NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Perjodohan
Popularitas:79.1k
Nilai: 4.7
Nama Author: SunRise510k

Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Terima kasih ya, buat kalian semua udah baca novelnya sampai detik ini. Aku harap kalian terus ngikuti kisah mereka berdua. Terima kasih juga buat dukungannya karena udah mau ngasih feedback di kolom komentar, aku selalu baca kok komen kalian. Komen positif kalian, buat aku makin semangat buat nulis. Jangan lupa, ramaikan GC-nya heheheh....

***

Malam merayap di Kota Surabaya, membawa hembusan angin yang sedikit lebih dingin dari biasanya. Di dalam kamar VVIP Mahardika Medical Center yang kedap suara, suasana yang tadinya tenang mendadak pecah oleh suara langkah kaki yang terburu-buru dan deru suara yang sangat familiar di telinga Kirana.

Pintu jati besar itu terbuka lebar. Ayah Haris masuk dengan raut wajah cemas, disusul oleh Mama Reva yang tampak sibuk merapikan syal sutranya, dan Bianca yang berjalan dengan wajah ditekuk, tangan bersedekap, dan tas bermerek yang tersampir manja di lengannya.

Rio, yang sedari tadi duduk di kursi sudut dengan tenang, segera berdiri dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, kembali ke perannya sebagai supir yang patuh.

"Kirana! Bagaimana keadaanmu, Nak?" Ayah Haris langsung mendekat ke sisi tempat tidur, menatap wajah putri sulungnya yang masih pucat dengan selang infus yang menempel.

Kirana berusaha tersenyum meski bibirnya masih terasa kaku. "Sudah jauh lebih baik, Ayah. Tadi dokter bilang hanya kelelahan dan demam tinggi saja."

Ayah Haris menghela napas panjang, tampak sedikit lega. "Ayah sudah bilang, jangan terlalu memaksakan diri di kafe itu. Besok, kamu tidak usah berangkat kerja. Istirahat total di rumah sampai kondisimu benar-benar pulih. Hubungi manajermu, bilang kamu izin sakit."

Kirana mengangguk pelan. "Iya, Ayah. Kirana nanti akan telepon Pak Dani."

Namun, suasana hangat itu langsung buyar saat Mama Reva melangkah maju. Ia menatap kamar VVIP yang luas dan mewah itu dengan tatapan penuh selidik dan bibir yang mengerucut sinis.

"Halah, cuma demam saja sampai harus masuk rumah sakit begini. Pakai acara pingsan segala lagi, seperti anak kecil saja," celetuk Mama Reva dengan nada nyinyir yang tajam. "Manja sekali kamu ini, Kirana. Merepotkan semua orang. Kamu tahu tidak, tadi kami sedang bersiap-siap untuk makan malam tenang, malah harus buru-buru ke sini karena laporan supirmu ini."

"Reva!" tegur Ayah Haris dengan suara berat. "Tidak pantas bicara begitu di rumah sakit. Anakmu sedang sakit, bukannya memberi semangat malah mengomel."

Mama Reva mendengus kesal, memutar bola matanya dan beralih menatap dinding kamar yang dihiasi lukisan mahal.

"Ya habisnya, Mas. Lihat saja kamar ini. Ini kamar VVIP paling mahal di Surabaya. Darimana dia punya uang untuk bayar ini semua? Jangan sampai nanti tagihannya malah dikirim ke rumah dan membebani keuangan kita."

Bianca ikut menimpali sambil memeriksa kuku-kuku cantiknya. "Iya, Mbak Kirana. Lebay banget deh, pingsan di hotel mewah. Pasti Mbak Kirana cuma mau cari perhatian saja, kan?"

Rio, yang berdiri di kegelapan sudut ruangan, merasa rahangnya mengeras. Ia melihat bagaimana Kirana hanya diam, menelan semua hinaan itu dengan sabar. Raditya—dalam diri Rio—merasa ingin sekali berteriak dan mengusir dua wanita sombong ini keluar dari rumah sakit miliknya.

"Maaf, Tuan, Nyonya..." Rio akhirnya membuka suara, memecah ketegangan. Suaranya terdengar datar namun tegas. "Mbak Kirana dibawa ke sini bukan atas kemauannya sendiri."

Ketiga pasang mata itu kini tertuju pada Rio.

"Maksudmu apa, Rio?" tanya Ayah Haris bingung.

Rio menarik napas dalam, matanya menatap tajam ke arah Bianca dan Mama Reva secara bergantian. "Tadi siang, saat Mbak Kirana pingsan di restoran hotel, ada seseorang yang langsung menolongnya. Orang itu yang membawa Mbak Kirana ke sini dengan mobil pribadinya dan memesankan kamar terbaik ini."

"Siapa?" tanya Bianca penasaran, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.

"Tuan Raditya Mahardika sendiri yang membawanya," jawab Rio pelan, namun efeknya seperti bom yang meledak di tengah ruangan.

Hening sejenak. Ayah Haris ternganga, Mama Reva mematung, dan wajah Bianca berubah dari penasaran menjadi sangat merah padam.

"Apa?! Raditya Mahardika?!" seru Bianca dengan suara melengking. "Tidak mungkin! Bagaimana bisa pria sesempurna dia menolong perempuan membosankan seperti Mbak Kirana?!"

Ayah Haris tampak syok sekaligus tidak percaya. "Raditya Mahardika? Pewaris Mahardika Group itu? Bagaimana bisa, Rio? Ceritakan detailnya!"

Rio pun menceritakan kronologi yang sudah ia susun dengan rapi—tentang bagaimana Raditya yang sedang meeting di meja sebelah secara spontan menangkap Kirana yang pingsan dan segera membawanya ke rumah sakit miliknya sendiri.

Mendengar cerita itu, bukannya merasa bersyukur, Mama Reva justru menatap Kirana dengan tatapan penuh kebencian.

"Oh, saya tahu sekarang!" Mama Reva menunjuk Kirana dengan jarinya yang berhias cincin berlian. "Kamu sengaja, kan? Kamu pasti sudah tahu kalau Raditya ada di sana, lalu kamu pura-pura pingsan di depannya supaya digendong dan dibawa ke sini? Kamu mau menggoda dia, kan?! Dasar licik!"

"Mama, jaga bicara Mama!" Kirana mencoba membela diri, suaranya terdengar bergetar karena emosi dan kondisi fisiknya yang masih lemah. "Kirana bahkan tidak tahu kalau beliau ada di sana. Kirana benar-benar sakit!"

Bianca menghentakkan kakinya ke lantai, wajahnya tampak sangat marah dan iri. "Ih! Mbak Kirana jahat banget sih! Aku saja yang cantik begini belum pernah bertemu langsung dengannya, kenapa Mbak Kirana malah sudah digendong-gendong sama dia? Pasti Mbak Kirana pakai cara kotor ya buat menarik perhatian Raditya?!"

"Bianca, cukup!" bentak Ayah Haris, namun suaranya tenggelam oleh rengekan Bianca.

"Tidak bisa, Ayah! Ini tidak adil! Harusnya aku yang magang di sana lusa, harusnya aku yang pertama kali bertemu dia dengan kesan yang cantik, bukannya Mbak Kirana yang pucat dan kumal begini!" Bianca hampir menangis karena rasa irinya yang meluap-luap.

Mama Reva memeluk bahu putrinya, ikut memanaskan suasana. "Sabar, Bianca. Kita tidak tahu apa yang dilakukan kakakmu ini di belakang kita. Lihat saja mukanya yang sok polos itu, ternyata diam-diam mau merebut calon suami adiknya sendiri."

Kirana memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. "Kirana bahkan tidak tahu wajahnya seperti apa... saat Kirana sadar, beliau sudah pergi. Kirana hanya memegang kartu namanya saja."

"Mana kartu namanya?! Sini kasih aku!" Bianca mencoba merampas tas Kirana yang ada di atas nakas, namun Rio dengan sigap lebih dulu mengambilnya dan menjauhkannya dari jangkauan Bianca.

"Maaf, Non Bianca. Kartu nama itu milik Mbak Kirana," ucap Rio dingin. Tatapan mata Rio kali ini begitu tajam, membuat Bianca sempat tertegun ketakutan selama beberapa detik sebelum kembali mengomel.

Suasana di kamar VVIP itu kini terasa begitu panas dan menyesakkan. Ayah Haris hanya bisa mengusap wajahnya, bingung harus membela siapa, sementara Mama Reva dan Bianca terus melontarkan kata-kata pedas yang menyudutkan Kirana.

Raditya, yang berdiri di sana sebagai Rio, merasa dadanya sesak oleh kemarahan yang tertahan. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa beracunnya keluarga yang selama ini ditinggali Kirana. Ia kini semakin yakin bahwa keputusannya untuk menyamar adalah hal yang tepat.

Kalian tidak tahu, batin Raditya sambil menatap Bianca dan Mama Reva dengan sinis, bahwa pria yang kalian puja-puja itu ada di depan mata kalian sekarang, mengenakan kaos murah, dan sedang muak melihat tingkah kalian.

Malam itu, keributan di kamar rawat Kirana baru berakhir saat perawat masuk dan menegur mereka karena waktu kunjungan sudah habis. Namun, api kecemburuan dan kebencian yang baru saja tersulut di hati Bianca dan Mama Reva dipastikan tidak akan padam begitu saja. Sebuah badai besar sedang menunggu Kirana saat ia keluar dari rumah sakit nanti.

***

1
Ma Em
Semoga kejahatan dan kelicikan Nyonya Reva segera terbongkar .
Sri Murtini
Bianca betul 2 rai gedeg nggk paham bahasanya Raditya yg menolak tp memang benar bego jd nggk nyambung bisanya hanya foya2 aja kasihan 😭😭😭😭 dicuekin
Desi Santiani
semakin menarik thor, candu sekali sm kissah mereka, semangat selalu thor up kisah mereka 😍💪
merry
ud maling,, berkuasa drmh sbgai istri,, skrg mau jdi pembunuh suami dan ank Tri ya hnya krn harta,, manusia serakah tu reva,,, itu di hukum juga gk bulan ckup buat nebus kejahatan ya plgnn Bianca yg kena imbasnya,,, ud tekan laki y abai terhdp Kirana lg🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Mat Cilok
🤣🤣🤣👍👍
Desi Santiani
semangat thor double up
Ma Em
Sudah tdk sabar kejutan dari Raditya untuk Bianca , ternyata supir yg selalu Bianca hina adalah Raditya Mahardika .
Dewi Yanti
thor buat kirana tegas dan kuat sediki dong biar g cm manut" aja klo di marah"in adik sm mmh tirinya😁
Dian Setiawan
luarrr biasa
Dian Setiawan
lanjut thorrr
Susanty
kapan terbongkarnya gregetan bgt bacanya 🤣
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
suka cerita nya thor, terimakasih ya thor
aq kasih bintang⭐⭐⭐⭐⭐
Desi Santiani
thorr please berbaik hatilah hri ini bsa dpt asupan bonus update kisah mereka ya ampun candu ak bacanya dh ky minum obat😄
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
wow siapa ya pelaku nya thor
masih abu abu apakah reva atw harus atau mereka berua
Reni Anjarwani
lanjut ternyata diam2 ayah haris terlibat kayaknya
Lia Rahmawati
makin penasaran Thor ceritanya,saking bagusnya👍😍😍😍
Sri Murtini
perlindungan yg sempura oleh Rio ayo bongkar sepenuhnya kebusukan mama reva
Desi Santiani
semakin dbuat menegangkan, muak dengan keluarga adytama semoga bisa terungkap dgn bantuan kekuasan mahardika n membuat efek jera. semangat thor ak padamu dgn kisah mereka selalu dnanti 😍
Susanty
visualnya bagus, tapi kirain visual Bianca mukanya rada judes, terlalu kalem Bianca pakai visual itu😤
dapurAFIK
makin seruuuuu...
ga sabar terbongkarnya semua kejahatan ma Reva
makasih Thor ceritanya menarik dan slalu bikin penasaran nunggu kelanjutannya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!