NovelToon NovelToon
Doa Kutukan Dari Istriku

Doa Kutukan Dari Istriku

Status: tamat
Genre:Kutukan / Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romansa / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Vandra tidak menyangka kalau perselingkuhannya dengan Erika diketahui oleh Alya, istrinya.


Luka hati yang dalam dirasakan oleh Alya sampai mengucapakan kata-kata yang tidak pernah keluar dari mulutnya selama ini.


"Doa orang yang terzalimi pasti akan dikabulkan oleh Allah di dunia ini. Cepat atau lambat."


Vandra tidak menyangka kalau doa Alya untuknya sebelum perpisahan itu terkabul satu persatu.


Doa apakah yang diucapkan oleh Alya untuk Vandra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Erika mendongak menatap langit yang biru dihiasi awan putih. Terik panas matahari tidak membuatnya merasa kepanasan. Angin berembus lembut, menerpa wajahnya yang menegang.

“Alya … semua kesakitan yang aku rasakan di sini, kamu juga akan merasakannya. Aku bersumpah!”

Tangan Erika mengepal erat sampai buku-bukunya memutih.

Sebuah mobil berhenti beberapa meter dari tempat Erika berdiri. Wanita itu segera menegakkan tubuhnya, berharap itu ayahnya. Namun, begitu pintu terbuka bukan Pak Erwin yang keluar, melainkan seorang pria setengah baya yang tak terlalu dikenalnya sebagai sopir panggilan keluarga lama mereka, Pak Juna.

“Non Erika,” sapa pria itu hati-hati. “Pak Erwin nyuruh saya jemput kamu.”

Erika menatapnya datar, antara lega dan tersinggung. “Papa tidak mau datang sendiri?” tanya Erika suaranya serak dan dingin.

Pak Juna menunduk sedikit. “Bapak baru saja datang dari luar kota, Non. Masih capek. Jadi, bapak titip pesan untuk jemput Non Erika dibawa pulang.”

“Pulang?” bibir Erika melengkung sinis. “Rumah mana yang masih mau menerima aku, Pak Juna?”

Pak Juna tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu mobil dan memberi isyarat agar Erika segera masuk. Setelah ragu sejenak, Erika melangkah dengan langkah berat. Begitu mobil mulai berjalan meninggalkan penjara, ia bersandar di kursi, menatap keluar jendela yang berdebu. Dunia luar tampak asing baginya kini. Ramai, tetapi terasa sepi.

“Pak Juna,” panggil Erika setelah lama terdiam. “Ala papa masih marah sama aku?”

“Sepertinya Pak Erwin hanya kecewa,” jawab pria parah baya itu pelan. “Tapi beliau masih berharap Non Erika berubah menjadi orang yang lebih baik lagi.”

Erika tertawa kecil, getir. “Berubah? Dunia sudah menghukum ku, Pak. Sekarang, giliranku yang akan menghukum mereka.”

Pak Juna menoleh cepat, khawatir dengan nada dingin di balik suara itu. “Non Erika, jangan bicara begitu. Semua sudah berlalu—”

“Belum,” potong Erika tajam. “Belum berlalu, Pak. Bapak, kan, tahu siapa yang membuat aku begini?"

Pak Juna menelan ludahnya. Dia tahu kalau watak Erika itu banyak buruknya dibandingkan dengan sifat baiknya.

"Alya!" ujar Erika penuh penekanan. "Semua orang menatapku seperti sampah gara-gara dia.”

Pak Juna menghela napas, mencoba menahan diri untuk tidak menimpali. Ia tahu, apapun yang dikatakannya hanya akan memperpanas suasana. Ia hanya bisa berdoa dalam hati agar gadis itu benar-benar menyesal, bukan semakin tersesat.

Setibanya di rumah besar milik Pak Erwin, suasana hening menyambut. Tidak ada pelukan, tidak ada ucapan selamat datang. Yang ada hanya tatapan dingin dari para pembantu yang berpura-pura sibuk membersihkan meja. Erika melangkah pelan ke ruang tamu.

Beberapa menit kemudian, Pak Erwin muncul dari arah tangga. Wajahnya tampak letih dan kerutan di dahinya makin dalam dan banyak. Namun, begitu melihat putrinya berdiri di sana, sesuatu di dalam dirinya bergetar, antara rindu dan kecewa.

“Papa ....” Suara Erika lirih, tetapi Pak Erwin tak langsung menyahut.

Pak Erwin menatap anaknya lama, lalu berjalan mendekat dengan langkah berat. “Kamu sudah puas mempermalukan keluarga ini?” Suaranya tegas, tetapi gemetar.

Erika menunduk. “A-ku ... sudah bayar semua, Pa. Sembilan bulan aku hidup seperti binatang di sana—”

“Dan itu semua karena perbuatanmu sendiri!” bentak Pak Erwin. “Kamu hancurkan rumah tangga orang! Kamu jatuhkan nama keluarga ini di depan publik! Sekarang kamu masih berani menyalahkan orang lain?”

Erika terdiam, menggigit bibir menahan tangis. Tetapi di balik air mata yang mulai jatuh, hatinya kembali membatu.

“Papa cuma tahu dari luar. Papa enggak tahu apa yang aku alami. Aku sama Vandra saling mencintai, Pa! Dan cinta itu bukan dosa!”

Pak Erwin menggeleng keras. “Cinta? Kamu sebut menghancurkan istri dan anak orang itu cinta?! Kamu dibutakan oleh nafsu, Erika. Sekarang, berhenti membohongi dirimu sendiri!”

Erika mundur selangkah, air matanya berderai. “Papa enggak pernah berpihak padaku lagi!"

Pak Erwin menarik napas panjang, menatap anaknya dalam-dalam. “Alya tidak pernah merusak hidupmu, Erika. Kamu sendiri yang memilih jalan itu. Kalau kamu masih menyimpan kebencian, kamu tidak akan pernah bebas meskipun sudah keluar dari penjara.”

Ucapan itu seperti tamparan. Erika menatap ayahnya tajam. Ada sesuatu yang bergejolak dalam dadanya—antara rasa bersalah dan rasa benci yang membatu.

Pak Erwin berbalik. “Kamar kamu masih seperti dulu."

Baru beberapa langkah, Pak Erwin menoleh kembali dan berkata, "Temui mamamu. Dia selalu menanyakan dirimu. Tapi, kamu jangan bilang habis di penjara, karena papa bilang kamu pergi bekerja di luar negeri."

Bu Karin masih sakit stroke. Sehari-harinya dihabiskan di ranjang dan kursi roda. Wanita paruh baya itu harus dijaga emosinya biar penyakitnya tidak bertambah parah.

Erika tidak menjawab. Hanya matanya yang perlahan memerah. Setelah ayahnya pergi, dia duduk di sofa, menggenggam erat ujung bajunya.

Seketika bayangan sembilan bulan di penjara kembali memenuhi pikirannya. Tatapan jijik para napi, ejekan, dan rasa takut yang menekan tiap malam. Semua rasa itu membentuk dinding tebal di hatinya.

“Alya ...,” gumam Erika lirih, hampir seperti bisikan iblis di telinganya sendiri. “Kamu pikir kamu sudah menang, ya? Kini aku sudah kembali. Aku akan membalas semua yang aku dapatkan selama sembilan bulan ini.”

***

Vandra duduk bersimpuh di depan Mama Vany dan Papa Indera. Ruang tamu yang dulu terasa hangat kini seakan menelannya dalam diam yang menyesakkan. Mata Vandra merah, suaranya parau saat akhirnya keluar kata-kata yang lama tertahan di dadanya.

“Ma, Pa, aku minta maaf. Aku sudah buat kalian malu. Aku sudah jatuhkan nama keluarga, bikin Mama dan Papa kecewa,” kata Vandra sambil menunduk dalam. Air matanya jatuh ke lantai dingin, membentuk noda kecil yang segera diserap karpet tua di bawahnya.

Mama Vany hanya bisa menatap putranya lama. Ada getir dan sayang yang bercampur dalam tatapan itu. Wajah perempuan paruh baya itu tampak lebih tua dari terakhir kali Vandra melihatnya. Keriput di sudut mata, rambut yang mulai memutih. Semua itu seolah jadi bukti betapa berat beban yang ia tanggung selama ini.

“Sekarang kamu harus belajar dari kesalahan di masa lalu,” ucap Papa Indera akhirnya, suaranya berat tapi tenang. Laki-laki itu memang jarang berbicara dengan nada tinggi, tetapi setiap katanya terasa menembus dinding dada.

Vandra mengangguk, menahan sesak di tenggorokannya.

Mama Vany ikut bicara, nadanya lembut tapi tegas. “Dan jangan lupa dengan kewajiban kamu terhadap Vero dan Axel. Selama ini Alya yang bekerja keras menanggung biaya kedua anakmu. Sementara kamu di dalam sana.”

Kata-kata itu menampar hati Vandra lebih keras dari bentakan mana pun. Ia menggigit bibir, menunduk semakin dalam. “Iya, Ma, aku tahu aku salah. Doakan aku, ya, biar cepat dapat kerja lagi. Aku janji mau perbaiki semuanya.”

Mama Vany menghela napas panjang. Ia berdiri dan menuju dapur, lalu kembali dengan nampan berisi makanan. Aroma soto ayam buatan tangannya langsung memenuhi ruangan, aroma yang dulu selalu membuat Vandra tersenyum setiap kali datang ke rumah ini.

“Makan dulu, Van. Kamu pasti jarang makan yang layak selama di sana,” kata Mama Vany sambil meletakkan mangkuk di hadapan putranya.

Seketika air mata Vandra menetes lagi. Ia menatap soto itu lama, sebelum perlahan menyendoknya. “Terima kasih, Ma,” katanya lirih.

Mereka makan siang bersama, tetapi suasananya tidak seperti dulu. Dulu, setiap makan bersama di rumah itu diwarnai tawa, celoteh Zara yang tak bisa diam, dan komentar lucu Vero yang selalu membuat semua tertawa. Sekarang, hanya suara sendok beradu pelan dengan mangkuk.

“Sekarang apa yang akan kamu lakukan setelah ini?” tanya Papa Indera sambil meneguk air hangatnya.

1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦ѕ⍣⃝✰เภє๓
enteng bener bacotmu van, dasar laki² gak tau malu
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦ѕ⍣⃝✰เภє๓
mamvus , gk bisa apa² kan luu van dasar suami durhakim luu
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦ѕ⍣⃝✰เภє๓
keputusan yang tepat al, buang jauh² suami yang tidak tau diri itu... kimprit emang saat susah dia ingat sm istrinya dalam keadaan senang dia nikmati bersama pelakorr nya 😏
Windarti08
☝🏻aku juga setuju 😄😄😄
Windarti08
sampai bab ini doa kutukan Alya belum terkabul ya...
semoga Erika kena penyakit k3lamin dan Vandra tertular 🤭
Moreno
Bukannya Alya langsung resign setelah menikah karena aturan kantor ya?
Deera__
Masyaa Allah.. Alhamdulillah.. akhirnya baby Girl lounching dengan selamat.. selamat ya Alya dan Biru 💖💖💖💙💙💙💙
Deera__
BENAR BENAR PHILIP INI.. KELAKUANNYA ABSURD🤣🤣🤣
Deera__
wow ma Philip.. bagus aku setuju💖💖💖💖🤣🤣/Drool//Drool//Drool//Drool/
Deera__
alhamdulillah... akhirnya 💖
Siti Kuswatun
ceritanta 👍
Suriyanti Yanti
kapan karma vandra sama Erika
Ayu
Mksh dah crita nya ya thor. bgs. sukses sl ke depan nya💪🙏
Ayu
Kok udah tamat thor. kshn Vandra blm dpt kebhgiaan sendiri thor. ksh jodoh buat dia dong. dan kbr nya Erina gimana thor🙏
Ayu
Smg ada keajaiban buat Vandra. dia bs nikah lg dan bs punya ank lg🙏
Ayu
Waduh.. jgn2 Viandra du jebak sm Rachel ni🙏
Ayu
Aku kira Philip berjodoh sm Zara. ternyata sm Mona🙏
Ayu
Alya.. kutukan mu dulu terkabul skrg🙏
Ayu
Smg Vandra slmt ya thor🙏
Ayu
Anak nya cewek ya thor. ksh kembar thor biar tmbh seru crita mu💪🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!