"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Bekerja
Naina terlihat gelisah, sesekali ia melirik ke arah Dimas yang sedang duduk di ruang tamu. Seperti biasa, sudah jadi kebiasaan pria itu melakukan sisa kerjaan kantor disana.
"Kira-kira diizinkan apa tidak, ya?" Tanya Naina pada diri sendiri sembari menggigit jari telunjuknya.
*
"Mas, boleh aku duduk." Ucap Naina yang datang dengan membawa segelas kopi.
Dimas sedikit kaget, beberapa hari Naina seperti sengaja mendiamkan dan menghindarinya, kini gadis itu seperti kembali pada Naina yang ia kenal.
Dimas segera menutup laptopnya. "Iya,Nai. Silahkan."
Naina duduk disebelah Dimas sembari meletakkan segelas kopi yang ia bawa. Aroma kopi yang harum, menggoda Dimas untuk segera menyeruputnya.
"Ada apa?" Tanya Dimas kemudian.
"Mas, apa boleh aku bekerja?"
Mendengar pertanyaan Naina Dimas sedikit memicingkan alis. Heran. "Kerja?"
Naina mengangguk. "Mas jangan salah paham. Aku bukan tidak merasa cukup dirumah ini, Mas. Tapi aku ingin mempunyai kesibukan lain." Naina mencoba menjelaskan dengan suara lembutnya.
Dimas hanya diam.
"Aku sangat bersyukur atas apa yang sudah Mas beri untuk aku. Semuanya sudah lebih dari cukup. Tapi aku sangat ingin mempunyai kegiatan lain biar aku tidak merasa kosong. Aku janji tugas rumah tidak akan aku nomor duakan, Mas. Aku akan tetap melakukan tugasku sebagai seorang istri. Tapi kalau Mas tidak mengizinkan juga tidak apa-apa."
Dimas tersenyum kecil. "Aku ngerti kok maksud kamu, Nai. Tidak perlu kamu menjelaskan panjang lebar. Tapi kenapa tiba-tiba ingin kerja?"
"Beberapa hari aku memikirkannya, Mas. Sepertinya keputusanku sudah bulat."
"Kerja dimana? Sama siapa?"
"Mas ingat saat awal tujuan aku datang kesini? Mbak Sofia menawarkan kerjaan untuk aku. Teman almarhumah ibunya mbak Sofia ingin menambah karyawan. Aku ingin kerja di sana."
"Kerja apa? Apakah aman untuk kamu?"
"Toko bunga, Mas."
"Baiklah. Kapan kamu akan ke tempat itu?"
"Kalau bisa besok."
Dimas diam sesaat.
"Besok aku kerja. Apa bisa diganti hari lain biar aku izin libur?" Tanya Dimas kemudian.
"Mas tidak perlu antar aku. Aku bisa pergi sama mbak Sofia."
"Sofia sudah tau?"
Naina mengangguk. "Tenang saja, Mas. Aku sudah bilang pada mbak Sofia kalau ini adalah kemauan ku sendiri. Dan Mbak Sofia mengiyakan."
"Baiklah kalau begitu..."
Naina tersenyum, "Terimakasih ya, Mas."
"Sama-sama."
Naina kemudian beranjak. Wajahnya berseri-seri. Sangat senang. Dimas sejenak terpaku memperhatikan wajah polos itu.
"Sebenarnya aku kasian sama kamu, Nai karena membuatmu berada di situasi seperti ini. Aku tau kamu berteman sepi. Tapi mau bagaimana? Aku masih belum bisa menemukan titik cinta itu." Batin Dimas.
***
Sofia dan Tony duduk di Sofa, sudah menjadi kebiasaan mereka berdua setelah Mahrez tertidur mereka akan mengobrol sebelum merebahkan diri di kasur. Di temani teh dan kopi hangat, serta kue kering menambah kesan hangat untuk mereka berdua.
"Apa Naina bahagia ya, Mas?" Tanya Sofia, wajahnya terlihat khawatir.
"Kita doakan saja. Sepertinya saat ini mereka memang belum menemukan cinta itu, Bun. Tapi semoga saja seiring berjalan waktu mereka bisa menemukannya."
"Mau gimana juga. Asal jangan ada perempuan lain saja di hati Dimas."
"Ya, jangan sampai. Kita percaya aja sama dia."
"Aku izinkan Naina menikah biar dia bahagia, bukan untuk menderita. Semoga aja mas Dimas bisa membuat Naina bahagia."
"Aamiin. Sudah Bunda jangan banyak pikiran, nanti dedek ikut kepikiran." Tony mengelus perut Sofia.
"Iya. Mas."
***
Sebuah notifikasi masuk di ponsel Dimas,
[Besok bisa ketemu?]
Dimas mengernyitkan dahi. Nomor baru. Tapi foto profil yang tertera di sana jelas dikenali oleh Dimas--Sarah.
[Sarah?] Balas Dimas. Yang tentu langsung mendapat jawaban.
[Iya. Maaf tiba-tiba chat. Aku dapat nomor kamu dari Angga waktu di pesta.]
Dimas bingung harus bagaimana. Wanita dari masa lalu kini hadir lagi disaat dia sudah beristri. Beberapa saat ia mendiamkan benda pipih itu. Berkali-kali ia melirik Naina yang sedang duduk di meja kecil sudut ruangan sembari menulis. Seolah ragu apakah ia harus mengiyakan ajakan Sarah, atau menolaknya karena Naina.
Seolah hati sedang di uji.
Notifikasi masuk lagi,
[Aku tunggu besok di Taman tempat biasa kita dulu menghabiskan waktu untuk bercerita. Kamu dateng apa enggak, aku tetap menunggu disana.]
Dimas mengabaikan pesan itu dan memilih menyudahi kerjaannya. Ia membereskan semua yang ada di atas meja.
"Sudah selesai, Mas?" Tanya Naina saat Dimas lewat dibelakangnya.
"I--iya."
"Cepat sekali."
"Cuma ngisi data dikit. Untuk kerjaan besok."
"Kalau begitu, selamat istirahat ya, Mas." Naina tersenyum, kemudian menyalami tangan Dimas.
Naina menutup bukunya, kemudian masuk ke kamar.
Dimas diam sesaat.
Dilema.
"Sudah berapa bulan kami menikah? Aku sendiri lupa. Dan sekarang aku mulai bingung dengan perasaan ku."
Jantung Dimas masih saja berdetak kencang. Pesan singkat dari Sarah berhasil membuatnya semakin dilema. Bayangan wajah Sarah dan Naina seolah bergantian di pikirannya.
****