Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Mobil berhenti di dekat halte kampus. Shelina memarkirkan mobilnya sebentar, mesin masih menyala. Kaisar membuka pintu, lalu turun sambil menyandang tas di bahunya.
“Makasi, Shel—” ucapnya setengah menoleh.
“Kai,” potong Shelina pelan.
Kaisar berhenti, menutup pintu lagi, lalu menunduk sedikit agar sejajar dengan jendela yang terbuka.
“Jangan keluyuran,” ujar Shelina, nadanya lembut tapi jelas.
“Hari ini kamu ada bimbingan. Fokus ke situ saja.”
Kaisar mengerutkan kening tipis, bukan karena kesal, melainkan karena perhatian itu terasa… baru.
“Iya,” jawabnya singkat. “Aku ke kampus, bimbingan, pulang.”
Shelina menatapnya beberapa detik, memastikan ucapannya bukan sekadar janji kosong.
“Kalau selesai dan ada apa-apa, kabari aku.”
Kaisar mengangguk. “Siap, Bu Dosen,” godanya ringan.
Shelina mendengus kecil. “Jangan panggil aku begitu di luar kampus.”
Kaisar tersenyum, kali ini lebih lepas.
“Iya, istriku.” Semakin digoda oleh Kaisar saat tahu Shelina tersipu.
Shelina terdiam sesaat, lalu mengalihkan pandangan ke depan.
“Pergi sana, nanti telat.”
Kaisar melangkah mundur, menutup pintu mobil, lalu berjalan menuju area kampus. Sebelum benar-benar menjauh, ia menoleh sekali lagi. Shelina masih di sana, menunggu sampai ia masuk ke area fakultas.
Mobil itu baru melaju pergi setelah Kaisar menghilang di balik kerumunan mahasiswa.
Begitu Kaisar melangkah masuk ke area kampus, langkahnya belum juga jauh ketika tiga sosok langsung menghadangnya.
“Woi, Kai!”
Suara Bima paling nyaring, disusul Sakti dan Alex yang menyusul dari belakang.
“Hari ini lo datang sama siapa?” tanya Sakti, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu.
“Gue lihat lo turun dari mobil,” sambung Alex. “Bukan motor.”
Kaisar terus berjalan, tidak memperlambat langkah sedikit pun.
“Bukan urusan Lo pada.”
Bima mengejar, berdiri tepat di depan Kaisar. “Motor lo ke mana?”
Kaisar berhenti, menatap Bima dingin. Sikap itu justru memancing emosi.
“Jawab, Kai,” suara Bima mulai naik. “Sejak kapan lo jadi begini?”
Kaisar tertawa kecil, pahit.
“Sejak gue ditinggal sendirian di arena.”
Sakti dan Alex saling pandang.
“Kai, soal itu—” Sakti hendak bicara, tapi Kaisar lebih dulu memotong.
“Riko bukan gue yang mukul,” suara Kaisar berat, tertahan.
“Tapi kenapa gue yang ditinggal? Kenapa gue yang diseret ke kantor polisi, sementara kalian kabur semua?”
Bima membeku, Alex menunduk dan Sakti mengepalkan tangannya.
“Kami panik, Kai,” ucap Alex akhirnya. “Gue minta maaf.”
“Iya,” Sakti mengangguk cepat. “Harusnya kita balik, harusnya—”
“Harusnya kalian setia,” potong Kaisar tajam. “Kalau kemarin gue nggak dibawa Kak Aksa, sekarang gue mungkin masih di sel.”
Bima mendengus keras. “Lo nyalahin gue sekarang?”
Kaisar menatapnya lurus. “Gue nyalahin kalian semua.”
Nada itu membuat Bima tersulut.
“Sejak kapan lo jadi sok suci, Kai?” bentaknya. “Balapan mau berhenti, sekarang nyalahin kita? Lo yang bilang ini terakhir, tapi lo juga yang turun!”
Langkah Bima maju satu langkah, Kaisar tak mundur.
“Karena gue tanggung jawab sama apa yang gue lakukan,” balas Kaisar dingin. “Nggak kayak lo.”
“Bangsat lo!” Bima mendorong dada Kaisar keras.
Sakti dan Alex terkejut.
“Bim!”
Kaisar refleks membalas, mendorong Bima lebih keras hingga pria itu mundur dua langkah. Suasana koridor langsung menegang. Beberapa mahasiswa mulai melambatkan langkah, melirik waspada.
“Berani lo sekarang?” Bima menyeringai marah.
“Gue dari dulu berani,” jawab Kaisar rendah. “Cuma sekarang gue capek nutupin kebodohan orang lain.”
Bima mengangkat tangan, siap memukul.
“Kai, stop!” Sakti berdiri di tengah.
“Jangan di kampus!”
Alex menarik lengan Bima keras. “Bim! Cukup!”
Dada Kaisar naik turun. Tangannya mengepal, rahang mengeras. Ada amarah, ada kecewa dan ada sesuatu yang membuatnya begitu hancur pada persahabatan itu.
“Kalau lo masih nganggep gue saudara,” ucap Kaisar pelan tapi menusuk, “jangan paksa gue milih jalan yang udah gue tinggalin.”
Ia melangkah mundur, menatap satu per satu wajah mereka.
“Gue ke kelas.”
Kaisar berbalik dan pergi, meninggalkan Bima yang masih bernafas kasar, Sakti yang terdiam, dan Alex yang menunduk menyadari satu hal pahit ketua geng Kobra yang dulu, perlahan mulai berubah.
Di dalam kelas, tubuh Kaisar memang duduk rapi di bangku, tetapi pikirannya masih tercecer di luar, pada suara bentakan Bima, dorongan di dada, dan tatapan kecewa yang tertinggal di koridor.
Ia menatap papan tulis kosong di depan, rahangnya mengeras.
“Pramudya.” Suara Pak Rangga memecah lamunan.
Kaisar menoleh setengah malas. Beberapa mahasiswa langsung melirik ke arahnya. Pak Rangga berdiri di depan kelas, kedua tangannya bersedekap, menatap Kaisar seolah sedang menilai sesuatu.
“Kamu ke depan.”
Kaisar tidak langsung bergerak.
“Untuk apa, Pak?” tanyanya datar.
Tatapan Rangga menajam. Bukan keras, tapi menekan dan cukup untuk membuat emosi Kaisar naik ke tenggorokan. Dengan langkah berat, Kaisar akhirnya maju ke depan kelas.
“Sekarang kamu yang jelaskan materi hari ini,” ujar Rangga singkat. “Saya duduk.”
Beberapa mahasiswa berbisik kecil. Kaisar menoleh ke papan tulis, lalu kembali menatap Rangga.
“Pak, kalau Bapak nggak mau ngajar, bilang aja biar kita istirahat,” ucapnya tanpa basa-basi.
“Bapak minta saya ganti ngajar … emang saya bisa? Materinya aja belum ada.”
Rangga membeku.
“Apa maksud kamu?” suaranya meninggi.
Kaisar mengangkat bahu sedikit, nada suaranya ikut naik, tapi masih tertahan.
“Apa yang salah, Pak? Saya duduk, nggak ribut, dan saya nyimak. Tapi Bapak nyuruh saya ngajar … padahal papan tulis kosong, proyektor juga belum dinyalain.”
Rangga melangkah satu langkah ke depan.
“Kamu itu selalu punya alasan,” bentaknya. “Merasa paling benar.”
Kaisar menghela napas tajam.
“Yang benar itu fakta, Pak.”
Seketika udara kelas terasa berat.
“Cukup,” ujar Rangga dingin. “Kamu duduk. Jam istirahat, ke ruangan saya.”
Kaisar mendengus, berbalik, lalu kembali ke bangkunya tanpa berkata apa-apa. Kursinya ditarik agak keras, cukup untuk menimbulkan suara gesek yang membuat beberapa mahasiswa tersentak.
"Kenapa semua orang hari ini kayak pengen nyari gara-gara sama gue?" gumamnya dengan nada kesal.
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.