NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 13: Ancaman Nyata

Seminggu setelah gala dinner, kehidupan Aluna dan Arsen memasuki fase baru fase di mana cinta mulai tumbuh dengan cara yang lebih sehat, meski tetap diwarnai dengan possessiveness Arsen yang tidak akan pernah hilang sepenuhnya.

Arsen menepati janjinya untuk memberi lebih banyak kebebasan. Aluna sekarang boleh kuliah lagi meski ditemani bodyguard yang menunggu di luar kelas. Ia boleh bertemu teman-temannya meski tetap harus lapor dan pulang sebelum jam lima sore. Dan yang paling penting, Arsen mulai belajar untuk tidak terlalu mengontrol setiap aspek hidup Aluna.

Tetapi beberapa hal tidak berubah, kalung berlian dengan inisial "A" selalu melingkar di leher Aluna, tanda bahwa ia adalah milik Arsen Mahendra. Dan setiap malam, tanpa gagal, Aluna tidur dalam pelukan possessive Arsen yang tidak pernah ingin melepaskannya.

Pagi itu, Aluna ada kuliah teori struktur bangunan. Ia bersiap dengan kemeja putih dan celana jeans, rambutnya dikuncir kuda sederhana. Arsen sudah duduk di meja makan, membaca koran bisnis sambil sesekali menyeruput kopinya.

"Kuliah jam berapa?" tanya Arsen tanpa mengangkat pandangan dari korannya.

"Jam sembilan. Selesai jam sebelas," jawab Aluna sambil duduk di kursi sebelahnya bukan di pangkuan Arsen seperti biasa. Ini adalah salah satu kompromi yang mereka sepakati, Aluna boleh duduk di kursi sendiri saat sarapan, tetapi tetap harus sangat dekat dengan Arsen.

Arsen meletakkan korannya, menatap Aluna dengan tatapan yang lembut.

"Langsung pulang setelah selesai," ucapnya bukan perintah, tetapi permintaan. "Aku akan pulang lebih cepat hari ini. Kita makan siang bersama."

Aluna tersenyum.

"Baik."

Arsen bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat, tangannya menyentuh kalung di leher Aluna memeriksa, memastikan kalung itu terpasang dengan baik.

"Jangan lepas ini," bisiknya sambil mencium kening Aluna. "Aku ingin semua orang tahu kamu milik siapa."

"Saya tahu," jawab Aluna sambil tangannya menyentuh tangan Arsen yang ada di kalung. "Saya tidak akan melepasnya."

Kepuasan jelas terlihat di mata kelam Arsen. Ia mencium bibir Aluna dengan lembut ciuman singkat tetapi penuh dengan kepemilikan.

"Hati-hati," bisiknya. "Dan ingat, kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku."

"Iya, Arsen. Saya janji."

Kampus terasa asing setelah sebulan lebih tidak datang. Aluna berjalan di koridor dengan bodyguard seorang pria berbadan besar bernama Pak Budi berjalan beberapa meter di belakangnya.

Beberapa teman sekelas menatap Aluna dengan tatapan penasaran terutama pada kalung berlian yang berkilauan di lehernya, jelas sangat mahal dan tidak cocok untuk mahasiswi biasa.

"Luna!" Seorang teman perempuannya, Rini, berlari menghampiri dengan senyum lebar. "Akhirnya kamu datang lagi! Kemana aja sih sebulan ini?"

"Maaf, Rin. Aku... sibuk kerja," jawab Aluna sambil tersenyum canggung.

Rini melirik kalung di leher Aluna dengan mata berbinar.

"Kerja? Atau... ada yang kasih kalung mahal gitu?" godanya sambil mengerling.

Aluna tertawa kecil, wajahnya memerah.

"Itu... dari tunangan saya."

"TUNANGAN?!" Rini hampir berteriak, membuat beberapa mahasiswa di sekitar menoleh. "Kamu tunangan? Sejak kapan? Dengan siapa? Kenapa nggak bilang-bilang?!"

Sebelum Aluna bisa menjawab, bel kuliah berbunyi. Dengan senyum lega, Aluna menarik Rini masuk ke kelas.

"Nanti cerita deh. Sekarang kuliah dulu."

Kuliah berlangsung lancar. Aluna mencatat dengan saksama, sesekali bertanya pada dosen saat ada yang tidak dimengerti. Rasanya menyenangkan kembali ke rutinitas normal rutinitas tanpa pengawasan ketat Arsen, tanpa harus duduk di pangkuannya, tanpa harus...

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Arsen.

Kuliah bagaimana? Kamu fokus atau memikirkan aku?

Aluna tersenyum kecil, mengetik balasan.

Fokus kuliah, tapi sesekali memikirkan Anda juga.

Balasan datang hampir seketika.

Bagus. Aku suka kamu memikirkan ku. Jangan lupa makan siang nanti. Aku sudah pesan makanan favoritmu.

Baik. Terima kasih.

Aku mencintaimu, Aluna.

Jantung Aluna berdetak lebih cepat membaca kalimat itu. Meski Arsen sudah sering mengatakannya, tetap saja membuat dadanya hangat setiap kali.

Saya juga mencintai Anda.

Kuliah selesai pukul 11.15 WIB. Aluna keluar dari kelas dengan Rini yang masih terus menggodanya tentang tunangan misterius.

"Ayo, cerita dong! Siapa sih tunangan kamu? Orang kaya ya pasti, liat aja kalung kamu itu..."

"Nona Aluna."

Suara asing membuat Aluna berhenti. Ia menoleh dan melihat seorang pria muda berdiri beberapa meter darinya mengenakan setelan casual yang mahal, senyum yang terlalu percaya diri.

Darren Wijaya.

Jantung Aluna langsung berdetak tidak nyaman. Apa yang dilakukan rival bisnis Arsen di kampusnya?

"Permisi, siapa ya?" tanya Rini dengan nada protektif, merasa ada yang tidak beres.

Darren mengabaikan Rini, matanya terfokus hanya pada Aluna.

"Darren Wijaya," perkenalkannya sambil mengulurkan tangan. "Kita pernah bertemu di gala dinner minggu lalu. Tunangan Arsen, kan?"

Aluna tidak menjabat tangan itu. Pak Budi, bodyguard-nya, langsung melangkah maju berdiri di antara Aluna dan Darren dengan postur mengancam.

"Tuan Darren, tolong jaga jarak dari Nona Aluna," ucap Pak Budi dengan nada yang sopan namun tegas.

Darren tertawa, mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.

"Tenang, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku cuma ingin ngobrol sebentar dengan Nona Aluna. Hanya ngobrol."

"Saya tidak ada yang perlu dibicarakan dengan Anda," ucap Aluna dingin, berusaha terdengar lebih berani dari yang ia rasakan.

"Oh, aku rasa ada," balas Darren sambil senyumnya melebar. "Tentang Arsen. Tentang... siapa sebenarnya pria yang kamu tunangkan."

Aluna menegang.

"Apa maksud Anda?"

Darren melangkah lebih dekat tetapi Pak Budi langsung menghalangi.

"Kamu tahu dia pernah punya tunangan sebelum kamu, kan?" tanya Darren dengan nada yang seolah peduli. "Anjani. Gadis manis yang meninggal dalam kecelakaan tragis."

Aluna menelan ludah. Ia tahu cerita itu. Arsen sudah menceritakan segalanya.

"Tapi apa kamu tahu," lanjut Darren sambil suaranya menurun, "bahwa ada rumor kalau kecelakaan itu bukan kecelakaan? Bahwa ada yang memanipulasi rem mobilnya? Dan Arsen... dia punya motif."

"Apa?!" Aluna terbelalak. "Itu tidak mungkin! Arsen mencintai Anjani! Dia..."

"Mencintai?" Darren tertawa sinis. "Atau obsesif berlebihan hingga Anjani ingin kabur darinya? Dan saat dia mencoba kabur... Arsen memastikan dia tidak akan pernah pergi?"

Aluna menggelengkan kepala keras-keras.

"Anda berbohong. Arsen tidak akan..."

"Aku tidak memintamu percaya sekarang," potong Darren sambil mengeluarkan sebuah kartu nama dari sakunya, meletakkannya di tangan Rini karena Aluna menolak menerimanya. "Tapi kalau suatu saat kamu butuh bantuan... kalau kamu merasa dalam bahaya... hubungi aku. Aku bisa membantumu lepas dari Arsen."

"Saya tidak butuh bantuan Anda," desis Aluna. "Dan saya tidak akan pernah 'lepas' dari Arsen. Sekarang pergi, atau saya akan..."

"Akan apa?" tantang Darren. "Lapor pada Arsen? Silakan. Aku justru ingin dia tahu bahwa aku sudah menghubungimu. Ingin melihat seberapa possessive dia akan bereaksi."

Ia tersenyum senyum yang mengerikan.

"Ini baru permulaan, Nona Aluna. Arsen mengambil kontrak besar yang seharusnya menjadi milikku bulan lalu. Dan aku... aku akan mengambil sesuatu yang berharga darinya sebagai balasan."

Maksudnya... Aluna?

Sebelum Aluna bisa merespons, Darren sudah berbalik dan berjalan pergi dengan santai, seolah baru saja melakukan percakapan biasa.

Aluna berdiri terpaku, tubuhnya gemetar. Rini langsung memeluknya.

"Luna, kamu baik-baik aja? Orang itu siapa sih? Kok serem banget?"

"Aku... aku harus pulang," bisik Aluna. "Aku harus menemui Arsen."

Aluna langsung menelepon Arsen di perjalanan pulang. Ponsel hanya berdering dua kali sebelum Arsen mengangkat.

"Aluna? Ada apa? Kamu..."

"Darren datang ke kampus," potong Aluna dengan suara gemetar. "Dia... dia bilang hal-hal yang aneh tentang Anda. Tentang Anjani. Dia..."

"APA?!" Suara Arsen meledak di seberang telepon. "Dia mendekatimu? Dia menyentuhmu?"

"Tidak, Pak Budi menjaga saya. Tapi Arsen, dia bilang..."

"Aku tahu apa yang dia bilang," potong Arsen dengan suara yang bergetar karena amarah. "Semua itu bohong, Aluna. Kamu percaya padaku, kan? Aku tidak ada hubungannya dengan kematian Anjani. Itu kecelakaan murni. Darren hanya ingin memancingku dengan menggunakan kamu!"

"Saya tahu," jawab Aluna cepat. "Saya percaya pada Anda. Saya cuma... takut. Dia bilang ini baru permulaan. Dia..."

"Kamu di mana sekarang?"

"Di mobil. Pak Budi membawa saya pulang."

"Baik. Jangan kemana-mana. Tetap di mansion. Aku akan pulang sekarang. Dan Aluna?"

"Ya?"

"Aku mencintaimu. Dan aku tidak akan membiarkan Darren menyakitimu. Aku janji."

Arsen tiba di mansion tiga puluh menit kemudian lebih cepat dari biasanya, tanda ia mengebut di jalan. Ia langsung mencari Aluna dan menemukannya di ruang keluarga, duduk dengan tubuh memeluk lututnya sendiri.

"Aluna," panggil Arsen sambil berlari mendekat.

Aluna langsung berdiri dan berlari ke pelukan Arsen. Pria itu memeluknya erat, tangannya mengelus rambut Aluna dengan lembut.

"Ssshh, aku di sini," bisik Arsen. "Kamu aman. Aku di sini."

"Saya takut," bisik Aluna di dada Arsen. "Dia... tatapannya mengerikan. Seperti dia benar-benar ingin menyakiti saya untuk menyakiti Anda."

Arsen mengencangkan pelukannya, rahangnya mengeras.

"Aku tidak akan membiarkannya," gumamnya dengan suara berbahaya. "Aku akan lindungi kamu. Dengan cara apa pun."

Ia melepaskan pelukan cukup untuk menatap wajah Aluna, tangan-tangannya memegang wajah Aluna dengan lembut.

"Mulai besok, kamu tidak kuliah dulu," ucapnya. "Terlalu berbahaya. Darren tahu di mana kampusmu, kapan jadwal mu..."

"Arsen, tidak," protes Aluna. "Saya tidak bisa berhenti kuliah. Saya hampir lulus. Tugas akhir saya..."

"Keselamatanmu lebih penting dari tugas akhir," potong Arsen tegas. "Aluna, tolong. Aku sudah kehilangan Anjani. Aku tidak akan kehilangan kamu juga. Apalagi karena permainan kotor Darren."

Air mata menggenang di mata Aluna.

"Tapi..."

"Tolong," bisik Arsen dengan suara yang pecah. "Lakukan ini untukku. Cuma sementara. Sampai situasi aman. Sampai aku bisa memastikan Darren tidak akan mendekatimu lagi."

Aluna menatap mata kelam yang dipenuhi ketakutan itu, dan hatinya melembut. Ia mengangguk pelan.

"Baik. Sementara. Tapi Anda harus janji akan menyelesaikan masalah dengan Darren secepat mungkin."

"Aku janji," ucap Arsen sambil mencium kening Aluna. "Aku janji."

Malam itu, Arsen tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidur dengan Aluna tertidur dalam pelukannya, tetapi matanya tetap terbuka menatap langit-langit dengan pikiran yang berputar.

Darren sudah melewati batas.

Mengancam bisnisnya? Itu masih bisa ditoleransi. Tetapi mendekati Aluna? Mencoba menanamkan keraguan di hati Aluna tentangnya?

Itu... tidak bisa dimaafkan.

Arsen menatap wajah Aluna yang tertidur damai dalam pelukannya. Wanita ini sudah menjadi segalanya baginya. Alasan ia bangun setiap pagi. Alasan ia masih bisa tersenyum. Alasan ia masih... hidup.

Dan ia akan melindungi Aluna dengan cara apa pun.

Bahkan jika itu berarti... menghancurkan Darren sepenuhnya.

Tangannya mengelus rambut Aluna dengan lembut, bibirnya mencium puncak kepala Aluna.

"Aku mencintaimu," bisiknya sangat pelan agar tidak membangunkan Aluna. "Dan aku akan memastikan tidak ada yang bisa memisahkan kita. Tidak Darren. Tidak siapa pun."

Matanya mengeras di kegelapan.

Perang sudah dimulai.

Dan Arsen Mahendra tidak pernah kalah dalam perang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!