Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan yang Penuh Intimidasi
Malam di tengah samudera itu menjadi saksi bisu betapa buasnya sang Matahari jika sudah menemukan rumahnya. Di dalam kabin VVIP yang kedap suara, Julius benar-benar tidak memberikan kesempatan bagi Jane untuk memejamkan mata. Gairah yang selama ini tertahan di balik jas formalnya tumpah tak bersisa.
Di bawah temaram lampu kabin, Julius terus bergerak dengan ritme yang memabukkan. Setiap kali Jane mencoba menahan suaranya karena malu, Julius akan berbisik tepat di telinganya dengan suara serak yang dominan.
"Jangan ditahan, Jane... Mendesahlah. Sebut namaku," bisik Julius sambil memperdalam penyatuannya. "Kabin ini kedap suara. Tidak akan ada yang dengar selain aku. Aku ingin mendengar betapa kau menginginkanku."
Jane hanya bisa mencengkeram sprei sutra di bawahnya, menyerah pada sensasi luar biasa yang diberikan Julius hingga fajar menyingsing.
Keesokan paginya, suasana di meja makan mewah di dek kapal terasa sangat kontras. Jane duduk dengan sangat perlahan, merasa seluruh otot tubuhnya seperti jeli yang hampir cair. Sementara itu, Julius duduk di sampingnya dengan wajah segar, tampak sangat puas, dan sengaja tidak menutupi tanda merah baru di lehernya yang kini semakin banyak.
Henry yang baru saja akan menyuap croissant mendadak berhenti. Matanya melotot menatap leher bosnya.
"Gila... Jules. Gue resmi angkat tangan," ucap Henry sambil meletakkan garpunya dengan dramatis. "Gue pikir gue udah yang paling liar di klub, tapi liat leher lo... itu bukan tanda cinta lagi, itu mah peta buta! Lo nggak tidur semalaman, kan?"
Patrick ikut menimpali sambil tertawa mengejek ke arah Henry. "Hen, lo denger nggak semalam? Gue aja yang kamarnya beda dua lorong berasa ada getaran gempa. Julius emang nggak ada obatnya. Stamina tingkat dewa."
"Sumpah, gue ngaku kalah," lanjut Henry dengan wajah serius yang dibuat-buat. "Gue biasanya satu ronde aja besoknya jalan udah kayak pinguin, lutut gemeteran. Lah ini si Bos? Mukanya malah makin ganteng, sedangkan Jane... kasihan Jane, dia kayak mau pingsan cuma buat megang sendok."
Julius hanya menyesap kopi hitamnya dengan tenang, tangannya di bawah meja masih mengusap paha Jane dengan posesif. "Stamina berbanding lurus dengan ambisi, Henry. Dan aku sangat ambisius untuk memilikinya setiap detik."
Jane yang sejak tadi hanya diam sambil menahan malu, tiba-tiba merasa perutnya bergejolak hebat. Bau telur setengah matang dan aroma laut yang kuat mendadak terasa sangat menyengat di hidungnya.
"Jane? Kau baik-baik saja?" tanya Lucia yang menyadari wajah Jane mendadak pucat.
Jane tidak sempat menjawab. Ia menutup mulutnya dengan tangan, lalu dengan susah payah berdiri meskipun kakinya masih terasa lemas dan berlari kencang menuju toilet di sudut dek.
Ugh... hueekk!
Suara Jane yang mual terdengar jelas di tengah keheningan meja makan. Semua orang membeku. Henry menjatuhkan rotinya, Patrick melongo, dan Clark menghentikan jarinya di atas tablet.
Henry pelan-pelan menoleh ke arah Julius dengan tatapan ngeri sekaligus kagum.
"Jules..." bisik Henry dengan suara gemetar. "Lo... lo nggak pake pengaman selama ini ?"
"Jangan bilang..." Patrick menyambung dengan suara pelan. "Kekuatan lo beneran bisa bikin ponakan langsung jadi dalam semalam?"
Julius terdiam. Matanya yang tajam menatap pintu toilet tempat Jane berada. Ada kilat kekhawatiran, tapi juga ada secercah kebanggaan yang aneh di sana. Ia segera bangkit berdiri untuk menyusul Jane.
"WADUH! POSITIF INI MAH! JULES JUNIOR COMING SOON!" teriak Henry yang langsung membuat seluruh kru kapal menoleh. "Gue mau jadi wali baptisnya! Gue mau ajarin dia cara jadi playboy!"
"Diem lo, Hen! Ini urusan serius!" bentak Lucia, meski ia sendiri mulai menghitung tanggal di kepalanya dengan wajah panik.
Di dalam toilet yang mewah itu, dunia di luar sana, teriakan Henry, skandal keluarga Randle, dan masa lalu, seolah menghilang. Julius berlutut di samping Jane tanpa memedulikan jasnya yang mahal mungkin akan kotor.
Dengan gerakan yang sangat lembut, ia menyeka sudut bibir Jane menggunakan sapu tangan sutranya, sama sekali tidak menunjukkan rasa jijik.
"Masih mual, sayang?" bisik Julius, suaranya terdengar sangat dalam dan protektif. Ia memijat tengkuk Jane dengan ibu jarinya, mencoba memberikan kenyamanan. "Apa kita kembali ke kamar saja? Istirahat di sana jauh lebih baik daripada mendengar ocehan Henry di luar."
Jane menyandarkan kepalanya di bahu Julius, napasnya masih sedikit pendek. "Mungkin cuma mual laut, Julius... atau mungkin tadi aku salah makan sesuatu di meja," jawabnya pelan, mencoba menenangkan debaran jantungnya sendiri.
Julius terdiam sejenak, namun sebuah senyuman tipis, senyuman yang sangat tulus dan penuh arti, muncul di wajah tampannya. Tangannya yang besar perlahan turun ke perut datar Jane, mengelusnya dengan gerakan melingkar yang sangat protektif.
"Bayangkan saja," gumam Julius dengan nada menggoda yang sangat manis. "Begitu nanti kalau kau hamil anakku, sayang. Kau akan mual seperti ini setiap pagi, dan aku tidak akan membiarkanmu beranjak dari tempat tidur sedikit pun."
Jane tersipu malu, pipinya yang tadi pucat kini kembali merona. Ia menyentuh tangan Julius yang berada di perutnya. "Jangan berpikir terlalu jauh, Julius... aku bahkan belum masuk masa subur sekarang," ucap Jane sambil tersenyum kecil, mencoba meruntuhkan fantasi ayah muda yang tiba-tiba muncul di otak jenius pria itu.
Julius terkekeh rendah, suara tawa yang jarang didengar orang lain selain Jane. Ia mengecup kening Jane dengan lama. "Subur atau tidak, aku tidak keberatan terus mencoba sampai Matahari kecil itu benar-benar ada di sini. Tapi untuk sekarang, mari kita buat teman-teman somplak itu semakin panik."
Saat Julius keluar dari toilet sambil merangkul pinggang Jane dengan sangat protektif, Henry langsung berdiri dari kursinya.
"Gimana?! Gimana?!" tanya Henry dengan mata berbinar-binar. "Udah ada tanda-tanda garis dua melayang di udara?"
Julius menatap Henry dengan tatapan datar yang paling mengintimidasi, namun tangannya tetap mendekap Jane. "Jane hanya mual laut. Jadi berhenti berteriak seperti orang gila, Henry. Atau aku akan benar-benar membuatmu berenang sampai ke pelabuhan."
"Mual laut apa mual isi, Bos?" goda Patrick sambil tertawa.
"Apapun itu," Julius menarik kursi untuk Jane dengan sangat sopan, lalu berbisik cukup keras agar semua orang dengar, "Jika dia hamil pun, itu bukan urusan kalian. Tapi melihat stamina Jane semalam... sepertinya kita tidak perlu menunggu waktu lama."
Jane nyaris tersedak air putih yang baru saja ia minum. Julius Randle benar-benar sudah tidak punya urat malu lagi, pikirnya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍