Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penculikan di balik tenda
Gema selawat Thola'al Badru melantun merdu dari panggung utama, diringi tabuhan rebana yang menggetarkan udara malam. Di area depan, ribuan jamaah tampak khusyuk, larut dalam suasana spiritual yang kental. Namun, di area belakang pesantren yang berbatasan langsung dengan perkebunan jati, suasananya sangat kontras. Kegelapan dan sunyi menjadi selimut bagi sebuah rencana jahat yang sudah lama mengintai.
Syra merasa separuh jiwanya hilang setelah pertempuran di dapur. Kakinya pegal, dan aroma gulai seolah sudah menyatu dengan kulitnya. Ia memutuskan untuk mencari udara segar di dekat gudang belakang, tempat yang dijanjikan Arkan sebagai titik temu mereka sebelum "balapan rahasia" dimulai.
"Gila, tiga ribu orang dan gue masih hidup," gumam Syra sambil menyandarkan punggungnya di tembok gudang yang dingin. Ia melepas jilbab instannya, membiarkan rambutnya bernapas setelah seharian terikat rapat.
Tiba-tiba, suara gesekan langkah kaki di atas daun kering terdengar dari balik tumpukan kursi kayu yang tidak terpakai. Syra langsung waspada. Insting jalanannya berteriak.
"Siapa di situ? Omar? Jangan nakutin gue ya, gue lagi pegang kunci inggris di saku!" gertak Syra, meski tangannya sebenarnya kosong.
"Bukan Omar, Syra. Tapi orang yang harusnya lo panggil buat nyelamatin lo dari tempat kolot ini."
Sesosok pria muncul dari bayangan pohon jati. Fariz Haidar. Wajahnya tampak kusut, sorot matanya liar, dan ia tidak lagi memakai jaket kulit mewahnya yang biasa. Fariz tampak seperti orang yang sedang berada di titik nadir—nekat dan berbahaya.
"Fariz? Lo ngapain di sini? Lo mau dikeroyok satu pesantren?" Syra melangkah mundur, matanya mencari jalan keluar.
"Pesantren? Mereka semua lagi sibuk nyanyi di depan, Syra. Nggak ada yang denger kalau lo teriak," Fariz tertawa sinis, langkahnya semakin mendekat. "Gue ke sini mau bawa lo balik. Bokap lo... dia kena serangan jantung di Jakarta, Syra. Dia kritis setelah denger lo dipaksa nikah sama ustadz kampung itu!"
Jantung Syra mencelos. "Ayah? Nggak mungkin! Tadi pagi gue baru telepon dan dia baik-baik saja!"
"Dia bohong! Dia nggak mau lo khawatir! Dia butuh lo sekarang, bukan ustadz yang cuma bisa doain tapi nggak bisa bayar tagihan rumah sakit!" Fariz menarik lengan Syra dengan kasar. "Ayo, mobil gue ada di luar pagar belakang. Ikut gue sekarang kalau lo masih punya hati!"
Syra sempat ragu selama satu detik, namun akal sehatnya kembali. Ayahnya adalah pria yang sangat jujur pada Syra. Dan jika ada hal buruk terjadi, Arkanza—sebagai wali siri—pasti akan menjadi orang pertama yang diberitahu.
"Lepasin, Fariz! Lo bohong! Kalau Ayah sakit, Arkan pasti udah kasih tahu gue!" Syra mencoba menyentak tangannya, namun genggaman Fariz terlalu kuat.
"Arkanza?! Lo panggil dia Arkanza sekarang?" Fariz mendesis, wajahnya mendekat ke wajah Syra. "Dia cuma manfaatin lo buat dapetin aset bokap lo! Lo itu cuma 'proyek' buat dia, biar dia kelihatan hebat bisa menjinakkan cewek barbar kayak lo! Sadar, Syra!"
"GUE BILANG LEPASIN!" Syra menendang tulang kering Fariz dengan sepatu boots-nya yang keras.
"Argh! Kurang ajar!" Fariz mengerang kesakitan, tapi amarahnya justru memuncak. Ia mengeluarkan sebuah kain yang sudah dibasahi cairan kimia dari saku celananya. "Gue nggak mau kasar, tapi lo yang maksa!"
Fariz mencoba membekap mulut Syra. Syra meronta, berusaha sekuat tenaga menjauhkan kain berbau menyengat itu dari hidungnya. Di saat Syra mulai merasa tenaganya melemah dan pandangannya sedikit mengabur, sebuah bayangan melesat dari kegelapan dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
BUKK!
Sebuah tendangan keras mendarat tepat di rusuk Fariz, membuatnya terpental dua meter dan menabrak tumpukan peti kayu hingga hancur berkeping-keping. Syra jatuh terduduk, terengah-engah menghirup udara segar.
Sesosok pria berdiri tegap di antara Syra dan Fariz. Pria itu tidak memakai peci. Kancing baju koko abu-abunya terbuka separuh, menampakkan kaos dalam hitam yang basah oleh keringat. Wajahnya yang biasa tenang dan penuh wibawa kini berubah menjadi sangat gelap.
"Saya sudah memperingatkan kamu satu kali, Fariz," suara Arkanza Farras Zavian terdengar seperti geraman singa yang sedang terluka. "Tapi sepertinya kamu tipe orang yang harus merasakan aspal dulu baru mengerti bahasa manusia."
Fariz merintih, mencoba bangkit sambil memegangi rusuknya. "Ustadz... lo... lo main fisik? Mana ajaran damai lo?!"
Arkan tidak menjawab dengan dalil. Ia justru melangkah maju dengan gerakan predator. "Di dalam masjid, saya imam. Di depan jamaah, saya pendakwah. Tapi di depan orang yang mencoba menyakiti wanita saya... saya adalah musibah terburuk yang pernah kamu temui."
Syra menatap punggung Arkan dengan perasaan campur aduk. Ia baru saja menyadari bahwa Arkanza tidak datang sebagai seorang "Gus" malam ini. Ia datang sebagai seorang pria yang pernah menguasai jalanan, dan sisi "barbar"-nya ternyata jauh lebih mengerikan daripada yang pernah Syra bayangkan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...