Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EKSPEDISI BENUA PUTIH
Dunia yang dikenal Kenzo dulu sudah mati. Bukan mati karena ledakan nuklir atau bencana alam, melainkan mati karena suara. Setelah Jakarta dibersihkan dari The Whispers, keheningan yang tersisa justru terasa lebih mengancam.
Laporan laporan yang masuk ke meja komandonya bukan lagi tentang infeksi mental, melainkan tentang daging yang berubah menjadi baja, dan es yang mulai bernapas.
"Kau melamun lagi, Bos."
Suara Elara memecah lamunan Kenzo.
Mereka berada di anjungan utama Leviathan. Di luar jendela antipeluru yang tebal, langit Australia Selatan membara oleh senja yang tidak wajar gradasi warna tembaga dan ungu yang menandakan atmosfer bumi sedang dipaksa menerima frekuensi dari dimensi lain.
Di bawah mereka, sebuah pemandangan yang mustahil terlihat setahun lalu sedang terjadi. Ratusan jet tempur Rusia dengan lambang elang yang retak terbang dalam formasi rendah, mengawal kapal kapal katedral Vatikan yang megah namun tampak ringkih dengan ukiran ukiran sucinya. Ini adalah sisa sisa terakhir harga diri manusia.
Kenzo melirik tangannya yang terbalut zirah baru. Hitam pekat, dengan urat urat emas yang berdenyut pelan mengikuti detak jantungnya. Setiap kali ia bernapas, ia bisa merasakan sisa kesadaran The Harbinger yang ia serap berontak di sudut pikirannya.
"Anomali di sektor Point Nemo versi daratan itu... dia tidak hanya merusak ruang, Elara," gumam Kenzo, suaranya berat seperti gesekan batu. "Dia merusak ingatan. Aku mulai kesulitan mengingat bagaimana rasanya suhu ruangan yang normal. Bagiku, semuanya terasa seperti es sekarang."
Elara terdiam. Ia melihat Kenzo bukan lagi sebagai pemuda yang ia temui di awal krisis. Pria di depannya adalah sesuatu yang lebih tua, lebih dingin. "Kita akan menyelesaikannya hari ini. Agar kau bisa merasakannya lagi."
Di dalam perut Leviathan, suasana jauh dari kata tenang. Bau oli, keringat, dan aroma tajam dari mana yang terkonsentrasi memenuhi udara. Hana berdiri di depan meja proyeksi, jemarinya gemetar halus saat ia menyesuaikan koordinat. Luka parut di pipinya kenang kenangan dari Giza tampak kontras dengan wajahnya yang masih muda.
Saat Kenzo melangkah masuk, ruangan itu seketika hening. Aura yang dipancarkannya begitu menekan, hingga para operator manusia biasa harus menahan napas agar tidak jatuh pingsan.
"Vladimir dan Seraphina," Kenzo menyebut nama dua mantan Rank S itu tanpa basa basi.
"Mereka di ruang meditasi, Kenzo," jawab Freya, suaranya sedikit lebih berani dibanding yang lain. "Mereka... mereka hancur secara fisik setelah kehilangan Rank mereka, tapi mata mereka kini bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat radar. Mereka bilang, Antartika bukan lagi daratan. Itu adalah organ tubuh yang sedang tumbuh."
Kenzo menatap proyeksi hologram The Void Gate. Sebuah segitiga hitam yang seolah olah mengisap cahaya dari proyektor itu sendiri. "Ini bukan sekadar gerbang. Ini adalah jangkar. Jika kita tidak memutusnya, Bumi akan ditarik keluar dari orbit dimensinya menuju wilayah Outer Gods. Tempat di mana konsep waktu dan kematian pun tidak berlaku."
Hana menatap gurunya. "Dan kau akan masuk ke sana sendirian? Setelah semua yang kita lalui?"
Kenzo berhenti di depan Hana. Untuk sesaat, es di matanya mencair. Ia meletakkan tangan zirahnya di bahu Hana terasa berat dan dingin. "Hana, jika aku membawa kalian masuk, jiwa kalian akan tercerai berai dalam hitungan detik. Ruang hampa di balik gerbang itu tidak mengenal mana. Ia hanya mengenal kehendak. Dan saat ini, hanya aku yang memiliki kehendak yang cukup keras untuk menahannya."
"Gunakan botol botol ini," Kenzo meletakkan tiga vial berisi cairan Dragon’s Blood Essence yang menyala keemasan. "Ini bukan hadiah. Ini adalah kutukan. Jika kalian meminumnya, kalian akan merasakan kekuatan dewa selama tiga menit, tapi setelahnya, tubuh kalian akan terasa seperti dihancurkan dari dalam. Gunakan hanya jika kalian sudah siap untuk mati."
Valeria mendengus pelan sambil mengambil vialnya. "Seolah olah kita punya pilihan lain, Bos."
Saat armada melewati garis lintang 60 derajat selatan, realitas mulai robek. Angin badai yang menghantam lambung Leviathan bukan lagi membawa salju, melainkan serpihan kristal hitam yang berteriak saat bergesekan dengan perisai energi. Langit di atas mereka berubah menjadi lubang hitam raksasa yang dikelilingi oleh cahaya aurora ungu yang menyakitkan mata.
"Kontak!" teriak petugas sensor. "Di bawah es! Sesuatu yang sangat besar sedang naik!"
Tiba tiba, hamparan es di bawah mereka meledak. Ribuan ton air membeku seketika membentuk tentakel tentakel raksasa yang dilapisi logam organik. Void Harvesters. Makhluk itu tidak memiliki wajah, hanya lubang-lubang di sekujur tubuhnya yang mengeluarkan bunyi frekuensi tinggi yang sanggup menghancurkan gendang telinga.
"Divisi Bayangan!" Kenzo melangkah ke dek terbuka, membiarkan angin badai menerpa jubah hitamnya. "Tunjukkan pada mereka, siapa penguasa kegelapan yang sebenarnya!"
Dalam satu hentakan kaki, bayangan Kenzo meluas, menelan seluruh dek kapal induk dan meluncur turun ke permukaan es seperti tsunami hitam. Dari dalam bayangan itu, bangkitlah pasukan yang tidak mengenal rasa takut.
Siegfried muncul dengan raungan yang menggetarkan es, perisainya yang kini dialiri energi The Ark menghantam tentakel Harvester hingga hancur menjadi serpihan. Sato bergerak seperti kilat hitam, pedangnya membelah sendi sendi logam organik musuh sebelum mereka sempat bereaksi.
Kenzo menarik napas dalam. Udara di Antartika terasa seperti belati yang masuk ke paru parunya, tapi ia menyukainya. Rasa sakit itu membuatnya merasa tetap manusia.
"[Shadow Domain: Eternal Frost Integration]!"
Ia tidak hanya melepaskan mana, ia memerintah alam. Suhu di sekitar Kenzo turun drastis hingga mencapai titik di mana molekul udara pun berhenti bergerak.
Gelombang beku berwarna hitam terpancar dari tubuhnya. Setiap Void Harvester yang terkena gelombang itu tidak hanya membeku struktur atom mereka dipaksa berhenti bergetar hingga mereka hancur menjadi debu subatomik.
Setelah menempuh perjalanan yang terasa seperti selamanya, mereka tiba di pusat anomali. Lembah itu adalah penghinaan terhadap hukum fisika. Pegunungan es melengkung ke arah yang tidak masuk akal, dan di tengahnya, The Void Gate melayang diam, memancarkan aura keputusasaan yang begitu pekat.
Namun, yang membuat armada terhenti bukan hanya gerbang itu. Di depan gerbang, berbaris ribuan Hunter yang dilaporkan hilang dalam setahun terakhir. Mereka berdiri tegak, diam, dengan mata yang memancarkan cahaya ungu redup. Dan di garis depan, berdiri seorang pria yang seharusnya sudah menjadi bagian dari tentara bayangan Kenzo.
"Xander?" Valeria berbisik di saluran komunikasi, suaranya bergetar. "Bos... itu tidak mungkin. Kau sudah mengekstrak jiwanya di Jeju."
Kenzo mendarat di permukaan es yang licin, langkah kakinya bergema di lembah yang sunyi itu. Ia menatap sosok itu. Itu memang wajah Xander, tapi ada sesuatu yang salah. Kulitnya terlalu pucat, dan gerakannya terlalu mekanis.
"Itu bukan dia," Kenzo berkata melalui sistem komunikasi global. "Itu adalah cangkang biologis. IHA tidak pernah membuang sampah mereka; mereka mendaur ulangnya. Mereka menyerahkan data genetik Xander kepada musuh untuk menciptakan wadah yang sempurna bagi frekuensi Outer Gods."
Klon Xander atau yang menyebut dirinya The End mengangkat pedangnya. Suaranya tidak keluar dari mulut, melainkan langsung bergema di dalam tengkorak setiap orang yang ada di sana. "Kenzo... kau datang untuk menyelamatkan dunia yang sudah membuangmu? Betapa ironisnya. Kau adalah Monarch, namun kau memilih menjadi anjing penjaga bagi spesies yang takut padamu."
Kenzo terkekeh pelan, sebuah tawa yang kering dan tanpa humor. "Dunia ini memang tidak layak diselamatkan. Tapi ada beberapa orang di dalamnya yang masih berutang makan malam padaku. Dan aku tidak suka orang yang tidak membayar utangnya."
Ia menghunus pedang hitamnya. Bilahnya bergetar hebat karena resonansi mana.
"Hana, Valeria, Freya. Kalian tahu tugas kalian. Hancurkan pilar pilar itu. Biarkan aku berurusan dengan kenangan pahit ini."
"Serbu!"
Perintah itu memicu ledakan kekacauan. Ribuan prajurit bayangan Kenzo bertabrakan dengan pasukan Hunter terinfeksi. Ini bukan lagi pertempuran antar manusia; ini adalah benturan antara dua kehendak kosmik.
Kenzo melesat, kecepatannya menciptakan dentuman sonik yang memecahkan es di bawahnya. Pedangnya beradu dengan pedang ungu milik The End. Setiap benturan menciptakan gelombang kejut yang mementalkan siapa pun di radius seratus meter.
"Kau hanyalah bayangan dari orang yang sudah kuhancurkan!" geram Kenzo, matanya kini sepenuhnya emas, memancarkan otoritas mutlak seorang Monarch.
"[Monarch Skill Army of the One]!"
Seluruh energi dari puluhan ribu bayangannya tiba-tiba ditarik kembali ke dalam tubuh Kenzo. Zirahnya membesar, sayap sayap bayangan yang membentang puluhan meter muncul di punggungnya. Ia bukan lagi seorang Hunter Rank Level 100. Ia adalah personifikasi dari kematian itu sendiri.
Di latar belakang, Hana berhasil mencapai pilar pertama. Ia meminum Dragon’s Blood Essence. Tubuhnya seketika diselimuti api keemasan, matanya memancarkan cahaya yang sanggup menembus kabut dimensi. Dengan satu tebasan penuh keputusasaan dan harapan, ia menghantam pilar itu.
[Ding! Misi Final: The Antartica Convergence Tahap 1 dimulai.]
[Status: 12% Pilar Dihancurkan.]
Namun, saat pilar itu retak, langit di atas mereka seolah olah terkoyak. Sebuah mata raksasa, yang ukurannya lebih besar dari seluruh benua Antartika, mulai mengintip dari balik celah dimensi di atas Void Gate.
Kenzo mendongak, merasakan sistemnya bergetar hebat bukan karena eror, tapi karena ketakutan yang murni.
"Jadi kau sudah bangun, ya?" Kenzo menyeringai ke arah langit, meskipun keringat dingin mengucur di balik zirahnya. "Bagus. Aku bosan bertarung dengan klon murahan."
Ia kembali menerjang The End, sementara di atas sana, entitas tingkat dewa mulai turun untuk mengklaim Bumi. Pertempuran yang sebenarnya baru saja dimulai.