Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 17
Fajar kini sedang berada di dalam kamar, kamar itu terasa seperti peti mati yang mewah. Fajar merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit, dia menghitung detak jantungnya yang berpacu dengan amarah dan ketidakpercayaan.
Dahulu ia menganggap Mutiara sebagai wanita yang tidak berharga, wanita yang tidak akan pernah bisa mengimbangi langkahnya di dunia korporat yang kejam.
Ia memilih Rena karena memiliki nama besar ayahnya, berbeda dengan Mutiara yang hanya wanita miskin. Namun, kini dia menyadari bahwa dalam satu langkah catur yang tak terduga, Mutiara justru melompat jauh melampauinya.
Mutiara bukan lagi sekadar mantan kekasih yang biasa saja. Dia adalah Nyonya Arkan. Dia adalah ibu sambungnya, wanita yang harus dihormati.
"Kenapa bisa seperti ini? Kenapa juga hati terasa panas ketika melihat Mutiara bersama dengan ayah? Padahal aku tidak mencintainya, aku hanya membutuhkan otaknya untuk membangun perusahaan."
Fajar menghela napas berat, dadanya terasa sesak setiap kali dia mengingat bagaimana cara Mutiara yang begitu manja terhadap ayahnya. Panas sekali rasanya, seperti ada api yang membakar dadanya.
"Sadar Fajar, Mutiara hanyalah masa lalu. Lagian sekarang dia adalah istri ayah kamu, lebih baik memilih untuk menghormati Mutiara daripada kehilangan hak waris."
Karena takut Fajar terluka, Arkan tidak pernah mengatakan kebenarannya. Akan selalu berkata kalau Fajar adalah putra kandungnya, pernah Fajar suatu ketika bertanya tentang ibunya.
Arkan menjawab kalau mereka dulu berpacaran secara kelewat batas, ibunya Fajar meninggal ketika melahirkannya karena usianya masih sangat muda. Fajar tentu saja percaya dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya.
"Apa melepaskan Mutiara merupakan hal yang salah ya?"
Fajar terlihat begitu dilema, saat ia sedang asyik melamun tiba-tiba saja Fajar mendengar suara langkah kaki yang memecah lamunannya.
Ritme yang sangat ia kenal, langkah ayahnya yang berwibawa bersahutan dengan langkah ringan yang dulu pernah ia dekap.
Fajar bangkit, dadanya sesak. Ia membuka pintu kamarnya sedikit, hanya menyisakan celah sempit. Di bawah temaram lampu selasar, ia melihat siluet itu. Arkan berjalan beriringan dengan Mutiara menuju dapur.
"Mau apa mereka berdua-duaan pergi ke dapur? Padahal tadi udah makan malam, masa iya mau makan lagi?"
Fajar mengikuti mereka seperti hantu, bersembunyi di balik pilar besar yang membatasi ruang makan dan dapur. Matanya panas melihat bagaimana tangan ayahnya menyentuh pinggang Mutiara dengan posesif.
"Om, jangan pegang-pegang terus!" keluh Mutiara sambil menepis tangan Arkan.
'Om? Kenapa Mutiara memanggil ayahku dengan sebutan Om? Apa mungkin mereka berdua benar-benar sedang bersandiwara untuk memanas-manasi hatiku?' tanya Fajar dalam hati.
"Biar kamu tidak jatuh, kamu itu suka teledor. Jadi harus aku pegangi," jawab Arkan.
"Tapi nggak harus dipegangin pinggangnya juga, pegangan tangan bisa."
"Kalau dipegangin tangannya kamu nanti nggak bisa nuangin air, katanya haus."
"Iya iya, terarah Om aja."
Mutiara tidak mau ambil pusing, dia yang merasa haus akhirnya menuangkan air ke gelas kaca. Lalu, dia meminumnya hingga tandas.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di sudut bibir Mutiara, wanita itu merasa malu dan langsung mendorong dada Arkan.
"Jangan suka nakal," ujar Mutiara.
"Aku haus, jadi minum sisa air yang ada di sudut bibir kamu."
"Om ih! Jangan gitu, aku---"
Mutiara tidak meneruskan ucapannya, ekor matanya menangkap bayangan di balik pintu. Ia tahu itu Fajar. Karena dia sangat hafal betul siluet tubuh pria itu.
Ia bisa merasakan tatapan mata pria itu penuh kekesalan. Sebuah senyum tipis muncul di bibir Mutiara, hampir tak terlihat. Kini terlintas Ida gila di otaknya.
"Sayang, kamu beneran haus?"
"Iya," jawab Arkan yang merasa heran karena kembali wanita itu memanggil dirinya dengan sebutan sayang. Padahal, tadi wanita itu memanggil dirinya dengan sebutan om.
Arkan mulai menyadari sesuatu, apalagi ketika Mutiara mengambil air minum dan memasukkan air minum tersebut ke dalam mulutnya. Lalu, wanita itu menyatukan bibirnya dengan bibir Arkan dan menuang air minum yang ada di mulut wanita itu ke dalam mulutnya.
"Enak gak aku suapin?"
"Enak, lebih enak lagi kalau---"
Arkan tidak meneruskan ucapannya, dia mengangkat tubuh mutiara dan mendudukkannya di atas meja. Lalu, dia menyatukan bibirnya dengan bibir Mutiara.
Awalnya dia hanya mengocok bibir mungil itu, tetapi lama-kelamaan ciuman panas tak bisa dihindari. Mutiara bahkan berkali-kali mende sah, karena di sela ciuman mereka, tangan Arkan begitu aktif mengusap area sensitif Mutiara.
'Vangke! Kenapa bisa mereka melakukannya di dapur?' kesal Fajar tapi hanya mampu diucapkan di dalam hati.
Cukup lama keduanya berciuman, hingga beberapa saat kemudian Mutiara merapatkan tubuhnya ke dada Arkan. Mutiara bahkan mengecup dagu pria itu.
Lalu, Mutiara membuka beberapa kancing piyama yang digunakan oleh pria itu, setelahnya mutiara mengusap dada Arkan dengan gerakan sensual.
"Badan kamu sangat bagus, Sayang. Pertamina kamu juga sangat luar biasa, apa perlu kita melakukannya di sini?"
"Jangan, Sayang. Ada Fajar yang sedang menginap di sini, dia belum menikah dengan kekasihnya. Kalau dia melihat kita sedang melakukannya, kasihan dia pasti ngiler."
Fajar yang ada di balik persembunyiannya mencengkeram pinggiran tembok hingga buku jarinya memutih. Batinnya menjerit. Rasa panas menjalar dari ulu hati hingga ke ubun-ubun, sebuah campuran antara cemburu buta dan tak terima.
'Bisa-bisanya mereka membicarakan hal yang vulgar seperti itu?' gerutu Fajar dalam hati.
Mutiara kembali melirik ke tempat Fajar mengintip. Dalam hati dia tertawa penuh kepuasan karena bisa melihat kemarahan dari sorot mata pria itu.
"Kalau begitu kita melakukannya di kamar saja, aku sudah tidak tahan. Aku tuh suka banget cara kamu memperlakukan aku di atas ranjang, sangat perkasa."
"Baiklah, aku akan menurutinya. Jangan salahkan aku kalau kamu besok tidak bisa berjalan," ujar Arkan yang langsung menggendong mutiara dan membawanya ke lantai 2 meninggalkan Fajar sendirian di balik persembunyiannya.
"Sialan! Kenapa bisa seperti ini?" keluh Fajar setelah bayangan keduanya menghilang.
Fajar yang kesal akhirnya masuk kembali ke dalam kamarnya, dia merebahkan tubuhnya walaupun tidak bisa tidur. Berbeda dengan Arkan, pria itu sudah kembali ke dalam kamar bersama dengan Mutiara.
Wanita itu sudah bersiap untuk tidur, tetapi dia begitu kaget karena tiba-tiba saja Arkan menindih tubuhnya.
"Om, mau apa?"
"Mau olah raga malam," jawab Arkan.
"Om, ih! Jangan," ujar Mutiara.
"Tadi kamu yang memulainya loh, aku tidak bisa menahannya."
"Ta---- tapi----"
Ucapan Mutiara langsung tenggelam di udara, karena Arkan sudah membekap mulut wanita itu dengan bibirnya. Tadi wanita itu dengan beraninya menggoda dirinya, kini Mutiara ingin lari setelah membangunkan macan tidur.
Oh! Tidak bisa, gelora Arkan sudah di ubun-ubun. Dia tidak akan melepaskan wanita itu, seperti apa yang dia katakan tadi di dalam dapur. Dia akan menggempur Mutiara sampai tak bisa berjalan.
"Om!" pekik Mutiara karena Arkan memasukkan miliknya sambil menggigit ujung dada Mutiara.