbit. Ibu tetap menyiapkan sarapan. Gadis kecil itu masih tertawa sambil bercerita tentang apa yang ia pelajari kemarin.
Namun ketika pintu depan terbuka, langkah kaki yang terdengar bukan langkah yang sama.
Bai Ruoxue dewasa merasakan perubahan itu lebih dulu. Udara yang hangat mendadak terasa dingin. Cahaya matahari seakan meredup, meski matahari masih ada di sana.
Ayahnya masuk.
Namun bukan ayah yang ia kenal.
Pria itu masih memakai pakaian yang sama. Wajahnya masih wajah yang sama. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Matanya tidak lagi tersenyum. Tatapannya kosong, dingin, seolah melihat sesuatu yang jauh melewati ruang itu.
Dan di tangannya…
Merah.
Bukan warna pakaian. Bukan bayangan. Darah.
Menetes perlahan dari sela-sela jari, jatuh ke lantai kayu dengan bunyi pelan. Satu tetes. Lalu satu lagi.
Gadis kecil itu terdiam.
“Ayah…?” suaranya lirih, ragu. Tidak berlari. Tidak mendekat.
Pria itu tidak menjawab.
Ia melangkah masuk lebih jauh. Setiap langkah meninggalkan noda. Bau besi memenuhi ruangan. Sesuatu yang asing bagi rumah itu. Sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya.
Ibunya berdiri perlahan. Senyum di wajahnya memudar, tergantikan garis kebingungan.
Ia menatap wajah suaminya, berharap melihat kepanikan. Penyesalan. Apa pun—asal masih manusia. Namun yang ia temukan hanyalah ketenangan yang salah. Ketenangan orang yang sudah memutuskan segalanya.
“Ada apa…?”
Pria itu mengangkat wajahnya. Tatapannya jatuh pada sang istri. Dan untuk sesaat—hanya sesaat—ada sesuatu yang bergetar di matanya. Tapi lalu menghilang.
“Kecelakaan,” katanya pelan.
Bukan pada istrinya. Bukan pada anaknya. Seolah ia berbicara pada dirinya sendiri.
Gadis kecil itu berdiri. Tubuhnya gemetar. “Ayah… kenapa tangan Ayah berdarah?”
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan yang berat. Terlalu berat untuk anak sekecil itu.
Ibunya melangkah maju satu langkah. “Apa maksudmu…?”
Pria itu menunduk. Darah menetes lagi. “Kereta kudanya kehilangan kendali."
Kalimat itu jatuh seperti vonis. Tidak ada penjelasan.
Ibunya mundur satu langkah. Wajahnya pucat. Matanya membesar, bukan karena darah di tangan suaminya—melainkan karena sesuatu yang lebih mengerikan: kesadaran.
Ia sadar.
Sadar bahwa dunia yang selama ini ia bangun dengan penuh cinta telah runtuh dalam satu hari. Sadar bahwa rumah itu tidak lagi aman. Sadar bahwa anak mereka… tidak akan pernah kembali menjadi anak yang sama.
Gadis kecil itu menatap mereka bergantian. Tidak menangis. Tidak berteriak. Ia hanya berdiri di sana, mematung, berusaha memahami sesuatu yang terlalu besar untuk usianya.
Hati sang ibu terasa diremas.
Tidak… jangan lihat itu. Jangan pahami itu. Jangan simpan kenangan ini.
Bai Ruoxue tidak bergerak saat ibunya memanggil.
Dan sang ibu tahu—bukan karena anak itu membangkang, tapi karena dunia di sekelilingnya terlalu cepat berubah.
“Ruoxue,” suara ibunya bergetar. Ia ingin melangkah, ingin memeluk, ingin menutup mata anak itu dari kenyataan. Tapi kakinya terasa berat.
Sadar bahwa jika ia bergerak sekarang—jika ia berteriak, menangis, atau bertanya—sesuatu yang lebih buruk bisa terjadi.
Ia sadar bahwa pria di hadapannya bukan lagi suami yang pulang membawa senyum, melainkan seseorang yang sudah melangkah terlalu jauh untuk ditarik kembali.
Pria itu berbalik. Tidak menatap anaknya. Tidak menatap istrinya. Ia hanya berjalan keluar, meninggalkan jejak merah di lantai rumah yang dulu penuh tawa.
Pintu tertutup.
Sunyi.
Bunyi itu lembut.
Namun di telinga sang ibu, itu adalah bunyi runtuhnya segalanya.
Begitu sunyi menyelimuti ruangan, sang ibu akhirnya kehilangan kekuatan. Ia terduduk perlahan, tangan menekan lantai seolah butuh sesuatu yang nyata untuk berpegangan.
Napasnya terengah. Dadanya sesak. Ia ingin menjerit. Menangis. Memanggil nama suaminya berulang-ulang.
Namun yang keluar hanyalah isakan teredam.
Ia menangis tanpa suara. Karena ia tahu, jika ia hancur sepenuhnya—siapa yang akan menahan anaknya?
Ia mendongak. Bai Ruoxue kecil masih berdiri. Masih diam. Dan itu lebih menyakitkan daripada tangisan apa pun.
Sang ibu bangkit dengan susah payah. Langkahnya goyah, tapi tekadnya mengeras. Ia memeluk anaknya erat. Terlalu erat. Seolah jika ia melepas, anak itu akan ikut runtuh.
Gadis kecil itu masih berdiri di tempatnya. Wajahnya kosong. Dunia di sekelilingnya tidak langsung runtuh—justru tetap utuh. Terlalu utuh. Dan itu yang paling menyakitkan.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi