"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Labirin Serigala di Kota Abadi
PAGI di pondok kayu Sisilia itu datang dengan kabut yang menyelimuti perbukitan, menghapus batas antara bumi dan langit. Aria terbangun oleh aroma kopi yang kuat dan suara kayu yang berderak di perapian. Selimut wol yang tebal masih melingkari tubuhnya, namun kehangatan yang sesungguhnya berasal dari sisi tempat tidur yang masih menyimpan jejak panas tubuh Dante.
Aria duduk perlahan, matanya menatap jendela kecil yang memperlihatkan siluet pohon pinus yang menari ditiup angin. Di atas kursi kayu di sudut ruangan, Dante duduk dengan kemeja hitam yang terbuka di bagian leher, sedang menekuni sebuah peta fisik kota Roma yang dibentangkan di atas meja kayu kasar. Sinar matahari pagi yang redup menonjolkan garis rahangnya yang tegas dan bayangan kelelahan di bawah matanya.
"Kau tidak tidur," ucap Aria, suaranya serak karena baru bangun.
Dante mendongak, matanya yang abu-abu melembut saat melihat Aria. "Tidur adalah kemewahan yang tidak bisa kubeli saat ini, Aria. Pesan dari Roma itu... itu bukan sekadar undangan. Itu adalah panggilan pengadilan dari orang-orang yang merasa memiliki seluruh Eropa."
Aria bangkit, melangkah mendekat dengan gaun tidurnya yang tipis, mengabaikan lantai kayu yang dingin menyentuh kakinya. Ia meletakkan tangannya di bahu Dante, merasakan otot-otot suaminya yang masih tegang seperti senar biola yang ditarik terlalu kencang.
"Siapa sebenarnya 'The Circle' ini, Dante? Kau menyebut mereka sebagai pengontrol uang haram, tapi caramu bicara tentang mereka... seolah mereka adalah hantu masa lalumu," tanya Aria lembut.
Dante menghela napas, menyandarkan kepalanya pada perut Aria, mencari kenyamanan yang jarang ia izinkan untuk dirinya sendiri. "The Circle adalah alasan mengapa kakekku harus mengasingkan diri, dan mengapa ayahku, Lorenzo, menjadi pria yang begitu kejam. Mereka terdiri dari tiga belas keluarga lama—bangsawan, bankir, dan pengusaha—yang menyadari bahwa perang terbuka antar mafia hanya merugikan bisnis. Jadi, mereka menciptakan sistem. Mereka membagi wilayah, mereka mencuci uang melalui bank-bank di Vatikan dan Swiss, dan mereka menghancurkan siapa pun yang mencoba keluar dari garis."
Dante menunjuk sebuah titik di peta Roma, tepat di area dekat Pantheon. "Keluarga Moretti dulunya adalah salah satu dari mereka. Tapi kakekku menolak untuk menyerahkan kontrol penuh atas pelabuhan Sisilia. Sejak saat itu, kami menjadi 'pion yang tidak patuh'."
Aria meresapi informasi itu. Sebagai seorang pengacara, ia memahami struktur kekuasaan ini. Ini bukan lagi tentang geng jalanan; ini adalah korporasi kejahatan yang dilapisi oleh prestise dan sejarah.
"Dan sekarang mereka memanggilmu karena kau telah mengguncang tatanan itu di New York dan Palermo," simpul Aria.
"Tepat sekali," Dante berdiri, memutar tubuhnya untuk menghadapi Aria. Ia memegang wajah Aria dengan kedua tangannya, ibu jarinya mengusap pipi wanita itu dengan posesif. "Mereka menginginkan kepatuhan. Mereka menginginkan aku berlutut dan meminta maaf karena telah membunuh Alessandro tanpa izin mereka. Dan yang paling berbahaya... mereka ingin melihatmu, Aria."
Jantung Aria berdegup kencang. "Melihatku? Kenapa?"
"Karena kau adalah anomali. Putri dari Julian Vane yang seharusnya menjadi tumbal, namun kini justru menjadi ratu di samping iblis Moretti. Mereka ingin tahu apakah kau adalah kelemahanku, atau justru senjata baruku."
Persiapan perjalanan ke Roma dilakukan dengan kerahasiaan tingkat tinggi. Mereka tidak menggunakan jet pribadi atau iring-iringan SUV kali ini. Dante memutuskan bahwa masuk ke Roma dengan kemegahan sama saja dengan menyerahkan kepala mereka di atas nampan perak.
Mereka melakukan perjalanan darat menggunakan sedan Alfa Romeo yang tampak biasa, melewati jalur pantai yang jarang dipantau oleh Scorpion XIII. Marco dan beberapa pengawal elit mengikuti dari jarak jauh menggunakan kendaraan yang berbeda.
Sepanjang perjalanan melintasi wilayah Calabria menuju utara, Aria memperhatikan Dante yang terus-menerus memeriksa ponsel satelitnya. Suasana di dalam mobil sangat sunyi, hanya deru angin dan suara radio yang memutar musik opera klasik dengan volume rendah.
Roma menyambut mereka dengan kemacetan yang hiruk-pikuk dan arsitektur kuno yang megah namun terasa mengintimidasi. Kota ini adalah labirin batu yang telah menyaksikan ribuan pengkhianatan dalam sejarahnya. Mereka menuju ke sebuah palazzo tua di daerah Trastevere yang secara resmi terdaftar sebagai museum seni pribadi, namun sebenarnya adalah milik keluarga Moretti selama tiga generasi.
Bangunan itu memiliki dinding batu yang tebal dengan gerbang besi tinggi yang ditutupi oleh tanaman merambat yang mulai menguning. Begitu gerbang terbuka, mereka masuk ke dalam halaman dalam yang tenang, jauh dari kebisingan jalanan Roma.
"Selamat datang di Palazzo del Silenzio," ucap Dante saat mereka turun dari mobil. "Di sini, dinding-dindingnya punya telinga, jadi bicaralah hanya jika kau merasa perlu."
Interior palazzo itu luar biasa mewah namun memiliki aura yang suram. Patung-patung marmer tanpa wajah berdiri di sudut-koridor, dan lukisan-lukisan minyak bertema religius yang gelap menghiasi dinding. Aria merasa seolah ia sedang masuk ke dalam perut seekor binatang besar yang sudah hidup selama ribuan tahun.
Agostino sudah menunggu di sana, wajahnya tampak lebih cemas daripada saat di Sisilia. "Tuan Dante, Nyonya... undangan makan malam sudah tiba. Besok malam di Villa Medici. Mereka meminta Anda hadir tepat pukul delapan."
Dante mengangguk kaku. "Siapa saja yang akan hadir?"
"Hanya tiga dari tiga belas anggota. Lord Sterling dari London, Count Volkov dari Rusia, dan... Cardinal Moretti," jawab Agostino dengan suara rendah.
Aria tersentak. "Kardinal Moretti? Kau punya kerabat di Vatikan?"
Dante tersenyum pahit, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya. "Dia adalah adik laki-laki kakekku. Orang yang memilih jalan 'Tuhan' untuk mencuci uang keluarga. Dia adalah pria paling berbahaya di dalam 'The Circle'. Jika Alessandro adalah pedang, maka Kardinal adalah racunnya."
Malam itu, di dalam kamar tidur mewah yang memiliki langit-langit setinggi lima meter dengan lukisan fresco malaikat yang jatuh, Aria tidak bisa memejamkan mata. Ia berdiri di balkon, menatap kerlap-kerlip lampu Roma dan kubah Basilika Santo Petrus di kejauhan.
Dante masuk ke kamar, baru saja selesai mandi. Ia hanya mengenakan celana kain hitam, memperlihatkan tato naga yang melilit di lengan kirinya hingga ke punggung. Ia berjalan mendekati Aria dan memeluknya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu.
"Kau takut?" tanya Dante.
Aria menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Dante. "Aku merasa seperti kita sedang berjalan ke dalam sarang serigala tanpa membawa apa pun kecuali harga diri."
Dante mencium leher Aria, bibirnya terasa hangat di kulit yang dingin. "Kau salah, Aria. Kita membawa sesuatu yang mereka tidak punya. Kita memiliki satu sama lain. The Circle dibangun di atas ketakutan dan kepentingan pribadi. Mereka tidak mengerti tentang loyalitas yang lahir dari... sesuatu yang lebih."
Aria berbalik dalam pelukan Dante. "Sesuatu yang lebih? Apa itu, Dante?"
Dante menatap mata Aria dengan intensitas yang membuat napas Aria tertahan. "Sesuatu yang membuatku siap membakar Roma hanya untuk memastikan kau bisa kembali ke rumah dengan selamat. Sebut itu apa pun yang kau mau, tapi itu adalah kekuatan terbesar yang aku miliki."
Aria merasakan getaran di dadanya. Ia menjangkau leher Dante dan menariknya ke dalam sebuah ciuman yang dalam dan penuh keputusasaan. Di tengah kota yang penuh dengan sejarah pengkhianatan ini, mereka mencari kebenaran di dalam satu sama lain. Malam itu, di bawah pengawasan malaikat-malaikat yang jatuh di langit-langit kamar, mereka saling memiliki dengan intensitas yang melampaui kata-kata.
Esok malamnya, Roma diguyur hujan gerimis yang membuat jalanan batu terlihat mengilap seperti kulit ular. Aria mengenakan gaun malam berwarna emas gelap yang memberikan kesan seperti seorang permaisuri Bizantium. Gaun itu memiliki kerah tinggi yang menutup lehernya, memberikan kesan sopan namun sangat berwibawa. Di jarinya, cincin zamrud Moretti berkilau, sebuah pengingat akan statusnya.
Dante mengenakan tuksedo hitam yang dibuat khusus, tampak seperti bangsawan Italia sejati. Ia menyembunyikan sebuah pisau lipat kecil di lengan jasnya—sebuah tindakan pencegahan yang selalu ia lakukan.
Mobil membawa mereka mendaki bukit Pincio menuju Villa Medici. Vila itu berdiri dengan megah, dikelilingi oleh taman-taman yang tertata rapi. Di depan pintu masuk, belasan pengawal berseragam rapi dengan earpiece memeriksa setiap tamu dengan alat pendeteksi logam.
"Ingat, Aria," bisik Dante saat mereka keluar dari mobil. "Jangan pernah menunjukkan rasa takut. Di mata mereka, rasa takut adalah undangan untuk memangsa. Tatap mata mereka seolah kau tahu rahasia terdalam mereka."
Mereka melangkah masuk ke dalam ruang makan yang diterangi oleh ratusan lilin putih. Meja makan panjang yang terbuat dari kayu ek kuno sudah tertata dengan piring perak dan gelas kristal.
Tiga pria sudah duduk di sana. Lord Sterling, pria Inggris dengan wajah kaku dan kumis yang rapi. Count Volkov, pria Rusia yang lebih muda dengan mata yang tampak sangat haus darah. Dan di tengah, duduk seorang pria tua dengan jubah merah Kardinal yang sangat kontras dengan kegelapan ruangan itu.
Kardinal Moretti memiliki wajah yang sangat mirip dengan Dante, namun dengan kerutan yang lebih dalam dan senyuman yang tampak sangat tenang sekaligus menyeramkan.
"Dante, anakku," sapa Kardinal dengan suara yang dalam dan berwibawa. "Selamat datang kembali ke Roma. Dan kau... kau pasti Aria Vane. Keindahanmu memang melegenda, namun keberanianmu di Palermo-lah yang benar-benar menarik perhatian kami."
Aria membungkuk sedikit, menjaga wajahnya tetap tenang. "Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Kardinal."
"Duduklah," perintah Lord Sterling dengan aksen Inggris yang kental. "Kita punya banyak hal untuk dibicarakan sebelum hidangan utama disajikan."
Dante menarik kursi untuk Aria, lalu ia sendiri duduk. Suasana di ruangan itu begitu tegang hingga suara denting sendok perak yang menyentuh piring terdengar seperti dentuman meriam.
"Alessandro sudah mati," buka Count Volkov tanpa basa-basi. "Dia adalah salah satu dari kami. Meskipun dia melakukan kesalahan dengan membawa orang Kolombia, kau tidak berhak mengeksekusinya tanpa persetujuan 'The Circle', Dante."
Dante menyesap anggur merahnya dengan tenang. "Alessandro adalah pengkhianat klan Moretti. Di Sisilia, hukum klan berada di atas hukum 'The Circle'. Jika kalian ingin kompensasi atas kematiannya, aku akan memberikan jalur distribusi di pelabuhan utara kepada kalian selama enam bulan. Tapi jangan pernah mempertanyakan otoritas kuto di tanahku sendiri."
Lord Sterling tertawa kecil. "Kau sangat sombong, Dante. Persis seperti kakekmu. Tapi kau lupa bahwa pelabuhan utara itu sekarang sedang dalam pengawasan FBI karena ulah istrimu di New York."
Aria angkat bicara, suaranya jernih dan tak gentar. "Pengawasan itu bersifat sementara, Lord Sterling. Sebagai pengacara, saya sudah memastikan bahwa celah hukum yang saya buka hanya akan berdampak pada aset Julian Vane. Aset Moretti tetap terlindungi. Jika Anda menginginkan jalur itu, Anda harus bekerja sama dengan saya, bukan mengancam suami saya."
Kardinal Moretti menatap Aria dengan minat yang besar. "Kau sangat cerdas, Aria. Sangat cerdas. Tapi kau tahu, kecerdasan tanpa kesetiaan adalah hal yang sia-sia di duniaku."
Kardinal mengeluarkan sebuah kalung salib emas tua dari saku jubahnya dan meletakkannya di meja. "Aria, klan Moretti memiliki tradisi lama. Setiap wanita yang masuk ke dalam keluarga harus memberikan pengakuan dosa kepada gereja. Sebuah pengakuan yang akan disimpan selamanya di dalam arsip rahasia Vatikan. Itu adalah jaminan bahwa kau tidak akan pernah mengkhianati rahasia 'The Circle'."
Dante menggebrak meja, membuat gelas kristal bergetar. "Dia tidak akan memberikan pengakuan apa pun padamu, Paman! Aria bukan bagian dari sistem kotor kalian!"
"Dante, tenanglah," ucap Kardinal dengan nada menenangkan yang palsu. "Ini hanyalah formalitas. Jika dia tidak punya rahasia yang disembunyikan, kenapa harus takut?"
Kardinal menatap Aria kembali. "Kecuali jika kau menyembunyikan sesuatu, Aria. Sesuatu tentang apa yang terjadi di New York... atau tentang mengapa ayahmu, Julian, tiba-tiba meninggal di penjara tepat sebelum dia bisa memberikan testimoni tentang keterlibatan Kardinal ini dalam pencucian uang Lucchese."
Ruangan itu seketika menjadi sangat sunyi. Aria merasakan hawa dingin merayap di punggungnya. Bagaimana Kardinal tahu tentang testimoni ayahnya yang belum sempat diucapkan itu?
Aria menyadari satu hal yang mengerikan. The Circle tidak hanya mengawasi mereka; mereka memiliki mata di dalam setiap sel penjara dan setiap kantor hukum yang pernah Aria kunjungi.
"Aku tidak punya dosa untuk diakui," sahut Aria, matanya menatap tajam ke arah Kardinal. "Tapi jika Anda ingin bicara tentang dosa, Kardinal... mungkin kita bisa mulai dengan dana abadi gereja yang dialirkan untuk membiayai Scorpion XIII di Sisilia minggu lalu."
Kardinal Moretti terhenti, senyumnya sedikit memudar. Ia tidak menyangka Aria akan menyerang balik dengan informasi yang begitu sensitif.
Dante tersenyum miring, menatap pamannya dengan rasa puas yang tak terbendung. "Istriku sudah melakukan risetnya, Paman. Jadi, mari kita berhenti bermain drama religius ini. Apa yang kalian inginkan sebenarnya?"
Lord Sterling berdeham. "Kami ingin aliansi baru. Julian Vane sudah tiada, dan kekosongan kekuasaannya di Amerika harus diisi. Kami ingin Moretti mengambil alih seluruh operasi Vane, namun dengan pengawasan dari 'The Circle'. Sebagai gantinya, kami akan menjamin keamanan kalian dari penuntutan federal."
"Dan jika aku menolak?" tanya Dante.
"Maka Roma akan menjadi tempat peristirahatan terakhirmu, Dante," jawab Count Volkov dengan nada santai seolah ia sedang membicarakan cuaca. "Dan istrimu yang cantik ini akan diberikan kepada Scorpion XIII sebagai hadiah atas kegagalan mereka di Palermo."
Dante mengepalkan tangannya di bawah meja, namun ia tetap tenang. Ia tahu bahwa satu gerakan salah akan memicu pembantaian di ruangan ini.
"Beri kami waktu untuk mempertimbangkannya," ucap Aria, mencoba menengahi. "Kami butuh meninjau detail teknis dari pengambilalihan aset Vane."
Kardinal Moretti mengangguk. "Tentu. Kalian punya waktu dua puluh empat jam. Besok malam, kami akan mengadakan perayaan di istana Kardinal. Kami harap kalian datang dengan jawaban yang... memuaskan."
Sepulangnya dari Villa Medici, suasana di dalam mobil lebih tegang daripada sebelumnya. Dante tidak mengatakan sepatah kata pun hingga mereka sampai di palazzo. Begitu masuk ke dalam kamar, Dante langsung membanting pintu dan melepaskan jasnya dengan kasar.
"Mereka menjebak kita, Aria! Mereka ingin kita menjadi pelayan mereka!" geram Dante.
"Aku tahu," sahut Aria, ia duduk di tepi tempat tidur, mencoba menenangkan jantungnya. "Tapi setidaknya kita tahu apa yang mereka inginkan. Mereka takut pada pengawasan federal, Dante. Mereka butuh kita untuk menjadi tameng mereka."
Dante berjalan mondar-mandir di depan Aria. "Kardinal itu... dia monster. Dia membunuh ayahnya sendiri untuk mendapatkan kursinya di Vatikan. Dia tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja."
Aria berdiri dan mendekati Dante, memegang lengannya. "Dante, dengarkan aku. Di Villa Medici tadi, aku sempat melihat sebuah dokumen di samping piring Lord Sterling saat dia sedang bicara. Itu adalah daftar pengiriman dari pelabuhan utara. Ada satu nama yang terus muncul: Project Phoenix."
"Phoenix?" Dante mengernyit.
"Ya. Aku rasa itulah alasan sebenarnya mengapa mereka menyerang Sisilia. Mereka tidak peduli pada Alessandro atau ayahku. Mereka mencari sesuatu yang disimpan kakekmu di pelabuhan itu. Sesuatu yang disebut Phoenix."
Dante terdiam sejenak, pikirannya menerawang ke masa kecilnya di Castello dei Corvi. Ia teringat sebuah brankas kuno di ruang bawah tanah kastil yang kakeknya katakan tidak boleh dibuka kecuali dunia sedang kiamat.
"Kakekku pernah bicara tentang sebuah 'warisan' yang bukan berupa uang atau wilayah," bisik Dante. "Sebuah rahasia yang bisa menghancurkan fondasi 'The Circle' jika terungkap."
Aria menatap Dante dengan harapan baru. "Itu dia, Dante! Itulah kartu truf kita! Jika kita bisa menemukan apa itu Project Phoenix, kita tidak perlu berlutut pada mereka. Kita bisa menghancurkan mereka dari dalam."
Dante menatap istrinya, dan untuk pertama kalinya sejak mereka sampai di Roma, ia tertawa kecil—tawa yang penuh dengan semangat tempur. "Kau benar-benar luar biasa, Aria Moretti. Bagaimana bisa seorang pengacara lulusan Harvard menjadi begitu mahir dalam intrik mafia?"
Aria tersenyum miring, menarik dasi Dante hingga wajah mereka berjarak beberapa inci. "Karena aku belajar dari yang terbaik, Dante. Sekarang, kita punya waktu dua puluh empat jam untuk menemukan rahasia itu sebelum perayaan Kardinal dimulai."
Dante menarik pinggang Aria, menciumnya dengan intensitas yang baru. "Maka mari kita mulai berburu, cara mia. Roma mungkin kota abadi, tapi besok malam, kita akan memastikan beberapa penguasa di sini merasakan apa itu kematian."
Namun, di luar palazzo, di kegelapan gang Trastevere, seorang pria dengan tato kalajengking di lehernya sedang mengamati balkon kamar mereka melalui lensa teropong. Ia berbicara ke radionya dengan suara yang sangat dingin.
"Target sudah di dalam. Menunggu instruksi untuk penyerangan tahap kedua."
Perang di Roma baru saja dimulai, dan kali ini, garis antara kawan dan lawan menjadi semakin kabur di bawah bayang-bayang gereja dan darah.