Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Prosesi ijab kabul berjalan khidmat dan lancar. Setelah saksi berteriak "Sah!", Luna segera meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan Pratama dengan takzim.
Ada rasa hangat yang menjalar di hati Pratama saat melihat buku nikah berwarna cokelat dan hijau itu kini resmi mencantumkan nama mereka.
Pratama membubuhkan tanda tangannya di buku nikah dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena haru.
"Mas, saya pinjam Mbak Luna dulu ya ke kamar mandi sebentar," ucap Arini tiba-tiba sambil memegang lengan Luna.
"Oh, silakan Mbak Arini." ujar Pratama sambil menganggukkan kepalanya.
Sembari menunggu, Pratama duduk kembali di samping Papa Jati.
Ia mencoba mencairkan suasana dengan mengobrol ringan tentang proyek bangunan, sementara Papa Jati harus memutar otak untuk menjawab agar terlihat seperti kuli bangunan sungguhan.
Di dalam kamar mandi KUA yang sempit, suasana berubah drastis.
Begitu pintu dikunci, Arini langsung menyodorkan tumpukan berkas penting dan sebuah pulpen mahal yang ia sembunyikan di balik pakaiannya.
"Ibu, cepat tanda tangani ini. Klien dari Singapura butuh persetujuan sekarang juga," bisik Arini dengan nada profesional yang kembali muncul.
Luna dengan cekatan menandatangani berkas-berkas bernilai miliaran rupiah itu di atas wastafel.
"Sudah. Bagaimana dengan urusan sekolah itu?"
"Beres, Bu. Besok pagi Anda harus masuk jam delapan di TK Pelangi. Saya sudah mengatur semuanya dengan kepala sekolah. Semua guru sudah setuju dan Anda resmi terdaftar menjadi guru kelas TK A. Tidak akan ada yang curiga," lapor Arini cepat.
Luna mengangguk puas. Ia merapikan hijabnya, menarik napas panjang untuk kembali ke peran "guru sederhana", lalu mereka keluar dan kembali duduk di ruang tunggu.
Tak lama kemudian, Papa Jati berdiri sambil membetulkan letak jaket kusamnya.
Ia harus segera pergi sebelum identitas aslinya tercium oleh wartawan atau kolega bisnis yang mungkin lewat.
"Kalau sudah selesai, Papa pamit dulu ya. Maklum, kuli bangunan kalau libur terus bisa tidak dibayar sama mandornya," ucap Papa Jati sambil tersenyum kecut, berakting total di depan menantunya.
"Iya, Pa. Hati-hati di jalan," ucap Luna.
Luna dan Pratama berdiri, lalu secara bergantian mencium punggung tangan Papa Jati. Pratama menatap mertuanya dengan rasa hormat yang besar, tanpa menyadari bahwa "kuli bangunan" di depannya baru saja menunda rapat dewan direksi untuk hadir di sana.
"Nak Pratama, jaga putri saya baik-baik ya," pesan Papa Jati sebelum melangkah menuju motor bebek tuanya.
Setelah kepergian Papa Jati dan Arini, Luna dan Pratama berdiri berdua di halaman KUA yang mulai sepi.
Mereka saling pandang dalam diam, mencoba mencerna kenyataan bahwa kini mereka telah resmi menjadi suami istri di mata negara.
"Kita pulang dulu ya, Dik. Nanti ganti baju, baru kita ke pasar belanja modal soto," ucap Pratama memecah keheningan dengan suara lembut.
Luna hanya mengangguk patuh. Di balik hijabnya, wajahnya merona merah.
Sesampainya di rumah petak mereka, Luna segera masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
Namun, masalah muncul saat kebaya kuno milik mendiang ibu Pratama itu ternyata memiliki deretan kancing kait di bagian belakang yang sangat kecil dan rapat.
Ditambah lagi, salah satu kancingnya tersangkut pada benang kain yang sudah mulai rapuh.
"Duh, macet lagi," gumam Luna panik.
Jemarinya berusaha menggapai ke belakang punggung, namun justru membuat kaitan itu semakin melilit.
Setelah berjuang hampir lima menit tanpa hasil, Luna akhirnya menyerah.
Dengan suara pelan dan ragu, ia memanggil dari balik pintu kamar.
"Mas Pratama, bisa minta tolong sebentar? Sepertinya kancing kebayanya macet di belakang. Aku tidak bisa membukanya sendiri."
Pratama yang sedang mencuci tangan di dapur tersentak.
Jantungnya seketika berdetak kencang, lebih kencang daripada saat ia mengucap ijab kabul tadi.
Ia mengusap tangannya pada celana, mencoba menenangkan diri sebelum melangkah perlahan memasuki kamar.
Di dalam kamar yang temaram, Luna berdiri
membelakangi pintu.
Leher jenjangnya yang putih terlihat karena ia sedikit menyampingkan hijabnya agar tidak mengganggu kancing tersebut.
"E-eh, iya Dik. Sini Mas bantu," bisik Pratama gugup.
Pratama mendekat dengan tangan yang sedikit gemetar.
Saat ujung jarinya yang kasar bersentuhan dengan kulit punggung Luna yang halus, sebuah sengatan listrik seolah menjalar ke seluruh tubuh mereka berdua.
Pratama berusaha fokus pada kancing yang tersangkut, sementara Luna memejamkan mata, menahan napas karena jarak mereka yang begitu dekat.
"Sabar ya, Dik Ini agak susah benangnya melilit," ucap Pratama tepat di dekat telinga Luna, membuat bulu kuduk sang CEO cantik itu merinding seketika.
Pratama menarik napas lega saat kancing terakhir akhirnya terlepas. Namun, matanya tiba-tiba terpaku pada sebuah lukisan kecil berbentuk kupu-kupu yang bertengger manis di tengkuk leher istrinya.
Warna birunya tampak kontras dengan kulit Luna yang bersih.
Pratama tersentak, ia menarik tangannya menjauh seolah baru saja menyentuh bara api.
"Astaghfirullah, Dik! Kamu pakai tato? Itu haram, Dik. Mas tidak menyangka kalau kamu..." ucap Pratama dengan suara yang terdengar bergetar, antara kecewa dan terkejut.
Sebagai pria yang tumbuh di lingkungan religius dan sederhana, tato adalah sesuatu yang sangat tabu baginya.
Luna terdiam sejenak, ia baru teringat kalau ia lupa menghapus tato temporer hasil iseng-isengnya saat berlibur ke Bali bulan lalu.
Ia segera memutar tubuhnya menghadap Pratama yang wajahnya tampak pucat.
"Mas, tolong tenang dulu. Ini bukan tato asli," ucap Luna cepat
"Ini cuma tato mainan, Mas. Bisa hilang kalau digosok pakai air atau minyak kayu putih. Kemarin aku cuma iseng pakai saat ada acara sama teman-teman."
"Beneran bisa hilang?" tanya Pratama ragu, matanya masih menatap curiga ke arah tengkuk Luna.
"Beneran, Mas. Tunggu sebentar." Luna segera meraih kapas di meja rias kecilnya dan sebotol minyak kayu putih.
Ia menyodorkannya pada Pratama. "Tolong, Mas hapus sendiri kalau tidak percaya. Aku sulit menjangkaunya."
Dengan ragu, Pratama menerima kapas itu. Ia meneteskan sedikit minyak kayu putih, lalu perlahan mulai menggosok bagian leher Luna.
Kali ini, ia menggosok dengan sangat halus, seolah takut melukai kulit istrinya.
Perlahan tapi pasti, gambar kupu-kupu itu luntur dan berpindah ke kapas.
Pratama membuang napas lega setelah melihat leher Luna kembali bersih tanpa noda.
Ia menatap Luna dengan sorot mata yang kembali lembut, namun penuh peringatan.
"Alhamdulillah, Mas kira itu permanen. Dik, kamu itu guru. Jangan pakai yang aneh-aneh begitu lagi ya. Malu kalau dilihat wali murid atau guru-guru lain nanti. Guru itu digugu dan ditiru, harus kasih contoh yang baik." ucap Pratama sambil membuang kapas yang kotor.
Luna menunduk, entah kenapa ia merasa seperti sedang dinasehati oleh sosok yang sangat peduli padanya.
"Iya, Mas. Maaf ya, aku janji tidak akan pakai lagi."
"Ya sudah, ganti bajumu. Mas tunggu di luar, kita segera ke pasar sebelum cuaca makin panas," ujar Pratama sebelum melangkah keluar kamar.
Luna tersenyum tipis menatap punggung suaminya.
Pria itu memang sangat sederhana dan kolot, tapi kejujurannya justru membuat Luna merasa terlindungi dari dunia luar yang penuh tipu daya.