Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fondasi Pertama
Rabu pagi, Rajendra bangun dengan notifikasi SMS dari bank—transfer masuk Rp 200.000.000 ke rekening PT LokalMart Indonesia.
Ia menatap layar ponselnya beberapa detik—angka itu terasa nyata dan tidak nyata di saat bersamaan.
Dua ratus juta.
Di kehidupan pertamanya, angka sebesar itu tidak pernah terasa besar—ia bisa ambil dari kas perusahaan kapan saja untuk apapun.
Sekarang angka itu terasa sangat besar.
Karena ini bukan uang keluarga.
Ini uang yang ia dapat dengan usaha sendiri—dengan proposal yang ia tulis sendiri, dengan pitch yang ia lakukan sendiri.
Ini miliknya.
Rajendra bangkit dari kasur—mandi cepat—lalu berpakaian rapi: kemeja biru muda, celana bahan hitam, sepatu pantofel.
Hari ini adalah hari pertama—hari pertama LokalMart resmi beroperasi.
Pukul sembilan pagi, Rajendra berdiri di depan sebuah ruko kecil tiga lantai di kawasan Tebet—ruko tua dengan cat putih yang mulai mengelupas, tapi posisinya strategis dan harganya masuk budget.
Di sampingnya, Arief berdiri dengan tas ransel besar—matanya berbinar melihat gedung itu.
"Ini kantornya?" tanya Arief.
"Iya. Lantai dua. Lantai satu masih ada toko elektronik, lantai tiga kosong."
"Boleh lihat?"
Rajendra mengangguk—membuka pintu gedung—naik tangga sempit ke lantai dua.
Pintu lantai dua terbuka—ruangan kosong seluas sekitar 100 meter persegi—lantai keramik putih kusam, dinding cat krem pudar, jendela besar menghadap jalan, AC lama terpasang di dinding tapi belum tentu jalan.
Arief masuk—melihat sekeliling—lalu tersenyum lebar.
"Kosong. Bagus. Kita bisa atur sendiri."
"Kamu butuh apa?" tanya Rajendra.
"Meja, kursi, komputer, koneksi internet yang cepat. Server kalau budget cukup—tapi untuk awal bisa pakai cloud dulu."
Rajendra mengangguk—mencatat mental.
"Oke. Hari ini kita beli peralatan. Besok mulai setup. Lusa kita mulai kerja."
"Deal."
Siang itu, Rajendra, Arief, dan Dina duduk di sebuah warung Padang kecil dekat kantor baru—makan siang sambil diskusi.
Dina menyendok rendang—menatap Rajendra dengan tatapan serius.
"Jadi timeline-nya gimana? Kapan kita launch?"
Rajendra menyeruput air putihnya—pikiran sudah menyusun rencana.
"Tiga bulan dari sekarang. Juli 2010. Kita launch versi beta—fitur minimal tapi jalan. MVP—minimum viable product."
Arief mengangguk. "Tiga bulan cukup kalau fokus. Platform web basic, catalog produk, shopping cart, payment gateway COD, tracking sederhana. Bisa."
"Marketing-nya?" tanya Dina.
"Bulan pertama kita fokus ke content," jawab Rajendra. "Bikin blog, social media presence, edukasi tentang belanja online yang aman. Bulan kedua kita mulai rekrut seller—UMKM kecil, pengrajin lokal. Bulan ketiga soft launch—invite only untuk tester. Baru setelah itu public launch."
Dina tersenyum—excited.
"Aku suka. Step by step. Build trust dulu sebelum jual produk."
"Exactly."
Arief menyendok nasi—lalu bertanya.
"Seller awal kita siapa? Kita sudah punya?"
Rajendra diam sebentar—mengingat kehidupan pertamanya—mengingat seller-seller awal yang sukses di platform e-commerce tahun 2010-2012.
"Ada beberapa yang aku tahu," jawabnya hati-hati. "Pengrajin batik di Solo, produsen tas kulit di Bandung, pembuat kopi lokal di Toraja. Mereka belum masuk platform besar—masih jual offline atau lewat Facebook. Kita bisa approach mereka."
"Kamu kenal mereka?" tanya Dina penasaran.
"Tidak langsung. Tapi aku tahu mereka bagus. Produknya berkualitas, harganya kompetitif. Kita tinggal tawarkan platform yang lebih mudah."
Dina mengangguk—tidak bertanya lebih lanjut.
Tapi Arief menatap Rajendra dengan tatapan sedikit curiga—seperti ada yang aneh tapi tidak bisa dijelaskan.
Rajendra menyadari tatapan itu—lalu mengalihkan topik.
"Oh ya, Arief. Kita butuh programmer tambahan. Kamu ada rekomendasi teman kuliah yang bisa diajak?"
Arief berpikir sebentar.
"Ada. Namanya Rian. Teman satu angkatan. Dia jago backend—database, API, security. Sekarang lagi kerja di perusahaan software kecil, tapi kayaknya dia bosan."
"Bisa kamu hubungi? Tawarkan posisi backend engineer. Gaji sama—6 juta plus equity."
"Siap."
Sore itu, Rajendra duduk sendirian di kantor baru yang masih kosong—hanya ada satu kursi plastik dan meja lipat yang baru dibeli dari toko furniture terdekat.
Laptopnya terbuka—layar menampilkan spreadsheet dengan budget breakdown:
BUDGET BREAKDOWN - Q2 2010
Operasional:
Sewa kantor 3 bulan: Rp 15.000.000
Listrik & internet 3 bulan: Rp 4.500.000
Peralatan kantor (meja, kursi, AC): Rp 12.000.000
Komputer & server: Rp 25.000.000
SDM (3 bulan):
Arief (Lead Programmer): Rp 18.000.000
Dina (Marketing): Rp 18.000.000
Bambang (Logistik): Rp 15.000.000
Rian (Backend Engineer): Rp 18.000.000
Operational & Marketing:
Domain & hosting: Rp 2.000.000
Marketing material: Rp 5.000.000
Logistik awal (bensin, packaging): Rp 7.500.000
Miscellaneous: Rp 10.000.000
Total: Rp 150.000.000
Sisa: Rp 50.000.000 (emergency fund & operational bulan ke-4)
Rajendra menatap spreadsheet itu—memeriksa setiap angka, setiap asumsi.
Ketat.
Tapi masuk akal.
Kalau semuanya jalan sesuai rencana, tiga bulan cukup untuk launch.
Tapi kalau ada masalah—kalau ada delay—kalau ada pengeluaran tak terduga—
Ponselnya berdering.
Rajendra meraihnya—nama tertera: Wirawan Hadipranoto.
Ia mengangkat.
"Halo, Pak Wirawan."
"Rajendra." Suara Wirawan terdengar serius—lebih serius dari biasanya. "Kita perlu bicara. Ada masalah."
Rajendra duduk tegak—napasnya berhenti sebentar.
"Masalah apa?"
"Ayahmu mengajukan gugatan ke pengadilan. Dia mau batalkan surat wasiat kakekmu."
Hening.
Rajendra merasakan sesuatu dingin menjalar di punggungnya.
"Dengan alasan apa?"
"Dia bilang kakekmu tidak dalam kondisi mental yang sehat waktu buat surat wasiat. Dia bilang kakekmu pikun, terpengaruh, dimanipulasi."
Rajendra mengepalkan tangan—rahangnya mengatup erat.
"Itu bohong. Kakek sehat waktu buat surat itu. Ada saksi. Ada notaris."
"Aku tahu," jawab Wirawan tenang. "Tapi ayahmu punya pengacara yang bagus. Dan dia punya uang untuk proses hukum yang panjang. Dia bisa bikin ini jadi rumit."
Rajendra diam—pikiran berputar cepat.
Di kehidupan pertamanya, ayahnya tidak pernah gugat surat wasiat—karena waktu itu Rajendra masih nurut, masih di bawah kendali keluarga, masih bisa dimanipulasi.
Sekarang beda.
Sekarang Rajendra keluar.
Sekarang ayahnya merasa terancam.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Rajendra.
"Kamu butuh pengacara. Pengacara yang bagus. Dan kamu harus siap untuk proses yang panjang—bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun."
Rajendra menatap layar laptop di depannya—budget yang ketat, timeline yang padat.
Sekarang ditambah biaya pengacara.
"Pak Wirawan kenal pengacara yang bisa handle ini?"
"Ada. Teman lama. Namanya Prasetyo Wibowo. Dia spesialis hukum waris. Sudah handle puluhan kasus serupa. Win rate-nya tinggi."
"Berapa biaya?"
Wirawan diam sebentar.
"Sekitar 50 juta untuk retainer fee awal. Belum termasuk biaya pengadilan dan proses lainnya. Total bisa 100-150 juta sampai selesai."
Rajendra menatap spreadsheet lagi—sisa budget: 50 juta.
Tidak cukup.
Kalau ia pakai untuk pengacara, operational LokalMart akan mati.
Kalau ia tidak pakai untuk pengacara, warisan bisa hilang—dan tanpa warisan, leverage-nya hilang.
Dilema.
"Aku akan pikirkan dulu, Pak," kata Rajendra pelan.
"Jangan lama-lama. Gugatan sudah masuk. Kamu punya dua minggu untuk submit jawaban. Kalau tidak, kamu dianggap tidak respond dan bisa kalah otomatis."
"Oke. Terima kasih, Pak."
Sambungan terputus.
Rajendra menaruh ponselnya di meja—menatap layar laptop yang masih menyala—lalu menutup matanya, menarik napas panjang.
Tidak akan mudah.
Ia tahu itu dari awal.
Tapi ia tidak akan menyerah.
Malam itu, Rajendra duduk di sebuah warung kopi 24 jam di kawasan Blok M—kopi hitam panas di depannya sudah dingin, tidak tersentuh.
Pikirannya penuh—terlalu banyak variabel, terlalu banyak kemungkinan.
Ponselnya bergetar—pesan masuk dari nomor tidak dikenal lagi.
"Rajendra, aku tahu kamu lagi kesusahan. Ayah menggugatmu kan? Aku bisa bantu. Kita bisa selesaikan ini dengan cara baik-baik. Hubungi aku. - Dera"
Rajendra menatap pesan itu—lalu tersenyum kecil—senyum pahit.
Dera tahu.
Tentu saja dia tahu.
Pasti ayahnya yang kasih tahu—atau mungkin Dera yang sarankan ayahnya untuk gugat.
Rajendra menghapus pesan itu—tidak membalas—lalu memblokir nomor itu lagi.
Ia tidak akan minta bantuan Dera.
Tidak akan jatuh ke perangkap itu lagi.
Ponselnya berdering—kali ini panggilan dari Anton Wijaya.
Rajendra mengangkat.
"Halo, Pak Anton."
"Rajendra. Aku dengar kabar. Ayahmu gugat kamu soal warisan."
Rajendra diam—bagaimana Anton bisa tahu secepat ini?
"Berita cepat ya," komentarnya pelan.
Anton tertawa kecil. "Dunia bisnis kecil, nak. Apalagi kalau menyangkut keluarga Baskara. Semua orang tahu."
Rajendra tidak menjawab.
"Kamu butuh bantuan?" tanya Anton—nadanya serius sekarang.
"Bantuan seperti apa?"
"Dana tambahan. Untuk pengacara. Aku tahu proses hukum itu mahal. Dan aku tahu budget kamu ketat."
Rajendra diam—pikiran berputar cepat.
Dana tambahan berarti hutang tambahan—atau equity tambahan.
Berarti Anton dapat kontrol lebih besar.
"Berapa yang Pak Anton tawarkan?"
"100 juta. Tambahan dari yang 200 juta sebelumnya. Total 300 juta. Tapi aku mau equity naik jadi 15 persen—dari 10 jadi 15."
Rajendra diam—menghitung.
5 persen equity untuk 100 juta.
Lebih murah dari deal pertama—tapi tetap mahal.
"Aku akan pikir dulu, Pak."
"Jangan lama-lama. Offer ini valid sampai akhir minggu. Kalau kamu tidak ambil, aku tarik."
"Oke. Terima kasih, Pak."
Sambungan terputus.
Rajendra menaruh ponselnya di meja—menatap kopi dinginnya—lalu menyeruput pelan.
Rasanya pahit.
Seperti situasinya sekarang.
Ia punya dua pilihan:
Ambil tawaran Anton—dapatkan dana untuk pengacara—tapi kehilangan 5 persen equity lagi.
Tolak tawaran Anton—cari cara lain—tapi resikonya kalah di pengadilan dan kehilangan warisan.
Dilema.
Rajendra menutup matanya—menarik napas panjang—lalu membuka mata lagi dengan tatapan yang lebih fokus.
Tidak.
Ada pilihan ketiga.
Pilihan yang lebih berisiko—tapi lebih menguntungkan kalau berhasil.
Ia meraih ponselnya—membuka kontak lama—mencari nama yang sudah lama tidak ia hubungi.
Nama: Hartono Wirawan.
Pengacara senior yang pernah bekerja untuk kakeknya dulu—tahun 2000-an—sebelum pensiun tahun 2008.
Di kehidupan pertamanya, Rajendra tidak pernah menghubungi Hartono—karena waktu itu ia tidak tahu tentang orang ini.
Tapi sekarang ia tahu.
Dan ia ingat—kakeknya pernah bilang: "Hartono itu pengacara terbaik yang pernah aku kenal. Jujur. Cerdas. Loyal. Sayangnya dia pensiun terlalu cepat."
Rajendra menekan tombol panggil.
Nada sambung berbunyi—satu, dua, tiga—
Lalu suara di seberang—suara tua tapi tegas.
"Halo?"
"Pak Hartono. Saya Rajendra. Rajendra Baskara. Cucu Dimas Baskara."
Hening di seberang.
Lalu suara itu—nadanya berubah jadi lebih lembut.
"Rajendra? Cucunya Pak Dimas? Wah... lama sekali. Terakhir kali aku lihat kamu, kamu masih kecil."
"Iya, Pak. Maaf mengganggu malam-malam. Tapi saya butuh bantuan. Soal hukum."
Hartono diam sebentar.
"Hukum apa?"
"Ayah saya menggugat surat wasiat Kakek. Dia mau batalkan warisan yang Kakek tinggalkan untuk saya."
Hening lama.
Lalu suara Hartono—nadanya berubah jadi serius.
"Julian menggugat? Dengan alasan apa?"
"Dia bilang Kakek tidak sehat mental waktu buat surat wasiat."
Hartono tertawa—tertawa pahit.
"Omong kosong. Aku kenal Pak Dimas. Beliau sehat sampai akhir. Pikiran tajam, ingatan kuat. Tidak ada tanda-tanda pikun atau mental tidak stabil."
"Saya tahu, Pak. Tapi ayah saya punya pengacara bagus. Dan saya butuh pengacara yang lebih bagus."
Hartono diam—Rajendra bisa mendengar napas pelan di seberang.
Lalu Hartono bicara—nadanya pelan tapi tegas.
"Aku sudah pensiun, nak. Sudah dua tahun tidak pegang kasus."
"Saya tahu. Tapi saya tidak punya siapa-siapa lagi. Dan Kakek pernah bilang—Pak Hartono pengacara terbaik yang pernah dia kenal."
Hening lagi.
Lalu Hartono bicara—nadanya lebih lembut.
"Pak Dimas bilang begitu?"
"Iya, Pak."
Hartono diam lama—sangat lama.
Lalu ia tertawa kecil—tertawa lelah tapi ada kehangatan di sana.
"Baiklah. Demi Pak Dimas. Aku akan bantu kamu. Tapi dengan satu syarat."
"Apa, Pak?"
"Aku tidak mau bayaran. Ini pro bono. Untuk menghormati Pak Dimas."
Rajendra terdiam—tidak percaya apa yang ia dengar.
"Pak... saya tidak bisa—"
"Kamu bisa," potong Hartono. "Dan kamu akan. Karena Pak Dimas pernah bantu aku waktu aku susah. Ini cara aku balas budi."
Rajendra merasakan sesuatu hangat di dadanya—perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Perasaan... tertolong.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak."
"Sama-sama, nak. Besok kita ketemu. Aku mau lihat semua dokumen. Kita akan menang kasus ini. Aku jamin."
Sambungan terputus.
Rajendra menaruh ponselnya di meja—lalu tersenyum—senyum lega, senyum tulus.
Pilihan ketiga berhasil.
Sekarang ia punya pengacara—tanpa harus bayar, tanpa harus korbankan equity.
Ia menatap kopi dinginnya—lalu menyeruputnya sampai habis meski pahit.
Karena kadang hal-hal pahit membuat kita lebih kuat.
[ END OF BAB 7 ]