Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Rumor dari Ibukota
Penginapan "Bunga Layu" terletak di sudut kumuh Kota Batu Hitam. Tempat ini bau apek, dinding kayunya lapuk dimakan rayap, dan suara desah napas atau teriakan mabuk dari kamar sebelah terdengar jelas setiap malam.
Tapi bagi Lin Xuan, ini istana.
Dia menyewa kamar paling pojok di lantai dua seharga 5 Batu Roh per malam. Mahal untuk ukuran kamar seburuk ini, tapi pemiliknya seorang janda tua buta tidak pernah bertanya nama atau wajah penyewanya.
Lin Xuan duduk bersila di atas ranjang kayu keras. Di hadapannya, tertumpuk sepuluh butir Batu Roh yang bersinar redup.
"Dua ratus lima puluh batu," gumam Lin Xuan, menatap kantung uang di pinggangnya. "Ini cukup untuk bertahan hidup sebulan, atau membeli satu pedang artefak tingkat rendah."
"Jangan pelit," suara Gu Tianxie terdengar bosan. "Gunakan semuanya. Batu Roh hanya berguna jika diubah menjadi kekuatan. Menyimpannya di kantung hanya akan mengundang pencuri."
Lin Xuan mengangguk. Dia mengambil satu batu, menggenggamnya erat.
Cincin Samsara Darah aktif.
Biasanya, kultivator Qi Condensation menyerap energi dari Batu Roh secara perlahan, seperti meminum teh panas sedikit demi sedikit. Tapi cincin ini berbeda. Ia seperti pompa air bertekanan tinggi.
Wuuung!
Batu Roh itu bergetar hebat. Dalam hitungan detik, cahaya di dalamnya padam, berubah menjadi abu abu-abu yang rontok dari sela jari Lin Xuan.
Energi murni, dingin, dan tajam langsung membanjiri meridian lengan kanan Lin Xuan.
"Ergh!"
Lin Xuan menggertakkan gigi. Rasa sakitnya seperti disuntikkan logam cair ke dalam pembuluh darah. Cincin itu memurnikan Qi Batu Roh, membuang residu alam, dan menyisakan Qi yang sangat padat untuk memperkuat Tulang Asura.
Satu batu. Dua batu. Lima batu.
Dalam satu jam, sepuluh Batu Roh telah menjadi debu.
Keringat dingin membasahi punggung Lin Xuan. Tapi saat dia membuka mata, aura di sekelilingnya sedikit lebih tajam. Dia tidak naik tingkat, tapi fondasi Qi di tubuhnya menjadi sepadat beton.
"Cukup untuk hari ini," kata Lin Xuan, menghela napas panjang yang mengeluarkan uap putih (efek suhu tubuhnya yang rendah). "Tubuhku butuh istirahat sebelum bisa menyerap lagi."
Dia berdiri, mengganti jubah curiannya dengan pakaian hitam baru yang dia beli di pasar. Dia juga mengenakan topi caping bambu lebar yang menutupi separuh wajah atasnya.
"Ke mana sekarang?" tanya Gu.
"Mencari telinga," jawab Lin Xuan singkat.
Kedai Teh "Angin Mabuk" adalah pusat informasi tidak resmi di Kota Batu Hitam.
Tempat ini penuh sesak. Asap tembakau murah mengepul tebal, bercampur aroma arak keras dan daging panggang. Para pengunjungnya beragam: pedagang keliling, tentara bayaran, hingga kultivator liar (Rogue Cultivators) yang mencari pekerjaan kotor.
Lin Xuan mengambil meja kecil di sudut gelap, memesan satu teko teh pahit, dan duduk diam. Dia menekan auranya hingga titik nol, membuatnya tampak seperti pemuda biasa tanpa kultivasi.
Telinganya, yang telah dipertajam oleh Qi, memindai setiap percakapan di ruangan itu.
"Hei, kau dengar soal Gelombang Buas di Hutan Kabut?"
"Ah, itu berita lama. Yang hangat sekarang adalah soal Sekte Awan Hijau."
Mata Lin Xuan menyipit di balik capingnya.
"Sekte Awan Hijau akan membuka pendaftaran murid luar bulan depan," kata seorang pria kekar dengan kapak di punggungnya. "Katanya syaratnya dipermudah. Asal punya Qi Condensation Lapisan 3 dan umur di bawah 20, bisa ikut tes."
"Cih, sekte kecil bintang dua," cibir temannya. "Gajinya kecil. Lebih baik jadi tentara bayaran."
"Tapi mereka punya akses ke Reruntuhan Gua Perang lapisan luar! Kalau beruntung dapat satu teknik kuno, kau bisa kaya mendadak!"
Lin Xuan mencatat informasi itu. Sekte Awan Hijau... tempat yang bagus untuk bersembunyi sambil mencari sumber daya.
Tiba-tiba, suara gelas pecah terdengar dari meja tengah.
Seorang pria berpakaian rapi tampak seperti pedagang dari ibukota sedang berbicara dengan lantang, dikelilingi pendengar yang antusias.
"Kalian orang desa tidak tahu apa-apa! Berita terbesar di Benua Timur saat ini adalah tentang Tuan Muda Huo Yan dari Sekte Bayangan Abadi!"
Darah Lin Xuan membeku mendengar nama itu.
Tangannya di bawah meja mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Huo Yan...
"Ada apa dengan Tuan Muda Huo?" tanya seorang pelayan wanita genit.
Pedagang itu tersenyum bangga, seolah dia kenal dekat dengan sang Tuan Muda. "Tuan Muda Huo Yan baru saja berhasil menembus Foundation Establishment di usia 18 tahun! Jenius langka!"
"Hebat! Delapan belas tahun sudah Foundation Establishment? Aku sudah empat puluh tahun masih terjebak di Qi Condensation!"
"Bukan cuma itu," lanjut pedagang itu, merendahkan suaranya menjadi nada konspirasi. "Kudengar terobosan itu berkat jasanya memusnahkan sebuah klan penganut Ajaran Sesat di pinggiran timur seminggu yang lalu."
Jantung Lin Xuan berhenti berdetak sesaat.
"Klan apa?"
"Klan Lin," jawab pedagang itu lantang. "Klan kecil, tapi ternyata diam-diam mempraktikkan sihir darah terlarang. Mereka menculik bayi-bayi untuk tumbal. Untunglah Sekte Bayangan mengetahuinya dan mengirim Tuan Muda Huo untuk membersihkan sampah itu demi keadilan langit!"
Krak.
Cangkir teh di tangan Lin Xuan retak halus. Teh panas merembes keluar, membasahi tangannya.
Fitnah.
Itu semua bohong. Ayahnya adalah orang paling jujur di kota. Ibunya bahkan sering membagikan obat gratis untuk rakyat miskin. Menculik bayi? Sihir darah?
Itu narasi yang dibuat Sekte Bayangan untuk membenarkan pembantaian demi merebut Cincin Jiwa Kuno.
"Langit benar-benar buta..." batin Lin Xuan, matanya memerah. Rasa panas menjalar di dadanya, bukan karena teh, tapi karena amarah yang membakar paru-paru.
"Tenang, Bocah," suara Gu Tianxie terdengar tajam di kepalanya. "Jangan meledak di sini. Jika kau membunuh pedagang itu, kau hanya membunuh pembawa pesan. Itu tidak akan mengubah apa pun."
Lin Xuan menarik napas panjang, memaksa dirinya tenang. Dia melepaskan cangkir yang retak itu perlahan.
"Ada lagi..." tambah pedagang itu, mengeluarkan selembar kertas gulungan dari sakunya. "Sekte Bayangan mengeluarkan Hadiah Buronan."
Dia membentangkan poster itu di atas meja.
"Mereka mencari sisa pengikut ajaran sesat Klan Lin yang kabur. Namanya tidak diketahui, tapi ciri-cirinya: Pemuda, sekitar 15-16 tahun, kemungkinan terluka parah."
"Hadiahnya: 1.000 Batu Roh dan satu Pil Pembentuk Qi Tingkat Tinggi. Hidup atau mati!"
Ruangan itu seketika riuh.
"Seribu Batu Roh?!"
"Gila! Untuk satu bocah ingusan?!"
"Aku akan mencarinya! Dia pasti lari ke hutan!"
Mata-mata serakah mulai berkeliaran. Lin Xuan merasakan tatapan beberapa orang mulai memindai ruangan, mencari pemuda yang sesuai deskripsi.
Untungnya, Lin Xuan yang sekarang sangat berbeda dengan Lin Xuan di poster itu.
Di poster, gambarnya adalah pemuda bangsawan yang bersih dan lembut.
Lin Xuan yang duduk di pojok itu kurus, berkulit pucat, berwajah dingin, dan memancarkan aura suram yang membuat orang enggan mendekat.
Lin Xuan meletakkan sekeping perak di meja, lalu berdiri perlahan. Dia tidak lari. Dia berjalan santai menuju pintu keluar, seolah topik pembicaraan itu tidak menarik baginya.
"Tunggu, Saudara," panggil seseorang saat dia di ambang pintu.
Lin Xuan berhenti, tapi tidak menoleh. Tangannya di balik jubah sudah siap memegang belati tersembunyi.
"Kau menjatuhkan ini."
Seorang pelayan menyodorkan sapu tangan lusuh milik Lin Xuan yang terjatuh.
Lin Xuan mengambilnya tanpa kata, lalu melangkah keluar ke malam yang dingin.
Di gang gelap di samping kedai teh, Lin Xuan bersandar di dinding bata, napasnya memburu.
"Mereka memfitnah ayahku... mereka menjadikan kami penjahat..." bisiknya, suaranya bergetar karena kebencian murni.
"Sejarah ditulis oleh tintah darah pemenang, Lin Xuan," kata Gu dingin. "Selama kau lemah, kau adalah penjahat. Jika kau jadi God Emperor, kau bisa membantai satu benua dan sejarawan akan menyebutnya 'Penyucian Agung'."
Lin Xuan menatap langit malam yang tanpa bintang.
"Sekte Awan Hijau," gumamnya. "Aku akan masuk ke sana. Aku akan menggunakan sumber daya mereka. Aku akan menjadi kuat di bawah hidung mereka."
"Dan suatu hari nanti, aku akan menulis ulang sejarah itu dengan darah Huo Yan."
Lin Xuan menarik topinya lebih rendah, lalu menghilang ke dalam bayangan gang sempit, menuju toko senjata untuk persiapan ujian masuk sekte.